<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240</id><updated>2012-02-17T16:59:49.992-08:00</updated><category term='makalah'/><category term='kuliah'/><category term='catatan'/><category term='opini'/><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><category term='esai'/><title type='text'>Kedai Kopi Zakky</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>130</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3824590428699030156</id><published>2012-02-16T17:48:00.001-08:00</published><updated>2012-02-17T16:59:50.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Ponorogo dan Brand Sebuah Kota (Ponorogo Pos, 16 Februari 2012)</title><content type='html'>Apa pentingnya suatu brand? Sudah barang pasti agar menjadi ciri khas dan penanda sebuah produk. Orang akan mengingat dan menyebut suatu brand tertentu. Tidak mungkin sebuah produk pasta gigi, misalnya, tidak punya brand (merek). Siapapun akan kesulitan (atau tak akan bisa) membeli pasta gigi yang tidak memiliki brand. Di sinilah letak pentingnya brand, yang menurut hemat saya sudah menjadi pemahaman bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana jika soal brand ini dikontekstualisasikan dengan sebuah kota? Saya kira, setiap kota, utamanya yang menyadari potensi wisata di daerahnya akan mengolah brand kotanya dengan sungguh-sungguh. Sebuat saja misalnya Solo dan Jogja. Jogja, kita tahu telah lama moncer dengan Never Ending Asia. Adapun Solo, belum lama mendeklarasikan diri sebagai The Spirit of Java. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai slogan, mereka juga merupa logo tipografis yang eye cathcing dan menarik. Perhatikan saja, jika Anda sempat menyambangi Solo akan banyak ditemui logo Solo di banyak media, seperti pada papan iklan, baliho ataupun banner. Dengan bentuk yang sederhana, logo tersebut memiliki anatomi font ramping. Sementara itu, huruf O setelah huruf S sedikit diberi sentuhan modifikasi, hampir serupa bentuk ujung sebuah keris.  Tepat di bawah tulisan  SOLO terdapat slogan ‘the spirit of java’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lain Solo, lain Jogja. Sudah sejak lama Jogja mempublikasikan brand mereka. Tulisan Jogja dengan font yang menyerupai aksara Jawa (hanacaraka), ditambah tulisan slogan Never Ending Asia. Brand Jogja ini begitu mudah dijumpai pada sejumlah souvenir khas Jogja, seperti makanan, kaos, gantungan kunci dan lain sebagainya. Satu hal yang pasti, Solo dan Jogja sudah mematenkan brand dan logo kota mereka. Tak ayal, logo itupun cepat menjadi popular, diproduksi secara massal dan menjadi simbol sekaligus kebanggaan warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brand Kota Ponorogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Solo punya ‘the spirit of java’ dan Jogja punya ‘never ending asia’ sebagai ikon mereka, bagaimana dengan Ponorogo? Sejatinya kita sudah punya modal besar, namun sayang belum dapat dimanfaatkan secara rapi dan apik. Kalau kita mau menengok secara lebih kritis, kita sebenarnya tidak menemukan ikon konkret dari Solo dan Jogja. Slogan ‘never ending asia’ dan ‘the spirit of java’ hanya artifisial, simbolis dan klaim belaka. Sebab akan muncul pertanyaan, benarkah Jogja itu never ending asia dan Solo itu the spirit of Java? Jawabnya, belum tentu. Pilihan itu mereka ambil mungkin lantaran mereka tidak memiliki produk budaya yang prestisius dan dapat diolah. Namun, bagaimanapun mereka telah berhasil mengemas klaim itu dan hingga kini jadi ruh bagi dua kota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponorogo, sebagai sebuah kota, memiliki kekayaan amat sangat besar, yakni Reog. Sampai kapanpun Reog akan selalu identik dengan Ponorogo. Membincangkan Ponorogo berarti membincangkan Reog, begitu pula sebaliknya, membincangkan Reog berarti membincangkan Ponorogo. Lihat saja satu contoh, misalnya dalam perjalanan ke Jakarta kita berkenalan dengan orang, manakala kita menyebut asal kota kita, Ponorogo, orang akan spontan menyebut Reog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sampai saat ini kita tampaknya belum memiliki kesadaran untuk mengelola lebih matang Reog sebagai sebuah ikon Ponorogo. Dahulu kala, kita memang kerap menjumpai gambar tempel (stiker) bertuliskan REOG dengan kepanjangan Resik Endah Omber Girang Gumirang, menempel di kaca jendela dan pintu rumah masyarakat Ponorogo. Kala itu, amat terasa sense of belonging kita terhadap tanah kelahiran ini. Namun kini, kita baru sebatas menjumpai gambar Reog di kaos-kaos dan label produk makanan khas Ponorogo. Dalam hal ini belum ada kesamaan brand dan logo Ponorogo.    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Langkah Konkret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan seperti ini, meneurut hemat saya, sangat diperlukan langkah-langkah konkret dari pihak terkait untuk memberi perhatian lebih soal brand dan logo Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pemkab dan Dinas Pariwisata Ponorogo perlu menggodok sebuah logo dan slogan dari Ponorogo. Bukan hal sulit meminta pakar desain merupa logo kota Ponorogo. Baik secara tipografis (font) maupun simbol, yang tentunya mewakili citra Ponorogo.&lt;br /&gt;Kedua, dipandang penting pula merumuskan slogan dari kota Ponorogo. Misalnya kita kelak memakai slogan ‘the homeland of reog’ atau slogan lain yang kelak dapat diterima dunia luas, khususnya hingga level internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, logo dan slogan apabila sudah disepakati tentu harus dipatenkan. Kemudian dicetak secara masif di berbagai media promosi, souvenir khas Ponorogo dan tempat-tempat strategis. Hal ini tentu dalam rangka publikasi logo serta slogan itu sendiri.&lt;br /&gt;Kelak, boleh jadi, para ‘duta Ponorogo’ yakni para mahasiswa yang belajar di luar kota, atau para TKI yang mencari rezeki di negeri seberang bisa dengan bangga menunjukkan Ponorogo kepada dunia luar. Hal ini sudah barang pasti akan berimbas pada perkembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat Ponorogo sendiri. Kesempatan sudah terbuka, tinggal dibutuhkan kejelian kita dalam menangkap peluang dan momentum.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3824590428699030156?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3824590428699030156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3824590428699030156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3824590428699030156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3824590428699030156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2012/02/ponorogo-dan-brand-sebuah-kota.html' title='Ponorogo dan Brand Sebuah Kota (Ponorogo Pos, 16 Februari 2012)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-7666450158240895176</id><published>2011-11-12T15:10:00.000-08:00</published><updated>2011-11-12T15:13:34.336-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Pohon Alpukat (Suara Tangsel, 12 November 2011)</title><content type='html'>Pohon yang merimbun itu telah tumbuh 20 tahun di pekarangan rumah kakek yang luas. Kata kakek, ayahku yang menanam pohon itu. Ditanam ketika ayah masih mahasiswa semester enam dulu. Pada mulanya, bibit pohon itu hanya memiliki tinggi sekitar 30 centimeter. Oleh karena ketekunan ayah merawatnya, pohon itu kini berdiri kokoh, rindang dan dapat dinikmati buahnya tiap kali datang musim alpukat. Di batangnya yang kuat, ayah memasang ayunan, mainan kegemaranku ketika kecil. Namun, semenjak aku jatuh terlempar dari ayunan, aku jadi enggan menyentuh mainan itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ayah pernah bercerita tentang sejarah pohon alpukat itu. Sesuai dengan penuturan kakek, ayah memang menanam pohon alpukat itu ketika semester enam. Ketika itu ayah baru saja pulang dari KKS (Kuliah Kerja Sosial) di Lembang, Bandung. Ia membawa oleh-oleh bibit pohon alpukat, yang sejatinya merupakan pemberian salah seorang warga Lembang yang dekat dengan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemberi bibit pohon alpukat itu adalah Bu Nonoh, seorang ibu yang tak akan pernah terhapus dari ingatan ayah. Wong cilik yang terusir dari tanahnya sendiri. Oleh karena dibodohi pengurusan sertifikat tanah. Maka, tiap kali lewat di vila milik orang Jakarta yang hanya dikunjungi seminggu sekali atah bahkan sebulan sekali itu, Bu Nonoh hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Betapa ia dulu adalah pemilik tanah tempat vila itu kini berdiri. Tanah yang diwariskan turun temurun. Tanpa sertifikat. Hanya atas dasar kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia memilih tinggal di pinggiran desa. Di sebuah tebing yang tak terlalu curam, bersama empat keluarga yang juga terusir. Di rumah triplek semi permanen yang pengap yang lebih pantas disebut kandang kambing! Sebab hanya di sana tempat yang paling bisa dan mungkin ditinggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari rumah Bu Nonoh ada loket masuk tempat wisata hutan pinus. Hutan pinus itu menawarkan sesuatu yang memukau pada dua waktu, di pagi dan senja hari. Ketika pagi datang, baris-bari pinus yang kadang berselimut kabut putih itu menguarkan kesejukan beraroma lain. Mungkin ini berasal dari lembab daun-daun gugur dan kesunyian di sekitar. Selain cericit burung, derum motor di kejauhan dan sapa para pekebun yang berangkat kerja, yang terdengar di sini hanyalah suara keheningan. Suara nafas dan detak jantung hampir-hampir tak terdengar. Sedang di senja hari, ada matahari jingga bulat penuh yang mengintip dari sela-sela reranting dan dedaunan pinus. Dari hutan pinus dapat kita nikmati kampung-kampung di kejauhan yang tampak seperti miniatur. Juga terlihat kebun-kebun yang menghampar-menghijau. Dan yang lebih memikat dari itu semua adalah gerumbul pohon berbunga putih, lebat, dan rimbun, ditimpa cahaya senja. Sesuatu yang sukar hilang dari kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali datang ke rumah Bu Nonoh adalah ketika salah satu teman KKS ayah bernama Nabila terkilir saat pulang dari hiking ke Tangkuban Perahu. Hampir saja Nabila tak bisa melanjutkan perjalanan. Air matanya menganak sungai. Seperti mukjizat, muncul seorang ibu paruh baya yang mengaku bisa mengurut kaki yang terkilir. Nabila diajak ke rumahnya. Teman-teman lain ikut menemani. Seperti sulap, kaki Nabila sembuh seperti sediakala setelah diurut Bu Nonoh dalam waktu singkat. &lt;br /&gt;Nabila jadi kerap mengunjungi Bu Nonoh. Kadang membawa lauk pauk, beras, minyak, atau baju yang dibeli di Pasar Lembang. Nabila biasa datang ke rumah Bu Nonoh ditemani ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampailah perpisahan yang mengharukan itu. Warga desa berjajar mengantar mahasiswa yang selesai KKS. Tampak air mata mereka menetes satu-satu. Ternyata keberadaan mahasiswa satu bulan di sana cukup mendapat tempat di hati mereka. Ketika bus sudah siap melaju, Bu Nonoh berlari tergopoh-gopoh membawa bibit pohon alpukat, hendak diberikan pada ayah, ketua KKS. Ayah mencium tangan Bu Nonoh takzim. Sengal tangis mereka kian menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pohon alpukat itu berdiri tegak di halaman rumah. Rumah kakek, rumah ayah juga. Rumah Nabila pula. Sebab ayah menikah dengan Nabila setelah lulus kuliah. Dan Nabila adalah ibuku. Dari Lembang ayah tidak hanya membawa bibit pohon alpukat, tapi membawa serta juga bibit cintanya pada Nabila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini pohon alpukat itu akan ditebang. Sebulan yang lalu kakek mendapat surat dari kelurahan dan kecamatan perihal pembebasan tanah untuk pelebaran jalan. Kakek setuju saja. Selama untuk kemaslahatan bersama. Namun yang disayangkan kakek adalah penebangan pohon alpukat. Pohon itu terlalu banyak menyimpan kenangan. Kenangan ayah di Lembang, kenangan ayah dengan ibu, kenangan masa kecilku. Pohon itu juga telah berbuah berkali-kali dan buahnya sudah dinikmati banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gergaji mesin meraung mencabik pohon alpukat itu. Sesaat kemudian pohon alpukat tumbang. Rebah di tanah. Daunnya rontok. Bersamaan dengan itu menguar segala kenangan. Menuju sebuah sudut paling sunyi di bumi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-7666450158240895176?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/7666450158240895176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=7666450158240895176' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7666450158240895176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7666450158240895176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/11/pohon-alpukat-suara-tangsel-12-november.html' title='Pohon Alpukat (Suara Tangsel, 12 November 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-470962303709479292</id><published>2011-11-12T15:02:00.001-08:00</published><updated>2011-11-12T15:08:39.584-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Budaya Membaca, Membaca Budaya (Suara Tangsel, 9 November 2011)</title><content type='html'>Boleh jadi kita akan mengamini dan mengimani jika tinggi rendahnya budaya membaca masyarakat berpengaruh pada kualitas suatu bangsa. Kecenderungannya adalah jika suatu bangsa dengan budaya baca masyarakatnya yang rendah akan jauh tertinggal dari negara lain. Ketertinggalan dalam hal ini bisa mewujud dalam berbagai bentuk. Entah itu tertinggal dalam bidang pendidikan, teknologi, kebudayaan, sains dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ditelusuri lebih lanjut, harus diakui jika kita, sebagai sebuah bangsa, telah mengalami lompatan sosial (social jumping). Kita melompat dari budaya agraris ke budaya audiovisual, tanpa melalui kebiasaan membaca (reading habit) yang kokoh. Sebelum kotak hiburan ajaib bernama televisi memasuki balai-balai desa dan kemudian menyebar ke dalam rumah-rumah warga, mayoritas dari kita pada dasarnya adalah para petani, paladang dan pekebun yang banyak menghabiskan waktu di areal bercocok tanam. Hingga akhirnya TVRI datang sebagai televisi pertama di Indonesia. Kita selanjutnya sama berkerumun di balai desa menyaksikan siaran hitam putih TVRI. Manakala televisi kian terjangkau, saat ini hampir tak ada rumah yang tak memiliki televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak pelak, guru kita adalah televisi. Salah satu ketakutan yang muncul setelah maraknya televisi adalah pengambilalihan budaya (cultural take over). Budaya kita perlahan digantikan dengan budaya yang lahir di televisi. Program-program televisi tak lagi menggali khazanah budaya bangsa, melainkan telah bermetamorfosa menampilkan wajah budaya asing (baca: barat). Hal ini terus bergulir hingga membentuk kebudayaan mono, kebudayaan yang tunggal. Televisi ‘menganjurkan’ memakai BlackBerry, maka semua orang memakai BlackBerry sebagai simbol bahwa pemakainya adalah anak kandung yang sah dari sebuah zaman. Televisi berkata ‘alhamdulillah ya sesuatu’ maka semua orang latah berkata ‘alhamdulillah ya sesuatu’. Inilah, televisi kemudian berhasil membidani lahirnya budaya populer (pop culture) yang akan senantiasa berkembang biak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memandangi potret di atas, menjadi tak aneh jika disandingkan dengan data yang menunjukkan bahwa di Indonesia jumlah masyarakat pembaca ada 16 juta, sedang masyarakat penonton televisi berjumlah 40 juta. Sebuah proporsi yang begitu timpang. Kondisi ini ditambah pula dengan kenyataan bahwa negara dengan jumlah televisi swasta terbanyak adalah Indonesia. Televisi swasta dengan waktu siaran rata-rata 24 jam penuh dan bebas diakses masyarakat. Padahal tidak semua content yang disiarkan berkualitas. Di Amerika, jika ingin mengakses siaran televisi secara leluasa adalah dengan televisi berlangganan, tidak segampang di Indonesia yang dimanjakan dengan 17 televisi swasta. Ternyata kita lebih liberal dibanding Amerika dalam hal regulasi pertelevisian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lumpuh Sejak Lahir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paparan sebelumnya memberikan pemakluman mengapa hingga kini kita memiliki budaya baca yang rendah. Di samping faktor social jumping, sebenarnya kita punya masalah lain terkait lemahnya budaya baca, yaitu tidak adanya upaya untuk mendesain iklim gemar membaca sejak di sekolah. Taufik Ismail, sastrawan senior Indonesia, pernah membuat sejumlah catatan yang mengejutkan sekaligus mengundang kekhawatiran. Ia mengadakan riset sederhana terhadap 13 tamatan  SMU dari 13 negara. Ia bertanya berapa buku yang wajib tamat dibaca dan dibahas siswa selama tiga tahun di sekolahnya. Hasilnya (antara lain) adalah: Malaysia 6 judul, Rusia 12 judul, Jepang 15 judul, Belanda 30 judul, Amerika 32 judul, Indonesia 0 judul. Benar memang riset kecil-kecilan itu dilakukan pada tahun 1997, sebuah kurun yang sudah lama sekali terlewat. Namun justru itulah letak permasalahannya. Sampai sekarang kita juga belum mengadakan perbaikan. 0 judul buku yang wajib tamat dibaca dan dibahas bukan sesuatu yang layak dibanggakan. Melainkan sebuah lelucon dengan kadar ironi yang tinggi. Seperti inilah yang dimaksud dengan tidak adanya upaya guna membentuk iklim gemar membaca. Lumpuh sejak lahir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya, jika tidak diwajibkan dan dikontrol dalam penugasan membaca buku, maka siswa tidak terbiasa membaca buku. Guru sebagai panutan juga belum tentu memberi  teladan membaca buku. Karena tidak terbiasa membaca buku dan tidak pernah mengalami membaca sebagai suatu kenikmatan dan keperluan, maka mana mungkin siswa mencintai buku. Keadaan ini pengecualian bagi sekolah dan guru yang inovatif, progresif-revolusioner. Secara kurikulum memang tidak ada kewajiban, namun mereka memiliki inisiatif sendiri dilandasi semangat untuk menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan, yang menghadirkan kegelisahan jika lama tidak melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memiliki banyak penulis dan pengarang yang sangat memadai untuk dibanggakan. Bahkan hingga level internasional. Siapa tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer? Sastrawan paling produktif di Indonesia yang berkali-kali dinominasikan untuk memperoleh Nobel Sastra. Alih-alih diwajibkan membaca karya-karyanya, di era Orde Baru buku-bukunya justru secara resmi dilarang dan sebagian dibakar. Selanjutnya, kita juga memiliki Mahbub Djunaidi, kolumnis sekaligus sastrawan kelas wahid yang menampilkan ciri khas humor (satir) cerdas di tiap tulisannya. Namun hari ini bukunya amat sulit didapat, tidak hanya di perpustakaan tapi juga di toko-toko buku. Di samping dua nama itu, masih banyak penulis lain yang karyanya berkualitas dan penting, namun, sekali lagi, tidak ada kewajiban untuk membaca apalagi membahas karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alah bisa karena biasa. Kita bisa mencintai buku karena biasa berinteraksi dengannya sejak dini. Jika sejak dini (di sekolah) tidak biasa didekatkan dengan buku, lantas mau apa?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Permasalahan dan Pemecahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapapun sepakat, akan terlihat perbedaan mencolok antara mereka yang gemar membaca dan tidak. Lewat pengamatan singkat, tampak jika orang yang biasa menghabiskan lembar-lembar buku, alur berpikirnya lebih terpola. Andaikan otak adalah rambut, maka kegiatan membaca serupa dengan kegiatan menyisir: membuat yang berantakan jadi teratur. Biasa membaca juga memudahkan kita membuat analisa. Hidup adalah perjalanan serangkaian analisa. Maka bagi yang suka baca akan ‘mudah’ menjalani hidup, manakala analisa-analisa berujung pada formulasi atau rumus kehidupan. Hasil bacaan sewaktu-waktu bisa diapanggil untuk disimpulkan dan dijadikan referensi mengatasi masalah, apa saja masalahnya. Manfaat itu tak hanya berguna bagi dirinya sendiri tapi bagi lingkungan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, bagaimana membuat orang yang tak gemar membaca menjadi suka membaca? Jelas ini masalah sangat personal. Bisa jadi mengapa seseorang tak suka membaca adalah karena lingkungan keluarganya bukan dari kalangan terpelajar. Atau mungkin kondisi ekonominya tidak memungkinkan untuknya mengakses buku. Program perpustakaan keliling, pengadaan taman bacaan, internet masuk desa dan lain-lain sepertinya tak cukup kuat mendorong kesadaran gemar baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi yang dapat ditempuh pertama-tama adalah membuat gerakan massif mengubah mind set masyarakat bahwa membaca adalah pekerjaan berat, menjemukan dan milik para intelektual. Kedua, Kemendikbud sangat perlu mewajibkan gerakan membaca di tiap jenjang pendidikan dan memberi patokan minimal. Misal untuk SD wajib baca 10 buku, SMP 15 buku, SMA 20 buku. Juga harus dipastikan ketersediaan buku-buku wajib baca tersebut diperpustakaan. Tidak menutup kemungkinan program ini sudah ada. Kalaupun sudah ada berarti hanya jalan di tempat, kaena belum terlihat. Ketiga, harus terus digalakkan kampanye gemar membaca di media cetak, elektronik dan online. Kelak, jika tawaran solusi tersebut terealisasi akan kita temui pemandangan orang-orang di manapun tempatnya sedang asyik membaca. Perpustakaan selalu ramai, toko buku tak pernah sepi. Semoga.   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-470962303709479292?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/470962303709479292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=470962303709479292' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/470962303709479292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/470962303709479292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/11/budaya-membaca-membaca-budaya-suara.html' title='Budaya Membaca, Membaca Budaya (Suara Tangsel, 9 November 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5794497679985600558</id><published>2011-10-26T16:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-26T16:58:48.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Membincang Ulang Buruh Migran (Ponorogo Pos, 20 Oktober 2011)</title><content type='html'>Awal November nanti salah seorang teman saya akan berangkat ke Amerika untuk bekerja sebagai waiters (pelayan) di sebuah kapal pesiar. Saya melihat sendiri bagaimana perjuangannya. Mulai dari mendaftar di agen, mengikuti sejumlah tes, mengurus visa dan pasport, briefing ini briefing itu dan menyelesaikan sejumlah urusan birokratif yang katanya memuakkan. Namun kini ia sudah bisa tersenyum lebar lantaran tinggal menunggu hari keberangkatan. Sejatinya, dengan berangkatnya ia ke Amerika, bertambah satu lagi warga Ponorogo yang meninggalkan tanah asalnya untuk merantau ke negeri orang di tanah seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi bekerja ke luar negeri bukan hal aneh bagi masyarakat Ponorogo. Jumlah buruh migran asal Ponorogo tidak bisa dibilang sedikit. Dikutip dari website BNP2TKI, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Kabupaten Ponorogo, Bedianto mengatakan pada tahun 2007 lalu, tercatat penempatan TKI asal Ponorogo mencapai 1.064 orang TKI. Kemudian pada tahun 2008 bertambah menjadi 1.488 orang. Sedang pada tahun 2009, jumlahnya berkurang menjadi 1.268 orang. Jumlah ini termasuk besar disbanding dengan daerah lain di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berkaca pada jumlah itu akhirnya kita maklum jika kemudian di desa-desa pinggiran Ponorogo banyak dijumpai rumah-rumah mewah yang cukup mentereng dibanding rumah yang lain. Atau akan banyak dijumpai sepeda motor keluaran terbaru berseliweran di jalanan desa yang belum tersentuh aspal. Boleh jadi, rumah mewah dan sepeda motor keluaran terbaru itu perwujudan dari kerja keras banting tulang para TKI di luar negeri. Pundi-pundi uang yang mereka kumpulkan dan mereka kirimkan ke keluarga tak ayal mengangkat derajat keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu banyak alasan kenapa mereka memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Alasan klasik yang sering terdengar adalah bahwa di tempat mereka tinggal tidak tersedia lapangan pekerjaan. Alasan itu bisa dibantah. Lapangan kerja tidak melulu harus dicari tapi bisa diciptakan. Namun sayang tak banyak yang sadar dengan hal itu, sehingga banyak yang memilih jalan pragmatis: kerja jadi TKI di luar negeri. Kalapun mereka sadar, namun segala keterbatasan yang melingkupi juga akan berujung pada satu jalan: pragmatisme, kerja di luar negeri, uang banyak, harkat martabat meningkat.&lt;br /&gt;Kabar-kabar miring seputar kekerasan terhadap buruh migran (terutama buruh migran perempuan) seolah tak pernah menggoyahkan niat mereka. Kasus penyiksaan dengan palu, setrika, dikurung di gudang hingga hukuman pancung mungkin hanya angin lalu belaka. Hal terpenting adalah keluarga mereka hidup layak dan syukur-syukur jadi terpandang oleh karena kekayaan mereka. Tidak terpikirkan pula bagi buruh migran perempuan yang sudah bersuami akan ditinggal selingkuh suaminya manakala sedang bekerja di luar negeri. Ya, hidup memang pedih, dan tampaknya warga Ponorogo sudah bersahabat karib dengan segala macam kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita melihat data Migrant CARE tahun 2010 akan dijumpai data tentang kekerasan terhadap buruh migran Indonesia yang cukup membuat kita miris. Ada 1.140 kasus penganiyaan, 874 kasus pelecehan seksual, 29 kasus penganiayaan dari majikan dan kekerasan seksual, 281 disiksa dipenjara, 631 upah di bawah rata-rata, 27 tidak digaji, 6 dipaksa makan daging babi, 13 anak buah kapal yang disiksa oleh pengusaha perkapalan asing. Sejumlah kasus kekerasan ini belum lagi ditambah persoalan lain yang berkenaan dengan buruh migran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ana Sabhana Azmy, aktivis pemerhati buruh migran, setidaknya terdapat empat solusi untuk memperbaiki nasib buruh migran kita. Pertama, penguatan eksistensi kelompok buruh migran di daerah asal dan pembentukan kelompok buruh migran bagi daerah yang belum ada. Kedua, LSM atau Serikat Buruh dan Asosiasi Buruh yang ada melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat dalam melakukan pendidikan politik bagi buruh migran. Ketiga, kerjasama Pemerintah Daerah dan Pusat dengan BLK (Balai Latihan Kerja/ tempat penampungan) dalam pemberian modul pendidikan politik ketika masa pelatihan di penampungan. Keempat, literasi politik bagi buruh migran melalu media massa terutama elektronik dan cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat masukan di atas bukan hal susah untuk ditempuh. Kerja-kerja nyata mengembalikan hak-hak buruh migran harus senantiasa digiatkan. Sebagai usaha memanusiakan kembali manusia. Tinggal pemerintah kita mau atau tidak memberi inspirasi dengan gerak cepat dan tanggap sasmita. Semoga. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5794497679985600558?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5794497679985600558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5794497679985600558' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5794497679985600558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5794497679985600558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/10/membincang-ulang-buruh-migran-ponorogo.html' title='Membincang Ulang Buruh Migran (Ponorogo Pos, 20 Oktober 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2732752696143242312</id><published>2011-10-26T16:44:00.000-07:00</published><updated>2011-10-26T16:54:25.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Reshuffle yang Gaduh (Koran Sindo, 18 Oktober 2011)</title><content type='html'>Headline hampir semua surat kabar nasional beberapa hari ini dipenuhi berita tentang reshuflle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Demikian juga berita di televisi yang senantiasa meng-update berita langsung dari Cikeas. Mereka tentu tak mau ketinggalan kabar siapa calon menteri dan wakil menteri yang dipanggil ke Cikeas. Tak ayal, Cikeas menjadi sebuah panggung pertunjukan yang gaduh. Tak berlebihan pula jika dikatakan, kita layaknya menonton sinetron manakala mengikuti berita reshuflle dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, seberapa penting reshuffle bagi rakyat? Jangan-jangan rakyat sudah apatis dan pesimis dengan reshuflle. Kerena mereka merasa tidak ada imbas apa-apa dengan ada tidaknya reshuffle. Lebih-lebih mereka dibenturkan kenyataan, meminjam istilah Goenawan Mohammad, para menteri hari ini bukan lagi mengabdi pada Republik melainkan mengabdi pada parpol. Meskipun juga pengangkatan 13 calon menteri dari kalangan profesional tidak lantas jadi solusi. Lantaran dinilai hanya akan menggelembungkan pengeluaran. Kita menginginkan struktur jabatan yang ramping tapi gemuk fungsi dan bukan sebaliknya, sebagaimana kata Siti Zuhro, pengamat politik dari LIPI.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun Gun Gun Heryanto, Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, mengingatkan kita, daripada kecewa untuk kesekian kalinya publik sebaiknya siapkan mental untuk tidak berharap terlalu banyak pada kabinet tambal sulam karena logika perombakan hanya memprioritaskan terjaganya zona nyaman.&lt;br /&gt;Harus diakui pula bahwa cara SBY dalam melakukan reshuffle kali ini amatlah gaduh dan berlebihan. Publik seakan-akan disuguhi tayangan reality show. Satu persatu calon menteri dipanggil ke Cikeas untuk diseleksi, mirip casting calon pemain film layar lebar.  Mau tak mau perhatian media dan publik berpusat ke Cikeas. Akibatnya, hal-hal yang mendesak seperti penuntasan korupsi dan pemberantasan terorisme seperti diabaikan. Padahal, korupsi dan terorisme yang merupakan top hat crimes atau kejahatan tingkat tinggi masih itu jadi momok di negeri tercinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, kita berharap kepada Presiden SBY untuk lebih arif lagi menjalankan kebijakannya. Apapun alasannya kepentingan rakyat lah yang harus didahulukan dan menjadi prioritas. Bukan terlalu sibuk dengan reshuffle yang sejatinya merupakan kepentingan segelintir golongan, yakni kepentingan partai koalisi. Jangan biarkan rakyat hanya jadi korban gaduhnya reshuffle.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2732752696143242312?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2732752696143242312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2732752696143242312' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2732752696143242312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2732752696143242312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/10/reshuffle-yang-gaduh-koran-sindo-18.html' title='Reshuffle yang Gaduh (Koran Sindo, 18 Oktober 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3453778454389560483</id><published>2011-09-29T16:28:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T16:30:48.465-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Menjadi Mahasiswa (dimuat di Buletin Teras KPI, edisi September 2011)</title><content type='html'>Satu pertanyaan tiba-tiba menegur: apa tugas mahasiswa? Itu pertanyaan yang sederhana. Namun jawabannya bisa sangat banyak, rumit atu boleh jadi justru sangat simple. Andaikata pertanyaannya diubah menjadi apa tugas siswa? Dengan normatif barangkali bisa kita jawab: belajar. Selesai. Namun penamaan sesuatu memiliki konsekuensinya sendiri. Kata siswa bersanding dengan kata maha. Pada mulanya kita mengenal kata maha hanya disandingkan dengan sifat Tuhan: Maha Pemurah, Maha Pengampun, dan seterusnya. Kita tidak perlu mempermasalahkan siapa yang menemukan istilah ’mahasiswa’, kapan ditemukan, dan bagaimana cara ditemukannya. Yang urgen dan mendesak adalah bagaimana kata maha kita beri pemakanaan atas diri kita yang kini menyandang titel serta label mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya teringat Nasihin Aziz Raharjo alias Kenyot Adisattva, alumni KPI sekaligus teman saya di Tongkrongan Sastra Senjakala. Saya ingat penjelasaannya tentang kata maha pada mahasiswa. Katanya, maha adalah sebutan bagi yang tak terputus dari yang disifatinya. Maha Penyabar tentu beda dengan penyabar. Karena penyabar masih ada kemungkinan hilang kesabaran karena satu alasan tertentu, sedang Maha Penyabar tidak. Maha Esa artinya: tak pernah sirna keesaannya barang satu detik pun. Jadi, tantangan sebenarnya adalah menjadi mahasiswa 24 jam, tak putus menjadi siswa. Siswa adalah pembelajar. Dengan demikian mahasiswa adalah pembelajar yang tak diputus waktu. Belajar apapun, kauniyah dan qouliyah, teks dan konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya hanya tersenyum saja ketika mengetahui sejumlah istilah yang mencoba mengkategorikan mahasiswa. Semisal ada istilah mahasiswa kupu-kupu (tidak perlu ditambah kata malam), yang berarti kuliah pulang – kuliah pulang. Lantas ada mahasiswa kuliah rapat – kuliah rapat, disingkat mahasiswa kura-kura. Dan ada pula mahasiswa kuda-kuda, yakni mereka yang kuliah dagang – kuliah dagang.  &lt;br /&gt;Mahasiswa kupu-kupu tidak menutup kemungkinan merupakan representasi mahasiswa akademisi. Dalam artian ia menyadari betul bahwa tugasnya sebagai mahasiswa adalah mendengar ceramah dosen di kelas dan setelahnya pulang, tidak perlu capek-capek berorganisasi apalagi ikut demonstrasi yang hanya akan memacetkan jalanan dan buang-buang tenaga. Sedang mahasiswa kura-kura barangkali merupakan perwujudan mahasiswa aktivis-organisatoris. Ia menganggap bahwa hanya menerima kuliah di ruang-ruang kelas tidaklah cukup. Bahkan ia sangat yakin bahwa ia hanya mendapat 20% ilmu di kelas, sedang 80% lagi ada di luar kelas, yaitu di organisasi, forum diskusi atau pun seminar dan sejumlah pelatihan. Lain lagi dengan mahasiswa kuda-kuda yang memang memiliki bakat berwirausaha sangat kental sehingga hidup adalah bisnis dan kampus merupakan pasar yang menggiurkan. Atau mungkin (dalam sebuah cerita yang menguras rasa iba) ia berdagang untuk biaya kuliahnya, adiknya banyak, orang tuanya kerja serabutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap kali timbul silang pendapat antara mereka yang kupu-kupu dan yang kura-kura. Kelompok kura-kura sering menuding para kupu-kupu adalah kalangan hedonis. Yang kehidupannya hanya berkisar antara kampus, mall dan rumah. Sedang kaum kupu-kupu mengganggap para kura-kura, yang kadang penempilannya begitu gembel, kucel dan suram, tidak memiliki masa depan jelas. Kata mereka, cukuplah kuliah itu menunjukkan IP di atas 3 ke orang tua tiap semester. Dibantah oleh mereka yang kura-kura jika seharusnya nilai itu tanpa angka. Tidak semuanya bisa dihitung dan dihargai dengan angka. Apa artinya IP tinggi jika gagap bersosialiasi, lemah team work, buta manajemen dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya tidak perlu merasa paling unggul. Biarkan saja menjadi kupu-kupu. Siapa tahu pencerahan bisa ia temukan di mall, rumah dan ruang kelas. Bukan soal jika jadi kuda-kuda, bahkan sampai dapat gelar MA (Mahasiswa Abadi). Bukankah demonstrasi, organisasi atau forum-forum diskusi tidak akan membuat mereka jatuh miskin atau sakit-sakitan. Senyampang ia menikmati dan baik bagi hidupnya, lanjutkan saja.&lt;br /&gt;Di akhir, saya ingin berdoa, semoga Tongkrongan Sastra Senjakala, rumah keempat saya, masih memiliki nafas panjang dan tetap nyaman ditinggali. Juga forum-forum kajian lain semisal Formaci dan Piramida tetap diminati banyak mahasiswa. Saya berharap pula, betah mendengar kuliah dosen di kelas dan selalu dianugerahi dosen yang cerdas, mumpuni dan pengertian. Selain itu, semoga saya dan teman-teman masih bisa jalan-jalan ke mall untuk up date buku baru seminggu sekali di Gramedia, beli ice cream cone Rp 2.000, dan sesekali menikmati Breadtalk. Namun pasar tradisional tetap hidup dan tumbuh serta TB. Gerak-Gerik laris manis. Hmm, hidup kadang kerap melintasi kontradiksi dan ambiguitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3453778454389560483?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3453778454389560483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3453778454389560483' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3453778454389560483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3453778454389560483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/09/menjadi-mahasiswa-dimuat-di-buletin.html' title='Menjadi Mahasiswa (dimuat di Buletin Teras KPI, edisi September 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4900079112435279936</id><published>2011-09-22T05:32:00.000-07:00</published><updated>2011-09-22T05:38:21.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Ponorogo dan Budaya Ngobrol (dimuat, Ponorogo Pos, 15 September 2011)</title><content type='html'>Di Ponorogo, apabila selepas maghrib kita menyusuri Jalan Urip Sumoharjo terus berbelok ke Jalan Diponegoro lanjut kemudian ke Jalan Jendral Soedirman maka niscaya akan kita dapati deretan angkringan di trotoar-totoar jalan. Angkringan yang buka sejak pukul lima sore hingga menjelang subuh ini menjajakan nasi kucing, jajanan pasar, kopi, selain juga banyak minuman dan makanan ringan lain yang tak mungkin disebut satu-satu. Fenomena ini barangkali baru muncul sekitar empat lima tahun belakangan. Dahulu, tradisi ngopi di Ponorogo memang sudah ada namun tidak di angkringan melainkan di warung-warung kopi. Adapun warung kopi akan banyak kita jumpai di sekitar stasiun lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau ditilik dari sejarah, angkringan sebenarnya memiliki historis yang panjang. Angkringan atau yang nama lainnya HIK dipelopori oleh Mbah Pawiro pada tahun 1950. Dinamakan HIK karena dulunya para pedagang seperti Mbah Pawiro ini berdagang keliling kampung dengan meneriakkan kata “hhiikk... hiiiyyeeekkk”. Sembari membawa pikulan yang penuh berisi berbagai jenis makanan yang umumnya adalah jajanan pasar seperti pisang goreng, telur puyuh rebus, tahu tempe bacem, nasi kucing dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mbah Pawiro, kakek asal Klaten tersebut awalnya kerap mangkal di depan stasiun Tugu, Jogja. Dari Jogja, ‘wabah’ angkringan menjalar ke Solo, dan semakin ke timur hingga menjangkiti kota Ponorogo. Budaya ngopi pun bergeser dari warung-warung kopi menuju angkringan-angkringan pinggir jalan, yang pada musim liburan sekolah atau kuliah dipenuhi kawula muda kota Ponorogo yang mencari tempat nongkrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati fenomena angkringan cukup menarik. Orang datang ke angkringan sering kali hanya untuk menikmati secangkir kopi namun bisa berjam-jam. Ada saja bahan obrolan yang jadi pembicaraan. Boleh jadi mereka ngobrol soal ekonomi, kebudayaan, agama, politik, atau sekadar ngerumpi hal-hal remeh temeh yang kadang tak penting. Lepas dari apa bahan obrolan mereka di angkringan, dapat dilihat dari fenomena ini masyarakat Ponorogo nyatanya masih gemar srawung, tidak terjebak dalam gaya hidup individualis macam yang terjadi di kota besar. Sebab memang membayangkan masyarakat Ponorogo menjadi individualis rasanya hampir tak mungkin terjadi.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Budaya ngobrol memang amat menggejala dalam masyarakat kita. Entah itu ngobrol face to face ataupun yang termediasi dan berlokasi di dunia maya. Jika menilik laku remaja, kita akan dapati bagaimana bilik-bilik warnet dipenuhi oleh mereka-mereka yang larut dalam chating. Wahananya pun kian terus berkembang. Jika dulu ada Yahoo Messenger, kini ada Facebook dan belakangan muncul BlackBerry dengan fasilitas BlackBerry Messenger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Indonesia menduduki peringkat atas pengguna Facebook terbanyak di seluruh dunia. Kini tren sedang mengarah ke pemanfaatan BlackBerry Messenger sebagai wahana komunikasi. Pada BlackBerry Messenger tidak jauh beda dengan Facebook dan Yahoo Messenger, hanya saja fasilitas BlackBerry Messenger terkesan eksklusif lantaran tertanam dalam BlackBerry dan hanya dapat berhubungan dengan sesama pengguna BlackBerry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sering membuat risih adalah bahwa terkadang pengguna BlackBerry menjadi seperti seorang penderita autis (asyik dengan diri sendiri). Dua jempolnya menari-nari di atas keypad QWERTY dan ia abai dengan lingkungan sekitar. Sebagaimana diketahui, BlackBerry Messenger hanya akan digunakan apabila operator kita telah terdaftar di Paket BlackBerry. Biaya paket variatif. Ada yang lima puluh ribu sebulan, ada pula yang seratus ribu. Kian mahal kian banyak fasilitasnya. Lantaran menggunakan paket pengguna BlackBerry Messenger seolah ingin memaksimalkan penggunaannya, seperti tak mau rugi, tak boleh ada yang terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mengapa kemudian BlackBerry mendapat embel-embel jargon ‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat’. Jargon tersebut tidak berlebihan. Memang benar jika BlackBerry dengan segala fasilitasnya akan mendekatkan saudara, kerabat, keluarga dan sahabat kita di tempat-tempat jauh. Silaturahmi pun tetap terjaga. Meski begitu BlackBerry juga bisa menjauhkan kita meski sebenarnya dekat. Katakanlah dua orang sedang ngobrol face to face, tapi lantaran satu di antara keduanya sedang menggunakan BlackBerry maka teman ngobrolnya kurang diperhatikan. Sehingga meski keduanya ngobrol dan berdekatan tapi rasanya jauh serta berjarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul kiranya jika fitrah manusia adalah berkomunikasi, srawung. Dalam teori komunikasi, cara menyampaikan lebih penting daripada apa yang disampaikan. Seperti misalnya dalam pembacaan puisi, isi puisi menjadi tidak penting atau kabur, yang menjadi perhatian dan yang menentukan adalah bagaimana puisi itu dibawakan. Makin tangan kita menggapai-gapai, mimik muka dibentuk macam-macam, sampai ngesot-ngesot pula, seperti semi bermain teater maka akan semakin mengundang daya tarik. Jika ada daya tarik dan kemudian umpan balik (feedback) maka komunikasi itu berhasil. Dalam konteks BlackBerry dan angkringan dapat dilihat bagaimana masyarakat (utamanya Ponorogo) saat ini berkomunikasi dengan satu dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intnya, berkumpul dan berinteraksi di angkringan, via Faebook, BlackBerry Messenger dan sebagainya harus dilihat sebagai sebuah karunia. Bahwasannya kita telah sampai di era keterbukaan. Bandingkan misalnya dengan era Orde Baru, kumpul di angkringan saja tak menutup kemungkinan akan disusupi intel, Facebook dan sejenisnya disensor bahkan diblokir jika membahayakan. Hal itu tentu tak kita dapati kini. Meski bukan berarti kita artikan pemerintah saat ini lebih baik. Dalam hal itu tentu saja benar, tapi urusan lain seperti korupsi dan kesejahteraan rakyat oleh pemerintah kita rasanya seperti tak diurusi dengan sungguh-sungguh bahkan terkesan setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apapun yang terjadi, saya yakin masyarakat Ponorogo tidak terlalu risau dan senantiasa berbahagia. Ibarat kata tiap pagi masih bisa ngopi dan menikmati sego pecel, orang kita sudah cukup berbahagia seta bersyukur. Kita tidak akan bersedih dan putus asa dengan urusan-urusan yang memang tak kan bisa membuat kita sedih dan putus asa. Semoga.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini terinspirasi diskusi panjang dengan 2 kawan, Fuad dan Agung)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4900079112435279936?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4900079112435279936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4900079112435279936' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4900079112435279936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4900079112435279936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/09/ponorogo-dan-budaya-ngobrol.html' title='Ponorogo dan Budaya Ngobrol (dimuat, Ponorogo Pos, 15 September 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1761905193665156953</id><published>2011-08-19T23:37:00.000-07:00</published><updated>2011-08-19T23:57:19.835-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Hikayat Mbah Seno (dimuat di Jurnal Nasional, 14 Agustus 2011)</title><content type='html'>Mbah Seno di rumah sendirian. Lelaki usia 73 itu tidak punya siapa-siapa lagi. Istrinya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Dan ia memang tidak dikaruniai anak seorang pun. Istrinya mandul. Ia bisa menerima itu. Sadarlah ia bahwa dalam hidup segala sesuatu tak bisa selalu sempurna. Serta semua angan-angan tak mungkin selalu terwujud. Ia juga tak memiliki niatan untuk mengambil anak asuh. Ada perasaan ganjil yang muncul di benaknya jika ia merawat anak asuh. Semacam rasa tak penuh memiliki seorang anak dan sedikit kekhawatiran. Barangkali ia takut dengan prasangka dan bayangan-bayangan yang ia reka sendiri. Sejujurnya ia adalah kakek yang malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membikin segelas teh, Mbah Seno duduk di kursi tamu. Ia nyalakan radio. Mendengarkan radio sudah menjadi kegemarannya sejak dulu. Lebih-lebih setelah istrinya meninggal. Praktis teman setianya adalah radio. Acara favoritnya adalah Koes Plus Mania, di mana lagu-lagu Koes Plus terbaik diputar. Mbah Seno, tak bisa dielakkan lagi, adalah penggemar Koes Plus nomor wahid. Ia hampir hafal semua lagu-lagunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya ia pergi ke masjid sekarang. Bergabung dengan warga-warga lain membersihkan masjid. Sebab hari ini adalah sehari jelang Ramadhan. Membersihkan masjid sebelum masuk bulan puasa sudah menjadi adat kebiasaan warga di situ. Tapi Mbah Seno sudah tak kuat lagi untuk ikut kerja bakti. Tubuhnya mulai ringkih. Sedikit dihembus angin bisa jadi akan langsung jatuh sakit.