Kalau tiap-tiap perjanjian kau kebiri jua
Jangan salahkan jika damai tak kau sua
Kalau rasa rakusmu belum mau enyah juga
Jangan panik jika batu terbang bikin terjaga
Kalau anak-anak kecil dan ibunya kau bunuhi
Jangan gusar jika bom bunuh diri datang bertubi
Kalau negri kami bagimu tanah yang dijanjikan
Jangan resah jika perlawanan tak bisa dihentikan
Kalau gurun ini kalian terus tanami onak duri
Jangan gundah jika kami pilih jalan kami sendiri
Rumah Hijau, 2010
Selengkapnya.....
Ibrahim-ku Abraham-mu
Yusuf-ku Joseph-mu
Ya’qub-ku Jacob-mu
Musa-ku Moses-mu
Daud-ku David-mu
Ishaq-ku Isaac-mu
‘allaihummassalam…
Oleh al-Quran Sinagog dijaga
Masjid dihormati Taurat juga
Taurat bicara soal kedamaian
Keadilan maktub di al-Quran
Siapa pula membiarkan
Darah terus berkucuran?
Simpan itu senjata pemusnah masa
Henti bunuhi manusia tiada berdosa
Sambit nestapa
Sambut merdeka
Luruh penindasan
Rengkuh kebebasan
Kertamukti, 2010
Selengkapnya.....
[1]
Ini luka sebentar akan kering
Pekik merdeka dikoar nyaring
Mortir perlahan hilang dering
Batang layu kembang puring
Tegak lagi setelah dulu miring
Palestina! Palestina!
Aku memanggilmu dari empatiku yang fana
Luka mengendap hendak kau bawa kemana
Selain pada terbit surya di balik rimbun sabana
[2]
Itu lara segera hendak pulih
Tawa anak-anak tak lagi perih
Barak pengungsi aroma pedih
Menyeruak wangi melati putih
Jalan kemerdekaan kita pilih
Palestina! Palestina!
Aku mengenangmu sebagai kembara tiada lelah berkelana
Menerjemah benar wahyu Tuhan atas Musa di bukit Tursina
Gemilang perang Badar nampak cerlang di seberang sana
[3]
Putus sudah kuat belenggu rantai
Kemenangan tiba mengombak badai
Tinggal cerita ribuan rakyat di bantai
Kini sama kita santap ini roti canai
Kudengar di luar hujan turun me rinai
Palestina! Palestina!
Aku merekam intifadhah dan batu-batu tanpa gundah gulana
Siapa menodai al-Quds sejatinya telah memilih abadi merana
Kabarkan pada dunia bahwa merdeka adalah milik Palestina
Jakarta, 2010
Selengkapnya.....
Kelak, di suatu senja yang temaram dengan nyala jingga bohlam-bohlam
Akan kita dengar Samih Al-qasim -sang penyair yang tersayat bibirnya
Bercerita kepada kita: bukan lagi perihal ayat-ayat luka dan zikir air mata
Namun tentang sebuah haflah kambing guling minyak zaitun di beranda rumah
Ternak terbaik yang kita petik dari kandang-kandang, dari gembala ber-kafiyeh
Para ibu riuh senda gurau memetik jeruk termanis dari ladang-ladang hijau tosca
Disuguhkan kepada tamu-tamu, kepada para pejuang yang istirah dari dendam
Pasmina penutup rambut mereka bekibar, ditiup angin senja yang sahaja
Sebab perang segan berulang. Sebab mesiu sudah memilih bisu
Esok, pada sebuah sore ketika kesiur angin menilisik halus nyiur-nyiur
Samih al-Qasim masih menyimpan tiket perjalanan di saku rombengnya
Sungguh mengantarnya pada alamat kedamaian, kepada hujan yang dirindukan
Hilang dari pandang gurun-gurun tandus, menghampar pohon manna berkah Tuhan
Saat itu kita mendengar cericit burung hud mengganti desing mortir di kejauhan
Kala itu kentara ruas-ruas sinar surya mengusap kepul hitam asap, awan gemerlap
Lantas saksikan, anak-anak berkejaran, tanpa ada tentara-senjata, tanpa takut di dada
Batu-batu berhenti dilemparkan, menghimpun diri jadi pondasi, rumah kita sendiri
Lantaran tank-tank muak menyalak. Lantaran kata merdeka sama-sama kita teriak.
Ciputat, 2010
Samih al-Qasim adalah salah seorang penyair Palestina. Sajak di atas terinspirasi dua puisi Samih al-Qasim: Bibir yang Tersayat dan Tiket Perjalanan.
Selengkapnya.....