&lt;span class="fullpost"&gt;Maka Mbah Seno memilih bertahan di rumah saja. Barangkali di antara riuh rendah suasana hati orang-orang menyambut bulan penuh kemulian, hanya Mbah Seno yang hatinya tak menentu. Di usianya yang sudah uzur ia harus menanggung sunyi sendiri. Kalaupun ada yang kerap mampir ke rumahnya adalah Mbah Eko dan Mbah Drajat. Keduanya mengunjungi Mbah Seno sekadar untuk mengobrol dan minum teh atau merokok di teras rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu sekali, sebelum desa ini seramai sekarang, baik Mbah Seno, Mbah Eko dan Mbah Drajat saat masih muda adalah preman kampung. Ketiganya amat disegani. Bahkan hingga preman kampung sebelah menaruh hormat. Tiga sekawan itu berjuluk Gerombolan Tiga Singa. Nama gerombolan itu telah kondang di mana-mana. Tidak ada hajatan yang tak meminta bantuan mereka untuk masalah keamanan. Dan mereka hanya bisa ditemui di kedai tuak Mak Cupet. Sebab di samping bikin onar -dengan dalih menjaga keamanan- kegiatan lain mereka adalah minum, mabuk, lalu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi semua berubah manakala, Mbah Seno muda, pimpinan Gerombolan Tiga Singa itu terperosok dalam pesona seorang Utami. Semua akan berjalan seperti biasa andai saja Utami bukanlah puteri tunggal Haji Ibrohim, guru agama sekaligus sesepuh di desa itu. Utami baru berusia 18 tahun kala itu, sedang ranum-ranumnya. Dan Mbah Seno muda bukan orang yang tak tahu diri. Ia sangat paham di mana posisinya. Ia sadar siapa ia dan siapa Utami. Meskipun ia juga tak bisa membohongi hatinya jika ia telah terhisap ke dalam pusaran seorang Utami, yang menurut Mbah Seno muda memiliki paras secantik perpaduan purnama, matahari senja dan terbit surya di pagi hari. Sebuah ibarat yang cukup berlebihan namun wajar bagi orang yang kasmaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pakaian kumal Mbah Seno muda berganti dengan baju putih dan sarung. Meski bukan pakaian baru, namun cukup membuatnya terlihat berbeda sama sekali. Rambut gondrong dan kumalnya dipotong pendek lantas diminyaki. Ia hendak menuju rumah Haji Ibrohim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan itu kontan membuat Mbah Drajat dan Mbah Eko muda yang segera menemuinya geleng-geleng kepala serta tak habis-habis mengumpat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini kemasukan setan mana bisa berubah drastis begini ha?” tanya Mbah Drajat muda sambil bersungut-sungut. Mulutnya bau tuak dan matanya merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hanya karena seroang Utami kau berubah? Huh, mentalmu kerdil sekali! Membunuh preman kampung sebelah saja kau tak takut, tapi dengan anak Haji Ibrohim kau bertekuk lutut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kewibawaan dan nada suara terukur, nyaris tanpa emosi, Mbah Seno muda menjawab pertanyaan kedua temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kawan, kau tahu, aku tidak kemasukan setan manapun, ini adalah aku yang sesungguhnya. Kawan, kau juga tahu, aku memang dingin tiap kali menghabisi lawanku,” Mbah Seno diam sesaat, ambil nafas lalu lanjut berbicara,” Tapi, andai kau tau rasanya cinta, kau pasti tak kuasa menahannya. Diserang cinta lebih parah dibanding diserang demam paling mematikan sekalipun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup. Jangan lagi berkhotbah tentang cinta. Coba kau pikir lagi, bagaimana bisa sejarah akan mencatat seorang pimpinan Gerombolan Tiga Singa yang paling disegani takluk dengan anak seorang guru agama? Kita akan ditertawakan sejarah dan pasti akan sangat memalukan sekali!” Mbah Drajat mengutarakan pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru itu kawan, biarlah sejarah mencatat jika di desa ini seorang begundal telah jadi lembut hatinya karena cinta dan cinta telah menunjukkan kuasanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah! Wedhus!” Mbah Eko membuang muka sambil meludah. Wajahnya tampak kesal sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Mbah Seno telah berada dalam kendali cinta. Dengan langkah gagah ia menuju rumah Haji Ibrohim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum Haji Ibrohim. Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang memohon ampun,” Mbah Seno muda menyitir hadis sebagai pembelaannya, “Saya sudah berubah kini dan izinkan saya meminang Utami, puteri Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati Mbah Seno muda dengan pakaian rapi dan rambut dicukur pendek nan klimis Haji Ibrohim hanya tersenyum simpul. Dengan ketenangan luar biasa ia berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalilah lagi ke sini ketika kau sudah mengerti tentang ilmu jujur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan Mbah Seno muda tersekat. Ilmu jujur? Ah, seperti apa ilmu jujur itu? Dengan lunglai Mbah Seno muda meninggalkan rumah Haji Ibrohim. Ia seperti tersihir sehingga tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia juga begitu penurut lagi jinak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari Mbah Seno muda memikirkan tentang ilmu jujur. Namun ia tak tahu sama sekali. Mendadak ia menyesal enggan belajar agama sejak dini. Ia tahu bahwa penyesalan tiada guna. Ah, setidaknya aku ingin jujur kepada diriku sendiri, katanya dalam hati. Ia jujur kepada dirinya sendiri bahwa minum tuak hanya akan merusak tubuhnya, bahwa merompak hanya akan merugikan saudaranya sendiri. Ia juga jujur jika hidupnya di masa lampau bukan hidup yang selama ini diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah pada suatu petang di hari Kamis Mbah Seno muda datang lagi ke rumah Haji Ibrohim. Kali ini tanpa baju putih dan sarung. Ia hanya mengenakan celana panjang an kaos sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat ia mengetuk pintu Haji Ibrohim telah terlebih dahulu membuka pintu. Seolah tahu jika seseorang akan datang. Lantas Haji Ibrohim mempersilakan Mbah Seno muda untuk duduk. Mbah Seno muda tak bersuara sedikit pun. Mulutnya seperti dibungkam oleh sesuatu yang gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu memaknai ilmu jujur tidaklah mudah. Dan itu tak bisa ditemukan dalam hitungan hari. Tapi aku sudah tahu jika kau telah berusaha. Aku pun tahu kau telah jujur terhadap dirimu sendiri. Dari pakaian yang kau kenakan telah mencerminkan semuanya. Kau tak bisa berbohong jika kau belum nyaman mengenakan baju putih dan sarung. Kau tak lagi ingin menunjukkan kesalehanmu. Boleh jadi kau telah mengerti jika kesalehan tidak bisa diukur dengan pakaian yang dikenakan,” terang Haji Ibrohim panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kini pinanglah anakku. Jaga ia baik-baik. Utami adalah anakku satu-satunya,” tambah Haji Ibrohim. Saat itu juga air mata menderas dari mata Mbah Seno muda. Seketika ia mencium tangan dan kaki Haji Ibrohim, calon mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan itu terjadi sehari jelang Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini pun adalah satu hari jelang Ramadhan. Namun Mbah Seno sepertinya tak menemukan kebahagiaan apapun. Selain lagu Koes Plus yang meluncur dari kotak radio, belum ada kebahagiaan lain yang berarti baginya sepeninggal istrinya. Hal lain yang cukup bisa menghibur sepinya adalah kedatangan Mbah Drajat dan Mbah Eko yang sama-sama lepas dari dunia preman setelah menemukan pasangan hidup. Ketika semua anggota Gerombolan Tiga Singa menikah secara resmi gerombolan itu dibubarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah segelas teh dihadapannya tandas segera Mbah Seno mengambil kemeja batik lengan panjang, sarung dan songkok hitam. Ia bersiap ke masjid. Untunglah ia punya tetangga sebaik Yu Rebi yang ikhlas mencuci dan menyetrika bajunya. Juga memasak setiap harinya. Praktis seluruh hidup Mbah Seno bersandar pada Yu Rebi, tetangganya yang berhati mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Seno sudah berjalan ke pintu. Hendak keluar rumah. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia duduk kembali. Seluruh isi rumah dipandangi satu per satu. Setiap benda seolah ingin bercerita tentang semua kenangan yang telah berlalu. Baru kali itu Mbah Seno merasakan sunyi yang amat menusuk ke kedalaman sanubarinya. Suara riang anak-anak bermain kembang api dan petasan seperti tak berarti. Di tengah keramaian ia masih merasa sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas maghrib Yu Rebi datang ke rumah Mbah Seno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbah, ini ada sedikit lauk buat sahur besok pagi. Masih kuat puasa kan besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah. Terima kasih, Yu.” Mbah Seno menjawab seraya tersenyum. Giginya yang beberapa sudah tanggal kelihatan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultum dari imam tarawih sedikit banyak membuat Mbah Seno terkesan. Sampai di rumah ia masih terkenang ceramah imam tarawih tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan Ramadhan setan-setan dikekang dan pintu surga dibuka lebar. Tapi, wahai jamaah sekalian, tahukah anda jika manusia sekarang sudah begitu canggih sehingga untuk berbuat kerusakan dan kejahatan tak perlu setan turut campur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kata-kata penceramah itu telah menggelitik Mbah Seno. Lelaki rapuh itu diseret ke masa lalunya. Namun ia mampu menghadang gelombang kenangan itu. Meski sedikit terengah-engah melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh suara tetabuhan sahur yang dibunyikan anak-anak muda Mbah Seno terbangun. Ia bersiap untuk bersantap sahur. Oh, syukurlah aku masih bertemu bulan puasa lagi, batin Mbah Seno. Rona kesyukuran terlihat di wajahnya. Telah ia tuang nasi ke piring. Sepotong tempe dan tahu ia letakkan di samping nasi. Tak lupa sesendok sambel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja hendak ia menyuapkan suapan pertama saat ia merasakan tulang punggungnya linu. Ia taruh kembali sendok di piring. Lantas menuju kamar, mengambil obat. Sayang, tubuhnya rubuh di pintu kamar. Tak jadi sahur. Tak jadi puasa. Sebab Mbah Seno kini telah  tak beryawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasadnya baru ditemukan saat Yu Rebi mengantar buka puasa. Seisi rumah yang lengang itu telah bersiap menyambut kesepian. Bersiap untuk tak bertuan. Semua terjadi di satu hari jelang Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayagiri, 25 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1761905193665156953?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1761905193665156953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1761905193665156953' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1761905193665156953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1761905193665156953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/08/hikayat-mbah-seno-dimuat-di-jurnal.html' title='Hikayat Mbah Seno (dimuat di Jurnal Nasional, 14 Agustus 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-927566840875905444</id><published>2011-07-31T21:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T21:35:10.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>PENYAIR (dimuat Majalah Civitas (STAN) Juli 2011)</title><content type='html'>“Aku jatuh hati padamu karena kamu mahir menulis puisi, Jak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa berujar kepadaku pada suatu siang yang terang di bulan Agustus. Kala itu langit amatlah cerahnya. Angin sepoi menggerakkan pucuk-pucuk melati. Dua lembar daun melati kering gugur di hadapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu suka puisi, Sa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangat suka. Aku juga suka lelaki penyair.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa memang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena tak semua lelaki bisa membuat puisi. Lelaki penyair adalah lelaki istimewa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, apakah kamu juga menyukai puisi-puisiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini aku mabuk oleh puisimu. Semoga selamanya.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Sa telah mengutarakan kata hatinya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa boleh jadi selalu membeli koran minggu pagi serta acap kali mendapati puisiku di sana. Lantas kata-kata memainkan daya pikatnya sendiri. Meski aku menulis puisi tidak untuk memikat gadis manapun. Sa telah hanyut terseret arus sihir deret-deret huruf dalam sebuah puisi. Aku suka perempuan yang memaknai kata tak sebatas kata. Sa perempuan yang melakukan itu. Perempuan yang apabila dipandangi beberapa saat menyatu pesona purnama dan matahari senja di ranum wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu malam yang mendadak kelam lantaran rembulan disaput mendung. Sa mendatangiku dan kemudian berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bundaku telah membaca beberapa puisimu, Jak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya? Lantas bagaimana tanggapannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em…sebenarnya aku tak enak mengatakannya padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan saja, Sa. Tak usah sungkan. Aku memerlukan cermin bagi puisiku. Komentar bundamu tentu sangat membangun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Bunda bilang, yang seperti kau tulis itu bukan puisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?! Bukan puisi? Lantas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata-kata yang kamu susun sedimikian rupa itu tak lebih dari sekedar mantra. Mantra yang biasa dirapal tukang-tukang tenung di pedalaman-pedalaman gelap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bundamu bilang begitu? Benarkah?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini aku mulai gusar. Aku menggaruk rambutku yang tak gatal. Lalu memekar senyum yang tak perlu. Seperti dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Jak. Bunda bilang begitu padaku kemarin sore. Ketika aku sedang menyiram bunga di halaman depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa bermuka bimbang saat berkata demikian itu. Jelas aku menangkap sendu yang menggelanyut di pelupuk matanya. Sinar matanya kini tak sesegar fajar subuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak hanya itu, Jak. Bunda juga berpesan, aku tak boleh menikah dengan tukang tenung yang gemar merapal mantra.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terduduk lesu. Tubuhku serasa hanya menyisakan tulang dan daging. Tanpa jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, aku harus bagaimana? Aku merasa telah membuat puisi dengan baik, tapi ternyata masih ada yang menganggapnya sebagai mantra tukang tenung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kataku lebih mirip seperti ceracau. Tak habis pikir. Dari kacamata apa ibunda Sa mengatakan puisiku tak ubahnya mantra tukang tenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa mengambil nafas sedalam mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda memintamu menulis sebenar puisi. Satu saja, tak perlu banyak-banyak. Namun, sebenar puisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andai saja aku tahu sebenar puisi itu seperti apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah tahu, Jak. Hanya saja kau belum menuliskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin aku bingung dibuatnya. Sebenar puisi? Seperti apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sa, apakah sebenar puisi itu ditulis oleh penyair-penyair ahli ibadah? Yang hafal ayat-ayat kitab suci, yang sembahyang siang dan malam, yang menahan lapar seharian, yang merasa dekat dengan Tuhan. Begitukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tentu, Jak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau mungkin hanya dapat ditulis oleh penyair-penyair yang tak pernah mengahardik kedua orang tuanya, yang tak membangkang nasihat kakek nenek, yang hormat pada si tua dan sayangi pada si muda. Apa begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jak, kau tentu lebih tahu. Kau hanya tinggal menuliskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung. Bagaimana aku bisa lebih tahu sementara aku masih bertanya padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah dia penyair yang selalu berucap salam kepada sesiapa yang ditemui, yang lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Jak. Tak perlu kau menduga-duga lagi. Mulai sekarang carilah, temukan sebenar puisi itu. Aku akan menunggumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di tengah kebingungan aku memulai pengembaraan. Menemukan makna sebenar puisi. Pertama kulakukan adalah mencatat nama sejumlah penyair yang telah mapan, banyak diperbincangkan dan sering memperoleh penghargaan. Tentu aku hanya mendatangi penyair lelaki. Bukan apa-apa, hanya agar terbentuk kesamaan pandangan. Ternyata aku mendapatkan sedikit nama saja. Negeri sebesar ini cuma menyimpan segelintir penyair besar rupanya. Mungkin justru ada ratusan atau ribuan penyair kecil. Hei, apa beda penyair besar dan penyair kecil? Bukankah mereka sama-sama menulis puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke barat aku terus berjalan. Menemukan rumah penyair yang ada dalam catatanku. Atau taman-taman budaya tempat di mana para penyair biasa membacakan karya-karyanya. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang kakek. Ia mengaku bahwa ia peramal. Tanpa kuberitahu ia tahu kalau aku sedang mencari penyair-penyair besar dalam rangka menemukan hakikat puisi. Aku tidak terperangah. Sudah kuduga sebelumnya dalam pengembaraanku akan bertemu dengan orang-orang aneh macam kakek yang mengaku peramal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda, aku telah terbiasa membaca arah mata angin. Menurut pembacaanku tidak tepat jika kau berjalan ke barat. Aku sarankan kau berjalan ke selatan. Penyair yang kau cari ada di sana.” Wajah kakek peramal itu serius dan meyakinkan. Susah bagiku untuk tak mempercayainya. Memang sejak mula aku sendiri ragu jika pengembaran ini kuawali dengan berjalan ke barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah begitu, Kek?” belum sempat si kakek menjawab, tatapan mataku padanya beralih pada suara benda jatuh di belakangku. Ternyata buah delima yang telah masak jatuh dari pohon. Tidak cuma satu tapi lima buah delima jatuh hampir bersamaan. Ketika aku memalingkan muka hendak menatap kakek peramal aku sudah tak lagi mendapatinya. Aku kaget tapi kemudian mendengus kesal. Harusnya aku menyadari dari awal bahwa buah delima yang berjatuhan itu adalah trik untuk mengalihkan perhatianku. Sehingga kakek itu bisa pergi diam-diam tanpa bersuara, tanpa kusadari. Dan aku akan menganggap bahwa ia benar-benar kakek peramal sakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak urung aku pergi ke salatan juga. Kuputuskan mengubah arah perjelanan dari barat ke selatan, setelah menyudahi perang batin yang hampir tak berkesudahan. Namun sial, daerah selatan sedang bergolak hebat. Perang saudara berkecamuk. Aku pontang-panting menyelamatkan diri. Pantang bagiku untuk surut. Harus kutemukan penyair itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampailah aku pada taman budaya daerah selatan. Kudengar, ada kesepakatan bahwa taman budaya harus steril dari senjata. Bebas pertumpahan darah. Aku sedikit tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan nanti malam ada pembacaan puisi di sini. Kabarnya presiden penyair daerah selatan akan datang. Semoga setelah malam baca puisi nanti perang saudara segera berakhir,” kata penjaga taman budaya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Aku duduk di bangku paling depan malam itu. Penasaran sekali aku dengan orang yang dijuluki presiden penyair daerah selatan itu. Akankah aku menemukan hakikat sebenar puisi darinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang manakala presiden penyair daerah selatan naik ke podium. Wajahnya menyeramkan, dua anting bertengger di kupingnya. Rambut gondrong presiden penyair ditutup topi yang hampir melindungi semua rambutnya. Kumis dan jenggot dibiarkan melebat. Jaket yang dikenakan juga jaket lusuh. Ia tenggak bir dari botol besar. Diam sebentar, ia mulai membacakan puisi pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan tak nyaman saat ia membacakan puisi-puisinya. Kemudian aku berpikir,  apa bedanya puisinya itu dengan seruan perang. Selesai puisi pertama dibaca penonton bergemuruh, berteriak penuh semangat, menggebrak meja. Kutinggalkan taman budaya sebelum acara baca puisi itu selesai. Sepertinya perang di daerah selatan ini tak akan pernah usai jika para penyairnya seperti itu. Dan aku merasa tertipu oleh kakek peramal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan daerah selatan, kualihakan perjalanan menuju utara. Ketika sampai di hutan jati yang sangat sunyi aku berhenti sejenak. Kutulis sebuah puisi, tentang perjalanan ini, juga tentang pertemuanku dengan presiden penyair daerah selatan. Suara aliran air dari sungai di pinggir hutan, wangi daun-daun jati yang berguguran dan desir angin yang mengelus kulitku membuat mataku tak kuat menahan kantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpi kudengar suara yang kumaknai sebagai sebuah isyarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kau ikuti arus sungai itu, kau akan sampai pada bukit dengan pepohonan berdaun merah. Ada rumah bambu kecil di kaki bukit itu. Di sanalah seorang penyair yang mahir menulis sajak-sajak cerah tinggal. Temui dia. Ambil ilmunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat saat mimpi itu selesai aku terjaga. Hari sudah gelap rupanya. Dingin mencekat. Kukumpulkan ranting dan daun kering,  melawan dingin dengan api unggun. Malam begini hutan serasa sampai pada puncak hening. Tak lama berselang, dari arah sungai kudengar kecipak ikan. Rasa lapar mendorongku menuju sungai. Aha, beruntung sekali aku mendapati ikan-ikan berlompatan. Kutangkap beberapa lalu kubakar. Setelah kenyang aku kembali tertidur hingga embun pagi membangunkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kutemui sedikitpun kesulitan menuju rumah penyair yang gemar menulis puisi cerah ini. Sungai yang kuikuti tak terlalu panjang. Kujumpai rumah penyair itu, meski kecil tapi rapi. Teduh dan sejuk. Saat aku datang ia sedang menikmati kopi bersama istrinya di beranda rumah. Kuutarakan maksudku pada penyair berambut belah tengah dengan muka sahaja itu. Ia antusias sekali. Dengan bangga ia keluarkan buku besar berisikan koleksi puisi-puisinya. Kubaca habis puisi itu, dari pagi hingga malam. Penyair itu tentu tak keberatan sama sekali. Bahkan ia menyediakan satu kamar khusus di rumahnya untukku. Ketika tiba jam makan, istrinya mengantarkan makanan ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ini puisi semua berisi tentang kebahagian hidup manusia. Tak ada satupun puisi duka. Semua puisi tampaknya bercerita tentang kehidupan tentram penyair. Oh, bukankah hidup manusia tak bahagia semata,” ujarku selesai merampungkan buku koleksi penyair itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja aku putus asa. Tapi aku teringat Sa, teringat juga pada restu ibundanya. Di sebuah kedai peristirahatan kutulis beberapa bait puisi. Kemudian  kuputuskan berjalan ke barat. Kutemui penyair paling hebat di sana. Tapi lagi-lagi yang kutemui hanya kekecewaan. Penyair hebat daerah barat itu hanya menulis puisi-puisi gelap yang membuat kepalaku pening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya aku menuju timur, menyinggahi rumah-rumah penyair daerah timur. Namun sejak mula aku tahu, di timur kini tak ada penyair. Sebab barangsiapa ketahuan menjadi penyair akan dipancung di alun-alun kota. Pemerintah daerah timur sangat takut penyair. Penyair dianggap tukang kritik pemerintah yang membahayakan. Konon dulu ada pembantaian penyair besar-besaran di alun-alun kota. Semua penyair dibakar hidup-hidup kala itu. Bau gosong sisa pembakaran tak hilang sampai berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah. Aku menyerah. Sebagai penyair yang kalah. Kuputuskan untuk pulang. Entah apa yang  akan kukatakan pada Sa nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya aku saat wajah Sa tak mengabarkan duka atau kecewa sedikitpun setelah kuutarakan perihal kegagalanku menemukan hakikat puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jak, aku yakin selama perjalanan pencarianmu kau menulis puisi. Bolehkah aku dan bundaku membaca puisi yang kau tulis sepanjang perjalananmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercengang, kuserahkan saja coretan puisiku di beberapa kertas kusam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya Sa menghampiriku dengan mata bercahaya. Ia memelukku tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau telah berhasil menulis sebenar puisi, Jak,” bisiknya di telingaku.[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-927566840875905444?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/927566840875905444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=927566840875905444' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/927566840875905444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/927566840875905444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/07/penyair-dimuat-majalah-civitas-stan.html' title='PENYAIR (dimuat Majalah Civitas (STAN) Juli 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5679044190869565759</id><published>2011-07-09T23:09:00.000-07:00</published><updated>2011-07-09T23:26:37.090-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>MATA YANG MENYALA (Surabaya Post, 9 Juli 2011)</title><content type='html'>Akhirnya aku tahu, kenapa aku selalu tertegun setiap menatap mata Salma. Itu kutahu saat Salma baca puisi di Bulungan, di acara Mimbar Penyair. Mata yang bulat dan agak menyembul itu seperti mata seekor heyna yang bersiap menerkam seekor rusa. Namun tidak terkesan beringas sama sekali. Mata itu memancarkan sesuatu. Aku sulit mencari perumpamaan yang tepat. Sehingga barangkali menyebut mata Salma yang indah penuh gairah itu sebagai mata yang menyala. Ya, menyala. Dan siapapun akan merasa tenang menatap mata yang menyala itu. Sebuah nyala yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari panggung Salma menemuiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, terima kasih lho Mas Dedot sudah menyempatkan datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mungkin tidak datang. Undangan darimu sudah tentu sulit ditolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah, Mas Dedot bisa aja. Oh ya, Mas, ada kabar baik, minggu depan saya mau buka kios bordir di mall tak jauh dari  sini. Doain lancar ya, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan mengucapkan selamat serta turut berbahagia. Malam ini aku dan Salma keliling kota Jakarta yang bermandi cahaya dari lampu-lampu gedung. Jika siang Jakarta memang memuakkan, namun di malam hari, jelang tengah malam begini, panorama Jakarta cukup eksotis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kabar yang lebih mengejutkan pagi itu selain kabar jika Salma masuk rumah sakit. Kecelakaan! Aku tidak fokus sama sekali dengan pemaparan dosen di kelas demi mendengar berita itu. Maka segera saja aku minta izin untuk meninggalkan kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit aku melihat ayah dan ibu Salma duduk termangu di bangku depan UGD. Wajah keduanya pias dan kusut. Kata ibunya, Salma mengalami kecelakaan ketika pulang dari Bogor, mengambil alat-alat bordir. Selain luka di tangan dan kaki, yang agak parah adalah di sekitar mata. Seketika bulu kudukku meremang. Terbayang keadaan Salma saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sore hari keluar penjelasaan dari dokter yang lebih buruk dari berita apapun: Salma mengalami kebutaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salma,” sapaku sedikit bergetar ketika hanya ada aku dan Salma di ruang penuh alat medis dan bau obat yang menyengat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Dedot?” Salma terisak. Tiba-tiba air matanya menganak sungai. Tangisnya tersengal-sengal. Ini adalah tangis paling memilukan yang pernah kudengar.&lt;span class="fullpost"&gt;“Mas, saya tak lagi bisa baca puisi, saya tak lagi bisa membordir, saya buta, Mas. Buta. Semuanya gelap. Gelap,” Salma menumpahkan semua yang tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar, Salma. Semua akan baik-baik saja.” Aku mencoba meneguhkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, jika saya buta begini, apa Mas masih mau menemaniku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berpikir apapun dan spontan menyanyikan lagu Dalam Duka, lagu milik Letto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Di saat hampa harimu, dan saat hampa hatimu, ku kan ada, ku di sana menemanimu slalu. Di saat hilang jalanmu, dan saat hilang nafasmu. Ku kan ada, ku di sana, menemanimu slalu.” Baru kusadiri suaraku serak lantaran menahan air mata tatkala menyanyikan lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengulang lagu itu berkali-kali. Kunyanyikan di samping telinga Salma. Makin lama makin perlahan. Yang kian terdengar adalah tangis kami yang seperti tak mau sudah. Kami saling meremas tangan. Saling menguatkan. Meski air mata tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, mata menyala. Kau beranjak menghilang sejak kini. Oh, mata yang menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkenang awal pertemuanku dengan Salma. Senja itu aku di stasiun Pondok Ranji, menunggu datangnya kereta Ciujung yang akan membawaku ke stasiun Tanah Abang. Aku menuju peron dua. Mencari satu kursi kosong. Dalam hati aku mengutuk buruknya fasilitas stasiun ini. Kursi tunggu di peron dua hanya kursi plastik serupa di warung-warung makan, sudah reot pula. Siapa saja yang duduk pasti khawatir terjengkang karena kursi bisa tiba-tiba patah kakinya. Di tambah pula penerangan yang sangat minim. Belum lagi bau pesing yang samar-samar menggelitik indra penciuman. Mau separah apapun kondisinya aku harus maklum. Pemerintah kita saja abai pada TKW yang dipancung, apalagi pada stasiun kecil macam Pondok Ranji ini, pasti luput dari perhatian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk berjarak dua kursi dengan seorang perempuan berambut panjang belah tengah. Mengenakan celana jins hitam dan kaos biru polos ia mengusik perhatianku lantaran membaca sebuah novel cukup tebal. Andaikata novel itu adalah novel-novel yang sedang laris di pasaran, yang selalu bermuatan motivasi, aku tidak akan tertarik. Akan tetapi ia membaca novel Cantik Itu Luka, besutan Eka Kurniawan. Itu tentu saja novel yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suka Eka Kurniawan ya?” Mendadak aku memiliki keberanian untuk menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menoleh dan tersenyum. Perempuan yang ramah, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengoleksi semua bukunya. Aku juga pembaca setia laman Eka di internet,” tukas perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow, keren sekali. Aku juga penggemar Eka. Di antara semua bukunya aku paling suka Lelaki Harimau. Itu novel psikologis yang padat dan memukau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Tapi aku lebih suka Cantik Itu Luka. Ini kali ketiga aku membaca novel ini. Dan tak pernah aku bosan. Eka menghadirkan dialog-dialog yang cerdas dan kadang tak terduga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan tersenyum. Perempuan yang menarik, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya wajah Mas tak asing buat saya deh,” ucap perempuan itu mengejutkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em...Mas panitia acara seminar sastra tadi siang ya? Yang main musik akustik di awal acara kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho? Kok tahu sih?”Aku tak bisa menyembunyikan kekagetan. Memang betul aku adalah panitia seminar sastra bertajuk “Sastra Indonesia Jalan di Tempat” tadi siang di kampusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya peserta seminar tadi siang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh...iya, iya. Aku tidak terlalu memperhatikan peserta. Padahal peserta seminar tadi siang tak banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seminar sastra memang kerap kali sepi, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehe. Betul. Oya, namaku Dedik, biasa dipanggil Dedot. Boleh kutahu namamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengulurkan tangan dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Salma.” Kami berjabat tangan. Saling melempar senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat ketika Salma mengucapkan namanya terdengar pengumuman petugas stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perhatikan jalur dua, jalur dua, dari arah barat akan melintas kereta ekonomi AC Ciujung, kereta Ciujung akan berhenti di stasiun Kebayoran, Palmerah dan Tanah Abang. Para penumpang yang telah membeli tiket diharap untuk menuju peron dua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kererta sudah datang, mari bersiap,” ajak Salma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap dapat duduk di sampingnya di kereta AC ini. Tapi saat aku masuk ke gerbong satu mengikutinya, petugas keamanan kereta mengingatkan jika gerbong satu adalah gerbong khusus perempuan. Aku diminta duduk di gerbong dua saja. Ah, sial, padahal aku masih ingin ngobrol panjang lebar dengan Salma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tenang di gerbong dua. Kira-kira Salma akan turun di mana, itu yang mengusikku. Dia mungkin saja akan turun di Kebayoran atau Palmerah. Dan, aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Tadi juga belum sempat tukar nomor hape. Hmm, sudahlah, kupikir aku tak perlu seagresif ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran selalu berbuah manis. Tak ada yang bakal mengira dan menduga jika Salma turun di stasiun Tanah Abang dan hendak menggunakan jasa kereta Senja Bengawan sama sepertiku. Bedanya aku turun Solo, Salma turun Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata kita satu kereta, duduk berhadapan pula. Hehe,” kataku mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ya. Sebuah kebetulan seperti di cerita FTV dan sinetron. Hehe. Menarik juga jika dibikin cerpen. Bukan begitu, Mas Dedot?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku tertegun. Tidak segera kujawab pertanyaannya. Aku melihat sesuatu yang lain di mata Salma. Namun aku tak tahu apa. Matanya berbeda dengan mata perempuan kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, iya, eh, tapi aku lebih suka menulis puisi dan membuat lagu daripada menulis cerpen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em... tadi di seminar Mas Dedot nyanyi lagu Mas Dedot sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh bukan, yang aku nyanyikan pas seminar tadi lagu Letto yang baru. Judulnya Yang Kusebut Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba, Mas, gimana reff nya?” Salma setengah merajuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, malu aku. Tapi bolehlah, begini reffnya: yang kusebut sayang, kau tak menghilang, ketika sedang sepi. Yang kusebut sayang, mengisi ruang, hati yang sedang sunyi. Ini lagu paling kusuka di album baru Letto.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow, suara Mas Dedot memang bagus ya, liriknya juga cakep lagi. Pas banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehe. Terima kasih,” aku tersipu sambil garuk-garuk rambut tak gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan ke timur dengan Senja Bengawan aku membicarakan banyak hal dengan Salma. Darinya kutahu dia suka novel-novel yang tidak berkhutbah. Katanya, tidak semua novel laris itu bagus dan tidak semua novel bagus itu laris. Menurut Salma, novel-novel yang sedang laris sekarang lebih banyak berkhutbah dan derajat kenovelannya rendah, meski tak semua novel begitu. Salma ke Klaten dalam rangka mengunjungi neneknya. Di Jakarta dia membantu ibunya yang penjahit, namun Salma lebih suka membordir. Selepas SMA dia memang tidak kuliah. Selain tak ada biaya, ia kini percaya bahwa ijazah buka jaminan dan gelar sarjana kerap kali hanya pemanis dan pemanjang nama belaka. Kukira Salma memang benar-benar berbeda dengan perempuan kebanyakan. Dia kritis dan berprinsip. Tegar menghadapi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lama bercakap dan aku izin untuk tidur lebih dulu. Kantuk di mata sudah tak tertahankan. Salma bilang belum terlalu mengantuk. Tidur di depan Salma sebenarnya aku malu. Setiap kali aku tidur aku selalu tak bisa tenang. Kepalaku kadang tiba-tiba condong ke samping, kadang ke depan, seperti pohon mau tumbang perlahan. Aku tahu, di perjalanan ini, setiap kepalaku condong seperti pohon akan tumbang, Salma selalu membenarkan letak kepalaku. Setengah terpejam aku sekilas melihat Salma membenarkan letak kepalaku dengan tersenyum penuh pengayoman. Hatiku berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku setia menemani Salma. Tiap selesai kuliah aku selalu bertandang ke rumahnya. Begitu juga di waktu-waktu luang yang lain. Tugas-tugas organisasi hampir semua kutinggalkan. Aku adalah saksi bagaimana Salma belajar mengeja braile, mulai mengakrabi tongkatnya serta melihat segala sesuatu tidak tidak lagi dengan mata di kepala melainkan dengan mata hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan Salma luar biasa. Aku kadang begitu terkesima. Dia selalu tahu di mana dia berada sebelum kuberi tahu. Seperti ketika kuajak ke kampus, mall dan tempat-tempat lain dia pasti segera tahu meski baru sampai gerbang atau pintu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir mempertemukan aku dengan Salma, takdir pula yang menuntunku untuk menikahinya. Kumerasakan perbedaan terjadi beberapa hari setelah menikah. Kuperhatikan di cermin mataku jadi lebih tajam tatapannya. Oh, bukan tajam, tapi ini nyala. Ya, mataku kini menyala. Seperti mata Salma. Keanehan lain terjadi, indra penglihatanku sedikit lamur, namun indra penciuman dan pendengaran menjadi lebih tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiranku jadi berlebih manakala anak pertamaku, saat usia tiga tahun menangis ketakutan saat bertemu Pak Lurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, ada banyak ulat di dadanya! Ada ulat di dadanya,” ucapnya berkali-kali sambil menuding ke arah Pak Lurah. Dan aku hanya bisa bergidik. Sebab kejadian itu berulang. Ya, anakku beranjak memiliki kemampuan yang tak aku mengerti. Dan matanya pun menyala! Sama mataku dan mata Salma.***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5679044190869565759?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5679044190869565759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5679044190869565759' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5679044190869565759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5679044190869565759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/07/mata-yang-menyala-surabaya-post-9-juli.html' title='MATA YANG MENYALA (Surabaya Post, 9 Juli 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8466688179407302132</id><published>2011-06-25T22:42:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T22:52:10.091-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Alisa (dimuat di Surabaya Post, 26 Juni 2011)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ada gadis kecil diseberangkan gerimis&lt;br /&gt;di tangan kanannya bergoyang payung&lt;br /&gt;tangan kirinya mengibaskan tangis&lt;br /&gt;di pinggir padang, ada pohon dan seekor burung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapatimu sedang menyanyikan puisi itu di suatu malam berbintang. Malam dengan angin yang tak terlalu dingin dan kencang. Sepenuhnya aku terpukau. Di antara sekian penampil malam itu, hanya musikalisasi puisi yang kau mainkan yang mampu mencuri hatiku. Ya, kau menghayati betul sajak Gadis Kecil milik Sapardi Djoko Damono itu. Seolah gadis kecil dalam puisi itu tak lain adalah dirimu sendiri. Tapi, mau kemana engkau wahai gadis kecil membawa payung di tengah gerimis yang sebentar akan menjadi hujan? Adakah engkau hendak menjemput orang yang kau kasihi? Lantas kenapa engkau menangis? Mungkinkah orang yang kau kasihi itu tiada kau temui?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali semua pertanyaan akan terjawab saat kau turun panggung dan kita bisa mengobrol dengan nyaman di bawah pohon akasia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenalkan namaku Langit. Aku menyukai penampilanmu tadi,” ujarku seraya mengulurkan tangan. Kau menjabat tanganku ragu-ragu sedang matamu menyipit penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Alisa. Terima kasih. Maaf saya terburu-buru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;“Tunggu, Alisa. Em, apakah kita pernah bertemu sebelumnya. Wajahmu tidak asing bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-he-he. Wajah saya memang pasaran, ada puluhan orang yang bisa saja mirip dengan saya. Sepertinya kita belum pernah bertemu. Anda mungkin salah orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng lantas tersenyum tipis penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku hafal betul suaramu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suara saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, suaramu. Dulu kita sering bernyanyi sembari menyusuri kaki bukit ketika pagi masih dini dan basah. Di atas batu besar tengah sungai, bahkan kau sering menyanyi keras-keras, seolah membayangkan dirimu adalah pemain seriosa. Kau sudah lupa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, saya semakin yakin, Mas Langit ini salah orang. Sejak kecil saya dibesarkan di tengah kota besar. Saya tidak mengenal bukit dan sungai yang mas ceritakan tadi. Dari kecil saya lebih akrab dengan apartemen, tempat tinggal saya. Dan juga mall, tempat bermain saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku tertegun. Kucoba memandangi wajahmu. Berharap tidak menemukan kebohongan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas bagaimana dengan puisi yang kau nyanyikan tadi? Seolah kau pernah mengalami kejadian seperti yang dialami si gadis kecil dalam puisi tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk sebuah penghayatan tidak perlu harus mengalami kejadian serupa dalam puisi itu, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar, bahkan boleh jadi Sapardi memaksudkan gadis kecil di sajaknya bukan sebagai sesosok gadis kecil seperti dalam bayangan kita. Mungkin itu hanya sekadar metafor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Mas Langit sendiri tahu kan? Sekarang begini, Mas, sebenarnya saya tidak berkeberatan berdiskusi panjang lebar dengan Mas Langit. Tapi saya buru-buru, ada janji dengan teman-teman. Jadi saya pamit dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar, apakah kau tetap berkeras mengatakan bahwa kita belum pernah bertemu sebelumnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Mas Langit. saya juga bukan merupakan bagian dari kenangan masa kecil Mas Langit di bukit dan sungai itu. Saya orang kota, Mas. He-he-he.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Tapi bagiku kau tetap seorang gadis kecil dalam ingatanku. Ketika gerimis mulai melebat, kau berlari membawa payung, dan ah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak kuasa melanjutkan kata-kata. Kau terperangah mendengar pengakuanku. Lalu tersenyum. Manis sekali. Aku memaknai senyumanmu sebagai usaha untuk menenangkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bisa merasakan kekecewaan Mas Langit. Tapi saya harus bagaimana lagi? Saya jelas-jelas bukan gadis kecil dalam kenangan Mas Langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, maafkan aku. Barangkali aku terlalu terbuai oleh kenangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em…begini saja, saya tahu Mas Langit menyukai musikalisasi puisi. Nah, Minggu depan saya dan teman-teman akan tampil di acara mengenang Chairil Anwar. Mungkin saya akan menyanyikan tiga atau empat sajak Chairil. Ini saya ada undangan buat Mas Langit. Saya harap Mas Langit bisa datang. Setelah turun panggung mungkin kita bisa bercakap dengan lebih leluasa. Sekarang saya harus pulang untuk bersiap latihan dengan teman-teman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Alisa. Aku menghargai betul undanganmu ini. Pasti aku datang. Maaf jika aku mengganggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kau meninggalkanku dengan sebuah lambaian tangan dan senyuman. Hatiku seperti diaduk-aduk. Antara senang, bimbang dan khawatir campur baur. Di langit bulan  tertutup mendung. Namun sebentar kemudian muncul kembali. Aku terdampar di kedai kopi hingga dini hari. Baru kembali ke kos saat hari hampir pagi dan gerimis satu-satu mulai luruh ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya aku terpukau manakala kau menyanyikan tiga sajak Chairil Anwar. Entah mengapa setiap kali kau menyanyi aku semakin yakin bahwa kau adalah gadis kecil dalam kenanganku. Gadis kecil yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Tak peduli aku jika kau mengaku bernama Alisa, nama yang beda dengan gadis kecilku itu. Bukankah saat ini orang bisa merubah nama sesuka hati. Ada yang lebih penting dari sekedar nama. Dan keyakinanku tak akan goyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau menyanyi dengan sempurna malam ini. Lagi-lagi aku takjub.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih. Mas Langit terlalu memuji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai acara kuajak kau ke kedai kopi dekat bandara. Kau menurut. Begitu penasaran kau dengan sensasi minum kopi sembari melihat lalu lalang pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelang lebaran begini, aku, kau, nenekku dan nenekmu pergi ke kota. Tujuannya satu, kantor pos. Nenek kita sama-sama ingin mengirim surat dan paket. Ibu kita TKW di Hong Kong, tidak bisa pulang lebaran kali itu. Di andong aku terus melirik kotak paket coklat yang dibawa nenekmu. Membandingkan lebih besar mana dengan paket yang akan dikirim nenekku. Jika paket untuk ibuku berisi madumongso, srundeng, abon dan beberapa potong kain batik, aku mengira-ira isi paketmu tak jauh beda. Ibu kita tentu senang menerimanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasanku wajahmu berubah sendu. Kali ini lebih terbaca kau kasihan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Langit, saya harus bagaimana lagi? Saya kehabisan akal untuk meyakinkan Mas Langit bahwa saya bukan gadis dalam cerita Mas Langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senyum saja menanggapinya. Seolah tak peduli. Setelah menyuruput kopi kau bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pun begitu saya tetap tertarik dengan cerita Mas. Oya, kalau boleh tahu dimanakah gadis kecil dalam cerita Mas Langit itu sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari itu, kita sama-sama pergi ke bandara, menjemput ibu kita yang pulang dari Hong Kong. Cuaca sedang tak bagus. Sedari pagi langit mendung. Kuda andong yang membawa kita tak tenang jalannya. Seperti ada yang mengganggu, tapi kasat mata. Aku dan kau sudah berdandan rapi dan wangi. Pakaian terbaik yang kupunya kukenakan, begitu juga dirimu. Untuk pertama kalinya aku melihat kau amat cantiknya pagi itu. Aku hafal warna dan motif baju yang kau kenakan kala itu. Juga wangimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengehela nafas untuk mengurangi kegugupan. Kau kelihatan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di bandara, ya di bandara. Kita diguncang berita duka, bahwa pesawat yang membawa ibu-ibu kita jatuh di laut. Hampir semua penumpang dipastikan tidak selamat. Waktu itu aku belum bisa memaknai jika kematian adalah kehilangan abadi. Tapi kau beda. Di hari gerimis itu kau berlari membawa payung kecil sambil menangis, perasaanmu yang peka merasakan seorang yang kau kasihi telah pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Langit, aku turut berduka cita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah itu kau dan nenekmu pergi meninggalkan desa. Lama tak ada kabar. Kalian pun seperti hilang tanpa jejak. Dan sekarang aku menemukanmu, kau hadir di sini bersamaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahmu kebingungan. Buru-buru kau tersenyum. Seraya meremas tanganku kau berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Langit, tolong jangan menganggap saya sebagai gadis itu. Saya jauh berbeda, Mas. Meski begitu Saya akan berusaha menjadi teman yang baik untuk Mas Langit. Akan saya coba mengobati luka itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Alisa, hal itu tak perlu kau lakukan apalagi kau paksakan jika hanya karena kasihan. Yang pasti, cita-citaku kini telah tercapai, menemukan dia si gadis hilang. Tak lain itu adalah kau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali dihinggapi rasa sebagai orang yang berkali-kali dikalahkan. Layak betul dikasihani. Dan kau Alisa, tampak gusar sekali. Wajahmu pias. Kau memaksakan diri tersenyum. Semanis mungkin. Lantas, karena mungkin kau kehilangan kata-kata, kau pamit. Aku tak punya alasan untuk menahanmu. Maafkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul dua pagi. Di kamar kos, aku berada dalam keadaan antara tidur dan jaga. Kurasa saat ini aku mengigau, seperti menceracau. Mungkin aku demam. Aku menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Alisa, gadis kecil yang selalu mengucir rambutnya model ekor kuda. Ekor yang pendek saja tak sampai menyentuh punggung. Sehingga aku bisa memandangi lehermu yang jenjang, putih dan kadang berpeluh. Oh, rambut yang menjuntai liar di samping telinga itu. Wahai, hentikan pesonamu yang membiusku itu Alisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Alisa, bagaimanapun kau adalah seorang kawan minum kopi yang membuatku susah beranjak meninggalkan wangi kopi, wangi nafasmu, percakapan kita, percakapan bola-bola mata kita. Maka, mari, kuajak kau minum kopi berdua saja. Di tempat-tempat yang akan sulit kau lupa. Salah satunya adalah di balkon sebuh gedung olahraga ketika malam sudah ditinggalkan kabut. Dari sini pemandangan malam jadi lebih syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah di sana, di selatan kita, tampak rimbun pepohonan yang kini hanya terlihat sebagai bayang-bayang hitam. Tapi juga lihat di balik bayang pepohonan itu. Ada gedung-gedung yang beku namun cahaya lampu-lampunya memberi kesan yang membuat kita merasa kecil lalu kemudian terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun. Aku melawan tekanan ini. Kusiramkan air putih tepat di ubun-ubun. Kini sepenuhnya aku terjaga. Lalu aku minum air putih hangat banyak-banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir subuh ketika aku memutuskan untuk berjalan ke jembatan dekat kosku. Kupandangi deras aliran sungai. Semalam hujan deras. Masih dapat kuhirup wangi tanah basah. Bulir-bulir kabut serasa merambat di kulitku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku membayangkan jika Alisa memang benar-benar bukan gadis kecil yang pernah melintas di hidupku dulu. Entah apa jadinya. Ya. Sebaiknya sekarang aku bersiap-siap saja. Untuk memulai sebuah perjalanan panjang. Perjalanan dari kesepian ke kesepian yang lain. Bersiap menyambut kesunyian. Aku menyerah lagi-lagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8466688179407302132?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8466688179407302132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8466688179407302132' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8466688179407302132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8466688179407302132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/06/alisa-dimuat-di-surabaya-post-26-juni.html' title='Alisa (dimuat di Surabaya Post, 26 Juni 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-849540260351747610</id><published>2011-06-25T15:03:00.000-07:00</published><updated>2011-11-19T23:09:56.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala (dimuat di Ponorogo Pos, 24 Juli 2011)</title><content type='html'>Pada awal Mei 2011 Han Gagas meluncurkan sebuah novel bertajuk Tembang Tolak Bala (LKiS, Jogja). Sebuah novel yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Kehadiran novel ini merupakan sebuah angin sejuk di tengah musim kamarau. Mengatakan perkembangan novel Indonesia akhir-akhir ini sebagai sebuah musim kemarau rasanya tidak berlebihan. Pasalnya sudah beberapa tahun ini kita senantiasa disuguhi novel dengan tema-tema yang itu-itu saja. Bahkan Han Gagas menulis di awal Pengantar Penulis, sebagai berikut: saya menulis pengantar ini ketika dunia kita sedang mengalami yang namanya mabuk novel ‘Ingin Maju Harus ke Luar Negeri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Han Gagas sendiri adalah seorang lelaki kelahiran Ponorogo, 21 Oktober 1977. Setelah menamatkan studi di SMAN 2 Ponorogo Han Gagas melanjutkan ke Geodesi UGM. Karyanya, terutama cerpen telah banyak dimuat di koran lokal maupun nasional. Sebelumnya ia juga pernah menerbitkan buku Sang Penjelajah Dunia (Republika, 2010).&lt;span class="fullpost"&gt;Diceritakan dalam novel Tembang Tolak Bala, tokoh utama bernama Hargo. Cerita dimulai ketika Hargo dan adik kembarnya berenang di sungai. Namun, tiba-tiba adik kembarnya terhisap arus sungai. Nahas, adik kembarnya itu tidak tertolong dan tidak ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak peristiwa itu, Hargo seperti mengalami semacam lompatan waktu. Sekonyong-konyong ia telah tiba di sebuah zaman yang asing. Hargo mendapati dirinya berada di tengah keluarga Ki Ageng Mirah. Seorang kharismatik dan pemurah. Lantas Hargo terhisap kembali dalam sebuah pusaran hingga akhirnya ia sampai pada keluarga Tejowulan (di sini Hargo mulai berkenalan dengan dunia gemblak, bahkan sebagai pelaku). Semua terasa ganjil bagi Hargo. Sampai sini sudah sangat kentara jika Han Gagas menulis novel perdanya ini dalam semangat realisme magis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca kemudian diberi kejutan bahwa apa yang dialami Hargo itu adalah hanya semacam tamasya fantasi belaka. Tamasya yang berlangsung ketika dia koma di rumah sakit selama 35 hari yang membuat khawatir semua anggota keluarganya. Akan tetapi satu hal yang menarik, dalam tamasya fantasi itu Hargo mendapat sebuah kitab dari Eyang Tejowulan yang berisi tembang tolak bala. Anehnya kitab itu terbawa ke dunia nyata ketika Hargo sudah sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini juga tak luput dari kisah percintaan. Ada misalnya kasih tak sampai antara Hargo dan Juni ketika dalam tamasya fantasi. Lantas kisah cinta antara Hargo dengan Juli yang meski berlatar dendam namun berakhir di pernikahan (dengan Juli, Hargo banyak berdiskusi perihal reog, warok dan gemblak, babad tanah Ponorogo dan Serat Darmoghandul). Ada pula hubungan beda etnis dan agama antara Hargo dengan Mei Ling yang Tionghoa. Meski berbeda mereka sangat dekat dan bahkan ketika pada akhirnya Mei diusir, Hargo dan Mei saling berkirim surat. Surat-surat mereka sangat menggetarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan lain muncul manakala Hargo medapati salah seorang guru laki-lakinya, Pak Marodirojo (yang juga warok), hendak menyetubuhinya. Hargo terbebas dari malapetaka itu diselamatkan tembang tolak bala yang tiba-tiba ia rapal. Ternyata, ia tahu guru itu tak lain adalah masih keturunan Wulunggeni, musuh bebuyutan nenek moyang Hargo, Honggodermo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang menjadi kekuatan lain novel ini yakni adanya beberapa adegan pertarungan antar warok atau antar padepokan Reog yang berlangsung seru dan mendebarkan. Intrik politik juga menambah hidup cerita. Legenda dan dongen seputar sejarah Ponorogo memperkaya novel ini. Misal tentang berdirinya Ponorogo yang bermula dari keruntuhan Majapahit, sejarah Reog, dongeng terbentuknya Telaga Ngebel dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, novel Tembang Tolak Bala menyajikan informasi yang memadai perihal Ponorogo serta kekayaan khazanah budayanya. Harapan kita bersama, akan lebih banyak novelis yang menulis tentang Ponorogo. Karena sejatinya Ponorogo adalah sebuah kearifan yang tak akan pernah selesai digali. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-849540260351747610?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/849540260351747610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=849540260351747610' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/849540260351747610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/849540260351747610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/06/potret-ponorogo-dalam-tembang-tolak.html' title='Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala (dimuat di Ponorogo Pos, 24 Juli 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2710324210646270866</id><published>2011-06-12T20:20:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T20:25:51.295-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kenyot (dimuat di Buletin Sastra Teh Hangat edisi khusus 'Ode Buat Kenyot Adisattva')</title><content type='html'>Tidak ada berita yang lebih mengejutkan di Minggu pagi itu selain kabar pernikahan Kenyot. Tanpa sebelumnya memperlihatkan tanda-tanda akan menikah, Kenyot mendadak berkabar hendak menikah bulan depan. Bahkan berita perihal dimuatnya cerpen teman kami di koran nasional jadi terdengar tidak mengejutkan. Padahal teman kami itu belum pernah menulis cerpen sebelumnya. Sekali kirim dan langsung dimuat. Mungkin bakat alam yang dibawanya sejak lahir adalah pasal keberuntungannya itu. Sedang berita menikahnya Kenyot adalah serupa suara letusan balon di samping telinga saat kita baru beranjak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi ketika saya sedang mengendarai motor menuju tempat futsal di daerah Pamulang, telepon genggam saya berdering nyaring. Nama Kenyot terbaca di layar. Segera saja saya menepikan motor dan mengangkat telepon. Setelah mengucap salam dan tanya kabar, tanpa basa-basi Kenyot berujar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekitar satu bulan lagi,” katanya tenang, “aku akan menikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit terkejut campur kesal saya berkata, “Bung, tidak adakah berita yang lebih mengejutkan?”&lt;span class="fullpost"&gt;“Yang lebih mengejutkan,” ujar Kenyot, “aku sampai saat ini belum dapat kerja dan calon istriku juga belum lulus kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu belum seberapa mengejutkan, Bung. Jika ada yang lebih mengejutkan adalah jika kau menikah tidak dengan kekasihmu yang penyiar radio dan pandai membuat kue itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mungkin menikah jika tidak dengan dia. Tolong sampaikan berita ini ke semua teman di Jakarta, terutama teman-teman di kos Al Barkah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, berita tentang menikahnya Kenyot menyebar di telinga teman-teman yang masih kuliah di Jakarta. Sebagaian besar jelas mengaku terkejut. Namun sebagian yang lain berusaha untuk tidak terkejut dan tetap menampakkan wajah tenangnya meski sedikit dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang kakak kelas Kenyot yang masih betah di Jakarta dan belum menyelesaikan skripsinya meski sudah semester 14 berkomentar soal berita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh durhaka,” tukasnya seraya menyalakan rokok kretek, “dia wisuda mendahuluiku, menikah pun juga mendahuluiku. Padahal aku masih ingat betul betapa culun ia empat tahun silam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kakak kelas lain yang juga belum wisuda namun sudah bekerja di LSM menggarap proyek demi proyek, tak mau ketinggalan urun komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenyot itu,” ujarnya dengan penekanan yang mantab, “belum pernah kerja yang berat-berat. Pengalamannya belum teruji. Nekat betul dia, menikah sementara dia belum bekerja. Tapi tak jadi soal sih kalau dia baru saja dapat banyak warisan.Hehehe.”&lt;br /&gt;Sementara saya, yang juga dekat dengan Keyot tidak mau berkomentar macam-macam. Pikir saya semua orang tentu punya alasan dan landasan untuk segala yang dilakukannya. Meski begitu, berita pernikahan Kenyot tetap mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Kenyot sejak masih SMA. Dia tak lain adalah kakak kelas dua tingkat di atas saya. Ketika Ospek, saya mengenangnya sebagai pengospek yang bersusah payah untuk galak tapi nyatanya tak galak sama sekali, malah cenderung lucu. Bagaimanapun dia agak eksentrik. Sedikit klowor. Seperti malas mengurus dirinya sendiri. Penilaian saya: dia tak berbakat untuk menjadi cowok metroseksual sama sekali.&lt;br /&gt;Lalu saya mengenal Kenyot sebagai seorang pembaca puisi dan pemain band. Kerap saya menjumpai dia di beberapa acara sekolah membacakan puisi, terutama puisi Chairil Anwar. Jika membaca puisi, suara Kenyot terdengar bulat dan penuh. Tanpa mikropon pun suaranya lantang terdengar. Dan memang seharusnya begitulah membaca puisi. Tanpa mikropon. Supaya terdengar suara asli kita, bukan yang palsu dengan dibantu mikropon. Dalam membaca puisi Kenyot tampak sudah begitu terlatih. Suatu kali saya pernah bertanya pada Kenyot, sejak kapan berlatih membaca puisi? Sudah sejak awal masuk SMP katanya terus terang. Pantas saja, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh guru bahasa Indonesia Kenyot dikenalkan dengan puisi-puisi Chairil Anwar dan Kenyot langsung jatuh hati. Maka sejak saat itu dia berlatih membaca puisi. Puisi Chairil saja. Tidak yang lain. Hingga dia hapal di luar kepala puisi Chairil.&lt;br /&gt;Adapun dalam bermain band, posisi Kenyot adalah pada drum. Permainan drumnya boleh dibilang cukup lumayan. Menurut pengakuannya, ia telah membuat tiga temannya yang semula tidak bisa bermain drum menjadi lancar menggebuk drum. Ia menjadi semacam pelatih tanpa bayaran. Tentang pengakuannya menjadikan bisa tiga temannya bermain drum saya antara percaya dan tidak. Bisa jadi itu klaim dia belaka supaya terlihat hebat. Percayalah, gaya bicara Kenyot antara kebenaran atau dusta nyaris tak bisa dibedakan. Dia selalu tampak meyakinkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, entah mengapa, saya waktu itu juga ingin bisa bermain drum. Sepertinya keren sekali nge-band di acara perpisahan sekolah dan dilihat semua siswa. Tapi setelah berlatih beberapa kali saya belum juga bisa. Sepertinya tangan saya agak kaku meliukkan stik. Saya malas dan selanjutnya putus asa. Saya kubur impian saya untuk menjadi drummer. Coba ketika itu Kenyot yang melatih saya. Barangkali, seperti tiga temannya yang lain, saya akan juga piawai menggebuk drum. Sepiawai Titi Sjuman.&lt;br /&gt;Tak ada catatan lain yang menarik tentang Kenyot di SMA selain mungkin mengenai kisah cintanya dengan anak perempuan guru agama yang bertepuk sebelah tangan. Dari teman Kenyot saya tahu jika hampir setiap hari Kenyot menuliskan tentang cinta dan kerinduan terhadap gadis pujannya itu dalam bentuk puisi. Karena terlampau rajin menulis, puisi-puisi Kenyot terkumpul hingga satu buku tulis tebal. Dan siapapun tahu belaka jika Kenyot jatuh hati pada anak perempuan guru agama. Hingga suatu hari, entah karena gemas atau karena kasihan, dengan sembrono seorang teman Kenyot mencuri buku kumpulan puisi itu dan kemudian memberikan pada si gadis anak guru agama. Kenyot mencak-mencak setelah diberi tahu buku kumpulan puisinya telah berpindah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brengsek,” katanya kesal, “kau tahu, puisi-puisiku itu lebih picisan dari puisi penyair manapun. Dan dengan bodoh kau berikan pada gadis anak guru agama itu. Tapi tak mengapa, setidaknya kau sedikit meringankan deritaku. Derita oleh cinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terbahak belaka mendengar perkataan Kenyot tersebut. Teman-teman Kenyot merayakan kesuksesan mengerjai Kenyot dengan membeli Sprite berbotol-botol.  Tidak tahu bagaimana mulanya, mereka selalu mengibaratkan sebotol Sprite sebagai sebotol bir yang memabukkan. Barangkali karena masih taat aturan agama yang melarang minum bir atau karena harga bir yang mahal mereka tidak berani minum bir dan lantas menganggap Sprite sebagai bir. Gaya minum Sprite mereka seolah-olah seperti seorang pemabuk berat yang sering mereka tonton di film-film. Sangat meyakinkan dan penuh penghayatan. Namun jelas, mereka tak akan mabuk sama sekali. Paling banter bolak-balik kamar mandi untuk pipis. Atau jadi sering bersendawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah berpindah tangannya buku puisi Kenyot pada anak gadis guru agama, tanpa dinyana anak gadis guru agama itu berujar dengan keangkuhan tanpa ampun.&lt;br /&gt;“Sebanyak apapun puisi,” kata si gadis dengan ketenangan memadai, “tidak akan meluluhkan aku sama sekali. Dan siapapun tahu, puisi tidak akan pernah menghidupi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak pernyataan si gadis yang menyakitkan itu Kenyot menjadi sangat malas membicarakan tentang perempuan dan cinta. Teman-temannya tak ada satupun yang berani pula mengajak Kenyot ngobrol soal dua hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Kenyot sama-sama kuliah di Jakarta.  Kebetulan pula jurusan yang saya ambil sama dengan dia. Saya dan tiga teman saya satu angkatan di SMA barangkali adalah korban provokasi Kenyot sehingga bisa tersesat di jalan yang benar: kuliah di Jakarta. Saya sempat berpikiran andai Kenyot nanti masuk di dunia politik dan bergabung dengan parpol, niscaya ketua partai akan memberinya posisi Koordinator Bidang Agitasi dan Propaganda. Andai pula NII berhasil merekrutnya maka tak pelak itu adalah perekrutan terbaik yang pernah mereka lakukan. Pasalnya Kenyot dengan kemampuannya akan merekrut lebih banyak orang lagi masuk NII. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda,” katanya di hari pertama kedatangan saya di Jakarta, “selamat datang di ibu kota. Semoga kau lekas terbiasa. Kau tahu, untuk adaptasi bahasa di sini rasanya cukup berat. Orang udik macam kita ngomong lo-gue amatlah tak pantas terdengar. Sementara jika tidak pakai lo-gue kau seperti tercerabut dari pergaulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perjalanan selanjutnya Kenyot menjadi kakak kelas yang baik bagi kami. Ia lebih mau turun menemui kami cecunguk-cecunguk ingusan di banding kakak kelas yang lain. Maka kami lebih dekat dengan Kenyot dibanding kakak kelas manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang berbeda dengan Kenyot di Jakarta ialah bahwa dia semakin klowor dengan rambutnya yang gondrong (yang sekilas agak mirip Noe Letto atau Cak Nun ketimbang vokalis Kuburan band). Serta yang lebih mencolok lagi perbedaannya yaitu kini Kenyot memakai topi ala Pram. Konon topi itu dia dapat setelah berguru kepada seorang penyair tua di pedalaman Gunung Kidul. Menurut kabar angin pula, topi itu baru diserahkan kepada Kenyot setelah dia membuat dan membaca seribu puisi. Kejadian itu bertepatan setelah Kenyot patah hati berat dengan penolakan gadis anak guru agama kala itu. Dengan memakai topi dari gurunya yang penyair legendaris sekaligus misterius itu Kenyot merasa sudah menjadi penyair beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di setiap ada acara seni, budaya, musik atau sastra yang memungkinkan pembacaan puisi di dalamnya Kenyot pasti tampil. Hampir saja Kenyot menjadi penyair tunggal di kampus. Sebab penyair-penyair terdahulu selalu putus asa dan memilih berhenti jadi penyair. Mereka merasa menjadi penyair kampus adalah pekerjaan yang paling sedikit dihargai. Dan tentu saja tidak ada uangnya. Lebih menguntungkan jadi korlap demonstrasi atau makelar seminar atau minimal moderator diskusi publik.&lt;br /&gt;Sementara itu Kenyot selalu masa bodoh dengan penghargaan apalagi uang. Oleh karena itu Kenyot masih bertahan di kampus. Saingan dia paling-paling cuma para penyair bayaran yang dibon oleh organisasi-organisasi tertentu dalam rangka penegasan eksistensi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyot telah menjadi penyair kampus kenamaan. Dia senantiasa membacakan puisi favoritnya: Kepada Kawan karya Chairil Anwar. Ritualnya sebelum membaca puisi adalah menyibakkan rambut gondrongnya dan membenarkan letak topi petnya. Jaketnya belel, begitu pula celana jinsnya. Para perempuan yang menyaksikan pembacaan puisinya sering terserang demam mendadak karena seketika jatuh cinta dengan Kenyot. Lirih para perempuan itu berucap: ugh...cowok banget! Cool abis! Sampai-sampai mereka tak kuasa menahan badai cinta sehingga harus mengutarakan langsung cintanya pada Kenyot.&lt;br /&gt;Namun dengan dingin Kenyot menjawab: Sudahlah, aku sudah tahu rasanya patah hati. Jangan kau teruskan cintamu padaku atau kau akan menderita sakit yang tak tersembuhkan. Kalaupun ada yang kunantikan saat ini adalah bukan kalian. Melainkan seorang gadis yang kini berada di Solo. Namun, kali ini aku akan lebih berhati-hati. Karena dia istimewa adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak saya tahu bahwa perempuan yang ditunggu Kenyot, yang konon sedang berada di Solo itu bernama Kapri. Tentu itu bukan nama yang asing bagi saya. Sebab Kapri adalah kakak kelas saya juga, teman satu angkatan Kenyot. (Cerita tentang Kapri akan saya tulis di bagian tersendiri, barangkali dengan judul Kapri: Rembulan yang Dipinang Penyair)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya saya mengajak Kenyot, penyair kampus itu, untuk membuat semacam paguyuban sastrawan kampus. Maka lahir Tongkrongan Sastra Senjakala dan Buletin Sastra Teh Hangat. Dalam edisi perdana Teh Hangat, kami para pendiri Tongkrongan Sastra Senjakala menampilkan profil kami masing-masing. Kenyot sebagai sastrawan yang lebih senior membaca profil kami. Dia tersenyum saja manakala melihat kami yang ‘pamer’ pernah bikin komunitas ini, aktif di komunitas itu. Maka dengan selera humornya yang lebih dari cukup, dia menulis di profilnya: sebagai pendiri, penggagas dan anggota tunggal Komunitas Sastra Kijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyot lantas tak lama berada di Jakarta. Secara mengejutkan dia telah merampungkan skripsinya. Lalu ketika Boediono datang ke kampus kami dan mahasiswa berdemo di depan kampus, ricuh dengan polisi sehingga beberapa berdarah-darah, Kenyot sedang melalui tahap akhir jelang wisuda: sidang skripsi. Saya adalah salah satu ‘panitia’ sidang skripsi Kenyot, sebagai seksi konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia akhirnya wisuda, Kapri datang ke Jakarta. Itu adalah kali pertama Kapri bertemu dengan orang tua Kenyot. Sebuah pertemuan yang mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyot seperti menghilang setelah wisuda. Sepertinya dia sedang bertapa jelang hari pernikahannya. Beberapa hari setelah wisuda Kenyot berpuasa hampir dua minggu penuh tanpa jeda. Saya bertanya, puasa apa itu? Kenyot hanya menjawab, untuk sebuah ibadah kita kadang tak perlu alasan. Dengan berlagak sok paham saya mengangguk mantab. &lt;br /&gt;Saya berhasil menemui Kenyot di Solo belum lama ini. Bertanya ini itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bung,” kata saya, “apa pernikahanmu ini tidak terlalu cepat? Sebenarnya apa alasanmu bersegera menikah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini kawan,” kata Kenyot dengan santai. “Aku merasa hidupku terlalu nyaman. Jika kau perhatikan, aku kuliah empat tahun hampir tanpa hambatan yang berarti. Wisudaku juga begitu lancar. Birokrasi berbelit belum mampu membuatku patah arang. Tidak seperti kakak kelas yang lain. Juga hal lain, seperti yang kau lihat sendiri, semua bebas hambatan. Maka aku menikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Menikah sementara kau belum kerja, dan Kapri belum selesai kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru itu, kawan. Biarlah aku letakkan deritaku ini di awal. Biar di akhir aku mendapat manisnya. Jika boleh berangan-angan: seperti Nabi aku ingin menikah di usia dua puluh lima, lalu bekerja keras hingga di usia empat puluh sudah mapan. Selanjutnya tinggal mengabdikan hidup untuk umat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenang kata-kata itu. Bagaimanapun Kenyot adalah seorang yang teguh prinsip. Di antara alumni SMA kami mungkin cuma Kenyot yang rutin tahajud dan baca Yasin tiap selesai salat Subuh. Meski seorang tak bisa dinilai hanya karena tahajud dan yasin saja, tapi semua tentu iri dan berangan juga bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lanjut bertanya pada Kenyot, sedikit membandingkan, “Kalau saja yang menikah muda sementara belum ada kerja itu aku, jelas-jelas orang tuaku akan menolak. Sebelum selesai S2 dan dapat kerja mapan aku belum boleh menikah. Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kau meyakinkan orang tuamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan urusan meyakinkan, kawan,” kata Kenyot sambil mencomot kue pisang di hadapan kami, “Orang tuaku berpikir sangat sederhana. Barangkali karena pendidikannya tidak setinggi yang yang ditempuh orang tuamu. Sehingga nyaris tanpa pertimbangan muluk-muluk. Bahkan ibuku cuma menyaratkan cari yang hari yang liburnya beruntun. Seperti misalnya ada tanggal merah di hari Selasa. Perlunya agar saudara-saudara jauh bisa datang sejak Minggu. Itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengerti, ini masalah intuisi. Kalau sudah mantab ya jalan. Sederhana. Lalu strategi apa pula yang kau pakai untuk mengenalkan Kpri ke keluargamu, terutama orang tuamu, lebih khusus ayahmu? Bukankah sebelum wisuda kau masih takut-takut mengenalkan Kapri ke orang rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha. Itu benar. Tapi semua pasti ketemu jalannya. Jadi waktu aku wisuda dan Kapri datang ke Jakarta, keluargaku kumpul di rumah pamanku di Radio Dalam. Kapri kuajak untuk turut serta berkumpul. Satu hal yang membuat nenekku terkesan adalah manakala Kapri dengan sigap membawa ke dapur piring-piring setelah kami bersantap. Lantas ia bergabung dengan saudaraku yang lain mencuci piring di dapur. Ini membuat senang nenekku lantaran beliau melihat Kapri sangat bisa menempatkan diri dan seolah tidak berjarak. Njawani begitulah ringkasnya. Lalu nenek ngobrol dengan ayah ibuku dan mereka akhirnya mengucap ahlan wa sahlan pada Kapri.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh,” kata saya dengan bangga sedikit terenyuh,”tidak ada kebahagaian lain bagimu selain memperoleh Kapri yang kenes dan supel itu. Kalian amatlah pantasnya bersanding.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe. Tidak perlu jadi malankolis begitu kawan. Hmm... aku masih ingat kau berperan banyak dalam hubungan awalku dengan Kapri. Aku berterima kasih untuk itu.”&lt;br /&gt;“Dan inilah buah dari perjuanganmu, Bung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan seperti roda menggilas jalanan. Kini saya dan teman-teman berada di kereta, menuju pernikahan Kenyot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau bawa apa sebagai kado untuk Kenyot?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabun cair.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tentu tahu apa kegunaan sabun cair bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh. Kenyot sudah mendapatkan yang jauh lebih nikmat ketimbang kenikmatan sabun cair!.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terbahak mendengar jawabanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Otak mesum! Aku memberi kado sabun cair bukan untuk itu. Aku bingung mau kasih kado apa. Semua pasti kasih kado piring, gelas, handuk, magic com dan sebagainya. Aku ingin beda. Maka aku kado saja sabun cair. Biar Kenyot ingat kalau di Jakarta dulu dia jarang mandi. Hahaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tergelak oleh jawaban teman kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri kasih kado apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman Senjakala tempo hari sempat hendak membuat proyek bikin cerpen yang ‘mematikan’ untuk Kenyot. Sebuah cerpen yang ketika Kenyot membacanya jelang malam pertama kontan ia akan kehilangan semangat berahinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman tertawa tak ada habis mendengar ide konyol itu. Mereka memuji pikiran brilian namun sedikit nakal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun kami urung melanjutkan proyek penulisan cerpen itu. Kami takut jangan-jangan tanpa cerpen itu pun Kenyot sudah kehilangan semangat berahi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gerbong kereta jadi berisik karena kami tertwa lagi, lebih keras.&lt;br /&gt;Kami tiba di stasiun penghabisan ketika matahari baru saja naik. Di dekat stasiun ada tukang nasi liwet yang melegenda. Kami menyempatkan waktu sarapan di sana. Baru kemudian akan naik ojek menuju rumah Kenyot yang masih cukup jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di tempat hajatan kami menyalami among tamu dan menyerahkan kado. Kami tersenyum sedikit ditahan ketika melihat Kenyot dandan rapi. Rambutnya dicukur. Jas dan celananya necis. Wajahnya dibedaki. Kembang melati rinonce terkalung di lehernya. Kami tidak menemui jejak ‘penyair kampus’ itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara salam-salaman pun tiba. Saat kami yang mengantri sudah dekat dengan Kenyot kami melihat sesuatu yang menggelikan. Sembari bersalaman saya bilang sama Kenyot.&lt;br /&gt;“Bung, kau boleh berbahagia hari ini. Tapi jangan lupa kau tutup resleting celanamu. Tak sadar apa dari tadi orang senyum-senyum melihatmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan muka Kenyot memerah dan dia segera menutup resleting celanannya. Di dekat meja kado kami terbahak sampai sakit perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar Kenyot! Wong edan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Cerpen ini adalah kado pernikahan Nasihin Aziz Raharjo dengan Ika Prihatin Yuliana. Pengging, Boyolali, 17 Mei 2011. Cerpen ini (tidak akan) dimuat Kompas. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2710324210646270866?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2710324210646270866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2710324210646270866' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2710324210646270866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2710324210646270866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/06/kenyot-dimuat-di-buletin-sastra-teh.html' title='Kenyot (dimuat di Buletin Sastra Teh Hangat edisi khusus &apos;Ode Buat Kenyot Adisattva&apos;)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1684439017581210821</id><published>2011-06-12T20:02:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T20:27:20.233-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Senja di Dermaga (dimuat Surabaya Post, 12 Juni 2011)</title><content type='html'>Aku lelaki dan dia wanita. Sama-sama memuja senja di dermaga. Pertemanan kami sudah berlangsung lama. Namun kami masih malu-malu untuk keluar bersama. Bagi kami, anak-anak pantai, pergi berdua saja tabu adanya. Meski banyak juga kawan-kawan kami yang sudah berani pergi berdua. Tentu saja untuk menikmati senja di dermaga. Barangkali teman-teman kami itu telah mencicipi sekelumit peradaban kota. Namun, tak urung kami tergoda juga. Ingin tahu seperti apa rasanya menikmati senja di dermaga, berdua dengan orang yang dikasihi dan dicinta. Dan percakapan siang itu sungguh tak terduga. Semua terungkapkan begitu saja. Seperti sesuatu yang terkurung begitu lama dan baginya pintu kebebasan dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah besok sore kau menemaniku minum secangkir kopi di dermaga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau aku menolak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tidak mengapa. Tapi boleh jadi kau akan kecewa, melewatkan kesempatan minum kopi denganku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-he-he. Kau PD sekali. Jika aku menerima bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kehormatan bagiku dan semoga aku tidak kecanduan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecanduan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, adakah yang lebih indah daripada menikmati kopi hangat di dermaga sembari menunggu matahari terbenam ditemani perempuan secantik kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, gombal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah perempuan suka yang gombal-gombal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gombalanmu kelas teri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apakah salah jika kubilang: bukan senjanya yang indah, melainkan dengan siapa kita melewatkannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memandangi senyummu pun indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kau pandai betul membuat pipiku memerah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak ngobrol denganku tadi pipimu juga sudah memerah. Bahkan aku sempat melihat kau sedikit gugup tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sssstt…jangan keras-keras. Nanti semua orang tahu kalau aku selalu grogi jika berhadapan denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak tahu ya kalau sebenarnya kau sudah kurang ajar padaku sedari tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku deg-degan tahu melihat sorot matamu yang menghujam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti sejak tadi kau diam-diam menikmati hujaman mataku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah sendiri punya mata sebagus itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa suruh kau punya wajah yang enak dipandang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iiih, bandel…kucubit nanti hidungmu yang mancung itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cubit aja kalau berani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut tenang. Angin tidak terlalu kencang. Matahari senja warna jingga bersimaharaja di angkasa. Perahu-perahu nelayan tertambat di dermaga. Baru nanti jika langit sudah sehitam jelaga kapal-kapal akan berlayar membawa nelayan mencari ikan. Hari ini, pada akhirnya kami berangkat ke dermaga, hendak menikmati senja. Kami sama-sama tahu jika sejak berjalan keluar rumah jantung kami berdegup lebih kencang dari biasa. Bagaimanapun ini kencan pertama. Rona gugup dan gelisah terbaca nyata di wajah kami. Dan aku mengawali percakapan dengan pertanyaan yang tiba-tiba terlontar, seolah tanpa kupikirkan lebih dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udaranya bagus bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa pun akan merasa tenang di sini, senja ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya, kau tahu tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau cantik sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha-ha-ha. Kau orang keseratus dua puluh satu yang bilang begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti banyak yang sepakat denganku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi jangan cintai aku karena cantikku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencintaimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…jadi yang semalam itu cuma main-main?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehe. Maaf aku bercanda. Kau tentu takut aku tak mencintaimu lagi jika cantikmu hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah yang seperti itu tak sekali dua kali terjadi di muka bumi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti perahu, aku ingin setia mengarungi samudramu. Seperti pelaut, aku selalu rindu merapat di dermaga hatimu. Aku tak akan pernah mendapatimu dalam keadaan tidak cantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang terobsesi betul jadi penyair.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Penyair yang hanya membuat puisi untukmu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, ayo diminum kopinya. Nanti keburu dingin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, kau selalu mengalihkan perhatian tiap kali aku coba sedikit romantis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri tahu kan aku tak pernah bisa membalas kata-katamu itu? Aku bukan penyair seperti kekasihmu dulu. Aku tak bisa bersahut-sahutan puisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah memaafkanmu sebelum kau berbuat kesalahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itu bisa romantis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yang mengajari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-he-he. Kau cerdas dan selalu tak mau mengalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau itu karang-karang di sana yang mengajari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kau perhatikan, bukankah sejak kita kecil karang itu tetap di sana dengan ukuran yang sama. Seakan-akan ombak tak bisa mengikisnya dan tak punya kuasa apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Itu memang serupa dengan kau yang kukenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika masih kecil aku suka duduk di karang itu berlama-lama. Hampir tiap hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau kerjakan di sana? Apa tidak bosan tiap hari memandangi ombak, perahu dan camar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerinduan. Aku sedang memelihara kerinduan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana aku selalu berharap-harap cemas menunggu ibu pulang. Kau pun tahu, sejak usia tujuh bulan aku sudah ditinggal ibu merantau. Dari nenek aku tahu, tiap lebaran sampai umurku tiga tahun ibu pasti pulang. Namun dari usia empat sampai sekarang ibu tak ada kabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa memahami kerinduanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tahukah kau? Saat usia satu tahun, saat aku baru belajar bicara, aku selalu bertanya kepada nenek siapa perempuan yang datang dengan membawa banyak oleh-oleh untukku itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu nenekmu bilang apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih ingat, dia tidak segera menjawab, tapi menangis sesenggukan terlebih dahulu. Baru kemudian dia bercerita bahwa perempuan itu ibuku. Pikirnya, barangkali, malang betul cucuku ini, bahkan wajah ibunya sendiri tak dikenalinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu ibumu menangis juga, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangisnya lebih sesenggukan daripada nenek. Ia hampir tak bisa berhenti menangis. Parahnya, kejadian ini berulang di usia kedua dan ketigaku. Aku selalu lupa wajah ibuku. Pasalnya setiap pulang ibu tak bisa berlama-lama di rumah. Paling lama seminggu. Jadi, belum sempat aku mengenal dan menghafal wajah ibuku, dia sudah pergi lagi. Kasihan betul aku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa mengerti. Apakah aku cukup menghapuskkan kesedihanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setidaknya itu yang pelan-pelan kurasakan selama ini. Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan kehidupan manusia memang berbeda-beda. Dan inilah jalan yang harus kau tempuh. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan yang mempertemukan aku dan kau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan yang tak ada ujung. Sebab kita akan menempuh apa saja di depan kita bersama-sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi jika gerimis mulai turun begini apakah kita akan tetap bertahan di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha-ha-ha. Tentu tidak. Sebaiknya kita pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo lari. Gerimis mulai berubah menjadi hujan, akan lebat sepertinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kenakan jaketku. Kau lupa atau memang sengaja tak memakai jaket?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tadi terburu-buru. Ingin lekas-lekas bertemu kau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kalau kau besok jadi istriku jangan tinggalkan anak kita di usia tujuh bulan ya. Nanti bisa-bisa jika kau kembali, dia tak mengenali wajahmu. Dan kau akan sangat sedih sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak berbuat seperti apa yang telah diperbuat ibuku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencan pertama kami ditutup dengan hujan yang sederhana. Aku antar ia hingga depan rumahnya. Sebelum meninggalkannya, ia meraih tanganku dan mencium punggung telapak tanganku penuh kidmat. Terus terang, dadaku berdesir tanpa ampun. Bisa kurasakan aliran kasih dan sayang, juga pengabdian. Kubayangkan hari-hari depan yang sangat menyenangkan. Senja kali ini tidak akan pernah kulupakan. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertemu kembali di senja yang lain beberapa hari setelah pertemuan itu. Kali ini tidak ada kopi. Keadaan sedang sulit. Kami terancam terusir dari tanah kelahiran kami sendiri. Dua hari yang lalu kepala desa menandatangani kesepakatan dengan pemerintah pusat dan sebuah pengusaha dari luar negeri. Intinya, akan menjadikan desa kami ini sebagai Desa Wisata Pantai Percontohan. Hotel, resort dan restoran akan dibangun besar-besaran. Rumah-rumah reot kami mesti dirobohkan. Pindah massal. Kami ditempatkan di sebuah tanah tandus yang cukup jauh dari tempat kami dahulu. Tidak ada perlawanan. Kami mungkin adalah orang yang sangat penurut dan kurang berpendidikan. Meskipun uang pengganti perpindahan cukup besar, namun ada sesuatu yang tentu saja tak tergantikan, yang kami sendiri tak tahu itu apa. Barangkali kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia awali percakapan sore itu dengan berita yang mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga hari lagi aku akan pergi ke kota. Pamanku mengajakku kerja di pabrik tekstil. Kau tahu, aku tak pernah bisa meninggalkan tanah kelahiranku, apalagi meninggalkanmu. Tapi aku lebih tak tega tidak memenuhi anjuran nenekku untuk ikut paman, ia memintaku hingga menitikkan air mata. Ia juga bilang kita adalah orang-orang yang kalah, sebaiknya meninggalkan desa ini dan mencari kerja di kota. Zaman sedang susah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar zaman telah berubah. Kita tak pernah membayangkan akan jadi begini rupa. Aku pun harus sampaikan jika aku akan berangkat ke pulau seberang. Seorang teman lama memasukkanku di perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya kita ditakdirkan untuk dipisahkan jarak. Kirimilah aku surat, sebulan sekali barangkali, aku tentu akan membalasanya. Biar aku tidak disiksa rasa kangen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jasad kita dipisahkan, tapi hati kita tidak. Aku akan mengirimimu surat. Semoga kabar yang kuberikan adalah yang baik dan kabar yang kuterima darimu adalah kabar bahagia senantiasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami benar berpisah. Meninggalkan tanah kelahiran. Bulan-bulan pertama surat-surat dengan kertas beraroma wangi itu masih selalu kami terima. Mengabarkan kerinduan, memberitakan cinta yang tertahan. Tapi ketika hampir setahun perpisahan surat itu tak ada lagi. Entah kami yang sibuk dengan kerja. Entah kami yang sudah tak saling bersetia dan mendapatkan kekasih baru. Atau mungkin kami yang sudah tak lagi memuja senja di dermaga. Lupa pada suara ombak, wangi air laut, kepak camar, pasir putih, kapal-kapal berlayar dan karang-karang yang bertapa tak tergoyahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja di dermaga hanya tinggal sebuah cerita. Tak lebih dari itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1684439017581210821?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1684439017581210821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1684439017581210821' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1684439017581210821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1684439017581210821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/06/senja-di-dermaga-surabaya-post-12-juni.html' title='Senja di Dermaga (dimuat Surabaya Post, 12 Juni 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4929326213872399849</id><published>2011-05-31T17:30:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T17:35:34.316-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>MARSHA (dimuat di Antologi Cerpen Taman Budaya Jawa Tengah 'Paras Perempuan Cadas')</title><content type='html'>“Kok ribut betul, ada apa ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu ada yang manjat tower?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau bunuh diri dia sepertinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa? Orang gila ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, dia anak kecil. Masih SD, umur 10 tahun, cewek lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia kuat sekali. Sudah setengah jam dia bergelantungan di tower.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia frustrasi atau bagaimana? Menuntut sesuatu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang tahu. Kecuali dia dan Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang heboh. Perhatian banyak orang jelas tersita oleh anak kecil yang memanjat dan bergelantungan di tower sebuah operator seluler itu. Jalanan yang sehari-hari sudah macet jadi makin macet karena orang melambatkan laju kendaraannya demi bisa melihat lebih jelas aksi si anak kecil. Kerumunan orang menyemut di bawah tower. Tontonan gratis di tengah siang yang gerah. Ada yang membidikkan kamera hape, kamera digital dan kamera SLR. Bagi yang tak punya kamera cukup mendongak dengan mata memincing dan sebelah tangan menangkup di kening menahan silau sinar matahari.&lt;span class="fullpost"&gt;“Anak siapa itu ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan naiknya? Kok tidak ada yang tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, polisi mana nih, kok belum nongol?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana ya rasanya berada di puncak tower?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan serupa itu bertebaran di antara orang yang bergerombol. Orang-orang masih tetap setia mendongakkan kepala mengawasi perkembangan anak itu di puncak tower. Seolah tahu dirinya jadi pusat perhatian si anak tidak hanya berdiam diri di atas sana. Ia perlahan berputar mengitari tower. Kadang-kadang gerakannya seperti orang mau terjatuh karena tergelincir. Tapi keseimbangan dan kekuatan anak itu memang tak bisa diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia berpindah dari ruas ke ruas. Orang-orang di bawah tentu saja was-was. Sedikit saja ia kehilangan konsentrasi maka ia akan limbung dan terjatuh. Tak ada satu pun yang berani membayangkan bagaimana jadinya jika ia benar-benar terjatuh. Maka orang-orang padat memenuhi bagian bawah tower. Antisipasi jika anak kecil itu benar jatuh. Setidaknya ada orang yang akan menangkap tubuhnya. Tapi sekali lagi tidak ada yang berani membayangkan jika ia benar-benar jatuh. Sinar matahari masih berdaya penuh, membuat silau dan mengahantarkan panas. Orang-orang masih berkumpul. Mungkin baru akan bubar setelah anak itu turun. Ibarat nonton telenovela, tidak tuntas rasanya jika tidak menonton dari awal hingga akhir episode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Marsha. Itu nama panggilan. Nama panjangku Mar’atus Shalihah. Temanku juga punya nama panggilan yang keren. Tak kalah dahsyat dengan nama asli pemberian orang tuanya. Seperti Ema yang nama aslinya Khusnul Khotimah. Atau Icha yang punya nama asli Khoirun Nisa’. Mereka punya alasan masing-masing kenapa mereka lebih nyaman dipanggil dengan nama itu. Ada yang merasa panggilan itu lebih sederhana dan mudah diingat, tapi ada juga yang beralasan supaya kelihatan imut dan lucu dipanggil dengan nama itu. Panggilan Marsha tak kuketahui sabab musabab dan alasannya. Sejak kecil aku sudah dipanggil begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, namaku Marsha. Umurku sepuluh tahun. Saat ini aku sedang berada di puncak tower setelah sebelumnya aku susah payah memanjatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dari atas sini memandang ke bawah sana sangat indah terlihat. Semua menjadi kecil. Rumah-rumah mengecil. Gedung-gedung mengecil. Manusia dan pohon hanya serupa titik hitam bertebaran. Motor, mobil dan kendaraan lain seperti serangga-serangga yang merambat di dahan pohon. Dan kau tahu, di sini sejuk sekali. Angin berkesiur melambaikan rambut panjangku. Meski matahari menyengat begitu rupa namun aku tertolong oleh angin yang menjadikan udara tak terlalu panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, alangkah bebasnya berada di atas sini. Aku bergelantungan dari ruas tower satu ke ruas tower yang lain. Tapi, ups, orang-orang yang sedang menontonku di bawah pasti khawatir. Bisa kulihat mereka menuding-nuding ke arahku. Ada pula yang melambai meminta aku tidak melakukan gerakan yang membahayakan. Atau mungkin lambaian itu bermakna permintaan untukku turun. Tidak, aku tidak mau turun. Aku nyaman di sini. Aku merasa aman. Tak seorang pun  bisa menjangkauku. Tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh, makin lama makin banyak saja yang berkerumun di bawah tower. Juga di tempat-tempat dekat tower yang memungkinkan bisa melihatku. Aku bingung, apa sih menariknya melihatku yang sedang di puncak tower ini? Dan aku benci ditonton seperti itu. Memangnya aku ini topeng monyet apa? Sudah, pergi sana kau orang-orang yang di bawah. Kembali ke pekerjaanmu saja sana. Nanti kau dimarahi bosmu yang galak lho. Kalian tak kan dapat apa-apa dengan menontonku begitu. Aku baik-baik saja di sini. Tidak akan, aku tidak akan bunuh diri. Tenang saja. Aku cuma ingin hiburan dan sedikit kebebasan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu siapa gadis kecil di tower itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara berat mendadak mengagetkan kerumunan orang-orang yang sedang menonton anak kecil pemanjat tower. Ibarat mendapat komando dari komandan, para penonton segera menengok ke belakang mencari asal suara. Mata mereka terbeliak manakala mendapati seorang kakek yang berkata begitu. Semua lalu terpaku dan menunggu. Kakek itu tidak segera angkat bicara namun berdehem dulu dengan sangat berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gadis kecil itu bernama Marsha. Ayahnya adalah pencuri motor amatir. Sudah dua kali dia masuk penjara. Padahal dia belum sempat menikmati penuh hasil curiannya. Sedang ibunya adalah tukang gendam atau tukang hipnotis. Targetnya adalah ibu-ibu dan perempuan di bis kota yang duduk bersebelahan dengannya. Adapun Marsha adalah anak SD yang selain bersekolah juga menjadi pencuci piring paruh waktu di sebuah rumah makan Padang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, Marsha harus terima itu. Bahwa orang tuanya adalah pelaku kriminal. Dan dia harus giat bekerja sementara teman-teman lainnya asyik bermain. Tapi kau tahu, keluarga itu saling menyayangi satu sama lain. Setiap uang yang mereka dapat hanya untuk keberlangsungan keluarga itu. Kebahagian bagi mereka bukan belanja di mall atau rekreasi di tempat mahal. Kebahagian mereka adalah bersantai bersama di rumah mungil mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai sekitar sebulan yang lalu ibu Marsha melahirkan anak keduanya. Seperti yang sudah kukatakan tadi, sejahat-jahatnya ayah Marsha namun hatinya tetap tulus. Guna membawa istrinya ke klinik bersalin yang agak jauh dari rumahnya ia meminjam mobil seorang kawannya. Nahas. Ketika proses persalinan selesai, ayah Marsha tersentak tidak mendapati mobil pinjaman dari kawannya itu berada di parkiran. Ia tahu, parkiran klinik itu hanyalah parkiran yang dijaga preman yang nyaris tak peduli soal keamanan. Preman yang hanya berpikir bahwa ia akan dapat uang dari setiap kendaraan yang parkir di sana.  Dengan panik ayah Marsha bertanya pada siapapun yang berada di tempat parkir. Tapi semua menggelengkan kepala. Ia hampir menghajar preman penjaga parkiran yang tak becus itu. Namun ia sadar menghajar preman adalah tindakan bodoh. Preman selalu punya organisasi yang dalam waktu singkat bisa balik menghajarnya, bahkan membunuhnya. Maka, ia hanya bisa terpekur di depan klinik dengan wajah yang lebih melas dari apapun. Waktu itu adalah pertama kalinya ayah Marsha yang pencuri motor itu kehilangan kendaraan. Parahnya itu kendaraan pinjaman. Sejak itu ia tahu sakitnya kehilangan dan ia berikrar untuk tidak mencuri lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka empat hari setelah bayi laki-lakinya lahir, ia membagi waktu antara rumah sakit dan mengurus asuransi mobil yang belum lunas angsurannya itu. Untunglah teman ayah Marsha tidak begitu emosional menghadapi kehilangan ini. Kata dia, ini hanya kehilangan kecil, kelak kita harus bersiap dengan kehilangan besar. Ayah Marsha mengamini itu. Seperti sebuah isyarat, bayi laki-lakinya meregang nyawa di hari kelima. Lengkaplah sudah. Ia mengalami kehilangan kecil sekaligus kehilangan besar. Dengan kata-kata lantang ayah Marsha berujar sambil mendongak langit dan mengacungkan telunjuk kanannya: Tuhan, aku sudah bersumpah untuk tidak mencuri lagi setelah aku merasakan sakitnya kecurian. Tapi mengapa kau curi juga nyawa anak laki-lakiku Tuhan? Untuk itu aku cabut sumpahku yang pertama dan aku bersumpah untuk terus mencuri hingga akhir hayatku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semenjak musibah beruntun itu ayah Marsha jadi ringan tangan dan gampang marah. Marsha adalah sasarannya. Sehari ia bisa dipukul hingga sepuluh kali, oleh sebab yang kerap tak masuk akal. Jika Marsha sudah turun dari tower nanti coba kau lihat pelipis, tangan dan kakinya. Semua penuh bekas pukulan dan luka. Kau tak kan pernah tega hal itu terjadi pada anakmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek itu mengangguk takzim berkali-kali. Orang-orang menampakkan ekspresi berbeda-beda. Ada yang geleng-geleng prihatin. Ada pula yang ikut menangis sesenggukan. Namun tiba-tiba seorang ibu berteriak histeris sembari menuding ke arah tower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awaaaas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsha hampir terjatuh! Semua panik. Untung satu tangan Marsha masih berpegangan kuat di satu ruas tower. Orang-orang yang sedari tadi memperhatikan kakek segera berpaling ke tower untuk melihat Marsha. Ketika mereka kembali ingin melihat kakek itu, mereka sudah tidak menemui si kakek di sana. Si kakek menghilang secepat mereka memalingkan muka. Semua terperanjat dan saling berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huft..hampir saja aku terjatuh! Tampaknya aku sudah mulai lelah dan kehilangan konsentrasi. Tenagaku sudah tidak sepenuh saat awal memanjat tower tadi. Ketika aku hampir jatuh kulirik orang-orang yang berkerumun di bawah. Mereka semua tegang dan sebagian berteriak histeris. Anehnya, di antara kerumunan orang itu aku melihat cahaya yang berkelebat. Aku tidak tahu cahaya apa itu, dari atas sini tidak begitu jelas terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian kudengar raung sirine dan tampak di kejauhan mobil pemadam kebakaran dan mobil polisi. Ah, mereka selalu datang terlambat. Pahlawan kesiangan. Sebaiknya aku permalukan saja mereka. Aku akan turun sebelum mereka datang menjemputku. Dengan kecepatan terukur dan akurat aku susuri ruas-ruas tower menuju ke bawah. Aku tahu orang-orang di bawah sama takjub melihat aku yang turun dengan lincah seperti monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku sudah berada di bagian tengah tower. Tanganku hendak menggapai ruas tower di sebalah kananku, tapi, oh, aku tergelincir. Hilang keseimbangan. Tidak! Aku terjun bebas ke bawah! Tubuhku membentur ruas-ruas besi. Menghajar tulang-tulangku. Ngilu sekali rasanya. Dalam sekejap mata aku merasakan kedatangan malaikat pencabut nyawa yang bergegas menunaikkan kewajibannya. Oh, selamat tinggal ayah, selamat tinggal ibu. Oh, adik laki-lakiku, sambutlah kehadiran kakakmu ini. Oh, orang-orang di bawah sana sambutlah mayatku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gadis kecil, sekarang kau aman di sini. Kau tak akan bertemu dengan ayahmu yang gemar memukul itu. Juga ibumu yang selalu tak peduli.” Seorang kakek menenangkan Marsha. Keduanya kini di alam yang tak dapat dibayangkan keberadaannya oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah itu, Kek? Aku masih sayang dengan mereka sekejam apapun mereka padaku. Aku bisa memahami kondisi ayah, kondisi keluargaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gadis kecil, kau tahu, rumahmu yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman buatmu justru jadi neraka kecil. Orang tuamu yang semestinya jadi pelindung malah menjelma orang yang paling meyeramkan bagimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu pada siapa aku harus berlindung dan di mana aku harus bernaung?” tangis Marsha meledak. Sesenggukan memilukan. Air matanya menganak sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu si kakek dengan penuh kasih membelai rambut panjang Marsha. Dan Marsha terus menangis. Jauh lebih terisak. Jauh lebih membuat dadanya sesak. Lantas keduanya menghilang setelah dijemput ribuan sayap-sayap cahaya.                   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4929326213872399849?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4929326213872399849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4929326213872399849' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4929326213872399849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4929326213872399849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/05/marsha-dimuat-di-antologi-cerpen-taman.html' title='MARSHA (dimuat di Antologi Cerpen Taman Budaya Jawa Tengah &apos;Paras Perempuan Cadas&apos;)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-650164336068720081</id><published>2011-05-22T20:38:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T20:43:09.840-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Angkringan (Jurnal Nasional, 22 Mei 2011)</title><content type='html'>Di kota saya sekarang ini angkringan semakin banyak. Bak jamur di musim hujan. Di depan kantor, sekolah, tempat ibadah, pusat perbelanjaan dan dimana-mana. Dekat rumah saya juga ada angkringan. Penjualnya bernama Mas Satrio. Seorang duda beranak satu. Di depan sebuah dealer motor Mas Satrio berjualan. Setiap hari ia menggelar dagangannya pukul lima sore dan tutup ketika hari hampir subuh. Saya mengenal Mas Satrio sebagai penjual angkringan yang rajin dan supel. Beberapa kali saya juga mendapati lawakan segar Mas Satrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering jajan di angkringan Mas Satrio. Biasanya saya memesan susu jahe. Lalu mencomot tahu bacem, sate usus dan tempe goreng. Mas Satrio sudah hapal, yang saya comot tadi dibakarnya. Tak lupa diolesi kecap biar tambah lezat. Saya duduk meleseh di samping gerobak. Menunggu senja turun bersama orang-orang yang sudah sejak tadi berada di sana. Lik Gnowo yang tukang becak, Pak Wiro ketua RT dan Mas Cepuk penjaga kedai pulsa, merekalah pelanggan setia Mas Satrio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, beberapa hari terkahir timbul masalah dengan angkringan Mas Satrio. Angkringannya tak seramai dulu. Tepatnya setelah muncul angkringan baru di seberang jalan. Di depan sebuah toko bangunan. Berjarak sekitar 200 meter dari angkringan Mas Satrio. Atas berdirinya angkringan baru itu, Mas Satrio punya komentarnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Aku sebenarnya ndak masalah punya saingan baru itu. Tapi mbok ya deklit penutup angkringan jangan sama-sama warna merah. Angkringan deklit merah itu sudah menjadi ciri khas angkringanku,” ujar Mas Satrio berapi-api.&lt;br /&gt;Saya jadi bingung. Apa salahnya kalau deklit penutup berwarna sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa Mas kalau deklitnya sama?” tanya saya sambil meraih susu jahe yang disodorkan Mas Satrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil sibuk membuat kopi Mas Satrio menjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelangganku jadi bingung. Kemarin saja waktu aku libur jualan Lik Gnowo tanya, Mas Satrio angkringannya pindah depan toko bangunan ya? Lha kalau semua berpikiran begitu, orang-orang pasti jadi salah kira dan pelangganku lama-lama akan habis,” terang Mas Satrio masih dengan nada sedikit meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mafhum. Mengangguk-angguk pelan. Mas Satrio mengambil piring berisi jajanan saya yang harus dibakarnya. Lalu kembali berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penjual angkringan itu mau jualan satu meter di samping angkringanku ayo aja, aku berani bersaing, tapi jangan pakai deklit merah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak berani komentar. Mas Satrio sedang panas hatinya. Saya cuma menerka-nerka, ada apa dengan deklit penutup warna merah? Apa dengan menggunakan deklit warna merah maka peruntungannya bagus? Banyak rezekinya? Lalu jika ada pesaing yang menggunakan deklit sama warna merah rezekinya akan menguap? Ah, saya masih bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari setelah berbincang dengan Mas Satrio tentang keberadaan angkringan baru itu, Mas Satrio jatuh sakit. Angkringannya tutup beberapa hari. Terpaksa saya menyambangi angkringan baru diseberang jalan. Lewat obrolan di angkringan seberang jalan itu belakangan saya tahu penjualnya bernama Kang Nanang. Dia tampak masih muda. Perkiraan saya dia berusia sekitar tiga puluh tahun. Badannya tegap dan sorot matanya tajam. Kang Nanang tak kalah ramah dengan Mas Satrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di angkringan Kang Nanang sudah ada Lik Gnowo dan Pak Wiro. Mereka tak bisa jauh dari suasana hangat angkringan tampaknya. Saya ikut nimbrung saja. Obrolan masih seputar harga barang-barang di pasar yang mulai naik. Lalu membicarakan masalah renovasi masjid yang tak kunjung selesai. Beranjak kemudian tentang perpolitikan tanah air. Percakapan sederhana seperti ini biasa ditemani minuman hangat dan jajanan sederhana di hadapan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, sudah pernah makan sate di angkringannya Mas Satrio?” Tanya Kang Nanang pada saya, membuka percakapan sore itu. Angkringan sedang ramai pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Kang. Tapi tidak sering. Memang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em…bagaimana ya? Saya yakin sampeyan pasti memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram, iya tho?” Kang Nanang berucap begitu dengan dahi mengernyit seolah berpikir keras. Tangannya sibuk mengaduk kopi susu pesanan Pak Wiro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai sekarang saya masih selalu hati-hati dalam urusan makanan, Kang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, kalau menurut sampeyan tikus itu halal atau haram? Boleh tidak dimakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ya ndak boleh tho. Masak tikus dimakan? Kecuali dalam keadaan darurat sekali. Kalau saya, meski dalam keadaan darurat sekalipun tetap tak mau makan tikus. Jijik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em… saya tak punya maksud apa-apa. Tapi mas-mas sudah tahu belum kalau sate di angkringan Mas Satrio itu sebenarnya adalah sate daging tikus?” Tanya Kang Nanang agak gugup tapi tatap matanya meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang Nanang, sampeyan harus hati-hati kalau bicara. Masak Satrio tega jual sate tikus?” Pak Wiro coba mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dagang ya dagang, Kang. Tapi mbok ya jangan menjatuhkan begitu. Ndak baik.” Mas Cepuk menimpali, sedikit tak terima. Sejatinya dia masih saudara jauh Mas Satrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, saya tidak sedang menjatuhkan. Saya kenal kok siapa yang setiap hari nitip sate di angkringan Mas Satrio itu. Namanya Pak Jembling, dia jual mie ayam juga di dekat terminal. Belum lama mie ayamnya ditutup karena ketahuan menggunakan daging tikus. Pak Jembling mau nitip sate juga di sini. Tapi saya menolak. Soalnya saya sudah tahu kelakauan Pak Jembling.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana mendadak hening. Informasi Kang Nanang yang entah benar entah salah itu tak ada yang menanggapi. Semua sibuk dengan kecamuk pikiran masing-masing. Mas Cepuk terlihat yang paling bersungut-sungut. Ada geram yang coba disimpannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bimbang juga sejujurnya. Rasa jijik tiba-tiba terasa manakala membayangkan Mas Satrio benar-benar menjual sate daging tikus. Tapi setega itukah dia? Demi keuntungan yang barangkali tak seberapa besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tutup agak lama, Mas Satrio kembali buka. Saat saya baru datang dan menyapa Mas Satrio, Mas Cepuk sudah di sana dengan Pak Wiro. Asyik menikmati kopi cangkir kecil. Sepi pengunjung. Lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Satrio menyerahkan pesanan saya lalu bergabung ikut duduk bersama kami. Dia menyulut rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanang itu harus aku beri pelajaran. Sama-sama cari duit kok ngajak main nggak bersih. Pakai bilang aku jua sate tikus lagi. Tukang fitnah! Aku gorok lehernya tahu rasa dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir tersedak mendengar kemarahan Mas Satrio yang meletup. Dari mana dia tahu kalau di angkringan Kang Nanang dia digosipkan menjual sate tikus? Apa mungkin dari Mas Cepuk? Halah, embuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari ini saya harus menjemput seorang teman lama di terminal. Waktu melewati angkringan Kang Nanang penglihatan saya terganggu dengan keributan kecil di sana. Sekilas saya melihat beberapa preman mabuk. Entah bagaimana awalnya, kericuhan itu mendadak membesar. Preman-preman mengobrak-abrik apa saja di gerobak angkringan. Gelas-gelas pecah. Jajanan berantakan. Kacau. Kang Nanang berteriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian pasti suruhan Satrio ya? Hayo ngaku!” Percuma. Preman-preman itu justru kian mengamuk. Saya bergidik ngeri. Terpaksa saya mengambil jalan memutar ke terminal. Menghindari keributan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di angkringan Mas Satrio, sore itu beberapa orang membicarakan pengrusakan angkringan Kang Nanang. Termasuk saya, Mas Cepuk dan Pak Wiro. Sementara itu Mas Sartio sibuk membuat pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha wong preman mabuk minta rokok sebatang kok ndak dikasih, ya jelas ngamuk!”&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja dua motor bebek yang melaju kencang berhenti di depan angkringan Mas Satrio. Tiap motor mengangkut dua penumpang. Jelas sekali saya melihat, mereka menyalakan bom molotov. Mereka yang berpakaian serba hitam itu tepat melempar bom molotov di deklit pelindung angkringan. Bom molotov dari botol kecap itu pecah. Kontan deklit terbakar. Api merambat cepat. Disulut minyak dalam botol tadi. Kian membesar. Semua pengunjung kalang kabut. Saya tak berani menduga ulah siapa ini. Tahu-tahu dua sepeda motor itu telah menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejar! Kejar!” orang-orang yang terbakar emosi matanya merah, dadanya panas, hidungnya kembang kempis. Marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih memilih pulang. Terpekur di beranda rumah. Menyadari bahwa segala sesuatunya terjadi begitu cepat tanpa dapat dibayangkan. Inikah wajah dendam? Apakah ini tamsil dari bahaya mulut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu. Yang saya tahu, untuk beberapa hari ke depan, baik angkringan Mas Satrio ataupun Kang Nanang tentu akan tutup. Dan saya malas mencari angkringan lain yang lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-650164336068720081?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/650164336068720081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=650164336068720081' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/650164336068720081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/650164336068720081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/05/angkringan-jurnal-nasional-22-mei-2011.html' title='Angkringan (Jurnal Nasional, 22 Mei 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8499444176176178509</id><published>2011-05-15T02:56:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T03:15:01.221-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Hujan Pagi Hari (Solopos, 15 Mei 2011)</title><content type='html'>“Kalau pagi hujan deras begini enaknya ngapain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidur melingkar di kasur empuk pakai selimut tebal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu jawaban basi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em…apa ya? Bagaimana dengan makan mie rebus pakai telur setengah mateng ditemani teh panas? Pasti mantab!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu juga biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan belum terjawab dan lelaki itu pergi ke dapur. Menyeduh dua gelas kopi hitam, untuknya dan untuk perempuan itu. Angin dingin mengetuk kaca jendela. Tapi di ruang tamu itu dingin tak sepenuhnya masuk dan meruang. Nuansa hangat tercipta dari sofa beludru dan permadani yang mengalasinya. Di luar deras hujan membasahi segala, menggugurkan dedaunan, mengalir bagai sungai di jalanan, luber dari selokan. Lelaki itu kembali ke ruang tamu dengan dua gelas kopi hitam panas mengepul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.”&lt;span class="fullpost"&gt;“Sudah lupakan saja, itu pertanyaan tak serius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em…apakah minum kopi ketika hujan pagi hari adalah hal paling menyenangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja tidak. Minum minuman hangat atau panas jamak dilakukan orang ketika hari hujan. Dan sesuatu yang biasa dilakukan banyak orang bukan suatu hal yang istimewa bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang istimewa bagimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih segera menjawab lelaki itu malah menyulut sebatang rokok. Tak lama, asap menyembur pelan dari mulutnya. Mata perempuan di sampingnya menyiratkan rasa ingin tahu dan meminta jawaban. Tapi mata lelaki seperti tak peduli. Ia pandangi ruang tamu yang sejatinya adalah sebuah ruang minimalis. Selain ada sofa beludru dan permadani, sebuah meja kayu dengan kaca tembus pandang di tengahnya sehingga dapat kita lihat benda-benda laut yang dikeringkan tersusun di dasar meja. Sebuah perpaduan furnitur yang aneh. Belum lagi dua lukisan berukuran sama besar yang terlihat kontras. Satu lukisan alam pedesaan yang permai, dengan sawah, sungai, gunung dan pepohonan. Sedang satu lagi lukisan kota besar yang hiruk pikuk, dengan gedung tinggi, kemacetan, papan-papan iklan dan langit hitam. Itu saja isi ruang tamu. Sofa, permadani, meja dan dua lukisan. Minimalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya aku pulang saja. Aku mulai bosan. Setiap kuajukan pertanyaan kau malah memintaku melupakannya atau tidak menjawabnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pulang dulu, kau belum meminum kopi buatanku. Lagi pula di luar hujan masih deras.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kopimu lain kali saja. Kalau aku ke sini lagi. Aku bisa memanggil taksi untuk mengantarku pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sebenarnya sedang kacau. Sudah lama aku menunggu pagi berhujan seperti ini dan mengundangmu datang ke rumahku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya ada apa dengan pagi berhujan? Kau mau apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin membacakan puisi untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puisi? Ha-ha-ha. Kau ini sedang berlagak jadi penyair? Atau sedang ingin jadi penyair?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tak menjawab lagi-lagi. Ia mengambil nafas dalam-dalam. Telah ia hafal puisi itu dan berulang-ulang membacanya di depan cermin. Kaca jendela basah oleh uap air. Angin kencang mengarah ke ruang tamu. Menyelinap lewat ventilasi dan bagian bawah pintu. Menghadirkan dingin yang sekejap. Lalu udara kembali seperti sebelumnya. Dari jendela terlihat empat helai daun jatuh. Ketika sampai tanah ia bergabung dengan beberapa kelopak bunga yang gugur lebih dulu. Pemandangan itu membuat hati lelaki yang kini terlihat gusar itu makin melankolis. Seperti ada yang bermain biola di sudut sepinya. Atau memetik kecapi di tengah malam sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong kau dengarkan puisi ini. Aku tak ingin membacanya untuk kali kedua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Kau akan membaca puisi karyamu sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Ini karya Goenawan Mohamad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wartawan, sekaligus penyair.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Judulnya apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asmaradana. Sudah, dengarkan saja. Dan tolong jangan tertawa jika cara membacaku menggelikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Bacakan puisi itu untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata. Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang kan tiba, karena tak berani lagi. Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu. Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi selesai dibacakan. Bertepatan dengan itu hujan perlahan mereda. Tapi bagi lelaki itu udara di ruang tamu terasa memadat. Meski sesungguhnya ia merasa lega. Setelah tadi ia dengar gemuruh di hatinya. Akhirnya puisi itu telah dibacakan kepada perempuan itu di tengah hujan pagi hari. Kini ia telah siap menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan ia hadapi berikutnya. Termasuk peristiwa yang terburuk sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana puisi tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak paham.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama sekali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tadi mendengar nama Anjasmara. Apa itu Anjasmara artis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-he-he. Bukan. Kau sepertinya perlu mendengar kisah di balik puisi itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau mendengarnya. Berceritalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya itu adalah sajak tentang perpisahan yang pedih. Rekaman tragedi masa silam. Ketika Damar Wulan meninggalkan Anjasmara untuk sebuah peperangan melawan Minak Jingga, lelaki perkasa dengan pusaka gada Wesi Kuning yang mematikan. Mengalahkan Minak Jingga adalah sayembara yang diadakan oleh Ratu Majapahit dalam rangka mencari suami. Selepas Patih Udara mengundurkan diri dan digantikan Patih Logender, Majapahit merosot. Ancaman banyak datang dari banyak kerajaan lain. Salah satunya datang dari Blambangan dengan kedok lamaran Minak Jingga kepada Ratu Majapahit .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Majapahit menyiasati penolakan lamaran itu dengan mengadakan sayembara: barang siapa mengalahkan Minak Jingga akan diambil suami olehnya. Damar Wulan, yang tak lain adalah anak Patih Udara, turut serta dalam sayembara itu. Padahal ia telah beristri, Anjasmara. Bagi Anjasmara, apapun hasilnya, peperangan antara Damar Wulan dengan Minak Jingga akan mengakibatkan dirinya disingkirkan sebagai istri utama. Jika kalah, Damar Wulan kalah akan berpisah untuk selamanya, jika menang Damar Wulan akam menjadi suami untuk Ratu Majapahit dan menduakan Anjasmara. Momen perpisahan Damar Wulan dan Anjamara itulah yang coba ditangkap puisi Asmaradana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm, cerita yang menyedihkan. Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau bacakan puisi Asmaradana itu padaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eee…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tiba-tiba deras lagi. Matahari yang hampir muncul terhalang mendung lagi-lagi. Onggokan daun gugur berpusing diterpa angin dari utara. Lelaki itu, mendapati pertanyaan yang tiba-tiba dan menohok, serasa mendengar letusan balon tepat di belakang telinga. Atau seperti dengan mendadak kepalanya dicelupkan ke dalam bak mandi. Gelagapan dan tak bisa berkata apa-apa. Juga, badannya jadi dingin meski sudah mengenakan sweater tebal. Untuk itu ia menyeruput kopinya untuk kali penghabisan. Juga, menyulut rokoknya, batang yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar, aku mau menyeduh kopi dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawab dulu pertanyaanku. Kau selalu menghindar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, akan kujawab. Setelah aku menyeduh kopi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika tak segera kau jawab, aku akan pergi sekarang juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Apa pertanyaanmu tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ugh, kau menyebalkan sekali. Aku bertanya kenapa kau bacakan puisi Asmaradana padaku? Apakah kau menginginkan sebuah perpisahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, pertanyaan yang terakhir itu tidak kau tanyakan tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi aku sekarang menanyakannya. Biar segera kau jawab pertanyaanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berjalan pelan menuju jendela. Diusapnya kaca jendela yang sedikit basah dan dingin. Matanya lekat menatap hujan. Jalan di depan rumahnya lengang. Pohon-pohon menari ditiup angin. Pohon angsana menari, pohon mangga menari, pohon jambu air menari. Melintas seorang gadis kecil dengan payung di tangannya. Lalu seorang kakek berlari ingin berteduh di poskamling tak jauh dari rumahnya. Oh, hujan pagi hari! Lelaki itu menghayati hujan dan mendapat keberanian berbicara pada perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayahku meneleponku seminggu yang lalu. Sebelumnya, pernah kuceritakan padamu siapa dan bagaimana ayahku, bukan? Malam itu ia memintaku ke Boston dalam waktu dekat, bergabung dengan keluargaku di sana, arti lainnya tinggal di Boston, sampai batas waktu yang tak ditentukan. Tegas ayah memintaku membantu bisnisnya. Itu tidak terlalu menyesakkanku sebenarnya. Sampai ia menyebut sebuah nama, Angelina. Anak rekan bisnisnya. Aku harusnya paham apa maksud ayah memujinya ditelepon malam itu. Tapi aku berusaha menjadi bodoh. Aku justru menyadari bahwa aku adalah seorang yang lemah untuk menolak permintaan, lebih-lebih itu dari orang tuaku. Maka, aku mencari waktu yang tepat untuk mengatakan perpisahan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak menginginkan hubungan jarak jauh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira hubungan jarak jauh hanya semacam sandiwara tanpa penonton. Sia-sia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Aku tidak bisa menuntut apa-apa. Boleh aku menyanyikan sebuah lagu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memiliki Kehilangan dari Letto.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah lagu itu hanya akan menambah kesedihan dan membuatku semakin kacau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku jamin tidak akan. Justru akan meneguhkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyanyikan lagu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna, walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa, rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar, lagu itu bilang rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya. Apa selama ini kau tak pernah merasa memilikiku dan kumiliki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu bagaimana aku menyayangimu. Tapi, sejatinya di dunia ini tak ada yang sepenuhnya saling memiliki. Semua hanya singgah. Kau pernah dengar istilah anakmu bukan anakmu, bukan? Kukira lagu ini bisa menyelamatkan kita dari kesedihan atau keterpurukan yang mendalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih telah menyanyikan lagu itu untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu pamit pulang. Hujan reda sepenuhnya. Wangi tanah selepas hujan menenangkan perasaan keduanya. Lalu lalang orang dan kendaraan perlahan memenuhi jalanan. Mereka bersiap mengawali hari setelah tadi sempat tertahan hujan. Saat tertiup angin, daun-daun memercikkan air yang membuat perempuan itu terkejut. Hampir sampai pagar rumah ia kembali ke pintu di mana lelaki itu terpaku. Ia memberikan kecupan di dahi. Yang terakhir dan yang terhangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin menucapkan perpisahanmu di sebuah pagi berhujan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya jika di Boston aku menjumpai sebuah hujan di pagi hari, aku bisa mengenangmu.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8499444176176178509?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8499444176176178509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8499444176176178509' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8499444176176178509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8499444176176178509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/05/hujan-pagi-hari-solopos-15-mei-2011.html' title='Hujan Pagi Hari (Solopos, 15 Mei 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4733623472675559877</id><published>2011-05-09T17:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T17:19:11.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kedai Kopi Karenina (Joglosemar, 8 Mei 2011)</title><content type='html'>Senja dan jingga. Lelaki dan perempuan di sudut kedai kopi Karenina. Mereka sudah tidak bertemu dalam waktu yang lama. Bertemu lagi dengan perasaan yang ganjil tapi tak tampak di muka. Dan seperti biasa, keduanya memesan kopi hitam tanpa gula. Sebab kopi adalah kopi. Tanpa campuran gula, susu, atau krimer. Bagi mereka, minum kopi begitu adalah kenikmatan belaka. Kedai kopi Karenina menyediakan kopi-kopi terbaik dari seluruh nusantara. Selera mereka nyatanya masih tetap sama, kopi Aceh. Kata mereka, itulah kopi juara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerpenku dimuat koran nasional hari ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Aku sudah baca. Kisah cinta seorang masinis yang tragis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senang mendengar kau sudah membacanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berlangganan koran itu dan hari ini menjumpai cerpenmu di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, menurutmu apa kekurangan cerpen itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang panjang. Hehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu sendiri minimnya lahan sastra di koran itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku bercanda tadi. Aku tahu sastra dianggap pinggiran. Em… apa ya kekurangan cerpenmu? Aku nikmat aja sih membacanya. Bahasanya teduh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah? Tentu setiap karya ada kekurangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percayalah, aku hanya jadi penikmat sekarang. Bukan lagi tukang kritik sok tahu seperti dulu. Aku bahkan kesulitan menulis sebuah cerita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kangen membaca cerita-ceritamu.”&lt;span class="fullpost"&gt;“Ah, jangan terlalu berharap. Aku sudah karatan. Sudah habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata-kata itu memang sering diucapkan orang-orang rendah hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha. Jangan menghiburku begitu. Aku sudah mati-matian untuk menghasilkan satu saja tulisan, tapi susah betul. Tak seperti dulu. Aku sudah tamat. Takkan ada yang mau memuat tulisanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketakutanmu itu adalah ketakutan yang tak berwujud. Kau mencipta hantu untuk hidupmu sendiri. Tulislah cerita dan kirim ke salah satu koran, pasti mereka akan memuatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu ya? Baiklah, akan kucoba. Doakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, begitu dong. Aku doakan selalu. O ya, kabari aku jika ceritamu dimuat. Biar aku ikut berbahagia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe. Oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doakan juga supaya aku tetap produktif dan menghasilkan karya berkualitas.”&lt;br /&gt;“Selalu ada doa untuk kawan. Kudoakan kau akrab dengan kemudahan dan asing dengan segala kesusahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amin. Terima kasih. Kau kawan yang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam dan perpisahan. Hampir tengah malam keduanya kembali ke kota masing-masing. Dan tidak bertemu untuk waktu yang lama sekali. Kedai kopi Karenina tanpa mereka lagi. Namun di tiap pertemuan setelah perpisahan panjang selalu ada cerita yang bisa dibagi tak habis-habis. Juga ada kabar-kabar baru yang kadang mengagetkan. Entah itu kabar baik atau sebaliknya. Seperti malam itu. Pertemuan setelah mereka berbulan-bulan tak bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bulan depan novelku terbit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang benar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana pernah aku bohong untuk hal seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, selamat ya. Kau bercerita tentang apa di novel itu? Bukan tentang orang miskin yang bisa kuliah ke luar negeri kan? Aku malas membaca cerita macam itu melulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha. Aku tidak menulis novel motivasi seperti itu kok. Masa aku mau jadi bebek? Sesuatu yang berada di bawah bayang-bayang orang lain tak akan jadi besar dan abadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepakat. Akhir-akhir ini aku lebih sering membaca novel terjemahan ketimbang novel Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Kau sedang menikmati novel karya siapa belakangan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kawabata. Yasunari Kawabata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…pilihan yang bagus. Judul apa yang sudah kau baca?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beauty and Sadness dan Snow Country.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana yang lebih bagus menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beauty and Sadness.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selera kita sama. Bahkan tokoh-tokoh di novel itu masih hidup di ingatanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe. Kawabata memang lembut dan sangat naturalis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun penulis Jepang lain banyak yang mengunggulinya, dengan gaya yang hampir mirip Kawabata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Tapi, hai, kau bahkan belum bercerita tentang novelmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya. Di novel itu masih bercerita soal kereta, kenangan, dan cinta. Kalau kau sudah membacanya silakan ditertawakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau terobsesi benar dengan kereta dan kenangan. Aku jadi tak sabar menunggu novel itu terbit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah. Aku minta maaf jika novelku nanti tidak seperti yang kau bayangkan.”&lt;br /&gt;“Aku selalu menikmati cerita-ceritamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi dan kehilangan. Ya, tiap pagi ketika mereka tak lagi bersama-sama selalu ada semacam rasa kehilangan. Hanya kehilangan kecil memang. Masih ada kehilangan-kehilangan lebih besar yang akan mereka hadapi. Kematian seorang teman atau keluarga misalnya. Mereka membiasakan diri dengan kehilangan-kehilangan kecil untuk bersiap berjumpa dengan kehilangan besar. Pada pertemuan selanjutnya, lelaki itu minta diputarkan lagu-lagu nostalgia tahun 1970-an. Nona Karenina paham. Jika mengalun lagu nostalgia di kedai kopinya itu pasti permintaan si lelaki. Bagi lelaki itu, lagu-lagu tahun 1970-an selalu syahdu dan bergemuruh indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yakin, pasti kau yang meminta diputarkan lagu-lagu nostalgia ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe. Kau bahkan telah hafal hal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm, tapi kau agak aneh hari ini. Kuperhatikan kau selalu tersenyum dan sumringah sekali. Kau baru menang lotre?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha. Tidak, aku tidak sedang menang lotre. Hmm, kau pernah menghilangkan barang teman tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menghilangkan barang teman? Pernah, belum lama ini aku menghilangkan topi kesayangan temanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha. Aku juga baru mengilangkan barang teman. Bukan topi, tapi motor temanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Serius? Kok bisa? Kau lupa menguncinya atau bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang ke apotek untuk menebus obat. Sudah kupastikan motor terkunci. Tapi memang tidak dengan kunci ganda. Ketika aku keluar dari apotek, motor sudah tidak ada. Padahal aku tidak lama di apotek. Hanya sekitar 15 menit. Pun begitu, pencurian adalah masalah momentum. Meski aku di apotek hanya 5 menit tapi jika momen terjadi ketika aku lima menit di dalam, ya pasti hilang juga. Maling motor sekarang sudah canggih-canggih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun, aku turut berduka cita, kawan. Sabar ya. Tapi bagaimana bisa kau setenang ini dan masih bisa tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe. Ada banyak hal yang membuatku begini. Pertama, temanku yang punya motor itu juga tenang dan santai. Tidak emosional dan panik. Pelan-pelan kami mengurus asuransi motor yang belum lunas angsurannya itu. Lalu kami bicarakan masalah penggantian motor itu. Masalah uang sangat sensitif. Ia katakan, dalam penggantian motor ia ingin tidak ada yang merasa diuntungkan atau dirugikan. Itu membuatku tenang. Kedua, lagu Letto-lah yang turut menyelamatkanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagu Letto? Yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pernah dengar ini: rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaitannya dengan musibah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, jadi benar bahwa kita akan merasa kehilangan jika kita merasa memiliki sesuatu. Misalnya, kita merasa memiliki kalung mahal, lalu ketika kalung itu hilang, kita akan merasa sangat kehilangan. Nah, bagaimana misalnya kalau logikanya dibalik. Jadi, kita tak akan merasa kehilangan jika kita tidak merasa memiliki sesuatu. Kita tanamkan bahwa kalung itu bukan milik kita, hanya sekadar titipan. Maka ketika kalung itu hilang, kita tak akan merasa begitu kehilangan, karena hakikatnya itu bukan milik kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm, benar juga ya. Karena rasa kehilangan berlebih punya konsekuensi yang berbeda tiap orangnya. Ada yang pingsan di tempat, ada yang stres berkepanjangan bahkan ada yang sampai bunuh diri. Manusia selalu takut kehilangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Maka, secara mental kita harus siap. Mindset kita harus dibenahi. Bahwa tidak ada yang sepenuhnya milik kita. Semua memang hanya titipan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terharu sekali aku mendengarnya, kawan. Bangga aku berteman denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plis deh jangan lebay. Hahaha. Aku saja tidak mengeluarkan air mata sama sekali atas musibah ini, tapi kenapa justru kau yang menangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini air mata bahagia dan duka sekaligus. Bahagia karena kau bisa sekuat ini, berduka atas musibah yang kau alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, aku justru bersyukur atas musibah ini. Anggapanku musibah ini adalah pembersih hartaku. Juga barangkali aku harus sedekah sama pencuri itu. Sejahat-jahatnya orang pasti untuk keluarganya juga. Bisa jadi dia mencuri motor untuk makan sehari-hari anak istrinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah, kau bisa berlaku bijak setelah musibah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dukungan dari orang-orang terdekat selalu menguatkanku. Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyata dan khayali. Dua hal itu tipis sekali bedanya. Seperti mimpi. Nona Karenina kerap menitikkan air mata sendiri tiap melihat lelaki itu datang ke kedai kopinya. Sejatinya lelaki itu sendiri saja di sana. Tak ada perempuan atau siapa pun yang jadi lawan bicaranya. Maka seperti orang kurang waras, di sudut kedai kopi lelaki itu bicara sendiri, tertawa sendiri, terkejut sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iba dan cinta. Nona Karenina tak pernah tega mengusir lelaki itu. Biarlah lelaki itu mengunjungi kedainya kapan ia mau. Ia tahu siapa laki-laki itu. Dulu ia adalah petugas sinyal di stasiun kereta sekaligus penulis lepas yang ditinggal selingkuh istrinya. Konon, di Kedai Kopi Karenina ia pertama kali bertemu istrinya dan di sana juga ia bertengkar serta akhirnya berpisah dengan istrinya. Barangkali, selama ini ia selalu datang ke kedai kopi Karenina untuk mengenang segalanya. Mengenang cintanya, bahaginya, dukanya, perpisahannya, dan semua-semua. Pernah suatu kali Nona Karenina ingin menjadi penawar luka lelaki itu, atau setidaknya menjadi teman ngobrol-nya. Namun itu urung ia lakukan sebab lelaki itu sesungguhnya hanya akan mengingatkan ia pada kekasihnya yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Ia takut disiksa kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, biarlah kedai kopi Karenina menjadi kedai bagi dua orang yang terluka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4733623472675559877?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4733623472675559877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4733623472675559877' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4733623472675559877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4733623472675559877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/05/kedai-kopi-karenina-joglosemar-8-mei.html' title='Kedai Kopi Karenina (Joglosemar, 8 Mei 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4289674680165556459</id><published>2011-04-16T09:13:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T09:24:52.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Mbak Nik (annida-online.com, 11 April 2011)</title><content type='html'>Saya sedang di rumah sendiri ketika pintu tengah rumah saya diketuk seseorang. Ketika itu siang lengang dan di langit mendung membayang. Posisi saya sudah bersiap untuk mandi setelah tadi bersih-bersih rumah dan tak lupa menyiram kembang. Entah kenapa saya bimbang. Saya buka pintu atau tidak di dalam hati jadi sebuah perang. Jam segini biasanya yang ke rumah adalah Pak Anam yang suka mengantar undangan organisasi untuk ibu yang sudah di kantor sekarang. Adatnya undangan diselipkan di bawah pintu lalu ia pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya kali ini bukan Pak Anam yang datang. Orang itu mengetuk pintu lama sekali, seperti ada keperluan penting sehingga ke rumah saya siang ini ia harus bertandang. Urung untuk mandi, saya menuju kamar tidur lalu meletakkan handuk dan sesachet shampo di ranjang. Saat pintu tengah saya buka di hadapan saya muncul perempuan berperawakan sedikit gemuk, jidatnya berkeringat, dan pakaiannya berwarna terang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Dik, Ibu ada di rumah tidak?” tanyanya ramah setelah beruluk salam. Saya tidak segera menjawab. Saya perhatikan orang ini sekilas. Di belakangnya saya lihat sepeda ontel Phoenix. Oh, jadi itu yang membuatnya terlihat berkeringat dan ngos-ngosan, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, ibu sama bapak baru saja berangkat ke Magetan, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya tho? Acara apa di Magetan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anaknya teman ibu menikah. Bapak dan ibu diminta jadi penerima tamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang jam berapa kira-kira?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin sore atau habis Maghrib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gitu ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya, kalau boleh tahu mbak ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Mbak Nik, tukang sayur di Pasar Legi, temannya ibumu, Dik. Ibu biasa belanja di tempat saya kok. Rumah saya di Jalan Madura dekat pesantrennya Mbah Muhayat. Sebenarnya saya sudah dua kali kesini, tapi kok ndilalah ibu nggak ada terus, yang pertama ke sini malah rumah pas lagi suwung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya maaf banget, Mbak. Nanti saya sampaikan ke ibu kalau Mbak Nik ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em… jenengan ini anaknya Mbak Atik?” Tanya Mbak Nik dengan menyebut nama ibu. Sepertinya Mbak Nik memang sudah dekat dengan ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggih. Saya anaknya yang pertama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok jarang kelihatan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kuliah di Jakarta, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…Ya sudah, saya pamit dulu, Dik. Besok mungkin saya ke sini lagi.”&lt;span class="fullpost"&gt;Mbak Nik menuju sepeda onthel-nya dan mengucap salam kepada saya yang termangu. Setelah Mbak Nik berlalu saya segera mengunci pintu. Saya ke kamar tidur mengambil handuk dan shampo lalu ke kamar mandi depan yang letaknya di antara kamar adik saya dan kamar bapak-ibu. Di rumah ada dua kamar mandi, yang belakang terletak di samping kamar pembantu. Saya senang mandi di kamar mandi depan karena lebih luas dan di sana saya bisa menyanyi-nyanyi dengan suara yang terdengar jadi lebih merdu. Kamar mandi belakang hanya saya gunakan jika kamar mandi depan sedang dipakai dan saya terburu-buru. Jika tidak tergesa saya lebih memilih sabar menunggu. Setiap kamar mandi memang punya nuansanya sendiri-sendiri yang kadang kita rindu. Di Jakarta saya kangen kamar mandi rumah, begitu sebaliknya, di rumah saya kangen kamar mandi kosan yang sempit dan juga sekaligus jadi tempat mencuci baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, tadi Mbak Nik ke sini. Nyari ibu.” Kata saya ketika ibu baru masuk rumah. Wajahnya lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Nik siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tukang sayur di pasar, rumahnya Jalan Madura, katanya kenal ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Besok kalau ke sini lagi suruh habis maghrib aja. Setelah ibu pulang dari kantor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu buru-buru masuk kamar. Ingin segera rebah di ranjang tampaknya. Saya kerap merasa kasihan dengan ibu. Setiap jam tiga pagi ia sudah bagun untuk sholat tahajud lalu menyiapkan sarapan. Usai sholat subuh langsung mandi, sarapan dan bersiap pergi ke terminal, memburu bis pagi ke Madiun yang ber-AC. Sekitar pukul lima sore baru sampai rumah. Aktifitas itu berputar terus dari Senin sampai Jumat. Alih-alih di akhir pekan ibu bisa sedikit bersantai di rumah dengan keluarga, di hari Sabtu dan Minggu itu ia justru sibuk di organiasasi keagamaan yang diketuainya. Saya senantiasa berdoa, semoga ibu selalu diberi kesehatan, kekuatan dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang sendiri di rumah ketika pintu samping diketuk berkali-kali. Dugaan saya, Mbak Nik datang lagi. Terkaan saya tidak meleset sama sekali. Ia datang dengan sepeda onthel Phoenix, berkeringat di kening, celana merah muda dan bajunya warna merah hati. Seperti kemarin, saya tidak suka pilihan warna bajunya kali ini. Entah dia yang punya selera sedikit norak atau tak ada pilihan baju lain di almari. Ia tersenyum hangat dengan menampakkan giginya yang rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu belum pulang ya, Dik?” kali ini Mbak Nik bertanya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Mbak. Kemarin saya sudah bilang ibu. Kata ibu Mbak Nik habis Magrib aja ke rumahnya. Ibu pulang kantor sore sekitar jam lima...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Nik gusar. Ia terlihat seperti sangat perlu sekali bertemu dengan ibu hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, boleh saya masuk? Saya bicara sama jenengan saja. Sudah tiga kali ke sini kok ibuk tidak ada terus ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya persilakan saja Mbak Nik masuk. Duduk di karpet yang tergelar di depan televisi. Melihat laptop dan beberapa buku yang baru saya baca berserakan di karpet Mbak Nik meminta maaf kalau mengganggu belajar saya. Sedikit berbasa-basi. Saya jawab tidak apa-apa. Berbasa-basi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini lho, Dik, maksud kedatangan saya sebenarnya untuk meminjam uang. Anak saya yang kelas 2 SMK diwajibkan beli seragam montir oleh sekolah. Nah, saya pinjam lima puluh ribu saja untuk menutupi kekurangan pembayaran seragam anak saya ke sekolah. Besok Senin saya janji bakal balikin uang itu. Hari ini hari terakhir pelunasan uang seragam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mendapati Mbak Nik yang begitu lugas menyatakan ingin pinjam uang saya terbeliak juga. Hal pertama yang saya pikirkan adalah menghubungi ibu. Pasalnya di dompet saya hanya tinggal ada tiga ribu rupiah saja. Mungkin setelah menelepon ibu, ia akan meminta saya pinjam uang ke rumah nenek yang tidak jauh dari rumah atau ada cara lain supaya bisa meminjami Mbak Nik uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mbak, sebelumnya saya minta maaf sekali. Kalau harus langsung meminjami saya tidak bisa, kebetulan di dompet saya cuma ada tiga ribu. Di rumah juga tidak ada siapa-siapa selain saya. Sebaiknya saya telepon ibu dulu.” Saya berkata demikian sembari mengirim sms ke ibu dan bapak. Berharap mereka yang akan menelepon saya dan memberi solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Waduh saya jadi merepotkan adik ya? Maaf lho, Dik. Maaf,” kata Mbak Nik dengan wajah bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa, Mbak. Santai saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencari nama ibu di phonebook ponsel saya lalu meneleponnya. Lima kali panggilan tidak diangkat. Tersadar saya bahwa hari ini adalah hari Rabu. Jadwalnya ibu memimpin sidang di kantornya, Pengadilan Agama. Segera saya mencari nama bapak di phonebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu foto ibumu waktu menikah dulu ya, Dik?” tukas Mbak Nik sambil menunggu saya yang sibuk menghubungi orang tua.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,” jawab saya singkat seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibumu memang cantik, Dik. Itu foto pernikahannya dulu ya?” Tanya Mbak Nik sambil memandangi foto pernikahan ukuran 50x60 yang terpajang di ruang keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.” Lagi-lagi saya menjawab singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dengar ibumu tempat kerjanya pindah ke Madiun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah cukup lama pindahnya, Mbak. Setiap jam enam pagi sudah ke terminal. Sore pulang, jam enam maghrib baru sampai rumah biasanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya Allah, pasti capek sekali itu. Perjuangan ibumu luar biasa. Mugi Gusti Allah paring kesehatan ya, Dik,” Mbak Nik menyampaikan empatinya diiringi doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah mengangkat telepon saya. Beranjak saya ke ruang makan di belakang ruang keluarga. Saya utarakan ke bapak tentang kedatangan Mbak Nik dan maksud kedatangannya. Namun jawaban dari bapak tidak saya duga. Menurutnya, kita belum kenal Mbak Nik sebelumnya. Bapak meminta saya hati-hati dan waspada. Khawatir kalau dia penipu, serigala berbulu domba. Saya sejujurnya agak kecewa. Kenapa bapak curiga begitu rupa. Pun begitu saya tak ingin membantah orang tua. Saya mengikuti saran bapak saja. Yakni jika Mbak Nik ingin pinjam uang datanglah kalau bapak ibu sudah di rumah biar bisa langsung bertatap muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, Mbak, ini tadi bapak telepon. Kata bapak nanti waktu istirahat makan siang bapak akan mampir ke rumah. Kasih uang ke saya. Istirahatnya antara jam 12 sampai jam satu. Jadi mungkin Mbak Nik bisa ke sini lagi nanti jam setengah satu atau jam satu. Sebelumnya saya minta maaf karena saya memang sekarang tidak pegang uang sebanyak itu. Kalau ada pasti saya pinjami.” Tidak tahu bagaimana saya bisa berujar seperti itu. Saya sendiri kaget. Sangat berlainan dengan apa yang disarankan bapak. Namun barangkali ini adalah cara saya mengusir halus Mbak Nik. Saya perlu waktu untuk menghubungi ibu. Memastikan apakah ibu benar-benar mengenal Mbak Nik atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya sudah. Nanti jam satu saya kembali ke sini. Maaf lho kalau ngrepotin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya yang harusnya minta maaf, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Yang penting saya percaya jenengan, jenengan percaya saya. Mari, Dik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan saya tenang betul ketika Mbak Nik sudah pergi. Saya perlu orang untuk berbagi. Maka segera menuju rumah nenek, ibunya ibu, yang hanya berjarak empat rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati sama orang seperti itu. Belum lama Om Jayin juga kedatangan orang berwajah melas dan terlihat sangat ramah. Setelah mengobrol dengan sok akrab cukup lama orang itu bilang kalau mau pinjam uang. Katanya nanti seminggu lagi akan dikembalikan. Nyatanya dia penipu.” Nasihat nenek pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, jangan-jangan yang tadi penipu juga. Tapi sepertinya Mbak Nik itu memang mengenal ibu. Mbak Nik terlalu banyak tahu tentang ibu jika ia penipu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar, siapa tadi namanya? Mbak Nik? Perasaan penjual sayur langganan ibumu tidak ada yang namanya Mbak Nik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi yang rumahnya jalan Madura. Sudah, begini saja, kalau nanti ibu nelpon, dan bilang kenal Mbak Nik kamu ke sini ambil uang. Tapi kalau ibu nggak kenal bilang saja ibu tidak kenal jenengan, Mbak. Pinjam uang ketemu langsung saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengiyakan nasihat nenek lalu kembali ke rumah. Di tengah jalan ibu menelepon. Terhenyak saya mendengar pengakuan ibu yang ternyata tidak mengenal Mbak Nik. Meski nada suara ibu masih ragu-ragu. Tapi itu cukup jadi alasan bagi saya untuk berlari ke rumah. Mengunci semua pintu lalu segera tidur. Bodo amat kalau Mbak Nik datang lagi. Jelas dia hendak menipu. Huh, bagus juga aktingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mendadak rasa iba saya muncul. Saya tidak bisa sembunyi begini. Harusnya saya temui baik-baik dan menjelaskan ke Mbak Nik kalau ibu saya tidak mengenal Mbak Nik. Sayang saya tidak punya keberanian. Saya sudah terlanjur menjanjikan Mbak Nik untuk mengambil uang jam satu, setelah bapak mampir ke rumah di jam istirahatnya. Jadilah saya memaksakan diri untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding yang saya lirik menunjukkan pukul satu lebih lima. Ada suara ketukan di pintu samping. Berani taruhan, itu Mbak Nik! Saya buru-buru menutup telinga dengan bantal. Pintu diketuk lagi. Lebih lama. Hati makin berkecamuk. Suara ketukan pindah ke pintu samping. Saya berusaha untuk tidak mengacuhkannya. Ternyata suara ketukan malah pindah ke pintu depan. Tidak berani saya membayangkan raut wajah Mbak Nik saat ini. Maafkan saya ya, Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu ketika sudah di rumah sore harinya bertanya banyak perihal Mbak Nik kepada saya. Mulai dari ciri fisik, maksud kedatangannya sampai apa saja yang saya bicarakan siang tadi. Ibu berusaha keras membayangkan sosok Mbak Nik. Tapi gagal. Beliau sedikit banyak yakin tidak mengenal Mbak Nik. Meski tidak bisa ditutupi pula kekhawatiran ibu jika ternyata Mbak Nik adalah teman lama atau saudara jauh yang jarang bertemu dan mungkin terlupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari ibu masih tampak santai meski jam dinding sudah menunjuk pukul tujuh pagi. Ibu mengaku sedang tidak enak badan. Ingin istirahat seharian penuh di rumah. Hari beranjak siang dan saya menduga Mbak Nik tidak akan datang lagi. Ternyata duagaan saya meleset. Ketika saya menatap pohon rambutan di halaman dari jendela kamar saya lihat Mbak Nik datang masih dengan sepeda onthelnya. Juga masih dengan pakaian berwarna terang, warna yang sedikit norak menurut ukuran selera saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru saya berkata pada ibu bahwa orang yang mengaku bernama Mbak Nik itu datang lagi. Ibu segera menuju pintu samping di mana terdengar suara ketukan beberapa kali. Saya masuk kamar dan mengintip dari lubang kunci. Tak saya kira sebelumnya wajah Mbak Nik pias sekali. Melihat si pembuka pintu adalah ibu yang dipikirnya sedang di kantor jam segini. Ibu dengan tenang mempersilakan duduk di karpet depan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jenengan yang kemarin ke sini ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Njih, Bu. Benar.” Keringat sebji-biji jagung berlelehan di dahi Mbak Nik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kita sudah pernah bertemu ya, Mbak?” Ibu saya langsung to the point saja menanyai Mbak Nik.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Se..se…pertinya sudah, Bu. Lama sekali. Di mana ketemunya saya lupa.” Jawaban Mbak Nik belepotan. Grogi betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah jenengan di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya di Jalan Madura. Saya masih saudaranya Pak Ali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Ali siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pegawai rumah sakit yang rumahnya timur rumah ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Timur rumah saya kan TK? Gimana tho?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lho, Bu. Pak Ali yang tinggi dan agak hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ndak ada di sini yang namanya Pak Ali, apalagi yang tinggi hitam. Jenengan itu sudah tahu saya di kantor dan baru pulang sore kok ya pinjam uang datangnya siang-siang. Pasti niatnya ndak bener ini. Saya bilangin Mbak, kerja seperti ini tidak baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf-maaf, Bu. Saya ini cuma disuruh Pak Ali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Ali lagi, Pak Ali lagi. Sudah jangan ngapusi seperti ini. Yang rugi malah jenengan sendiri kalau begini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf-maaf, Bu. Saya pamit dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh Mbak Nik meninggalkan rumah saya. Wajahnya menyiratkan campuran antara malu dan panik. Di dalam kamar saya menghela nafas lega. Terbukti sudah Mbak Nik ini penipu. Untung saya kemarin tidak berhasil dikibuli Mbak Nik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya saat ini berada di bus eksekutif jurusan Jakarta. Masa liburan telah purna. Hari beranjak senja. Saya menatap luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jendela. Satu-satu pemandangan berseliweran di hadapan saya. Tukang parkir yang sibuk memarkir motor, anak kecil lusuh (sepertinya pengamen cilik) sedang makan nasi bungkus, kakek renta berkaki buntung mengemis memelas, seorang ibu kumal ribut dengan lelaki yang boleh jadi adalah suaminya. Dada saya seperti disentak sesuatu yang tak berwujud-berupa. Mungkin lantaran pemandangan serupa itu yang tampak mata. Hampir tak putus sejauh padangan ke luar jendela. Mata saya beralih memandagi langit-langit bus yang kosong hampa. Merenungi segala. Perlahan menjelma segumpal duka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dikejutkan asisten sopir yang membagikan bantal dan selimut. Langsung saja saya selimut saya kenakan. Di luar gerimis dan AC di dalam kelewat dingin. Capai merenung (dan memendam duka) saya tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul tiga pagi saya terjaga. Suasana begitu sepinya. Tidak tahu saya sudah sampai di mana sekarang. Gerimis masih setia. Melihat air yang mengalir di kaca jendela mendadak saya jadi begitu sentimentil. Saya menangis. Benar-benar menangis. Awalnya pelan namun lama-lama makin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa bohong. Saya terkenang Mbak Nik. Saya berpikir, kemarin ibu saya mengeluarkan dua ratus ribu untuk bus eksekutif ini dengan gampangnya. Lalu apa beratnya mengeluarkan lima puluh ribu? Lepas dari cara Mbak Nik yang keliru, saya yakin sekotor apapun   cara orang cari uang adalah tetap untuk keluarganya, untuk anak-anaknya, untuk hidupnya yang tentu tak sesentosa dan semakmur saya. Harusnya tempo hari saya usahakan dan kasih saja lima puluh ribu itu tanpa berpikir Mbak Nik  bohong atau tidak. Toh Mbak Nik sudah memohon dan merendahkan diri di hadapan saya. Pasti ia butuh uang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan jika Mbak Nik itu adalah ibu saya, yang harus berkeringat karena mengendarai onthel buat mencari lima puluh ribu. Oh Tuhan, saya benar-benar tertampar! Spontan saja saya merapal doa. Lindungi Mbak Nik Ya Allah. Juga orang-orang yang banting tulang, peras keringat, bersimbah luka dalam mengarungi hidup. Semoga kesakitan dan kepahitan dalam hidup jadi kemulian mereka di hadapan-Mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis saya makin keras, air mata kian deras. Bus melaju cepat, dingin tanpa alamat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4289674680165556459?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4289674680165556459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4289674680165556459' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4289674680165556459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4289674680165556459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/04/mbak-nik-annida-onlinecom-11-april-2011.html' title='Mbak Nik (annida-online.com, 11 April 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6706871516446550197</id><published>2011-04-16T09:06:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T09:38:01.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Taman Seribu Bunga (Solopos, 10 April 2011)</title><content type='html'>Di sanalah kita pertama kali bertemu. Ketika langit mengabarkan keteduhan dan kedamaian. Di sebuah pagi hangat yang anginnya selalu aku rindukan. Kaos warna biru mudamu tidak akan pernah aku lupa. Juga celana jins yang membalut jenjang kakimu. Sepertinya itu adalah pagi tercerah sepanjang hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat kau sedang berorasi di tengah rimbun bunga-bunga. Ditemani beberapa gelintir kawan aktivis lingkungan, kau mengajak orang-orang menanam pohon, memisahkan sampah organik dan anorganik serta mengurangi pemakaian AC. Olala, betapa seksinya engkau dengan peluh berlelehan di keningmu itu! Mengalir menyusuri jejak rambut-rambut tipis di pipimu. Memperhatikanmu dari tadi, aku berkesimpulan (mungkin sedikit tergesa), kau adalah wanita cerdas, pemberani dan sedikit tomboy seperti yang sering aku impikan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamatkan bumi! Go green! Go green! Go green!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakanmu yang provokatif itu disambut peserta aksi yang tak kalah semangat. Saat itu angin menggerakkan rambutmu, terutama rambut ekor kudamu. Aku terkesiap. Taman Seribu Bunga ini serasa berisi lebih dari seribu bunga. Wangi suasana pagi itu merayapi sekujur gelisahku tentangmu. Aku bingung kenapa bisa begini. Tiba-tiba aku membayangkan semua berjalan dalam slow motion. Dengan begitu aku bisa puas menatap kibaran rambutmu, tajam lirikanmu, tarian bibirmu dan seluruh pesonamu.&lt;span class="fullpost"&gt;Tak lama, spanduk-spanduk kain mulai direntangkan. Bertuliskan kampanye-kampanye peduli lingkungan. Kau berkeliling bersama orang-orang itu meneriakkan yel-yel yang mengutuk cukong-cukong kayu. Di kota ini, kota yang memiliki hutan luas dan banyak taman, isu penebangan hutan ilegal tengah santer dibicarakan di mana-mana. Puncaknya, banjir yang seumur-umur tak pernah menyambangi kota ini, hadir tanpa salam sebulan yang lalu. Kenyataan ini tentu mengusikmu, juga kawan-kawanmu, bukan? Sementara itu matahari semakin meninggi, panasnya cukup menyengat. Kau tampak berkeringat. Dan sialnya, aku makin terperosok dalam keindahanmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sudut barat taman, kau berhenti sejenak, naik bangku taman, lalu kembali berorasi. Tengah-tengah kau berorasi, kereta api lewat di jembatan layang tepat di balakangmu. Oh, lanskap yang memukau. Seorang perempuan berpeluh, beorasi, bersemangat, dengan kereta api yang melaju tampak di belakangnya. Ah, seharusnya ada seorang fotografer yang mengabadikan momen ini. Atau pelukis yang coba melukisnya pada kanvas dengan sapuan-sapuan warna cerah. Sedangkan aku, entah bagaimana bisa, diam-diam berharap bisa berwisata ke luar kota bersamamu dengan naik kereta itu. Dalam bayanganku pasti indah sekali menatap Taman Seribu Bunga dari jendela kereta api dan kau ada di sisiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi timur Taman Seribu Bunga ini sebuah sungai mengalir jernih membelah rimbun pepohonan yang berjajar di kanan kirinya. Karena arusnya yang tak terlalu deras masyarakat di sekitar taman berinisiatif membuat wisata perahu. Warga kota kerap ramai-ramai menikmati wisata perahu di akhir pekan. Mereka seperti tak bosan-bosan berperahu menyusuri sungai pembelah kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin memang hanya ada di sini, sungai jernih yang memisahkan gedung tua yang kini jadi museum dengan gedung sepuluh lantai pusat bisnis di depannya. Juga masjid terbesar dengan sebuah katedral. Maka ketika berperahu kita dapat menikmati bangunan-bangunan itu, selain deretan rumah penduduk yang rapi dan jalanan besar yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya tidak ada yang tahu apa nama sungai ini. Lama-lama warga kota gerah dan ingin memberinya nama. Mana mungkin sungai seindah dan sebersih ini dibiarkan tanpa nama? Lantas mulailah dicari nama yang pantas untuk sungai kebanggan warga kota itu. Dari sekian nama yang diusulkan dirasa tak cukup bisa mewakili keindahan sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang yang tak dikenal menyeruak di tengah orang-orang yang sedang bermusyawarah. Dengan lugas ia berujar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita beri nama sungai ini dengan nama Sungai Tuhan? Bukankan sedari tadi kita mencari-cari nama paling tepat untuk mewakili keindahan sungai ini? Nah, adakah yang lebih indah dari Tuhan? Nama Sungai Tuhan juga akan selalu mengingatkan kita bahwa yang memberi sungai seindah ini pada kota kita tak lain adalah Tuhan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta musyawarah terhenyak dan terdiam. Bukan karena bagusnya usulan itu, tapi karena bertanya-tanya siapa sebenarnya pemberi usul itu. Warga kota ini begitu rukun dan senang berkumpul. Sehingga hampir tak mungkin tak mengenal satu sama lain. Pemberi usul itu terlampau asing bagi mereka. Kecantikan yang dimiliki pemberi usul tak sama dengan kecantikan wanita di kota ini pada umumnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah terhisap pusaran ganjil, peserta musyawarah sepakat satu suara memilih nama Sungai Tuhan untuk sungai yang senantiasa rawat dengan baik turun temurun itu. Seusai bermusyawarah, muncul desas-desus bahwa pemberi usul tadi adalah malaikat yang menyaru sebagai wanita cantik. Konon, tempat mereka bermusyawarah adalah yang kini menjadi Taman Seribu Bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku kini bertanya-tanya, sambil sedikit berharap, apakah mungkin engkau sebenarnya adalah perempuan keturunan pemberi usul nama Sungai Tuhan itu? Pasalnya kecantikanmu tidak sama dengan kecantikan perempuan kota ini pada umumnya. Kecantikan yang terlampau sulit dijabarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian lagi-lagi tercipta lanskap yang menarik. Saat kau membasuh peluh di pipi, sebuah kapal wisata melintas. Beberapa orang di perahu melambaikan tangan pada demonstran. Kau membalas lambaian itu sembari tersenyum. Senyuman yang tenang dan sahaja. Sampai sini aku kehabisan kata-kata. Sudah tidak kutemukan lagi metafor-metafor untuk menggambarkanmu, terutama senyummu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkeras aku mengumpulkan keberanian dengan mengambil nafas berkali-kali. Pada akhirnya aku berani mendekatimu. Ketika itu kau sedang beristirahat di bawah rimbun akasia. Usai demonstrasi, aku ikut duduk melantai di rumput sepertimu. Awalnya memang agak kikuk. Lagi-lagi aku coba memberanikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bersimpati dengan demonstrasi yang kau lakukan bersama teman-temanmu tadi. Warga kota ini beranjak tidak mencintai lingkungannya. Dan itu perlu diingatkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehe. Kami baru melakukan hal kecil dan sederhana. Tapi terima kasih sudah diapresiasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, aku bisa menguasai diriku. Sudah mulai tenang. Tidak lagi gugup seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menyukai perempuan berambut pendek. Dari sekian perempuan berambut pendek adalah rambutmu yang paling mengesankanku,” ingin kukatakan itu padamu, namun kata-kata itu sebatas aku ucapkan dalam hati. Sinar yang memancar dari matamu begitu menyihir dan membuat setiap kata yang hendak terlontar urung kuucap. Atau mungkin aku hanya takut dibilang terlalu lancang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kami membincangkan hal-hal remeh. Obrolan kami berlanjut dengan diskusi ringan tentang lingkungan. Setelah lama berbincang, aku tahu namanya Sekar. Sebuah kebetulan yang tepat. Seorang aktivis lingkungan bernama Sekar (sekar artinya bunga kan?). Kukenal di suatu taman, Taman Seribu Bunga. Sekar pun mengenalku sebagai seorang karyawan minimarket waralaba di pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekar hanya tersenyum. Ia lalu meraih tas kecilnya. Mengambil sebuah buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau suka baca tidak? Aku punya novel bagus, karangan Luis Sepulveda. Kuharap kau membacanya dan kita bisa mendiskusikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku tak suka baca. Kuintip judul novel tipis itu. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta. Sepertinya tidak menarik. Lebih-lebih itu novel terjemahan. Aku tidak suka buku terjemahan. Akan tetapi, jika aku mau membacanya, ia menjajikan sebuah diskusi. Itu artinya ada pertemuan setelah pertemuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka membaca. Apalagi novel. Suka sekali.” Spontan saja kalimat itu terlontar. Bohong, tentu saja. Aku tersenyum, nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, baca novel ini. Aku jamin tidak menyesal. Tiga hari lagi kita diskusikan novel itu.” Sekar menyerahkan novel itu padaku dengan sebuah senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana aku bisa menghubungimu untuk menentukan waktu dan tempat diskusi jika tidak kutahu nomor ponselmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh, bisa aja mau tahu nomor ponselku. Dasar. Ya sudah, sini biar kutulis di novel itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku garuk-garuk kepala sambil terkekeh. Sekar mencubit hidungku gemas. Aku kaget. Terdiam sesaat. Benarkah Sekar telah mencubit hidungku tadi? Terima kasih, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara novel itu aku jadi benar-benar suka membaca. Novel yang berhasil menurutku. Pembaca disuguhi cerita petualangan kakek tua di sebuah rimba Ekuador yang ganas. Cerita diakhiri dengan perburuan macan kumbang yang dramatis. Aku jadi bersemangat untuk mendiskusikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai jam kerja, kutelepon Sekar di hari ketiga setelah kami berpisah. Baru beberapa kata aku lontarkan Sekar meminta ditelepon lagi nanti. Ia terdengar begitu sibuk. Tak lama masuk sebuah pesan dari Sekar. Maaf, aku sedang rapat untuk demonstrasi besar-besaran besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku maklum, aktivis seperti dia tentu lebih mendahulukan kepentingan orang banyak daripada dirinya sendiri. Apalagi mendahulukan karyawan minimarket seperti aku ini. Hei, kenapa aku jadi sangat inferior dan sentimentil begini? Sudahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi besar-besaran benar terjadi. Orang-orang yang peduli dengan alam dan lingkungan ternyata tak terhitung jumlahnya. Bandit-bandit berdasi yang diduga menggunduli hutan jadi musuh bersama. Demonstran terlibat saling dorong dengan aparat. Suara peluru karet ditembakkan tiga kali terdengar. Gas air mata membuat kocar-kacir massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua melesat sangat cepat. Semenjak itu Sekar tak pernah kelihatan. Nomor ponselnya tidak aktif. Kamar kosnya kosong. Di Taman Seribu Bunga hampir sebagian besar waktu kuhabiskan. Berharap Sekar muncul di sana. Namun nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca koran dua hari kemudian. Dilaporkan ada beberapa otak demonstrasi hilang setelah demonstrasi itu. Tapi tak ada nama Sekar dalam daftar orang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekar, di mana engkau saat ini? Kapan kita mendiskusikan novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6706871516446550197?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6706871516446550197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6706871516446550197' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6706871516446550197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6706871516446550197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/04/taman-seribu-bunga-solopos-10-april.html' title='Taman Seribu Bunga (Solopos, 10 April 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6941942036453979672</id><published>2011-04-16T08:50:00.001-07:00</published><updated>2011-04-16T09:41:18.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Masjid Abah (Republika, 6 Maret 2011)</title><content type='html'>Kemarin malam abah mengajakaku makan sego kucing di angkringan. Aku heran, tak biasanya abah mengajakku makan di luar. Apalagi hanya berdua denganku. Ketika tengah menikmati hidangan Abah mengambil nafas panjang, lalu berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, abah pengen cerita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerita apa, Bah?” aku menatap wajah abah dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kamu ndak boleh ketawa lho. Soalnya kamu pasti bakal mengira ini cerita konyol.” Nada bicara abah agak kurang percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya deh, Bah. Memang cerita apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, Nak, jadi ketika abah ketiduran di masjid kita kemarin siang, abah bermimpi bertemu kakek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abah diam sebentar. Menyalakan rokok kreteknya. Menghisap, menghembuskan asapnya, lalu melanjutkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakek yang di mimpi itu berpakaian serba hitam, menyampaikan pesan yang membuat abah bimbang,” wajah abah berubah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan apa, Bah?”&lt;span class="fullpost"&gt;“Kakek bilang bahwa di bawah tiang paling tengah masjid kita itu ada sebilah keris warisan kakek yang seharusnya abah simpan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercengang, tapi mencoba tenang. Masjid Syuhada yang dibangun tepat di samping rumahku itu memang dulu kakek yang membangun. Konstruksinya semua dari kayu jati. Disangga sembilan tiang yang kokoh, Masjid Syuhada jadi kebanggaan keluarga kami. Namun, mimpi aneh abah mengusikku juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abah percaya mimpi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah masalahnya, Nak. Abah bingung, katanya mimpi itu bisa dari setan atau dari Allah ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi masak iya Allah nyuruh kita nyari keris di bawah tiang masjid, Bah? Mimpi dari setan kali itu, Bah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Abah itu rasanya seperti bertemu kakek beneran. Pesan kakek itu sepertinya harus dituruti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas abah mau mencari keris itu? Mau merobohkan masjid?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak habis pikir aku, bagaimana bisa abah termakan mimpi tak logis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ndak tau lah, Nak. Abah jadi tambah bingung. Sudah, ayo kita pulang aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan pulang, kami saling diam. Sampai rumah aku tak kunjung memejamkan mata. Kenapa ya abah bermimpi seperti itu? Ada apa gerangan? Taruhlah jika mimpi itu benar, mengapa pula kakek menanam keris di bawah tiang tengah masjid? Aku ketiduran gara-gara capai menduga-duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku perhatikan, akhir-akhir ini abah jadi semakin sering tidur siang di masjid. Biasanya setelah sholat duhur, tanpa berganti pakaian abah merebahkan badan di samping tiang tengah masjid. Ditiup angin yang berkesiur dari kebun singkong di utara masjid, abah bak dininabobokan. Mungkin abah berharap mimpinya tentang keris itu berlanjut. Aku belum berani bertanya lebih lanjut mengenai kebiasaan barunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Syuhada dibangun empat puluh tahun yang lalu. Saat itu aku belum lahir. Abah juga masih berusia belasan. Pohon jati yang ditanam Mbah Buyut di sehektar tanah belakang rumah, jadi bahan baku utama pembangunan masjid itu. Diam-diam, sebenarnya aku menyimpan rasa bangga melihat masjid keluargaku itu. Masjid yang kokoh dan eksotis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang menggelanyutiku sekarang, bagaimana bisa hadir mimpi dalam tidur abah untuk mengambil keris yang tertanam di bawah tiang masjid? Bukankah itu berarti akan merobohkan masjid atau minimal mencederai masjid. Abah juga pasti dianggap orang yang konyol dan jadi bahan tertawaan orang sekampung jika menuruti mimpi itu. Tiba-tiba aku jadi ingat Nabi Ibrahim yang diperintah Tuhan lewat mimpi untuk menyembelih Ismail. Namun abah bukan nabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat lamunanku buyar oleh suara ketukan di pintu depan. Ada tamu sepertinya. Bergegas aku menyambangi pintu. Muncul sosok laki-laki parlente berpakain casual lengan panjang motif garis-garis. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya di kampung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar ini rumah Abah Dahlan?” tanyanya sembari melempar seulas senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh saya bertemu beliau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari, silakan masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kupanggil, abah menemui laki-laki parlente itu. Sedang aku kembali masuk kamar. Dari kamarku yang terletak di samping ruang tamu, sayup-sayup aku mendengar percakapan abah dengan tamu asing itu. Sekilas aku seperti mendengar kata-kata masjid, real estate, kompensasi dan harga pantas. Selebihnya aku tak bisa mendengar dengan jelas. Ada apalagi ini? Aku jadi curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas sholat maghrib, abah tak langsung membaca AlQuran seperti biasanya. Beliau memanggilku, duduk di serambi masjid. Tatapan mata abah mengitari sekeliling masjid. Seolah tak satupun sudut di masjid ini terlewatkan dari sapuan matanya. Bisa kutangkap gelagat resah yang sangat dari wajah abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Bah? Kok murung, masih memikirkan mimpi kemarin ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan masalah itu aja, Nak,” abah memandang lekat mataku, “kamu tahu tho tamu abah tadi siang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Memangnya tamu tadi siang itu siapa, Bah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia itu pengusaha kaya yang mau membangun real estate di daerah kita. Katanya daerah sini itu masih asri, masih terasa nuansa alaminya, pokoknya dia bilang tempat ini cocoklah kalau dibangun real esatate.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa masalahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang itu mau membeli masjid kita, Nak! Dia bilang lahan-lahan penduduk di sekitar masjid sudah dibebaskan, tinggal masjid kita yang belum. Dia berani bayar seratus juta untuk masjid kita beserta tanahnya!” jelas abah kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar dugaanku! Tamu itu tidak  beres!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dijual, Bah! Semiskin apapun kita, Allah pasti menurunkan rezeki untuk hamba yang menjaga dan memelihara rumahNya,” aku coba meyakinkan abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar, Nak. Tapi, seratus juta itu tidak sedikit lho, buanyak banget itu. Dan pasti berguna sekali bagi keluarga kita. Apalagi keenam adikmu sudah masuk sekolah semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abah, meskipun jamaah masjid ini tak pernah lebih dari dua shof, tapi masjid ini adalah warisan kakek yang harus kita pelihara. Walaupun anak-anak sekarang malas pergi TPA, namun dulu orang-orang kampung belajar baca AlQuran juga di Masjid Syuhada ini.” Aku berusaha meyakinkan abah. Kupegang pundaknya erat. Menahannya agar tak goyah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang apa artinya masjid jika tak punya jamaah? Buat apa TPA jika muridnya cuma satu-dua? Jangan-jangan perintah kakek untuk mengambil keris itu adalah isyarat bahwa akan adanya peruntungan besar jika abah merobohkan masjid. Mungkin itu keris bertuah pembawa keberuntungan, ya mungkin saja,” tatapan mata abah menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istighfar, Bah, istighfar.” Aku tak mampu menutupi kekhawatiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubraak!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dalam masjid. Serempak aku dan abah menengok ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Giyo, satu-satunya jamaah yang masih tinggal di masjid untuk nderes AlQuran, tertimpa kipas angin! Kepalanya bersimbah darah. Mushaf Al-Quran tua warna cokelat lusuh terpangku di tangannya. Dan, masya Allah, beliau duduk tepat di bawah tiang paling tengah. Tiang yang menurut mimpi abah tersimpan keris pusaka di bawahnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kampung kami gempar. Warga berdatangan ke masjid. Abah tampak merasa bersalah sekali. Memang di tiap tiang terpasang kipas angin. Tapi entah bagaimana bisa kipas angin yang di tiang paling tengah yang jatuh. Tepat ketika ada orang di bawahnya lagi. Maut selalu tak mengenal tempat dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dimandikan dan disholatkan, jenazah Mbah Giyo dimakamkan malam itu juga. Keluarga beliau berusaha memasang raut wajah ikhlas menerima. Pun begitu kesedihan tak bisa dihapuskan begitu saja. Mbah Giyo memang dikenal sebagai warga yang baik. Beliau tipikal pendiam, tapi cekatan ketika membantu warga yang sedang butuh bantuan. Untunglah dua orang anaknya sudah sama berkeluarga. Sehingga perginya Mbah Giyo tak begitu jadi beban keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga sejatinya bersepakat untuk menganggap kematian Mbah Giyo ini sebagai musibah, bukan salah abah. Akan tetapi, suara-suara sumbang tetap terdengar. Menyalahkan abah, menghujat abah dan menuding abah yang bukan-bukan. Abah pasrah saja mendengarnya. Untuk sedikit menebus rasa bersalahnya, abah mengambil sebagian tabungannya sebagai santunan buat keluarga Mbah Giyo. Walaupun sepenuhnya abah sadar, uang yang tak sebarapa ini tak berarti banyak untuk keluarga yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, ibu masuk rumah sakit. Berita kematian Mbah Giyo di masjid jadi beban pikiran beliau juga ternyata. Dokter berkata bahwa ibu harus opname. Istirahat di rumah sakit lebih baik kata dokter. Abah mengelus dada. Memikirkan biaya pengobatan. Sebagian tabungan sudah digunakan untuk santunan keluarga Mbah Giyo. Tapi bukan abah namanya jika tidak memberikan yang terbaik bagi ibu, cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung abah tak bercerita perihal mimpinya kepada ibu. Andaikata abah bercerita, tak bisa dibayangkan kondisi ibu sekarang ini. Tawaran untuk menjual masjid beserta tanahnya juga tak pernah diceritakan abah kepada ibu. Di mataku, abah adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab, walau terkadang hatinya sering goyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini aku dan abah menjaga ibu di rumah sakit. Waktu menunjukkan sudah hampir maghrib. Seketika, Lik Yoto, tetangga samping rumahku, datang tergopoh-gopoh dengan wajah pias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abah Dahlan, anu Bah, em…itu Dik Bayu, Bah. Dik Bayu kakinya tertimpa bedug masjid!” Gugup sekali Lik Yoto menyampaikan kabar yang membuat seisi kamar tempat ibu dirawat beristighfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astagfirullahaladzim, Laillahaillallah, di mana dia sekarang?” Abah bereaksi cepat. Mulutku masih ternganga. Sedang ibu sesenggukan menahan tangis. Beliau semakin terkulai dan kehilangan kata. Lekas-lekas aku mengusap-usap pundak beliau, coba menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di UGD, Bah,” Lik Yoto mukanya semakin kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi Dik Bayu kontan abah lunglai. Telapak kaki Dik Bayu sudah hapir putus, terpisah dengan mata kaki. Dokter dan para perawat bergerak tangkas. Tangis Dik Bayu tak henti-henti. Di samping telinganya abah membaca banyak dzikir sambil mengusap rambut Dik Bayu yang basah oleh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ruang operasi abah sedikit tenang. Dokter mempersilakannya menunggu di luar. Abah menurut, beliau duduk di bangku panjang depan ruang operasi. Sesaat kemudian dokter menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak bapak harus diamputasi kakinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata abah berkunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lik Yoto bercerita kalau tadi ketika TPA di masjid, Dik Bayu bermain di dekat bedug bersama temannya. Belajar iqro’ sudah dimulai Dik Bayu masih asyik bermain. Tak jelas bagaimana mulanya, tiba-tiba saja tangisnya pecah mengagetkan orang-orang di masjid. Setelah tahu kakinya kejatuhan bedug, warga sekitar berdatangan dan membawanya ke rumah sakit. Abah mendengar cerita itu geleng-geleng kepala. Mimpi bertemu kakek serta tawaran dari pengembang real estate berkelebat di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Masjid pembawa sial. Itulah julukan bagi Masjid Syuhada saat ini. Dua musibah sudah terjadi di masjid itu. Dalam waktu yang tak berselang lama pula. Jamaah menurun drastis. TPA malah telah gulung tikar. Kepercayaan masyarakat desa terhadap hal-hal mistis mengalahkan segala rasionalitas. Masjid warisan kakek itu benar-benar jadi simalakama. Tak dibongkar salah, dibongkar juga salah. Abah muram jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lorong rumah sakit sepi. Ibu dan Dik Bayu istirahat. Tinggal aku dan abah terpekur di atas bangku. Nafas abah terdengar berat sekali. Seberat beban yang disandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, abah sudah mengambil keputusan. Masjid Syuhada kita itu akan abah jual. Abah benar-benar butuh uang saat ini. Biaya pengobatan ibumu dan amputasi Dik Bayu butuh uang tidak sedikit. Inilah mungkin tafsir mimpi abah kemarin hari. Menjual masjid itu.” Abah sampai pada titik nadir kepasrahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abah, bukannya tidak setuju, tapi apa tidak ada jalan lain untuk mendapatkan uang? Allah pasti memberi petunjuk,” kataku meyakinkan abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tabungan abah sudah habis, Nak. Sejak dulu abah berprinsip kita tak boleh menghutang walau sedikit. Jadi menjual masjid adalah pilihan terbaik. Toh, dari uang seratus juta itu kita bisa membeli tanah dan membangun masjid lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas panjang. Tak lagi bisa berkata apapun jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa pagi ini kalah cerah jika dibanding dengan wajah pengusaha yang baru saja menandatangani surat jual beli. Masjid Syuhada kini bukan lagi milik kami, melainkan miliknya. Dua hari berikutnya masjid dirobohkan. Rata dengan tanah. Dari jendela kamar aku menatap nanar tanah bekas masjidku dulu. Namun, malam itu aku melihat sosok lelaki tua membawa cangkul. Menuju bagian tengah masjid. Mencari letak tiang paling tengah dulu berdiri. Tak salah lagi, itu abah! Perlahan gerimis turun lalu menjelma hujan. Abah terus saja menggali, terus menggali. Hujan semakin deras, deras sekali.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6941942036453979672?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6941942036453979672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6941942036453979672' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6941942036453979672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6941942036453979672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/04/masjid-abah-republika-6-maret-2011_6167.html' title='Masjid Abah (Republika, 6 Maret 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5551361692415273714</id><published>2011-03-22T23:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-17T17:33:59.680-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Novel Indonesia Hari Ini (Indopos/Jawapos, 17 April 2011)</title><content type='html'>Dalam banyak perbincangan dengan teman-teman penulis, mencuat semacam keprihatinan tentang absennya karya sastra yang menonjol tiga tahun belakangan ini, terutama untuk genre novel. Ada yang berpendapat bahwa novel menonjol adalah yang mampu menjadi lokomotif bagi novel-novel gerbong berikutnya. Sebut saja ketika sindrom Ayat-Ayat Cinta merebak, bertumbuhan novel-novel serupa dengan formulasi judul, perwajahan cover, dan nama pengarang yang hampir-hampir mirip. Begitu pula kemunculan novel sejarah yang dipelopori Langit Kresna Hariadi dengan Gajah Mada-nya. Pasca Gajah Mada, bak cendawan di musim hujan, novel-novel sejarah berjejalan memenuhi rak-rak toko buku. Lalu disusul Laskar Pelangi yang gerbong-gerbongnya masih dengan mudah kita temui hingga sekarang. Praktis tak ada yang mendobrak mainstream. Semua menyesuaikan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lain tentang novel menonjol ialah novel yang mampu membawa kesegaran atau pembaruan dalam perjalanan novel Indonesia. Baik dari segi teknis penulisan, olah bahasa, maupun ide yang dikemukakan. Pada zamannya, novel yang dianggap membawa pembaruan adalah semisal Olenka (Budi Darma) dan Saman (Ayu Utami). Mengingat tak terhitungnya novel Indonesia yang terbit hingga kini, tak menutup kemungkinan terdapat beberapa novel yang membawa pembaruan namun tak diperbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lain daripada itu, barangkali kita menaruh harapan pada gelaran sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang diadakan dua tahun sekali. Kita menunggu-nunggu novel juara macam apa yang lahir dari seyembara menulis novel paling prestisius di negeri ini. Namun nyatanya seyembara penulisan novel DKJ 2010 tak memunculkan pemenang utama. Sejak pertama digelar pada 1974 hal ini baru kali pertama terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga juri, A.S. Laksana, Anton Kurnia dan Sapardi Djoko Damono sempat adu argumen sengit hingga akhirnya hanya memilih empat unggulan. Keluar sebagai novel unggulan yaitu Persiden (Wisran Hadi), Lampuki (Arafat Nur), Jatisaba (Ramayda Akmal), Memoar Alang-alang (Hendri Teja). Secara tematis Persiden dan Lampuki mengangkat lokalitas, Jatisaba merespon isu trafficking, sedang Memoar Alang-alang berbasis historis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski A.S Laksana menyatakan bahwa semua karya yang masuk sayembara penulisan novel DKJ 2010 mengecewakan dan harapan juri untuk mendapatkan satu karya istimewa tak terpenuhi dalam arti tak ada naskah yang kuat jadi pemenang utama toh khalayak belum berkesempatan membaca empat karya tersebut. Penilaian khalayak patut diperhitungan, sebab kita tentu tidak bisa mengamini pendapat subjektif juri semata. Bisa jadi, di antara empat novel tersebut, menurut kita, ada yang brilian dan ‘besar’. Atau mungkin justru ‘novel besar’ ada dalam 250 karya lain yang tidak masuk unggulan versi dewan juri. Segala kemungkinan bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara penulisan novel DKJ bukan satu-satunya. Selain di luar masih banyak sayembara serupa itu, pemenang sayembara penulisan novel DKJ sejatinya adalah yang terbaik dalam kurun waktu itu saja. Artinya, apakah novel pemenang ini akan menjadi legendaris (terus diperbincangkan dan jadi acuan) masih fifty-fifty. Bahkan kerap ditemui novel pemenang DKJ jadi bulan-bulanan para kritikus dan komentator sastra lantaran banyak dijumpai cacat di sana-sini sehingga dianggap tak layak jadi juara. Di samping itu, isu-isu mengenai adanya pesanan oknum tertentu untuk memenangkan salah satu peserta sayembara sering menjadi kegaduhan yang tak perlu. Termasuk juga isu mempertanyakan orisinalitas karya pemenang yang hanya menambah panjang ‘gosip sastra’ kita. Walau tak jarang kita gemar pula menikmati bahkan larut di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari kelebihan dan kekurangan sebuah sayembara novel, kita melihat sayembara yang digelar DKJ tersebut sudah memberi sumbangsih bagi khazanah sastra Indonesia. Pun begitu kita masih tetap merindukan novel Indonesia kelas wahid lahir dari tangan para novelis. Selain Pramoedya Ananta Toer rasa-rasanya kita belum memiliki novelis yang dari segi kuantitas dan kualitas karyanya dapat berbicara banyak. Ada novelis yang sangat produktif dan hampir tiap tahun novelnya diterbitkan penerbit kenamaan namun tak memberi arti banyak bagi sastra Indonesia. Ada pula novelis yang menelurkan satu dua karya yang bermutu namun kemudian mandek sampai di situ.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kita patut bergembira atas respon khalayak yang positif terhadap novel. Utamanya novel-novel yang sedang hangat diperbincangkan. Novelis Indonesia hari ini yang jadi perbincangan publik adalah A. Fuadi, Tere Liye, dan Fahd Djibran (untuk sekadar menyebut sejumlah nama). A. Fuadi melejit dengan novel Negeri 5 Menara lalu disusul Ranah 3 Warna, dua novel yang secara tema dan ide tidak jauh beda dengan tetralogi Laskar Pelangi.  Sedang Tere Liye naik daun lewat novel Hafalan Shalat Delisa yang konon kata banyak orang sangat mengharukan. Secara olah bahasa Tere Liye memang sangat rendah bahkan miskin, namun dia diuntungkan dengan cerita yang mampu memukau pembaca. Penulis lain, Fahd Djibran, berhasil menyita perhatian penikmat novel melalui novelnya Rahim. Novel yang menawarkan sejumlah perenungan itu penjualannya cukup bagus di pasaran. Sayang ketiga novelis tersebut masih menulis dengan tema yang itu-itu saja. Ikut yang sudah sukses lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, sampai kapan kita menikmati kejumudan novel Indonesia? Mungkin sampai penerbit-penerbit besar berani memberi warna lain terhadap novel kita dalam arti mau menerbitkan novel yang tidak melulu taat pasar. Juga barangkali sampai novelis-novelis kita tuntas melakukan semedi-semedi dalam rangka melahirkan novel dengan gaya, teknik, olah bahasa, dan pilihan tema yang benar-benar baru dan bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5551361692415273714?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5551361692415273714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5551361692415273714' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5551361692415273714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5551361692415273714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/03/novel-indonesia-hari-ini.html' title='Novel Indonesia Hari Ini (Indopos/Jawapos, 17 April 2011)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1861672153756976474</id><published>2011-02-23T01:35:00.000-08:00</published><updated>2011-02-23T01:36:22.640-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Ponorogo dan Dunia Maya</title><content type='html'>Apakah yang terbesit di benak orang-orang ketika baru pertama mendengar kata Ponorogo? Bisa jadi mereka akan langsung mengidentikkan Ponorogo dengan reog. Pasalnya kita pernah rebut dengan Malaysia soal itu dan reog menjadi sangat terkenal, meski sebelumnya jug sudah masyhur. Sedang mereka yang dari kalangan akademis-agamis akan menyebut Gontor untuk mewakili citra Ponorogo. Adapun para penjelajah kuliner segera menyebut Sate Ayam Tukri Sobikun dan Dawet Jabung saat kata Ponorogo disebut. Ya, Ponorogo memang bisa tampil dalam banyak wajah, sesuai pengalaman individu masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya wajah Ponorogo di internet. Manakala kita mengetikkan kata ‘Ponorogo’ di search engine (mesin pencari) Google maka dalam hitungan detik kita akan mendapati ribuan laman yang berkaitan dengan kata kunci tersebut. Sekitar dua puluh laman teratas tentu merupakan laman-laman yang terpopuler dan paling banyak dikunjungi. Dalam hal itu, penulis mencoba mencatat dan mengidentifikasi laman apa saja yang berada di top twenty Google untuk kata sandi ‘Ponorogo’. Ini tentu bukan sekadar pekerjaan iseng. Melainkan sebuah kerja kecil untuk melacak sejauh mana keberadaan Ponorogo di dunia maya. Dunia antah berantah yang selalu menarik untuk dikaji.&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak bisa dipungkiri, hari ini kehadiran internet di kehidupan kita adalah suatu keniscayaan. Kita telah berada, meminjam istilah Marshall McLuhan, di global village atau kampung global. Sekat-sekat antar negara, bahkan benua, seperti seolah tak berarti. Jarak dan waktu telah membeku. Internet menjanjikan kecepatan real time alias ‘dalam waktu itu juga’. Berita turunnya Hosni Mubarak di Mesir bisa kita ketahui detik itu juga, beda beberapa menit dengan yang disiarkan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet setara dengan media komunikasi massa seperti televisi dan radio. Akan tetapi, kalau teknologi yang lainnya itu cenderung membangun sistem komunikasi yang searah, internet cenderung membangun komunikasi dua arah, interaktif. Internet sekaligus merupakan teknologi teknologi komunikasi massa dan personal sebagaimana halnya telepon. Hanya saja, informasi yang dibagi di dalam internet bukan suara seperti dalam telepon, melainkan citra-citra visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, internet juga telah mengaburkan batas yang memisahkan produsen dan konsumen, pemrogam dan audiens, satu hal yang tidak bisa terjadi di dalam televisi maupun radio apalagi surat kabar. Dengan internet semua orang bisa menjadi produsen, dengan biaya yang murah, yang hampir dijangkau oleh modal ekonomi kebanyakan orang. Semua orang dapat dikatakan dapat dengan mudah dan murah mempunyai majalah sendiri, bahkan mempunyai semacam toko sendiri yang berupa website personal yang dengannya ia dapat melakukan transaksi atau pertukaran informasi dengan pengguna internet lainnya. Buku-buku juga bisa dengan mudah kita unduh, baik yang berbayar atau yang gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena sifatnya yang terbuka untuk diakses oleh banyak orang, internet menjadi teknologi komunikasi yang amat demokratis, yang memberikan peluang kepada siapa saja, dengan latar belakang apa saja, untuk memperoleh akses yang sama dengan yang lain. Dengan demikian, internet dapat pula mengaburkan pemisahan antara wilayah publik dengan wilayah pribadi atau personal: tidak ada sensor bagi pribadi untuk menyampaikan apa saja melaluinya, termasuk persoalan yang sangat pribadi seperti misalnya up date status pada facebook. Bukankah kita berhak menulis apa saja di status facebook kita? Termasuk, hanya sekadar kata: laper nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lantas seperti apa Ponorogo di dunia maya? Baiklah, merujuk dari pengetikan kata ‘Ponorogo’ di Google, maka kita akan menjumpai laman yang berada paling atas adalah website resmi Pemkab Ponorogo (www.ponorogo.go.id). Website tersebut mengklaim sebagai ‘media informasi berisi data dan profil daerah, serta informasi potensi ekonomi’. Secara tampilan dan isi website Pemkab Ponorogo tersebut memang sudah cukup memadai. Namun sayang, seperti kebanyakan website pemkab lainnya, website tersebut belum menampilkan up date berita perkembangan Ponorogo. Seolah gagap merespon dunia digital yang serba cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, di urutan kedua akan dijumpai profil Ponorogo dalam Wikipedia. Isinya tidak jauh berbeda dengan website Pemkab Ponorogo, akan tetapi dalam tampilan khas Wikipedia. Adapun yang menarik justru laman urutan ketiga, yakni www.ponorogozone.com. Sebelum masuk ke laman tersebut sebenarnya kita sudah diberi tahu diawal bahwa laman tersebut memposisikan dirinya sebagai ‘forum komunitas online Ponorogo’ dengan semboyan ‘Bumi Reyog Menyapa Dunia’. Berbasis web forum, di sana kita bisa berdiskusi berbagai macam bahasan  dengan banyak orang yang mayoritas (bahkan hampir semua) asli Ponorogo. Hampir sama dengan website ini adalah www.pawargo.com milik Paguyuban Warga Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita mendapati laman milik Radio Gema Surya (RGS), sebuah radio yang cukup moncer di Ponorogo. Fasilitas live streaming (mendengarkan radio secara langsung, di mana pun tempatnya) dapat dinikmati. Berikutnya ada www.kotareyog.com sebagai wadah berkumpulnya blogger Ponorogo. Sebelum demam facebook menjalar, kegiatan blogging masih tinggi peminatnya. Hampir tiap kota punya komunitas blogger. Mereka terkadang mengadakan kopdar atau kopi darat untuk bertatap muka langsung dengan sesama blogger dan membicarakan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpolitikan Ponorogo tak mau ketinggalan hadir di dunia maya. Penulis mendapati laman www.pilkadaponorogo.com yang berisikan informasi seputar pemilihan kepala daerah Ponorogo 2010. Selain yang bersangkutan dengan politik, ada juga www.pa-ponorogo.com yang merupakan perpanjangan tangan dari Pengadilan Agama Ponorogo di dunia maya.  Cukup eye catching dan simple tampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dunia pendidikan Ponorogo absen dari dunia maya? Ternyata tidak. Dalam top twenty Google dengan kata sandi ‘Ponorogo’ kita akan temukan laman dari STAIN Ponorogo (www.stainponorogo.ac.id), Universitas Muhammadiyah Ponorogo (www.umpo.ac.id), SMPN 1 Ponorogo (www.smpn1-pon.sch.id) dan SMAN 1 Ponorogo (www.smazapo.sch.id). Tiap laman milik intitusi pendidikan tersebut tampil dengan ciri khas dan keunggulan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Ponorgo telah menampilkan wajah yang sederhana di dunia maya. Terlihat seperlunya saja dan belum memposisikan website sebagai sesuatu yang urgen dan prestise, untuk tidak mengatakan hanya sekadar formalitas belaka. Selanjutnya, biarkan Ponorogo berdialektika dengan perkembangan zaman serta geliat peradaban. Tidak perlu dipercepat menuju modernitas sedemikian rupa, namun juga tak dibiarkan larut dalam ketertinggalan berlama-lama. Bagaimanapun internet adalah serupa dua mata pisau. Tinggal bagaimana ia digunakan. Ponorogo tentu tanggap sasmita menyikapi gejala telah masuknya internet di setiap sendi kehidupan ini. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1861672153756976474?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1861672153756976474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1861672153756976474' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1861672153756976474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1861672153756976474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/ponorogo-dan-dunia-maya.html' title='Ponorogo dan Dunia Maya'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8221867838295665548</id><published>2011-02-23T01:32:00.000-08:00</published><updated>2011-02-23T01:34:29.302-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Ponorogo dan Wisata Kuliner</title><content type='html'>Apabila di akhir pekan kita menonton televisi tak jarang kita mendapati banyak tayangan kuliner. Bahkan, dulu hampir setiap siang kita bisa menyaksikan acara bertajuk wisata kuliner di salah satu stasiun televise swasta. Bedanya, jika Bondan Winarno memang sangat otoritatif dan piawai mengupas makanan demi makanan, sehingga mampu memberikan komentar mendalam tentang suatu makanan, saat ini beberapa presenter terlihat hanya dibentuk menjadi pengamat kuliner karbitan. Komentar mereka tidak jauh dari: enak banget, rasanya pas sekali pemirsa, ada manis, gurih, asem, pokonya komplit dan komentar-komentar lain yang sebenarnya siapa saja bisa mengungkapkannya. Jarang mereka menguak sisi historis, menebak bumbu-bumbu yang digunakan atau membicarakan ‘khasiat’ suatu makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak akan membicarakan perihal presenter acara kuliner yang hari ini terasa dangkal komentar dan analisanya, melainkan coba menelaah potensi Ponorogo dan wisata kulinernya. Menilik sejumlah tayangan acara kuliner di televisi sepertinya kita sangat jarang atau hampir tak pernah melihat Ponorogo masuk liputan mereka. Paling pol adalah liputan mengenai sate ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun dan dawet jabung. Sementara itu kita mendapati Solo dan Jakarta, misalnya, begitu sering masuk liputan acara kuliner. Memang Jakarta adalah kota urban, sehingga memungkinkan banyak jenis makanan dari banyak tempat masuk ke sana, sedangkan Solo memang terkenal kaya akan kuliner khas daerah.&lt;span class="fullpost"&gt;Berkaca pada kenyataan di atas, lantas apakah kita bisa langsung menarik kesimpulan bahwa Ponorogo miskin kuliner? Tentu saja tidak. Lebih-lebih jika hanya berpatokan jarangnya Ponorogo diliput acara kuliner. Sejatinya terdapat beragam alasan mengapa Ponorogo jarang diliput. Pertama, karena mungkin akses ke Ponorogo cukup susah dan jauh dari pusat. Kedua, berdasarkan informasi terpercaya, kehadiran tim seperti Wisata Kuliner ke suatu daerah tidak serta merta hanya karena survey kuliner yang mereka lakukan ke berbagai daerah, namun berdasar pesanan pemerintah daerah setempat. Tentu hal ini ditujukan untuk menaikkan gengsi dan sebagai bentuk promosi daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari masalah itu, memang harus diakui jika Ponorogo masih belum terlalu getol mengemas kulinernya. Padahal, dalam sebuah obrolan ringan, sempat terlontar pertanyaan, bisnis apa yang paling tepat dan bisa tahan lama di Ponorogo? Banyak yang menjawab bisnis kuliner. Usaha makanan itu tidak ada matinya (jika dikelola dengan baik dan profesional), kata mereka. Kita dapat menangkap makna dari obrolan itu bahwa mengembangkan kuliner di Ponorogo memiliki prospek yang baik. Budaya icip-icip makanan rupanya telah mengendap di benak banyak orang, sukses dibentuk oleh acara-acara kuliner di televisi. Rasanya jika belum mencicipi banyak makanan ‘status’ kita masih dianggap rendah. Maka orang beramai-ramai merasai banyak makanan di berbagai tempat dan kesempatan. Supaya mereka bisa bercerita ke orang-orang rasa makanan ini dan itu, membandingkan makanan di sini dan di situ. Dianggap paling paham begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya, penulis merasa siapa saja akan senang jika dunia kuliner menggeliat dengan pesat. Imbasnya ekonomi rakyat juga akan meningkat. Maka sejumlah strategi harus di rancang untuk menyiasati agar perkembangan kuliner di Ponorogo dapat berkembang sesuai dengan harapan. Pasalnya selama ini kita mendengar informasi ‘kuliner berkelas’ masih sekedar dari mulut ke mulut. Seperti ada garang asem enak di Ngasinan, gado-gado mak nyus di Jalan Welirang atau soto ayam mantab di Keniten dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita dapat menengok Solo dengan inovasi Gladag Langen Bogan (Galabo). Pusat kuliner Solo yang berlokasi di depan Pusat Grosir Solo (PGS) buka setiap jam 6 sore sampai jam 12 malam. Sejatinya jalan di depan PGS adalah jalan umum, namun setiap malam ditutup dan beralih fuungsi menjadi pusat jajanan yang ramai dikunjungi warga. Di Galabo kita dapat memilih aneka kuliner khas Solo semisal nasi liwet, cabuk rambat, sate kere dan lain-lainya. Makanan yang biasa kita jumpai seperti bakso dan soto ada juga di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang bisa membuka lapak di Galabo? Semua penjaja kuliner bisa membuka lapak di sana, teruatama penjaja kuliner khas Solo. Pemkot Solo memang menjadikan Galabo sebagai tujuan wisata kuliner. Jadi dalam satu paket wisata ke Solo, wisatawan bisa mengunjungi keraton, berbelanja di Pasar Klewer dan kemudian pada malam hari dapat memanjakan lidah di Galabo. Inovasi yang cukup berhasil. Mengingat Galabo setiap malamnya tak pernah sepi pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah Ponorogo perlu mengadopsi inovasi yang telah dilakukan Solo? Membuka Pusat Kuliner Ponorogo di terminal lama Ponorogo yang telah lama mangkrak misalnya. Penulis berpendapat tidak ada salahnya untuk dicoba. Pun begitu tidak serta merta menjiplak konsep yang telah dipakai Solo. Harus diupayakan konsep yang lebih matang dan berdaya guna. Barangkali tidak hanya sekadar pusat kuliner namun sekaligus terdapat ruang terbuka hijau dan arena bermain anak. Sebuah usaha dalam rangka menambah ruang terbuka public di Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya penulis menyinggung masalah pemilihan lokasi di terminal lama. Memang penulis tidak tahu status dan fungsi terminal lama saat ini. Tapi melihat tempat seluas itu tanpa digunakan dengan maksimal terasa mubazir juga. Dipilihnya lokasi itu pula (meski baru angan-angan) agar kegiatan masyarakat Ponorogo tidak melulu terpusat di sekitar alon-alon Ponorogo. Supaya hadir wajah baru dan terjadi pemertaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita akan membayangkan sebuah pusat kuliner yang menyediakan sate ayam Ponorogo, es dawet jabung, nasi pecel, nasi rawon dan sebagainya dalam satu tempat (hal ini diharapkan mampu memudahkan pengunjung, terutama para pemburu kuliner, untuk mengakses berbagai macam makanan, utamanya makanan khas daerah Ponorogo). Pusat kuliner itu dikelilingi taman dengan macam-macam pepohonan. Dilengkapi pula dengan tempat bermain anak. Sehingga dalam satu tempat akan kita temui tiga manfaat sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang hanya wacana. Setiap hadir wacana selalu muncul pro dan kontra. Masyarakat Ponorogo sendiri yang bisa menilai seberapa penting kehadiran pusat kuliner Ponorogo. Banyak pertimbangan tentunya. Diiringi sejumlah pertanyaan, apakah pusat kuliner Ponorogo itu nantinya benar-benar dapat mengangkat ekonomi rakyat? Apakah konsep itu nantinya hanya justru akan mencerabut kuliner khas dari akarnya, sehingga mengurangi esensi tak terlihat kuliner itu sendiri? Pertanyaan bernada kekhawatiran dan keraguan semacam itu wajar adanya. Namun, besar harapan penulis wacana semacam ini terus bermunculan, sehingga kelak kita dapat melihat Ponorogo yang lebih dinamis. Semoga. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8221867838295665548?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8221867838295665548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8221867838295665548' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8221867838295665548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8221867838295665548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/ponorogo-dan-wisata-kuliner.html' title='Ponorogo dan Wisata Kuliner'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-7286377095160675490</id><published>2011-02-16T15:57:00.000-08:00</published><updated>2011-02-16T15:58:17.087-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Ponorogo dan Kesadaran Baca Buku</title><content type='html'>Tidak berlebihan kiranya jika mengukur tingkat intelektualitas masyarakat suatu daerah dari seberapa tinggi kesadaran membaca mereka. Membaca adalah rangsangan. Darinya akan tersulut sejumlah gerakan, lahir gagasan-gagasan, terbetik kesadaran dan pengaruh-pengaruh lain yang bisa jadi positif atau negatif. Maka kita membayangkan, jika terdapat sebuah kota kecil namun dengan masyarakat yang gemar membaca, niscaya kota kecil itu akan menjadi kota yang dinamis, hidup dan selalu menggeliat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita tentu menyadari bahwa membaca adalah proses memasukkan atau input. Adapun setiap input dituntut lahirnya output. Pertanyaannya, apakah output nyata dari membaca?  Kegiatan membaca (yang tidak sekadar membaca) membentuk wacana dalam kepala. Entah wacana itu besar atau kecil. Wacana yang berkelindan dalam kepala akan menggumpal lantas hadir kegelisahan. Berawal dari sini dimungkinkan munculnya forum-forum kecil, lingkar-lingkar diskusi dan tukar wacana. Jika berhasil, dari diskusi akan menyembul kesadaran untuk melakukan sesuatu, semacam sebuah pergerakan.&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;Contoh nyata yang barangkali dapat diserap oleh kita semua adalah pengalaman pengusaha tambak nila. Ia merupakan orang baru dalam usaha tambak. Pengalamannya tentu minim. Namun ia memiliki keunggulan. Ia mencintai buku-buku. Setiap ada kesempatan untuk membeli buku pasti ia akan membeli. Pengusaha satu ini banyak membaca buku perihal beternak nila. Dari satu buku yang dibacanya terdapat cara baru atau inovasi beternak nila yang lebih produktif dan efisien. Apa yang dibacanya kemudian dibagi dengan kawan-kawannya sesama pengusaha tambak nila. Ketika cara itu coba mereka terapkan ternyata memang terbukti berhasil. Kini mereka memeroleh keuntungan berlipat dengan mempraktekkan cara baru ernak nila dari buku itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barangkali itu sekedar ilustrasi dari sudut pandang pragmatis. Persepsi lain dari manfaat membaca adalah bahwa membaca dapat memperkaya batin. Seorang pelahap buku, yang dalam satu minggu bisa menyantap setidaknya satu buku, sudah barang pasti memiliki wawasan  yang tidak sedikit berasal dari buku yang dibacanya. Melalui sejumlah perenungan, wawasan yang berlimpah ini perlahan akan menjelma sebagai kekayaan batin yang tak ternilai. Sementara itu, sesungguhnya kehidupan ini memiliki dinamika dan tarik ulurnya sendiri yang menuntut penyikapan. Dengan modal kekayaan batin yang dimiliki tidak mustahil akan muncul penyikapan terhadap lika-liku hidup secara arif bijaksana.&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan Ponorogo? Apakah kota kecil ini masyarakatnya telah memiliki tingkat kesadaran membaca yang tinggi? Sejatinya pertanyaan tersebut lebih tepat dijawab dengan sejumlah data statistik. Namun penulis tidak memilikinya. Hanya saja, sebenarnya dari beberapa gejala dan fenomena yang ada kita dapat meraba sejauh mana kecintaan masyarakat Ponorogo terhadap buku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belakangan ini penulis mencermati beberapa indikator yang mampu merepresentasikan sejauh mana tingkat kesadaran membaca masyarakat Ponorogo. Sayang pengamatan hanya sebatas daerah kota dan belum merambah daerah-daerah pelosok terpencil. Semoga sudah bisa cukup mewakili.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Indikator pertama adalah toko buku. Bagaimanapun toko buku merupakan sarana untuk mendekatkan pembaca dengan buku. Akses untuk mendapatkan buku-buku up to date dan berkualitas tak pelak ditunjang oleh keberadaan toko buku. Penulis mencatat terdapat kurang lebih lima buku yang dirasa cukup representatif di Ponorogo, khususnya wilayah Ponorogo kota. Dari jumlah itu hanya satu toko buku saja yang tergolong memuaskan dari segi kelengkapan dan kualitas buku yang tersedia. Kerap penulis mengunjungi toko buku tersebut. Jumlah pengunjung toko buku bisa dikatakan lumayan, meski belum bisa dikatakan membahagiakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Indikator lain yang tak kalah penting ialah bookfair. Pasar buku murah yang lazimnya diadakan selama satu minggu itu tak kurang sudah lima kali diadakan di Ponorogo. Membaca reportase sejumlah media tentang keberlangsungan event tersebut menghadirkan optimisme tersendiri bagi penulis. Media melaporkan bahwa dalam setiap event bookfair selalu ramai dipenuhi pengunjung. Terutama dari kalangan guru dan pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa membaca bagi sebagian masyarakat Ponorogo sudah beranjak menjadi kebutuhan. Geliat ini juga bukan lagi sekadar geliat kecil. Maka, event semacam bookfair harus digiatkan dan jika perlu diagendakan, setahun dua atau tiga kali.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya, indikator ketiga, sekaligus terakhir, yang dapat dicermati penulis adalah perihal perpustakaan. Suatu ketika penulis mengunjungi perputakaan daerah Ponorogo yang berlokasi di jalan Juanda dengan maksud mencari buku-buku sastra. Alangkah terkejut dan bahagianya penulis manakala mendapati buku-buku sastra langka dan berkualitas di sana. Sampai akhirnya penulis memutuskan untuk menjadi anggota perpustakaan daerah. Pun demikian, masalah klasik perpustakaan adalah ketersediaan buku-buku yang up to date. Hal inilah yang juga dikeluhkan oleh sebagian teman di berbagai kampus di Ponorogo. Bahkan terdengar laporan terdapat banyak perpustakaan yang terbengkalai di sejumlah sekolah. Fakta ini tentu menjadi koreksi kita bersama. Mengingat sebenarnya kebutuhan kita akan perpustakaan cukup mendesak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada akhrinya penulis melihat bahwa Ponorogo saat ini sedang dalam proses menuju kota dengan masyarakat gemar membaca atau melek buku. Secara sosiologis masyarakat Ponorogo sebagian besar adalah educated society (masyarakat terpelajar). Ditandai dengan banyaknya pesantren, kampus dan sekolah. Pemicunya pun sudah dirasa cukup, yakni toko buku, bookfair serta perpustakaan. Maka biarkan proses ini bergulir. Percayalah, kita akan segera melihat hasilnya: terwujudnya masyarakat Ponorogo yang sejahtera lahir dan batin. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-7286377095160675490?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/7286377095160675490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=7286377095160675490' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7286377095160675490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7286377095160675490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/ponorogo-dan-kesadaran-baca-buku.html' title='Ponorogo dan Kesadaran Baca Buku'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2675829475479253159</id><published>2011-02-16T15:56:00.000-08:00</published><updated>2011-02-16T15:57:19.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Ponorogo dan Kantong Kreativitas</title><content type='html'>Mahasiswa-mahasiswa asal Ponorogo yang berkesempatan untuk kuliah di Jakarta, Solo, Jogja atau Bandung barangkali sesekali melakukan pembandingan dalam banyal hal. Misalnya saja, kenapa di tempat mereka kuliah kegiatan-kegiatan berbasis kreativitas seperti festival film, parade teater, pesta sastra dan lain-lain kerap diadakan sementara di Ponorogo belum ada. Atau kenapa di kampus mereka dengan mudah ditemui pameran foto, kaligrafi, lukisan dan seni rupa lainnya tapi di Ponorogo jarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para mahasiswa itu bisa jadi di sela kesibukan kuliah mereka sering meluangkan waktu mengunjungi lumbung-lumbung kesenian. Mereka yang di Jakarta menyambangi Taman Ismail Marzuki di Cikini atau Salihara di Pasar Minggu. Sedang yang di Solo bertandang ke Taman Budaya Jawa Tengah dekat kampus UNS atau bisa juga ke Gedung Kesenian Solo di Sriwedari. Nah, ketika pulang kampung ke Ponorogo mereka kesulitan menemukan kantong-kantong kreativitas seperti yang ditemui di tempat mereka belajar.&lt;span class="fullpost"&gt;Keresahan mereka dapat dikata sangat wajar. Sebab jika diamati Ponorogo memang belum memiliki ruang kreativitas yang memadai. Kegiatan berbasis kesenian dan kebudayaan masih dilakukan secara parsial dan belum terkoordinir secara rapi. Selain itu gagasan-gagasan untuk mengkoordinirnya juga belum tampak. Seolah hari ini baru bisa menikmati grebeg suro, festival reog mini, larung sesaji dan kirab budaya. Itu pun memang menjadi agenda rutin daerah yang wajib digelar tiap tahunnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika beberapa kota besar telah memiliki wadah-wadah untuk memfasilitasi gerak pekerja seni, Ponorogo mungkin baru memiliki satu wadah, yakni Gedung Kesenian di Jalan Pramuka. Tempat itu pun sepertinya juga masih sepi kegiatan. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa dari faktor internal ataupun eksternal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita kadang bertanya-tanya, sebenarnya seberapa penting keberadaan kantong-kantong kreativitas tersebut dan untuk apa selanjutnya? Pada dasarnya, pada taraf yang paling bawah, kantong-kantong semacam itu adalah untuk menampung kreativitas seniman-seniman lokal, utamanya yang masih muda usia. Fungsi lain adalah tentunya dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian budaya. Pasalnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan sejujurnya merupakan bentuk-bentuk dari kebudayaan. Sebuah kota yang marak dengan kegiatan kebudayaan tentu berbeda dengan kota yang sangat jarang menggelar dan mengapresiasi budaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu kita tidak berhenti pada tataran teori dan kritik belaka. Perlu juga tindakan nyata untuk mewujudkan kantong-kantong kreativitas. Lalu apa yang harus dilakukan? Dan siapa yang harus mengawali? Menurut hemat penulis, segala sesuatu harus ada pemicunya atau penggeraknya. Kita tidak mungkin pergi ke dapur untuk mengambil, piring, nasi dan lauk jika tidak ada pemicunya, yaitu rasa lapar. Oleh karena itu perlu diaakan sejumlah kegiatan yang ditujukan sebagai pemicu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal termudah yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan membentuk wadah-wadah kecil guna menampung minat dan bakat. Misalnya saja, membikin komunitas sastra. Bagi mereka yang sudah dianggap senior bisa dijadikan senior. Lalu diadakan publikasi ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Ponorogo bahwa ada komunitas sastra di Ponorogo yang siap menjadi tempat yang nyaman untuk berkarya dan saling mengapresiasi. Dengan format yang sama bisa dibentuk pula komunitas film, komunitas fotografer dan sebagainya. Hal terpenting, komunitas tersebut nantinya musti tak boleh sepi dari karya dan kegiatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masalahnya siapa yang akan membentuk komunitas-komunitas itu? Penulis rasa siapa saja berhak mendirikan komunitas berbasis kreativitas. Makin banyak tentu makin bagus. Namun, dinas pariwisata dan kebudayaan sebagai pihak yang berwenang terhadap hal semacam ini seyogyanya bisa menunjukkan langkah awal. Syukur-syukur jika mereka berkenan menghidupi dan membina komunitas-komunitas itu ke depannya.&lt;br /&gt;Apabila pada akar rumput kita sudah kuat, dalam arti komunitas-komunitas yang ada telah solid dan banyak karya, maka kegiatan eksternal berskala besar tidak masalah untuk dicoba. Umpamanya dibikin Festival Film Ponorogo yang melombakan beberapa kategori film indie, digelar tiap tahun. Jika perlu pembanding, kota kecil seperti Purbalingga mampu mengadakan Purbalingga Film Festival secara ajeg tiap tahun, kenapa kita tidak? Atau misalnya lagi, kita tiap 6 bulan sekali mengadakan temu sastrawan Jawa Timur. Tiap 6 bulan sekali itu juga kita terbitkan antologi puisi dan kumpulan cerpen sastrawan Jawa Timur (mungkin juga sastrawan Nusantara).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegiatan di atas hanyalah contoh. Bentuk kesenian, kebudayaan dan kreativitas yang lain dipersilakan berkembang sesuai dengan alur yang serupa atau boleh juga berbeda, disesuaikan kebutuhan. Peminat tari boleh mengadakan festival tari tradisonal se-Indonesia, sedang yang bergiat di ranah teater juga bisa menggelar lomba teater pelajar se Jawa-Bali, dan seterusnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas, tulisan ini terbaca sebagai sebuah cita-cita dan harapan yang begitu ideal. Sementara, ketika ide semacam ini digelontorkan dalam sebuah obrolan ringan di angkringan, beberapa orang nyletuk menanggapi. Jangan kan untuk memikirkan kebudayan dan kesenian, untuk memikirkan makan dan sekolah saja sudah pusing, orang Ponorogo sulit untuk meujudkan atau minimal meminati hal-hal seperti itu. Ada pula yang berkomentar, cita-cita tersebut bisa dicapai namun butuh waktu lama serta keterlibatan semua pihak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lepas dari pro-kontra tentang wacana pembentukan kantong-kantong kreativitas di Ponorogo yang perlu kita sadari bahwa dalam diri manusia, secara fitrah terdapat tiga hal penting logik, etika dan estetika. Logika membahas benar-salah, etika menangani baik-buruk sedang estetika merumuskan indah dan jelek. Memaksimalkan ketiganya adalah dengan menjadi diri lebur dalam kebudayaan atau kesenia, baik seagai pelaku atau setidaknya penikmat. Sebuah usaha untuk kembali memanusiakan manusia. Penulis yakin masyarakat Ponorogo melihat ini sebagai sesuatu yang penting dan mendesak. Semoga.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2675829475479253159?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2675829475479253159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2675829475479253159' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2675829475479253159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2675829475479253159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/ponorogo-dan-kantong-kreativitas.html' title='Ponorogo dan Kantong Kreativitas'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1186893714390233872</id><published>2011-02-04T05:11:00.000-08:00</published><updated>2011-02-04T05:22:25.636-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuliah'/><title type='text'>Perihal TEMPO</title><content type='html'>Kawan, tugas UAS Sistem Komunikasi Indoneia yang saya dapatkan adalah membuat sejarah dan profil TEMPO (koran dan majalah). Ini hasilnya, selamat menikmati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendasarkan sepenuhnya tulisan kami perihal sejarah dan profil majalah serta koran Tempo berdasarkan tulisan Coen Husain Pontoh berjudul Konflik Nan Tak Kunjung Padam pada buku Jurnalisme Sastrawi. Hal ini kami lakukan setelah surat permohonan studi lapangan yang kami ajukan ke Tempo tidak direspon meski sudah berkali-kali kami telepon. Kami merasa tulisan Coen Husain Pontoh cukup representatif dan ivestigatif daripada tulisan-tulisan tentang majalah serta koran Tempo yang bertebaran di internet. Adapun tulisan Coen Husain Pontoh tersebut sedikit banyak mendapat masukan dari buku Janet Steele soal Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah jatuhnya rezim Soekarno dua orang wartawan berangan-angan membuat majalah baru. Mereka adalah Goenawan Mohammad, penyair dan wartawan Harian Kami yang baru pulang dari studi lanjut di Brugges, Belgia, dan Fikri Jufri yang bekerja buat harian Pedoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Goenawan waktu itu membayangkan hadirnya mingguan berita seperti Newsweek dan Time (Amerika Serikat), I’Express (Prancis), Der Speigel (Jerman Barat) atau Elseiver (Belanda) di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian itu menjadi nyata. Tahun 1969 Goenawan dan kawan-kawan menerbitkan majalah Ekspress yang dibiyayai B.M. Diah, pemilik harian Merdeka dan mantan duta besar Indonesia. Goenawan ditunjuk jadi pemimpin redaksi majalah Ekspress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi belum genap setahun majalah Ekspress berdiri, terjadi konflik internal di tubuh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Ketika itu B.M Diah ditunjuk Ali Moertopo untuk menjadi ketua PWI. Padahal PWI baru saja menggelar kongres dan menunjuk Rosihan Anwar sebagai ketua PWI. Pada akhirnya, Goenawan dipecat dari Ekspress karena berseberangan dengan B.M Diah. Dipecatnya Goenawan ini diikuti hengkannya sejumlah teman-teman yang solider dari Ekspress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di sini. Goenawan Mohammad berpandangan bahwa harus didirikan majalah untuk menampung teman-teman yang sudah solider keluar dari Ekspress dan untuk mengembangkan kebebasan yang selama ini mereka cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Lukman Setiawan, eks wartawan Kompas, menemui Goenawan dan kawan. Ia mengatakan bahwa ada orang kaya yang ingin bertemu di lapangan golf Senayan. Orang kaya yang dimaksud adalah Ciputra, pendiri Yayasan Jaya Raya dan direktur utama perusahaan properti PT Pembangunan Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mendatangi Goenawan, Lukman Setiawan juga mendatangi Harjoko Trisnadi dari majalah Djaja. Lukman menyampaikan undangan dari Ciputra untuk mengadakan pertemuan dengan kelompok Goenawan. Setelah mereka betemu Ciputra memberi usulan untuk menggabungkan majalah Djaja dengan majalah yang sedang direncanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negosiasi berlangsung cukup alot. Tapi akhirnya mengahsilkan kata mufakat. Masalah baru muncul. Saat itu ada peraturan yang mengharuskan penerbitan memiliki Surat Izin Terbit (SIT). Sementara SIT hanya dikeluarkan oleh PWI. Mengingat ketua PWI adalah B.M Diah yang pernah berseteru dengan Goenawan Mohammad, ditempuhlah jalur lobi langsung ke Menteri Penerangan saat itu, Budiarjo. Lobi berhasil. SIT akhirnya turun.&lt;br /&gt;Semuanya sudah beres, akhirnya disepakati membentuk majalah baru yang diberi nama Tempo. Dengan demikian, Tempo merupakan gabungan dari orang-orang majalah Djaja dengan mantan personal Ekspress. Majalah baru ini dimodali Yayasan Jaya Raya sebesar 20 juta rupiah. Orang yayasan yang ditugaskan mengelola Tempo adalah Eric Samola, waktu itu pejabat bagian hubungan masyarakat PT Pembangunan Jaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jalan Senen Raya 85, pada, 1971, terbitlah Tempo nomor perkenalan tanpa tanggal. Dalam masthead tercantum nama Goennawan Mohammad sebagai ketua dewan redaksi, Bur Rasuanto sebagai wakil ketua dan Usamah sebagai redaktur pelaksana. Christianto Wibisono, Fikri Jufri, Toeti Kakialiatu, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, Syu’bah Asa, Zen Umar Purba, Putu Wijaya, dan Isma Sawitri duduk sebagai anggota dewan redaksi.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan nama Tempo bukan tanpa alasan. Kata Tempo dirasa singkat dan bersahaja, enak diucapkan oleh lidah Indonesia dari segala jurusan. Selain itu, terdengar netral, tidak mengejutkan, dan tidak merangsang. Bukan juga simbol suatu golongan. Arti Tempo secara terminologis sendiri cukup sederhana: waktu, sebuah pengertian yang dengan segala variasinya lazim digunakan banyak penerbitan di seluruh dunia.&lt;br /&gt;Edisi perdana Tempo yang menurunkan laporan utama mengenai kecelakaan yang menimpa pebulutangkis Indonesia, Minarni, di arena Sea Games Thailand, laku 10 ribu eksemplar. Sedang edisi kedua terjual 15 ribu eksemplar. Kenyataan ini mematahkan argumen banyak pihak yang mengatakan jika Tempo sulit laku di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perjalanan Tempo menemu batu sandungan. Kali ini masalah tuduhan penjiplakan. Seorang pengacara dari kantor pengacara Widjojo alias Oei Tat Hway, yang mewakili Time, memasukkan berkas gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam berkas gugatan itu disebutkan Tempo “…membuat dan memasarkan majalah dengan merek TEMPO dalam segi empat dengan pinggiran merah, yang pada penglihatan sepintas lalu pada pokonya dan keseluruhannya sama dengan majalah TIME.” Meski demikian, gugatan itu tak berkelanjutan. Pihak penggugat pada akhirnya mengaku ada kesalahan koordinasi dengan Time.Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib pahit kembali dialami Tempo, setelah keretakan antara Goenawan Mohammad dan Bur Rasuanto yang berbuntut keluarnya Bur dari Tempo, kini Tempo harus menghadapi pembekuan SIT dari pemerintah.  Tempo dianggap melanggar kode etik pers yang bebas dan bertanggung jawab. Surat pembekuan dikeluarkan oleh Menteri Penerangan kala itu, Ali Moertopo, tertanggal 12 April 1982.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar kemungkinan, pembekuan ini lantaran Tempo memberitakan kerusuhan yang terjadi saat kampanye Golkar di Lapangan Banteng, Jakarta. Pemerintah keberatan dengan hal itu, mengingat Golkar adalah mesin politik kebanggaan Soeharto. Pihak Tempo memilih jalur lobi untuk mencairkan pembekuan. Syaratnya mudah, Tempo diminta menandatangani surat pernyataan maaf dan kesediaan untuk ‘dibina’ oleh pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guncangan selanjutnya datang lima tahun kemudian. Saat itu Syu’bah Asa dan Edy Herwanto, atas nama 33 karyawan termasuk 22 wartawan, menyatakan mundur dari Tempo. Mereka hendak mendirikan majalah baru bernama Editor. Sebenarnya, eksodus besar-besaran ini dipicu tidak diperhatikannya kesejahteraan karyawan. Mereka tidak dianggap sebagai aset perusahaan, namun hanya sebagai sebagai faktor produksi.&lt;br /&gt;Pada 1990 eksodus kembali terjadi. Tak kurang dari 20 orang spontan keluar dari Tempo. Eksodus gelombang kedua ini terjadi atas dua kelompok. Kelompok pertama membentuk majalah Prospek yang diomodali oleh Sutrisno Bachir, pengusaha asal Pekalongan. Kelompok kedua bergabung dengan harian Berita Buana. Eksodus kali ini lantaran iming-iming gaji yang lebih tinggi jika mau pindah. Namun, menurut Goenawan Mohammad, ada isu Kristenisasi yang merebak di Tempo waktu itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Juni 1994, Majalah Tempo kembali dibredel pemerintahan Soeharto. Bersama Tempo, dibredel pula ‘saudara tirinya’ Editor dan tabloid mingguan yang tengah menjulang, Detik. Pembredelan dilakukan setelah Tempo menurunkan laporan utama tentang pembelian kapal perang eks Jerman Timur. Pembelian dilakukan oleh B.J. Habibie selaku Menteri Riset dan Teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Janet Steele, ada dua teori di balik pembredelan itu. Pertama, pemberedelan dilakukan sebagai akumulasi ketidaksukaan Presiden Soeharto terhadap majalah Tempo. Kedua, pembredelan itu merupakan akibat dari konflik internal rezim Soeharto. Majalah ini dibresdel karena dianggap terlalu dekat dengan Jenderal Benny Moerdani yang pada 1994 pensiun. Moerdani tidak disenangi politisi Islam karena dianggap sebagai Katolik yang terlibat dalam sejumlah pembunuhan sejumlah orang Islam. Apapun teorinya, yang pasti pada 21 Juni 1994 Tempo dibredel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tempo punya cara tersendiri untuk tetap hadir di hadapan pembacanya. Pada 1996 diluncurkan sebuah majalah internet pertama di Indonesia, Tempo Interaktif, yang beralamat http://www.tempo.co.id. Meski berusaha untuk melanjutkan hidup, sejumlah awak Tempo yang tak tahan dengan kondisi ini memilih mundur. Mereka adalah Setiawan, Mahtoem, Harjoko Trisnadi, Herry Komar, Amran Nasution dan Agus Basri. Selanjutnya mereka membentuk majalah Gatra yang dibiayai oleh Bob Hasan, pengusaha besar sekaligus orang kepercayaan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Soeharto turun, Tempo bisa terbit kembali. Edisi perdana pasca bredel terbit hari Selasa, 6 Oktober 1998. Goenawan Mohammad muncul sebagai pemimpin redaksi, Bambang Harymurti wakil pemimpin redaksi, dan Zulkifly Lubis didapuk sebagai pemimpin perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo terus berkembang, pada 12 September 2000 diterbitkan Tempo edisi bahasa Inggris. Selanjutnya, Koran Tempo menyusul diluncurkan yakni pada 2 April 2001. Hingga kini, kita masih bisa menikmati baik majsalah ataupun koran Tempo. Media itu bertahan hingga kini setelah melawati perjalanan sejarah yang panjang. Juga setelah melalui aral melintang, seperti pembredelan, eksodus besar-besaran, dan masalah internal dan eksternal lainnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1186893714390233872?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1186893714390233872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1186893714390233872' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1186893714390233872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1186893714390233872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/perihal-tempo.html' title='Perihal TEMPO'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6095791423478955720</id><published>2011-02-04T04:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-04T05:11:51.275-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Ihwal Tongkrongan Sastra Senjakala</title><content type='html'>Kawan, suatu kali saya pernah diminta untuk menulis profil Tongkrongan Sastra &lt;br /&gt;Senjakala untuk sosialisasi  Berikut ini profil komunitas sastra yang saya dirikan di awal saya kuliah dulu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkrongan Sastra Senjakala adalah komunitas independen yang bergerak di wilayah kajian sastra. Digagas oleh Abraham Zakky dan Kenyot Adisattva komunitas ini melakukan diskusi sastra perdana pada tanggal 3 Desember 2008 di taman Fakultas Dakwah. Selanjutnya tanggal 3 Desember dianggap sebagai hari lahir senjakala. Pada diskusi perdana hanya dihadiri empat orang, selain Abraham Zakky dan Kenyot Adisattva, hadir pula Nadd Chafsin dan Hasyim Zain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan dibentuknya Tongkrongan Sastra Senjakala cukup sederhana. Lantaran dirasa tidak adanya komunitas yang intens di wilayah sastra maka dibentuklah Tongkrongan Sastra Senjakala yang berusaha menampung teman-teman berminat bergiat di ranah sastra. Pada perkembangan selanjutnya di Tongkrongan Sastra Senjakala diadakan pula bedah karya anggota, kajian tokoh sastra Indonesia dari yang klasik hingga kontemporer dan penerbitan buletin sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa saja karya Tongkrongan Sastra Senjakala? Hingga saat ini telah terbit 11 edisi buletin sastra Teh Hangat. Buletin yang terbit sebulan sekali ini biaya penerbitannya berasal dari patungan anggota atau terkadang berasal dari sponsor yang memasang iklan. Hanya dicetak sebanyak 500 eks (1 rim), wilayah distribusi buletin sastra Teh Hangat masih di seputar UIN Jakarta.  Adapun rubrik yang tersedia di buletin ini adalah mini-cerpen, puisi dan esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama Tongkrongan Sastra Senjakala juga menebitkan buku bertajuk Sunyi, kumpulan cerpen 10 mahasiswa UIN Jakarta yang tak lain adalah anggota Tongkrongan Sastra Senjakala sendiri. Buku tersebut mendapat apresiasi cukup baik di publik. Barangkali karena antologi cerpen Sunyi merupakan kumpulan cerpen pertama mahasiswa UIN Jakarta.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara dengan galeritangsel.com Abraham Zakky ditanya apakah benar Tongkrongan Sastra Senjakala merupakan underbow dari PMII? Ia menjawab bahwa Tongkrongan Sastra Senjakala adalah komunitas merdeka dan bukan sayap dari organisasi manapun, meski memang harus diakui ada kedekatan antara Tongkrongan Sastra Senjakala dan PMII. Lantas muncul lagi pertanyaan apakah Tongkrongan Sastra Senjakala dikhususkan bagi orang Jawa, karena hampir semua anggotanya orang Jawa? Pertanyaan ini hanya ditanggapi dengan senyuman dan gelengan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan Tongkrongan Sastra Senjakala adalah komunitas yang sangat longgar dan fleksibel maka anggotanya bisa datang dan pergi sesuka hati, tidak ada paksaan sama sekali. Maka anggota Tongkrongan Sastra Senjakala pasang surut. Sedangkan anggota yang tercatat masih aktif sampai sekarang adalah: Dedik Priyanto (Fak.Psikologi), Asep Sofyan (alumni Fak. Psikologi, mantan ketua HMI Ciputat), Maharini Pratiwi (Fak. Ekonomi), Iin Afriyanti (KPI-FDK), Ahmad Ubaidilllah (BPI-FDK), Abraham Zakky(KPI-FDK), dan Kenyot Adisattva(KPI-FDK).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6095791423478955720?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6095791423478955720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6095791423478955720' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6095791423478955720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6095791423478955720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/kawan-suatu-kali-saya-pernah-diminta.html' title='Ihwal Tongkrongan Sastra Senjakala'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6429667358179762951</id><published>2011-02-04T04:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-04T04:41:02.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Sejumlah Cerita yang Belum Matang</title><content type='html'>Manakala seorang teman dari STAN meminta saya untuk menjadi juri lomba menulis cerpen yang mereka adakan pada awalnya saya ragu. Apakah saya sudah cukup kompeten untuk menjadi juri sebuah lomba cerpen? Saya bimbang. Tapi, meski begitu, saya tidak bisa menutupi kebahagian saya. Pasalnya, dengan menjadi juri saya bisa berinteraksi dengan banyak cerpen dari mahasiswa yang sehari-hari biasa berkutat dengan angka. Harus saya akui bahwa saya sangat penasaran dengan cerpen-cerpen seperti apa yang akan mereka hasilkan. Walaupun saya tahu, tidak tepat kiranya mengaitkan sastra dengan beckground keilmuan. Saya kira belum tentu mahasiswa fakultas sastra cerpennya lebih baik dengan mahasiswa jurusan filsafat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak urung saya menerima tawaran menjadi juri. Keberanian ini sedikit banyak dilatari bahwa saya bukan juri tunggal pada perlombaan ini. Masih ada dua juri lagi yang sudah barang tentu penilaian saya dengan mereka akan berbeda. Dan saya rasa hal ini yang harus disadari oleh panitia: setiap juri punya selera sendiri-sendiri, memiliki standar masing-masing. Mungkin bagi saya cerita-cerita realis itu tidak memikat, tapi bagi juri lain cerpen jenis itu justru yang mereka sukai. Sehingga wajar jika saya mengganjar cerpen A dengan nilai rendah sedang juri lain mengganjar cerpen A dengan nilai yang sebaliknya. Oleh karenanya, saya rasa sistem penilaian dengan menjumlahkan nilai yang diberikan tiap juri kurang tepat adanya. Idealnya, tiga juri ini dipertemukan untuk menyepakati (dengan sebelumnya, mungkin, berdebat) tiga cerpen juara. Supaya didapatkan suara bulat dan final dari ketiga juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selanjutnya saya ingin melihat secara umum cerpen-cerpen yang masuk sebagai peserta perlombaan ini. Secara kuantitas saya cukup takjub dan senang. Lantaran tercatat 28 cerpen ikut serta dalam lomba. Jika dibandingkan dengan lomba serupa di UIN Jakarta, hanya ada 20 cerpen yang masuk di email panitia. Lebih sedikit. Namun dari segi kualitas boleh diadu. Lepas dari itu, saya menangkap optimisme bahwa sastra Indonesia tidak akan kehilangan penulis muda berbakat. Lomba ini sendiri cukup penting kebaradaannya dalam menjaga semarak dan semangat bersastra di kalangan mahasiswa.&lt;br /&gt;Saya memandang 28 cerpen ini sebagai cerpen-cerpen yang belum matang. Penyebabnya beragam. Mungkin karena pengarang malas mengendapkan sejenak ide di kepalanya atau melakukan semacam perenungan. Atau bisa jadi pengarang terlalu cepat menganggap cerpennya sudah selesai sehingga malas mengedit di akhir. Barangkali pula bahan bakar penulis masih sangat sedikit. Bahan bakar yang dimaksud adalah sejumlah bacaan yang memperkaya pandangan mereka terhadap sastra (terutama cerpen). Bukankah seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula. Sebagaimana pembicara yang baik adalah seorang pendengar yang baik. Ini masalah input dan output!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar cerpen memaknai tema HAM yang ditentukan panitia sebagai potret rakyat kecil lengkap dengan kemiskinan dan penderitaannya. Jikalau salah satu poin yang harus dinilai adalah kesesuaian tema dengan cerita, maka saya akan sedikit abai pada poin itu. Biarlah cerpen teman-teman saya nilai tanpa dibebani  tema terlebih dahulu. Pasalnya pergulatan mereka secara teknis dengan cerpen mereka sendiri sejatinya belum selesai. Sepertinya para pengarang membebani cerpennya dengan amanat. Terkesan sebuah cerpen harus menyampaikan sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Hampir setengah cerpen membicarakan kemelaratan. Tentang tukang semir sepatu, pengamen, TKI, dan sejenisnya. Intinya tentang orang-orang yang tergilas zaman. Sayangnya mereka menceritakannya secara datar, masih bermain di permukaan, belum bisa menyelami psikologis tokoh secara menyeluruh. Perlu disadari, sudah terlampau banyak yang menulis hal serupa. Harusnya mereka berpikir tentang pembaruan. Kalaupun sama, sajikan dengan cara yang berbeda. Opsi untuk variasi dalam cerpen cukup banyak saya kira. Bisa dari segi alur (jangan melulu alur maju), dari sudut pandang (eksperimen memakai dua sudut pandang), atau penyegaran dari segi bahasa dengan mengahadirkan metafor-metafor dan idiom-idiom anyar yang segar dan orisinil. Di sinilah imajinasi pengarang  diuji, juga sejuah mana nalar intelektual mereka mengembara. Mengapa membaca banyak buku wajib mutlak bagi pengarang adalah karena hal ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat score yang saya berikan, siapapun boleh beranggapan bahwa saya pelit nilai. Tidak ada yang sampai nilai delapan puluh. Sebagaimana yang saya utarakan diawal bahwa juri memiliki sudut pandangnya sendiri. Dan saya meraba bahwa belum ada cerpen yang menurut standar saya memperoleh nilai delapan puluh. Bukan berarti cerpen-cerpen yang saya nilai itu tidak berkualitas. Cerpen-cerpen itu hanya perlu dibaca ulang oleh pengarangnya (kalau perlu sampai lima hingga enam kali) lalu dilakukan perbaikan di beberpa titik yang dirasa kurang. Ingat, pengarang ketika memperbaiki cepennya harus kejam, maksudnya harus berani menghapus bagian-bagian yang justru menggangu walau dianggap bagus dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikelompokkan akan muncul beberapa cerpen yang memiliki nilai di atas 70. Bagi saya itu cerpen yang sudah lumayan baik. Tapi terdapat kelemahan yang mencolok. Cerpen-cerpen itu adalah: Aku di Mata Orang, Bungkam, Ceritakan Padaku, Lit, Harga Sebuah Kehidupan, Jugun Ianfu, Keadilan Ada, Langit Kelabu, Plasenta, Seorang Bawahan Tidak Berhak Berpendapat. Jika akan dibukukan, sembilan cerpen tersebut ditambah 3 cerpen dengan nilai tertinggi tampaknya layak dipertimbangkan. Catatan pertama saya, sebaiknya judul-judul yang bertele-tele, klise dan sangat biasa diganti saja, saya tidak nyaman, jujur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Cerpen Unggulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, setelah satu persatu membaca semua cerpen, saya lantas melihat nilai-nilai yang saya berikan. Ternyata saya mendapati tiga cerpen dengan nilai tertinggi. Ketiga cerpen tersebut beserta uraiannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nenek Berkisah Tentang Malam (77)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Pada dasarnya, cerpen ini mengisahkan Tutik dan lika-liku perjalanan hidupnya. Suaminya yang PKI hilang. Entah meninggal atau belum. . Kala itu nyawa lebih murah dari seikat kacang rebus. Pengarang cerpen ini memiliki penguasaan latar yang lumayan. Terlihat dari ketepatan memasukkan istilah-istilah atau bahasa daerah. Pengarang juga mampu menghadirkan sedikit humor (terkait panggilan Mas, terhadap Maskuri). Tak kalah penting, cara bertutur pengarang cukup rapi, step by step dengan alur maju.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan cerpen ini adalah kurang dalamya deskripsi suasana batin tokoh. Zaman berkecamuk seperti konteks cerita harusnya didukung kedalaman suasana batin. Memutuskan segala sesuatu tak mudah kala itu. Perang batin harus ditampilkan supaya cerita hidup. Selain itu, pemahaman tentang PKI diperluas. Menulis cerpen berbasis sejarah tidak boleh sembarangan. Riset penting dalam hal ini. Adapun secara teknis cerpen ini harus sedikit dirapikan (paragraph, margin, EYD dll). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kamera Hoek (76) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menceritakan kisah seorang fotografer bernama Hoek cerita ini terasa cukup fokus. Meski didominasi narasi akan tetapi tidak membosankan. Justru penggambaran suasana dan karakter cukup berhasil. Sejumlah ungkapan khas fotografer membuat cerita ini menarik. Kelebihan lain, pengarang dapat menjaga ritme dan batasan cerita, tidak ingin nyerocos kemana-mana. Alur flashback cukup berhasil digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang kecakapan tadi menemui masalah karena kedodoran mengakhiri cerita.  Pengarang seharusnya lebih cerdas menutup cerita. Di samping itu paragaraf-paragraf terlalu panjang cukup menggangu kenyamanan membaca. Cerpen ini memiliki potensi dikembangkan menjadi lebih ‘menjual’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebelum Subuh Di Sebrenica (75) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Padahal cerpen ini sudah digambarkan dengan latar yang cukup informatif dan memikat, akan tetapi, sayangnya pengarang menempelkan tema HAM di ending. Di sinilah kejatuhan cerpen ini yang menurut saya sangat bisa diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu dikuatkan adalah tentang dialog. Dialog dirasa sangat normatif, mungkin lebih karena diksi yang kurang ‘diperas’ lagi, sehingga muncul percakapan yang bernas dan kerkualitas tinggi. Mereka cerpen tentang peperangan tidak mudah. Kecamuk batin musti tampil secara total. Menyelam dalam, berkelebatan kesana kemari mutlak dilakukan pengarang. Adapun dalam cerpen ini hal itu belum kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun hasilnya kegiatan ini hanya sebatas lomba. Pemenang ditentukan oleh nilai-nilai dari dewan juri. Nilai berupa angka mudah dan tentu bakal didapat. Yang sulit adalah memperoleh nilai tanpa angka. Pada titik inilah pengarang memaknai ulang untuk apa sebenarnya ia menulis. Niat menulis saya kira erat kaitannya dengan kualitas karya. Menulislah untuk menulis. Bukan untuk gelar juara. Bukan untuk tenar dan masyhur. Apalagi demi uang semata. Sesuatu yang lahir dari hati akan sampai di hati juga. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6429667358179762951?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6429667358179762951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6429667358179762951' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6429667358179762951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6429667358179762951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/02/sejumlah-cerita-yang-belum-matang.html' title='Sejumlah Cerita yang Belum Matang'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3928585292479835947</id><published>2011-01-18T22:31:00.000-08:00</published><updated>2011-01-18T22:35:20.272-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Komunitas Sastra di UIN Jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sastra seharusnya tidak bergantung pada background keilmuan. Mahasiswa apa saja boleh menulis sastra. Di tiap fakultas tentu ada yang berminat dengan sastra, cuma tidak tahu sejauh mana terkoordinir. Di UIN Jakarta, saya rasakan sastra cenderung dianggap pinggiran dari keseluruhan kajian pemikiran belakangan ini. Seingat saya UIN Jakarta tidak pernah memberikan gelar honouris causa pada bidang sastra. Sastra dianggap tidak penting begitulah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas keluar dari Jamal D. Rahman, alumni UIN Jakarta yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison, disampaikan dalam wawancara dengan penulis tahun 2009 lalu. Apa yang disampaikan Jamal D. Rahman bukan isapan jempol belaka. Ia yang juga menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah tentu mengamati perkembangan sastra di UIN Jakarta. Pengalamannya bergiat dan lantas memimpin LPM Institut ketika masih menjadi mahasiswa dulu barangkali menjadi pembanding. Menurutnya, dulu dunia kepenulisan di UIN Jakarta begitu riuhnya. Diskusi dan penerbitan karya sastra amat semarak. Namun, entah karena faktor apa, dunia kepenulisan terutama sastra ibarat kerupuk disiram air.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya, ada semacam harapan di tahun 2011 ini ada sedikit perubahan. Tapi ternyata masih jauh panggang dari api. Alih-alih komunitas sastra bermunculan dan sastra tumbuh bak cendawan di musim hujan, yang ada komunitas justru kian lesu dan hanya itu-itu saja. Semoga ini bukan karena isu pelarangan masuknya organisasi ekstra ke dalam kampus oleh rektorat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Peta Sastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila hendak dipetakan sastra di UIN Jakarta sebenarnya banyak berpusat di Fakultas Tarbiyah, barangkali lantaran adanya fakultas PBSI. Boleh jadi kita justru berharap banyak pada Fakultas Adab, mengingat dalam bahasa Indonesia adab bermakna sastra. Namun, kembali kita teringat kata-kata Jamal D. Rahman bahwa sastra tidak harus berdasarkan background keilmuan. Meski begitu rasa-rasanya gaung sastra di Fakultas Sastra (Adab-red) memang tidak begitu terdengar. Justru teman-teman dari Fakultas Dakwah yang menggagas berdirinya komunitas sastra. Lantas yang kemudian aktif di komunitas tersebut adalah mahasiswa Fakultas Psikologi dan Fakultas Ekonomi. Sebenarnya ini bukan kabar buruk, bahkan sebenarnya ini merupakan baik. Bahwa hari ini peminat sastra menyebar hampir di seluruh Fakultas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penulis saat ini berkecimpung dengan Tongkrongan Sastra Senjakala. Komunitas yang memulai diskusi perdananya pada 3 Desember 2008 digagas antara lain oleh Kenyot Adisattva, Nadd Chafsin dan Hasyim Zain dan penulis sendiri (keempatnya mahasiswa jurusan KPI Fakultas Dakwah). Selain diskusi setiap rabu sore di basement ushuludin, Tongkrongan Sastra Senjakala juga menerbitkan buletin sastra Teh Hangat. Kumpulan cerpen pertama mahasiswa UIN Jakarta berjudul Sunyi juga telah berhasil mereka terbitkan. Dalam waktu dekat mereka juga bersiap menerbitkan kumpulan cerpen keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Tongkrongan Sastra Senjakala, adalah Kampung Seni komunitas sastra yang pada masanya memiliki kontribusi besar bagi perkembangan sastra di UIN Jakarta. Kampung Seni berdiri 25 Desember 2007. Penggerak awalnya Mutaqin bersama teman-teman PBSI, dibantu dua dosen, Bu Rosida dan Pak Edi Effendi.  Kegiatannya diskusi mingguan, bedah naskah dan pelatihan menulis, diskusi bulanan dengan mendatangkan sastrawan ke kampus, bulan bahasa dan lain-lain. Akan tetapi, menurut pengakuan Mutaqin, hari ini Kampung Seni vakum. Dikarenakan pengurusnya sibuk praktek kuliah atau kerja dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Forum Lingkar Pena Ciputat juga tidak bisa dikesampingkan. Komunitas penulis yang banyak didominasi mahasiswa UIN Jakarta ini sudah memberikan sumbangsih bagi hidupnya sastra kampus selama lebih dari enam tahun tahun (berdiri 25 September 2004). Kegiatan dan karya mereka juga sangat beragam. Lantaran induk organisasi mereka sudah sangat besar dan menggurita di Indonesia. Walaupun, harus diakui, daya gedor mereka kini tidak sekuat lima tahun lalu, saat fiksi Islam masih menjadi jawara di toko-toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas lain yang patut dicatat adalah Kolekan (Komunitas Lesehan Kebudayaan). Meski mereka tidak sepenuhnya berkutat pada sastra, tapi fokus kajian mereka terhadap Pramoedya Ananta Toer sangat baik. Bahkan ketika peringatan empta tahun wafatnya Pram, Kolekan bekerjasama dengan Tongkrongan Sastra Senjakala mengadakan road show diskusi mengenang Pram, sosok dan pemikarannya, di empat tempat di Jakarta.  Sastra panggung yang kerap ditampilkan Kolekan juga laya diapresiasi yakni dalam pembacaan puisi dan pentas teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memetakan sastra di UIN Jakarta yang kadang terlupa adalah Teater Syahid. Mungkin lantaran mereka lebih kuat di pementasan teater atau sastra panggung sehingga kiprah mereka tidak begitu terekam. Atau bahkan tidak dimasukkan dalam komunitas sastra. Di Ciputat, khususnya di seputaran kampus, perlu dicatat pula beberapa nama kelompok teater seperti: Altar, el Na’ma dan Tonggak. Walau kabar ketiganya kini begitu samar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga sempat mendapati pamflet lomba puisi yang diadakan Lembaga Sastra Tinta di beberapa mading di sejumlah fakultas. Setelah ditelusuri ternyata lembaga ini milik IMM Ciputat. Saat penulis bertanya tentang kegiatan dan karya Lembaga Sastra Tinta pihak pengurus hanya memberi alamat blog, yang ketika penulis klik di internet blog itu tidak ada wujudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini Dewan Kesenian Jakarta menerbitkan Bunga Rampai Cerpen Panggung Sastra Komunitas berjudul Si Murai dan Orang Gila. Dalam waktu bersamaan juga terbit bunga rampai puisi berjudul Empat Amanat Hujan. Pada catatan kurator bunga rampai cerpen, Eka Kurniawan menyampaikan pandangannya tentang komunitas sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;…Tentu saja media bukan satu-satunya faktor yang memberi bahan  bakar untuk kesusasteraan. Media massa merupakan suatu wilayah yang terbatas, yang seringkali tak cukup untuk menampung ledakan kreativitas ini. Harus ada ruang-ruang lain yang sanggup mewadahi keberlimpahan kreativitas. Para penulis menyadari ini sejak awal: komunitas.  &lt;br /&gt;Komunitas memberikan sesuatu yang barangkali tak diberikan oleh media massa kepada penulis: keintiman. Penulis-penulis berinteraksi secara langsung, berbagi karya, berbagi kritik, dan menjadi sparing partner. Penulis-penulis baru belajar  dari penulis-penulis yang lebih berpengalaman, tak hanya dalam perkara teknis menulis, tapi nyaris dalam berbagai aspek. Melalui komunitas, penulis juga membuat jaringan, baik di antara penulis maupun di antara komunitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mugkin mengamini apa yang diutarakan Eka Kurniawan. Memang benar para penulis, dalam hal ini para calon sastrawan, perlu diwadahi dalam sebuah komunitas. Jarang sastrawan lahir tanpa melalui rahim komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, tak kalah menarik, dalam buku Gelak Esai &amp; Ombak Sajak Anno 2001 Sutardji Calzoum Bachri menulis seperti apa wajah-wajah komunitas sastra yang sering dijumpai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…Begitu pula karakter individual para pengelolanya mewarnai ‘karakter’ komunitasnya. Ada komunitas terasa sangat serius, terasa ingin elitis dan mencoba melakoni citra intelektual. Sebaliknya ada komunitas yang orang-orangnya, lebih berupaya menikmati dan mensyukuri hidup dengan cara mencari dan menciptakan sisi gembira dan perih kehidupan, serta selalu bersikap kritis terhadap sesuatu yang berbau intelektual dan karena itu kelihatan sebagai komunitas yang anti-intelektual. Dari bentuknya ada yang terorganisasi rapi dan terasa formal, dengan para pengelola yang berdisiplin dan berdedikasi, serta dana atau sponsor yang memadai. Di samping itu ada pula yang tidak formal, lebih merupakan kumpulan sastrawan atau budayawan yang sering kongko-kongko di warung atau café, sambil nyanyi-nyanyi membicarakan sastra, agama, filsafat, dan macam-macam lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apapun betuk komunitas itu, satu hal yang pasti keberadaan komunitas perlu dan penting adanya. Tentu dengan diikuti intensitas diskusi dan berkarya yang tinggi. Kegelisahan akan lesunya dunia sastra di UIN Jakarta (ditandai dengan kurang maraknya kegiatan dan karya yang dihasilkan komunitas) barangkali sama dengan kegelisahan dari teman-teman pegiat kajian filsafat, agama, sosial dan sebagainya. Sebagian besar dari mereka mengaku pasca tahun 2000, kantong-kantong kajian atau diskusi beranjak sepi, ditinggalkan anggotanya. Satu-satu lantas berguguran. Padahal, mereka mengakui lebih banyak ilmu yang diserap lewat forum-forum kajian atau diskusi di luar kampus ketimbang dari bangku kelas (yang kadang terasa monoton).&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, langkah-langkah kecil harus dimulai dan lantas dipelihara oleh komunitas. Hal paling penting adalah menjaga konsistensi anggota. Seiring berjalannya waktu, jika konsisten, fokus dan telaten, hasilnya tentu akan kelihatan. Bukankah sebongkah batu bisa berlubang jika ditempa tetes-tetes air terus menerus?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3928585292479835947?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3928585292479835947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3928585292479835947' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3928585292479835947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3928585292479835947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/01/komunitas-sastra-di-uin-jakarta.html' title='Komunitas Sastra di UIN Jakarta'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-9019291740431182754</id><published>2011-01-17T18:08:00.001-08:00</published><updated>2011-01-18T22:37:05.527-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Perkawanan, Kawabata dan Novel Terjemahan</title><content type='html'>Lewat tulisan ini saya ingin berbagi kebahagiaan. Di penghujung 2010 yang lalu, pada akhirnya, saya berhasil menamatkan satu novel terjemahan: Keindahan dan Kesedihan (Beauty and Sadness/Utshukushisa To Kanashimi To) karya Yasunari Kawabata. Novel terbitan Jalasutra dengan cover yang menurut saya eksotik ini saya khatamkan kurang dari seminggu. Atas novel ini saya punya cerita tersendiri bagiamana cara memperolehnya. Tapi sebelumnya saya ingin bercerita bagiamana pandangan saya teradap novel terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang gampang tersulut alias terprovokasi omongan orang. Misalnya, ketika teman-teman saya di Komunitas Ketik dan Paseduluran Callisto bilang jika novel-novel Fahd Djibran wajib baca saya langsung berambisi untuk mendapatkan dan melahapnya. Begitu juga ketika ada saran untuk membaca novel-novel Tere Liye. Dan yang baru-baru ini saya berhasil dipengaruhi dosen untuk menonton semua film-film yang dibintangi Tom Hank. Untunglah provokasi itu positif, sehingga saya sebenarnya diuntungkan dengan provokasi macam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, dua kawan yang saya hormati dan saya banggakan, oleh karena kapasitasnya dalam bidang menulis, yakni Bandung Mawardi (Solo) dan Sungging Raga (Jogja) juga pernah memprovokasi saya secara halus. Bandung Mawardi yang esais kenamaan itu menyarankan saya membaca novel-novel Tariq Ali, terutama yang berjudul Under The Pomegrante Tree, dan novel Putri Cina karya Sindhunata. Saya berhasil mendapatkan buku Putri Cina di toko buku favorit saya: Gerak-Gerik (toko buku kecil di Jalan Pesanggrahan, jalan tersibuk di Ciputat terletak tepat di samping kampus UIN Jakarta). Adapun novel Tariq Ali saya baru bisa mendapatkan Seorang Sultan di Palermo dan Sang Perempuan Batu. Selain itu Bandung Mawardi juga menyarankan saya untuk membaca novel-novel Orhan Pamuk. Bahkan Bandung Mawardi melabeli karya-karya Orhan Pamuk sebagai sihir sastra abad 21. Dengan semangat tinggi saya menuju Toko Buku Gerak Gerik, lantaran saya pernah melihat novel Orhan Pamuk di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih Zuhairi Misrawi ikut membakar saya dalam sebuah acara bedah buku dengan mengatakan: bahwa buku-buku terbitan Serambi itu berkualitas, kalau saya membeli buku saya lihat penerbitnya dulu, kalau Serambi langsung saya beli, baik terjemahan atau bukan. Kebetulan novel-novel Orhan Pamuk ini diterbitkan Serambi. Lalu saya beli: The White Castel, The New Life dan Istanbul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya belum bisa membaca sampai habis novel-novel yang disarankan Bandung Mawardi itu. Ada sesuatu yang membuat saya kehilangan kenikmatan membaca. Baru satu bab saya sudah tidak bersemangat. Saya lantas berpikir, mungkinkah karena novel Orhan Pamuk dan Tariq Ali itu hadir kepada saya sebagai terjemahan, sehingga bahasa yang digunakan penerjemah tidak ‘indah’ sehingg tak mampu menyihir saya, tidak seperti ketika membaca novel-novel Indonesia. Atau mungkin karena itu novel yang ditulis oleh ‘orang luar’ sehingga secara antropologis dan sosiologis kurang ada kedekatan, makanya terasa ‘berat’. Saya masih belum tahu, masih menerka-nerka jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya saya berkenalan dengan Sungging Raga, dikenalkan oleh Han Gagas (bersama Bandung Mawardi ia aktif di Komunitas Pawon Sastra, Solo). Han Gagas yang pertama kali saya temui di Ponorogo ketika lebaran 2010 kemarin bercerita bahwa ia sedang menggagas bengkel sastra bersama Sungging Raga dan Gendut Pujiyanto. Komunitas kecilnya itu mengadakan pertemuan rutin untuk membedah atau membengkeli cerpen anggota serta diskusi kepenulisan. Sebelumnya Han Gagas juga sempat bikin acara bedah kumpulan cerpen pertama Sungging Raga: Ketenangan Merentang Kenangan. Sunnging Raga saya tahu ‘kecanduan’ kereta dan terhisap pusaran kenangan. Sehingga dua hal itu kerap kali ditemui dalam cerpen-cerpennya. Komunikasi saya dengan Sungging Raga berlanjut dari facebook ke sms. Saya juga menikmati cerpen-cerpen Sungging Raga yang diunggah di blognya surgakata.wordpress.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat saya bertanya kepada Sungging Raga, siapa penulis yang menginspirasinya? Penulis low profile yang engaku belum genap dua tahun masuk dunia sastra ini menyebut dua nama, Yasunari Kawabata dan Sapardi Djoko Damono. Rasa penasaran saya tersulut. Siapa itu Yasunari Kawabata? Berceritalah Sungging Raga tentang siapa dan apa karya Yasunari Kawabata itu. Saya juga bercerita jika saya punya ‘pengalaman buruk’ dengan novel terjemahan. Akan tetapi, sungging meyakinkan jika membaca Kawabata tidak mengecewakan. Terjemahannya bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lagi-lagi saya terprovokasi. Saya bernafsu untuk membaca novel-novel Kawabata. Maka dimulailah perburuan itu. Pertama-tama saya diberi tahu Sungging Raga kalau di Togamas Jogja, novel Kawabata masih tersedia: Snow Country (Gagasmedia) dan Beauty and Sadness (Jalasutra). Harganya didiskon pula. Saya buru-buru SMS Anggit, teman saya dari UGM yang juga aktif di Komunitas Ketik, memintanya untuk ‘mengamankan’ dua novel Kawabata itu. Nanti ketika liburan saya akan main ke Jogja dan mengganti uangnya. Tapi ternyata dia belum punya waktu ke Togamas, kegiatan kampusnya berjubel. Dan sayang sekali, ketika teman dari Komunitas Ketik yang lain, Tiara, menyambangi Togamas Jogja ia sudah tidak mendapati buku itu. Padahal ia juga sudah terprovokasi, kepingin baca novel Kawabata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pertandingan Indonesia lawan Thailand leg pertama saya dari siang hingga sore berputar-putar di Pasar Buku Murah Blok M Square bersama Romzul (LIPIA, Komunitas Ketik) dan Syafaah. Berharap mendapat buku bagus dan miring harganya. Saya dapat buku Jantung Lebah Ratu (kumsi Nirwan Dewanto) dan  Klop (kumcer Putu Wijaya). Dua buku itu saya beli dengan harga Rp 30.000. Romzul dapat Bidadari yang Mengembara-nya AS Laksana. Sekitar pukul 17.00 saya hendak keluar dari Blok M Square menuju Senayan, menyaksikan pertandingan pertandingan Indonesia vs Thailand. Sebelum meninggalkan Blok M Square saya tertarik dengan satu kios buku yang dijaga seorang ibu. Seperti ada kekuatan aneh yang menuntun saya ke kios buku itu. Saya melihat rak-rak buku dari kayu yang ditata berputar mengitari kios, lekat di tembok, menyisakan ruang yang tak terlalu luas di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kios itu saya seperti menemu surga kecil. Girang sekali rasanya melihat novel-novel klasik masih bisa dijumpai di sana seperti: Burung-Burung Manyar, Para Priyayi, Tetralogi Pulau Buru Pram yang menurut penjualnya adalah cetakan pertama terbitan Hasta Mitra (harganya Rp 1.500.000!), ada juga Tertralogi Pram yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris harganya Rp 300.000. Tanpa sengaja, tanpa diduga, mata saya bersitatap dengan novel bertuliskan YASUNARI KAWABATA warna putih (tampaknya desainer menggunakan font Arial Black untuk tulisan nama penulis ini). Adapun judul buku lebih kecil dan agak tersamar berwarna oranye. Itulah novel Beauty and Sadness yang saya idam-idamkan selama ini. Akhirnya saya mendapatkannya. Tertulis di buku itu harga Rp 35.000. Saya menawarnya. Kata penjual, 30.000 sudah tidak bisa kurang. Saya tawar lagi 25.000. Ibu penjual tidak mengizinkan. Lantas saya (pura-pura) pergi seolah ingin membeli di tempat lain. Sekitar lima langkah saya meninggalkan kios itu, ibu penjual segera mengejar saya. Ia melepas novel itu dengan harga 25.000 (adegan ini sebenarnya cara klasik dalam tawar menawar barang di pasar). Saya puas sekali waktu itu. Seperti mendapat harta karun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita berlanjut. Ketika berkunjung ke Gramedia Bintaro dengan Syafaah saya melihat novel Snow Country di rak buku yang didominasi novel terbitan Gagasmedia. Harganya 30.000. Saya gembira mendapati novel itu di sana. Tapi tidak segembira saat berburu di Blok M Square (saya juga memperoleh kegembiraan yang hampir sama ketika mendapatkan buku Pers di Indonesia di blok M Square). Saya sedang merencanakan untuk membeli langsung novel itu di kantor Gagasmedia di Ciganjur, sekalian saya mau membeli novel A Cat In My Eyes dan Curhat Setan karya Fahd Djibran.  &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Baiklah saya ceritakan sedikit siapa Kawabata. Profil Kawabata ini saya ambil dari novel Beauty and Sadness.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yasunari Kawabata (1899-1972) adalah peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1968. Ia merupakan salah seorang novelis Jepang paling istimewa. Kawabata terkenal karena sentuhan-sentuhan naturalisme dalam novel-novelnya yang diadaptasi dari para pengarang terkemuka Perancis. Teknik itu menghasilkan nuansa sensual yang disebut-sebut sebagai impresionisme ala Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lahir di Osaka pada 1899. Sewaktu masih kanak-kanak, ia bercita-cita menjadi seorang pelukis. Minatnya pada seni lukis itu tercermin dalam karya-karya sastranya kelak. Namun, ia juga berminat pada sastra. Saat masih duduk di bangku SMU, dia berhasil menerbitkan buku pertamanya. Sejak itu ia`memutuskan untuk menjadi seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawabata yang yatim piatu sejak usia muda lulus dari Universitas Kerajaan Tokyo pada 1924. Karyanya yang berjudul Penari Izu pertama kali terbit tahun 1925. Dan dipublikasikan oleh majalah terkemuka internasional The Atlantic Monthly tahun 1955 sebagai The Izu Dancer.  Buku itu melukiskan erotisme masa remaja nan apik dan sejak itu Kawabata lebih banyak menggali tema-tema percintaan secara lebih luas. Tiga di antara karya utamnya telah diterbitkan di Amerika Serikat, yakni Snow Country (1956) Thousand Cranes (1959) dan The Sound of the Mountain (1970). The Master of Go (1972) merupakan sebuah elegi simbolis yang mengisahkan kekalahan pencatur tradisional Jepang bergelar Grand Master oleh seorang penantang muda yang berpikiran maju dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawabata ditemukan tewas bunuh diri pada suatu malam di bulan April  tahun 1972. Ia tidak meninggalkan pesan terakhir dan tak pernah ada penjelasan memuaskan mengenai penyebab tindakan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah selintas tentang Kawabata. Lalu, seperti apa novel Beauty and Sadness? Tidak tahu bagaimana, rasanya nama-nama tokoh novel seperti masih hidup di pikiran kita: Oki, Otoko, Keiko, Taichiro, Fumiko. Kawabata begitu intens dan fokus menggeluti dunia batin mereka. Kebersihan bahasa Kawabata juga masih membekas. Ia penulis yang pandai menninggalkan kesan. Coba simak judul-judul bab pada novel Beauty and Sadness berikut ini: Lonceng Kuil, Musim Semi yang Terlalu Dini, Pesta Bulan Purnama, Langit yang Gerimis, Taman Batu, Teratai dalam Nyala Api, Jalinan Rambut Hitam, Musim Panas yang Hilang, Danau Kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya sedikit penasaran dengan novel tersebut saya kutipkan sinopsis di cover belakang:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dibalik permukaan yang setenang kolam di sebuah kuil, Keindahan dan Kesedihan adalah sebuah ekplorasi erotis yang intens akan akibat perselingkuhan seorang lelaki yang sudah menikah dengan seorang gadis remaja. Cerita tersebut dibuka, dua puluh empat tahun setelah perselingkuhan tersebut berakhir dengan reuni sentimentildari Oki Toshio, seorang novelis sukses yang benar-benar bersembunyi di balik sastra dan kemapanan sosial, dengan kekasih gelapnya di masa lalu, Otoko, yang masih cantik dan kini menjadi seorang pelukis. Kegetiran yang tak kunjung hilang dari hubungan gelap mereka, yang telah menghantui mereka selama ini, meracuni segala yang di sekeliling mereka yang menarik masuk anak didik Otoko, Keiko, menjadi agen dari suatu drama balas dendam yang aneh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah, silakan baca lebih lanjut novel Kawabata tersebut. Juga tentunya novel-novel Kawabata yang lain layak untuk diapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur mampu berkenalan dengan penulis-penulis besar dunia. Ini berkat perkawanan. Saya tak akan mengenal Tariq Ali dan Orhan Pamuk jika tidak berkawan dan diprovokasi Bandung Mawardi. Begitu juga peran Sungging Raga cukup besar dalam mengenalkan saya dengan Kawabata. Belakangan ini teman-teman Tongkrongan Sastra Senjakala ikut memrovokasi saya membaca novel Luis Sepulveda: Orang Tua yang Membaca Cerita Cinta. Untuk ini saya berterima kasih kepada Maharini dan Asep Sofyan, kawan akrab saya di Tongkrongan Sastra Senjakala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mari berkomunitas dan bertukar bahan bacaan biar makin banyak bahan bakar kita dalam menulis. Tabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-9019291740431182754?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/9019291740431182754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=9019291740431182754' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/9019291740431182754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/9019291740431182754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2011/01/perkawanan-kawabata-dan-novel_17.html' title='Perkawanan, Kawabata dan Novel Terjemahan'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5888599011144417485</id><published>2010-11-16T22:05:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T22:07:53.932-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi-Puisi November</title><content type='html'>5 puisi berikut ini dimuat di Harian Joglosemar, Minggu, 14 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERCAKAPAN YANG SEBENTAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada percakapan yang sebentar&lt;br /&gt;di kedai es kobar&lt;br /&gt;kami menggunjingkan masa lalu&lt;br /&gt;kami  yang dihempas waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu berkejaran sengit&lt;br /&gt;jam empat aku pamit&lt;br /&gt;di stasiun kereta&lt;br /&gt;aku menunggu senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senja di purwosari&lt;br /&gt;aku mereka-reka puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2010]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KETIKA KERETA LAJU DI DEPANKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kereta laju di depanku&lt;br /&gt;aku memejam mata&lt;br /&gt;kudengar serupa suara hujan&lt;br /&gt;disusupi degup jantung&lt;br /&gt;bersambung-sambung&lt;br /&gt;dan makin berkelindan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November, 2010&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;T&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ENTANG TETANGGAKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia ibu muda yang kerap&lt;br /&gt;menghardik anaknya&lt;br /&gt;yang masih sekolah TK&lt;br /&gt;dengan umpatan: anjing!&lt;br /&gt;atau kadang-kadang: babi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si anak cuma tersenyum tipis&lt;br /&gt;sambil menahan tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2010]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;ORANG-ORANG BERWAJAH LELAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menyentuh subuh&lt;br /&gt;di stasiun penghabisan&lt;br /&gt;gerbong-gerbong ditinggalkan&lt;br /&gt;dengan langkah yang lusuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diam-diam aku menyapa kalian&lt;br /&gt;orang-orang berwajah lelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu gedung masih menyala&lt;br /&gt;aku dalam goyangan kopaja&lt;br /&gt;wajahku di bingkai jendela&lt;br /&gt;angin pagi menerpa-menyapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutengok sekitar&lt;br /&gt;nyaris tanpa denyar&lt;br /&gt;hanya gelisah&lt;br /&gt;dari wajah-wajah yang lelah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TERBARING DI SAMPING RAK BUKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terbaring di samping rak buku&lt;br /&gt;ketika demam mendekam di tubuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buku-buku seperti ingin menunjukkan&lt;br /&gt;bahwa mereka lah sekarib-karibnya kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberikan dekapan paling hangat&lt;br /&gt;dan kecupan yang getarnya terus melekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba aku berpikir tentang dekapan lain&lt;br /&gt;membayangkan kecupan yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terbaring di samping rak buku&lt;br /&gt;melintas di dadaku kereta waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2010]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5888599011144417485?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5888599011144417485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5888599011144417485' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5888599011144417485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5888599011144417485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/11/puisi-puisi-november.html' title='Puisi-Puisi November'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6759791384293788802</id><published>2010-10-29T22:06:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T06:40:45.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Siklus Nestapa (dimuat di 'Jagat Telantar', Antologi Cerpen Joglo 9, TBJT Solo)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sidang pembaca, berikut ini adalah kisah mengenai lelaki ilalang yang bimbang lagi malang dan perempuan cemara yang sebenarnya lebih layak disebut perempuan anggrek bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Wahai! Alangkah puitis raut wajah perempuan itu. Ia adalah sebenar-benar puisi,” kata hatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ah, bukan. Kau salah. Ia bukan puisi,” sanggah hatinya yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lantas apa?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedari tadi lelaki ilalang memandangi perempuan cemara kasir toko buku. Akan tetapi si perempuan tiada menyadarinya. Lelaki ilalang telah memperhitungkan jarak memang. Dengan sangat hati-hati pula mengamati. Di sebalik rak-rak buku yang cukup tinggi badannya terhalang buku-buku. Tatap mata dan lakunya bak seorang detektif profesional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki ilalang sadar kalau sebenarnya ia tidak berkonsentrasi dengan buku yang sejak lama ada di tangannya. Ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Berasal dari perempuan cemara. Ia berkeras menemukan apa yang membuat perhatiannya tersita. Masih gagal. Tak kunjung ia mengerti. Apa menariknya perempuan ini? Sehingga aku merasa benar-benar tak bisa mengalihkan pandang, bisik hatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kali ini ia tutup buku di tangannya. Lekat ia memandang perempuan yang rambutnya hitam lurus sebahu dengan poni yang aduhai itu. Aku tak bisa lepas dari sosok itu, namun aku tak tahu apa yang menjeratku, ia kian penasaran. Keningnya mengernyit. Matanya menyipit. Setelah lama memandang ia tersadar. Mata! Ya, mata perempuan cemara itu. Oh, matanya serupa telaga. Jernih dan dalam. Menatapnya, siapa saja akan karam.&lt;span class="fullpost"&gt;Lelaki ilalang beringsut dari tempatnya berdiri. Sembunyi dibalik buku-buku sains. Dari sudut ini ia bisa mendapatkan lanskap yang tepat. Utuh. Ia bisa melihat senyum maha mawar perempuan cemara. Terpukau ia dengan kecekatannya manakala mengemas buku. Makin tersihir ia menyaksikan betapa ramahnya perempuan cemara ketika berucap terima kasih kepada seorang pembeli seraya mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan, mata yang jernih lagi dalam itu. Oh! Sebenarnya, di sanalah ia terpenjara sejak tadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun dalam hatinya, ada pertarungan yang sedang menghebat. Kubu pertama terus menyemangati lelaki ilalang untuk berkenalan dengan si perempuan sembari membayar novel yang hendak dibelinya. Sedang kubu yang lain menyarankan untuk bertahan sebentar, menunggu toko buku itu tutup, lalu baru menemui perempuan cemara ketika pekerjaannya benar-benar tuntas. Hmm, lelaki ilalang bimbang betul. Memang tidak nyaman berkenalan dengan kasir toko buku sementara ia tengah bekerja. Akan tetapi lelaki ilalang juga tidak siap jika ternyata sepulang kerja ada laki-laki lain yang menjemput si perempuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki ilalang memilih untuk keluar toko buku dulu. Menurutnya udara yang memadat lantaran kecamuk di hatinya membuat otak beku. Ia ingin sedikit santai. Toh toko buku baru akan tutup satu jam lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di seberang toko buku kecil itu ada sebuah kedai kopi tua. Lelaki ilalang memasukinya. Di luar gerimis mulai membasuh jalanan yang penuh debu. Daun-daun bungur gugur diterpa angin yang bercampur uap air.  Lelaki ilalang ditenangkan dua hirup kopi luwak. Otaknya telah kembali segar kini. Ia mengambil kertas dan pena dari tas ranselnya. Ia mulai menuliskan sesuatu. Ia tersenyum. Puas. Diseruput lagi kopi luwak yang tinggal sedikit. Tandas sudah. Lelaki ilalang membaca sekali lagi tulisan yang ada di kertas. Senyumnya mengambang lebih lebar kini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika di luar gerimis memilih berhenti merinai, lelaki ilalang telah merasa jatuh jatuh cinta untuk kesekian kali! Ini kali dengan perempuan cemara itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia malu dengan umur sebenarnya. Di usianya yang kepala tiga ia merasa menjadi remaja belasan tahun yang baru merasakan cinta untuk kali pertama. Saat dengan agak gila menuliskan nama orang yang ia sayangi di sembarang tempat. Di buku pelajaran, di bangku sekolah, di dinding kelas dan tentu di sudut hatinya paling teduh. Ha-ha-ha, duhai, masa lalu! Lelaki ilalang menghela nafas. Ia memutuskan untuk tidak surut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu pilihan telah dijatuhkan. Lelaki ilalang memilih menunggu toko buku tutup. Ketika perempuan cemara keluar, aku akan menghampirinya, begitu pikirnya. Dinding kaca yang meliputi bagian depan kedai kopi tua ini membebaskan pandangnya. Tak terkecuali ke toko buku yang membuat jantungnya berdegup kencang malam ini. Ia terus mengawasi toko buku. Serupa intel hendak menyergap teroris.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan cemara keluar dari toko tepat saat lampu toko dimatikan. Lelaki ilalang hendak menyebrang, tapi, oh, siapa itu lelaki dengan skuter matic menghampiri perempuan cemara? Setelah turun dari motor dan membuka helm pipi kirinya beradu dengan pipi kiri si perempuan. Keduanya lantas tertawa bersama. Segera setelah itu perempuan cemara duduk di boncengan. Kalaulah lelaki itu adalah kakak atau adik perempuan cemara, akankah ciuman di pipi akan semesra itu? Juga apakah serapat itu tangan perempuan cemara melilit pinggang si lelaki saat di bonceng?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki ilalang lunglai. Kertas yang akan diberikannya kepada perempuan cemara lepas dari tanganya. Jatuh di trotoar. Kelak, ketika seorang gelandangan menemukan kertas itu ia akan mendapati dua bait puisi di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan kata yang tak sempat diucapkan&lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada[1]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di bawah puisi tertulis: aku telah jatuh cinta padamu, pada pandangan pertama, kuharap ada celah di hatimu tempat aku bisa masuk dan bermukim di sana.&lt;br /&gt;Gelandangan mencibir apa yang tertulis di kertas itu. Picisan betul, katanya. Andaikata lelaki ilalang melihat cibiran gelandangan itu niscaya ia akan sakit hati. Sakit bukan main.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Langit malam bersih. Hujan yang tadi turun telah reda sepenuhnya. Genangan air memantulkan kerlip bintang.&lt;br /&gt;Di kamar kosnya yang sempit dan rada pengap, lelaki ilalang meringkuk di depan rak buku. Di tangan kanannya rokok kesepuluh yang ia habiskan tanpa jeda. Di tangan kirinya bir yang membuat tubuhnya hangat tinggal separuh. Ia meraih kertas sekenanya dan pena. Satu puisi ditulisnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;kubiarkan cahaya bintang memilikimu&lt;br /&gt;kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya&lt;br /&gt;gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu –&lt;br /&gt;entah kapan kau bisa kutangkap[2]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepanjang malam ia membaca puisi itu tak sudah-sudah. Ia menceracau seperti orang gila di perempatan jalan. Orang gila yang telah menjelajah kota demi kota. Lantaran sering digaruk aparat dan ’dibuang’ dari kota satu ke kota yang lain. Ya, lelaki ilalang yang bimbang telah tergores hatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia lalu berjalan keluar. Meninggalkan kamar kosnya yang apek. Menyusuri trotoar lengang. Beradu pandang dengan lampu-lampu merkuri. Menyimak lolong anjing dini hari. Menuju pusat sunyi. Di sana hatinya hendak disemayamkan.  &lt;br /&gt;Di taman kota ia menghentikan langkah. Matanya menyapu deret pepohonan yang hanya menjadi bayang-bayang hitam. Di samping taman dilihatnya restoran. Ah, lelaki ilalang membenci restoran. Restoran hanya akan menguak luka lamanya. Dari awal sesungguhnya ia memang tak suka restoran. Harga makanan yang terlalu mahal dan sejumlah hal formil yang harus dipatuhi membuatnya tak nyaman. Ia lebih suka makan di kedai-kedai kaki lima atau warung-warung kecil. Lebih merakyat dan bebas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan di restoranlah, cinta yang dibangun lelaki ilalang selama lima tahun karam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Kamu masih menyembunyikan satu hal dariku.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Benarkah? Bukankah setiap inchiku telah kau hafal?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Jangan merajuk! Sebaiknya lekas ceritakan apa yang belum kau sampaikan padaku! Terkait dengan keluargamu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Hmm, aku memang berasal dari keluarga petani miskin. Apa itu yang merisaukanmu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Aku baru tahu kalau kakek dan ayahmu pernah dipenjara karena dulu aktif di partai terlarang. Partai yang anti tuhan dan gemar membunuh! Kau tak pernah cerita itu padaku.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Apakah itu penting?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Sangat penting!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Baiklah, sebenarnya aku tak suka membawa-bawa keturunan dalam berhubungan denganmu. Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Tak usah bawa ayah atau kakekku. Dan asal kau tahu, setiap orang yang dipenjara pada tahun itu belum tentu bajingan. Bisa jadi mereka terseret gelombang politik yang begitu kejinya kala itu. Sungguh, aku tersinggung dengan kata-katamu. Kau telah berubah kini.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Ya, semua telah berubah. Juga dengan hubungan kita.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Maksudnya?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Anggap saja kita tak pernah bertemu. Kita sudahi hubungan ini!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Harus berakhir seperti inikah? Hanya lantaran kakek dan ayahku pernah dipenjara? Begitu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Memang kenyataannya seperti itu. Maaf, waktuku tak banyak, aku harus pergi. Semua biar aku yang bayar. Selamat malam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki ilalang hanya terbengong-bengong mendapati kenyataan seperti itu. Giginya gemeretak menahan geram. Tangannya mengejang, mengepal erat. Lalu ia keluar restoran dengan gontai. Malam itu, tujuh botol bir dan tiga bungkus rokok menemaninya hingga pagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan ternyata perempuan cemara itu amatlah mirip dengan mantan kekasihnya. Meski dikhianti sedemikian rupa, lelaki ilalang akui bahwa ia tak bisa lepas dari bayang-bayang kekasihnya dulu. Sulit!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hingga sampailah cerita ini pada suatu senja di Kedai Buku, manakala lelaki ilalang sedang berdiri di sebuah panggung, hendak membaca puisi. Ia diundang komunitas sastra yang berulang tahun hari itu untuk membaca puisi-puisinya yang dianggap menghadirkan pembaruan di jagad perpuisian tanah air.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tarikan nafas  lelaki ilalang lirih terdengar saat ia mulai membacakan puisinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tak ada yang lebih tabah&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dirahasiakannya rintik rindunya&lt;br /&gt;kepada pohon berbunga itu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tak ada yang lebih bijak&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dihapuskannya jejak-jejak kakinya&lt;br /&gt;yang ragu-ragu di jalan itu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tak ada yang lebih arif&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dibiarkannya yang tak terucapkan&lt;br /&gt;diserap akar pohon bunga itu[3]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tepuk tangan riuh rendah mengantar pembacaan puisi berikutnya. Namun lelaki ilalang merasakan kehadiran seseorang di antara penonton. Seseorang yang sudah tak asing. Mata elangnya menyapu barisan penonton. Oh, tidak! Perempuan itu ada di sana. Dan pembacaan puisi kedua tidak sebaik puisi pertama. Ia harus jujur, ada yang membuatnya tak tenang. Gugup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Di belakang panggung lelaki ilalang menyulut sebatang rokok. Menenangkan hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Benarkah tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni?” Suara halus yang tiba-tiba hadir di samping lelaki ilalang sontak mengejutkannya. Alamak! Perempuan itu ada di sampingnya kini. Perempuan cemara. Dalam balutan terusan batik ia tampak begitu sederhana namun mewah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki ilalang terpaku dalam pukau. Dia tak bisa berkata apa-apa, hatinya kacau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Aku rasa kau lebih tabah dari hujan bulan juni. Aku tahu selama beberapa hari ini kau megawasiku ketika bekerja. He-he-he. Oya, aku suka caramu membaca puisi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berkata begitu si perempuan dengan tersenyum wangi. Makin kikuklah lelaki ilalang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertemuan itu layaknya sebuah pertemuan dengan teman kecilnya, yang sekian tahun dipisahkan jarak. Teman kecil yang jelita, yang telah menyita hatinya, yang dirindukannya diam-diam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Percakapan kemudian beralih ke cafe samping Kedai Buku. Di bawah temaram langit senja, hati lelaki ilalang melonjak saat dengan sungguh si perempuan mengaku telah menyudahi hubungan dengan kekasihnya beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;”Ah, betapa malangnya lelaki yang tak bisa mendapatkanmu itu,” ujar lelaki ilalang. Dalam hatinya terbersit harap untuk bisa masuk di kehidupan si perempuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Sudahlah, aku sedang mencoba untuk melupakannya. Oya, kau tahu tidak, puisimu tadi mengingatkanku dengan ayah.”&lt;br /&gt;”Betulkah? Memang di mana ayahmu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Em...ayah sudah meninggal ketika aku masih dalam kandungan. Gugur dalam operasi menumpas partai pemberontak di ibu kota,” perempuan cemara menarik nafas panjang, ”kejamnya partai itu tiada tanding. Mereka tak segan menculik lalu membunuh lawan politik dan orang-orang yang merintangi gerakan mereka. Tak perlu kusebut, kau pasti tahu partai yang kumaksud.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Ya. Aku tahu. Tapi apakah kau masih membenci orang-orang yang pernah ikut partai itu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Begitulah. Semoga kebencianku tidak abadi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Layaknya jarum pentul menusuk perlahan ujung kelingking, lelaki ilalang merasa kepedihan datang menyelinap. Sekonyong-konyong seribu sunyi menyergap. Sepi, senyap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ciputat, Juni 2010&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[1] Sajak Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;[2] Sajak Nokturno, Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;[3] Sajak Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6759791384293788802?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6759791384293788802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6759791384293788802' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6759791384293788802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6759791384293788802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/10/siklus-nestapa.html' title='Siklus Nestapa (dimuat di &apos;Jagat Telantar&apos;, Antologi Cerpen Joglo 9, TBJT Solo)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8298905078583411773</id><published>2010-10-29T21:59:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T06:42:36.560-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Makam (dimuat Solopos, Minggu, 17 Oktober 2010)</title><content type='html'>Pagi ketika Handoko dan Sudibyo baru saja datang ke water park kebanggaannya seorang satpam tergopoh menghampirinya. Wajahnya gugup dan takut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pak, ada dua orang pengunjung yang tiba-tiba kesurupan di kamar ganti.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Handoko bergeming. Sudibyo buru-buru menelepon orang pintar kenalannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keesokan paginya seorang satpam kembali memberikan laporan tak mengenakkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pak Handoko, sebelumnya maaf, sebenarnya saya ini tidak pernah percaya dengan yang namanya setan atau demit. Tapi saya semalam benar-benar melihat seorang perempuan mirip orang gila mondar-mandir di pinggir kolam renang. Ketika saya dekati tiba-tiba ia menghilang.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Handoko mulai gusar. Ada yang goyah dari hatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jangan!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa? Di situ kan tempatnya strategis, akses menuju ke sana juga mudah, lebih dari itu, susananya juga masih asri. Cocok lah kalau kita bangun water park.”&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;“Iya, tapi…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudahlah, di antara semua pemilik saham hanya kau yang masih meragukan pemilihan tempat itu. Kita dulu memang setuju lokasinya di belakang terminal, namun suara bus-bus terlalu bising untuk pengunjung.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku juga memang tidak setuju jika di belakang terminal. Tapi tempat yang baru ini…Ah, kau memang tak pernah memahami hal-hal ghaib!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua orang yang berdebat sengit terdiam sejenak. Sama-sama menyalakan rokok. Sudibyo bersikukuh meminta untuk tidak membangun water park di lokasi yang baru saja disepakati. Rumahnya tak jauh dari lokasi pembangunan water park. Ia tahu semua cerita tentang daerah itu. Di lain pihak Handoko, pengusaha kaya, pemilik saham terbesar, acuh tak acuh dengan semua cerita yang berkembang di masyarakat perihal lokasi itu. Lebih-lebih hanya cerita mistis yang menurutnya sangat tidak masuk akal dan murahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Begini saja, Dibyo, sekarang kau lunasi saja dulu kekurangan uang yang belum kau setor. Nah, masalah cerita-cerita tak jelas itu tak usah lagi kau pikirkan. Ini zaman modern, Bung. Semua serba rasional, ilmiah! Toh warga sekitar lokasi pembangunan water park tak ada yang komplain. Mereka justru senang ada lapangan kerja baru untuk mereka.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Baiklah, aku turuti sajalah apa katamu. Semoga apa yang kau katakan itu benar. Semua serba rasional. Tapi kalau di kemudian hari ada apa-apa aku tak turut campur.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tenang saja, Bung. Percaya saja sama aku. Proyek seperti ini bukan kali pertama buatku.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudibyo menghela nafas panjang lalu menghembuskannya berat. Handoko senyum-senyum saja. Ia kemudian mohon pamit. Di pintu depan ia masih coba meyakinkan Sudibyo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kecamuk dalam hati Sudibyo belum selesai. Ya, barangkali benar kata Handoko, saat ini semua serba rasional. Cerita-cerita mistis yang belum jelas kebenarannya memang tak sepantasnya dipercayai. Lalu bagaimana dengan cerita warga yang kerap melihat sosok menyeramkan di pemakaman dekat lokasi yang akan dibangun water park? Sosok perempuan muda yang sebenarnya masih tampak gurat kecantikannya namun bajunya compang-camping persis orang gila dan jalannya terseok-seok. Sosok Sumini edan!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nak, nanti malam kamu mau nonton ketoprak sama bapak tidak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dimana, Pak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Di balai desa, Nak. Pak Kades nanggap ketoprak karena panen kali ini bagus.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pulangnya malam banget ya, Pak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tidak terlalu malam sebenarnya. Tapi kamu nanti jangan takut ya, soalnya lakon ketoprak malam ini Sumini edan.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Wah, siapa itu Sumini edan, Pak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudah. Tonton saja ketopraknya. Nanti kamu bakal tahu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, Sudibyo kecil menyimpan penasaran dalam benaknya. Siapa itu Sumini edan? Apakah ia orang ternama sehingga bisa menjadi lakon ketoprak? Mengapa pula ada kata edan tersemat di belakang namanya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di balai desa orang sudah sama berkumpul. Tua muda, laki-laki perempuan, semua tumpah ruah di sana. Bagi warga pinggiran macam keluarga Sudibyo, pentas ketoprak sudah sangat menghibur sekali rasanya. Apalagi waktu itu belum banyak yang punya televisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sepanjang pentas mulut Sudibyo menganga. Terpukau oleh penampilan pemain ketoprak yang piawai. Kostum mereka juga menarik hati. Yang paling mengesankan tentu saja jalinan cerita Sumini edan. Kini tahulah ia siapa Sumini edan itu sebenarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam ketoprak itu diceritakan, dahulu kala tersebutlah seorang saudagar kaya bernama Broto, bujangan yang selain gagah perwira juga tampan rupawan. Gadis-gadis rela menunggu berjam-jam di beranda rumah mereka demi melihat Broto melintas dengan kudanya yang kekar. Jika telah melihat Broto melintas, wajah mereka mendadak berbunga-bunga dan matanya berbinar-binar. Selanjutnya Broto akan melintas di bunga tidur mereka yang indah. Kokok ayam jago di subuh hari belum tentu bisa membangunkan tidur mereka yang berhias mimpi berkuda bersama Broto.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di antara sekian gadis hanya Sumini yang menunjukkan ketertarikannya kepada Broto secara nyata. Ia adalah anak saudagar karya, Sastro Kusumo. Dengan kekayaan keluarganya ia tentu sebanding jika bersanding dengan Broto.&lt;br /&gt;Namun nahas. Bupati Broto sudah melabuhkan hatinya pada Cempaka. Pada dasarnya tidak jadi soal jika Cempaka adalah gadis lain yang lebih cantik dan lebih kaya daripada Sumini. Masalahnya Cempaka adalah adik sepupunya sendiri yang tidak berpunya lagi tidak rupawan. Singkat cerita, di hari yang dinanti, Broto benar-benar melamar Cempaka. Berkobarlah bara yang lama disimpan dalam hati Sumini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumini tertekan hebat menghadapi kenyataan ini. Ayahnya tak bisa berbuat apa-apa. Ia menyadari bahwa kemarahan hanya menghasilkan kesia-siaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumini merasa menjadi perempuan buruk rupa yang tak layak dilirik lelaki manapun. Hari-harinya dihabiskan dengan mengurung diri dalam kamar. Kian hari wajahnya kian kusut, cermin dari hatinya yang kusut pula. Lama kelamaan ia mulai berbicara dengan dirinya sendiri. Sesekali tersenyum sendiri tanpa ada sebab. Ayahnya khawatir melihat perkembangan Sumini dari hari ke hari. Ia tak mau mengatakan bahwa anaknya gila. Namun kondisi Sumini telah menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudibyo menahan nafas sampai pada adegan ketika Sumini mengamuk di jalan-jalan desa sehingga menakuti anak-anak kecil yang sedang bermain. Wajah Sudibyo tak bisa menyembunyikan kengerian melihat akting pemeran Sumini yang total sehingga tampak menyeramkan. Matanya melotot, rambutnya gimbal dan compang-camping pakaiannya. Lakon Sumini edan disudahi dengan meninggalnya Sumini di pinggir kali tak jauh dari rumahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penonton bertepuk tangan riuh rendah meski menyimpan rasa bergidik di hatinya. Lantas bubar satu persatu.&lt;br /&gt;Sudibyo menyimpan kenangan masa kecil menonton ketoprak dengan lakon Sumini edan hingga ia dewasa. Ketika ia remaja Sudibyo tahu di mana letak makam Sumini edan. Ya, di tepat di samping lokasi pembangunan water park. Kini ia sudah kehabisan akal untuk meyakinkan Handoko supaya tidak sembrono membangun water park di lokasi yang terkenal angker itu. Semua orang tahu, dulu pernah berdiri pabrik kembang api di lokasi pembangunan water park, akan tetapi baru sebulan berdiri pabrik itu terbakar hebat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Resiko terbakar pabrik kembang api memang sangat besar. Hal itu wajar terjadi.” Begitu jawab Handoko menyikapi kebakaran pabrik kembang api. Tapi yang pasti pihak kepolisian belum bisa menemukan penyebab kebakaran di pabrik kembang api itu. Seperti sebuah musibah yang ganjil dan janggal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Layaknya hujan yang tak bisa dicegah kecuali oleh pawang yang betul-betul sakti, Handoko terus melaju dengan proyek pembangunan water park. Ini akan menjadi water park  pertama dan terbesar di kota ini, ujarnya di setiap kesempatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sehari setelah launching water park, Handoko mengundang Sudibyo makam malam di rumahnya. Syukuran. Tak seperti biasa Sudibyo datang lebih awal, dengan seorang perempuan pula.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tumben kau datang lebih awal. Ngomong-ngomong siapa perempuan ini? Calon istrimu kah? Ah, kau tak pernah cerita padaku.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudibyo hanya tersenyum tipis. Dan makan malam berjalan relatif tanpa obrolan. Hingga tiba-tiba perempuan yang bersamasa Sudibyo angkat bicara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sumini sudah berkalang tanah, masih juga kau usik makamnya. Jangan gegabah dan serakah, Handoko.” Perempuan itu berwajah tenang. Handoko sedikit tercengang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ah, kita tidak menggusur makam Sumini, hanya menggesernya sedikit. Kita sama tahu kalau makamnya tidak digeser tidak ada lahan parkir buat pengunjung. He-he-he.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jam berdentang sembilan kali. Sudibyo pulang bersama perempuannya. Saat menutup kembali ke meja makan Handoko menyadari dompet Sudibyo tertinggal. Buru-buru ia meraih ponsel. Menghubungi Sudibyo, berharap belum pergi jauh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dompet?! Dompet apa? Sedari tadi aku masih di rumah. Mencari-cari kunci mobilku. Aku lupa menaruhnya. Baru saja aku mau meneleponmu karena terlambat,” jawab Sudibyo di seberang sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ponsel Handoko jatuh ke lantai. Bulu kuduknya meremang. Tiba-tiba tercium wangi bunga melati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ponorogo,  Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;c&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8298905078583411773?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8298905078583411773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8298905078583411773' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8298905078583411773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8298905078583411773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/10/makam.html' title='Makam (dimuat Solopos, Minggu, 17 Oktober 2010)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-7664791410760920629</id><published>2010-10-10T00:52:00.000-07:00</published><updated>2010-10-10T00:56:15.727-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Ocehan Sunardian</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sahabat, malam ini, aku tidak ingin membacakan pusi romantis, sajak-sajak melankolis, liris, yang manis-manis. Di hadapan kalian, yang jiwanya muda dan terus menyala, aku mendadak teringat ocehan seorang kawan. Namanya Sunardian. Begini bunyinya:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda Indonesia, jangan percayai para elite politik, birokrat, budayawan, tokoh publik, jurnalis, reporter televise, host dan presenter infotainment, demonstran, pengacara, LSM, politikus busuk dan tidak busuk, ketua RT-RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, wakil rakyat, para mantan presiden, tentara, polisi, MUI, kyai, pastor, pendeta, guru, penyair, cerpenis, novelis, esais, redaktur, penulis skenario sinetron, artis, GAM, OPM, Komnas HAM, KPK, Jaksa Agung, MA, para menteri kabinet, koran, televisi, tabloid gossip, lembaga polling, creative writer, ghost writer, pembuat naskah pidato, pengamat politik, dosen, parpol, KPI, KPU, psikolog, penyanyi, artis sinetron, ragnarok, google, yahoo, peneliti, professor, doctor dalam dan luar negeri, indonesianis, kolumnis, komunis, sosialis, kapitalis, pancasilais, modernis, post-modernis, cultural studies, liturgis, oportunis, banker, ICW, caleg, capres, mantan jendral, purnawirawan, pahlawan, masa lalu, masa kini dan sebagainya. Kalian sendiri bisa! Pahlawan kita, adalah yang tak bernama. Ialah diri kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ah, barangkali ocehan itu tak cukup membakar kalian, baiklah aku bacakan ocehan Sunardian yang lain. Yang mungkin lebih provokatif, kontemplatif, kreatif atau apalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda Indonesia, stop ketergantungan, stop kelinglungan. Bangsa seperti itu, tidak akan mampu keluar dari persoalannya. Mereka berputar dan menunggu waktu kepunahan. Mereka terjebak dalam cara berpikir dan sikap-sikap eksploitatif. Tidak pernah tumbuh semangat untuk eksplorasi. Mereka berada dalam arus dan semangat yang korup. Perilaku mereka korup. Intelektualitas mereka korup. Etika mereka korup. Religiusitas mereka korup. Kesenian mereka korup. Manusia seperti itu, tidak layak untuk ditiru dan dan tak pantas hidup. Kita membutuhkan deformasi, bukan reformasi. Bentuk dunia dan pandangan baru. Bangun kelompok-kelompok studi. Secara mandiri. Berlatih diskusi. Berlatih berdebat, tapi juga sekaligus berlatih etika. Berlatih berbeda pendapat. Berlatih memutuskan prioritas. Berlatih bekerja dan mandiri. Kalian sendiri bisa! Pahlawan kita, adalah yang tak bernama. Ialah diri kita.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kawan, Sunardian memang sinting, miring. Dalam kepalanya ada sesuatu yang mendesak-desak, seperti mau meldak. Jika kau suruh dia diam, dia justru semakin faseh ngoceh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda Indonesia, bangun duniamu sendiri. Kalian bisa bersama-sama bergandengan tangan. Jangan tiru orang tua yang selalu bertengkar. Tidak perlu lagi menonton tayangan mistik, sinetron, infotainment, cerita horror, music dangdut. Jangan baca koran fitnah, tabloid gossip, majalah kaum modernis. Tak perlu lagi belanja ke mall, supermall, megamall, minimarket, supermarket, hypermarket. Sekarang saatnya untuk belajar. Ambil buku-buku standar. Baca. Dapatkan substansinya. Kembangkan. Praktikkan untuk bersama-sama mengubah Indonesia dan tumbuh bersama. Mulai dari diri sendiri. Jangan menuntut orang lain, tuntut diri sendiri. Kalian sendiri bisa! Pahlawan kita, adalah yang tak bernama. Ialah diri kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hmm, apakah kalian mulai bosan dengan ocehan Sunardian, teman? Oke. Baiklah. Ini yang terakhir. Coba tolong kau simak ocehan Sunardian untuk kali penghabisan.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda Indonesia, lihat Indonesia dengan mata jernih hatimu. Dengarkan panggilan zaman dengan telinga nuranimu. Omong kosong dengan orangtua. Omong kosong dengan kaum mapan. Omong kosong dengan para intelektual. Mereka adalah orang-orang yang selalu memandang semua persoalan dari sudut pandangnya sendiri. Ahistoris. Tidak obyektif. Mau menangnya sendiri. Menuduh orang lain bodoh. Tidak mau kompromi. Padahal, dari semuanya itu, bisa jadi mereka hanya bersandiwara. Mereka sedang saling menaikkan posisi tawar. Mereka sedang melakukan kalkulasi politik dan kalkulasi rupiah. Mereka sedang berkompromi untuk tenggang rasa dan bagi-bagi rezeki. Mereka sebenarnya adalah generasi Kurawa, para anak ideologis Soehartoisme. Mereka adalah satu saudara. Satu generasi yang terjebak dalam filsafat pragmatisme, dalam berpolitik, dalam berekonomi, dalam mengurus sistem pendidikan. Mereka adalah suadara kandung, satu bapak ideologi yang terperangkap dalam filsafat formalisme dalam berlogika, berbudaya, beragama. Lepaskan ketergantungan dari orang-orang seperti itu.  Kalian sendiri bisa! Pahlawan kita, adalah yang tak bernama. Ialah diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demikianlah, sahabat. Akhir dari ocehan Sunardian. Kalian tentu telah menandai. Di ujung ocehannya Sunardian selalu berkata: Kalian sendiri bisa! Pahlawan kita, adalah yang tak bernama. Ialah diri kita. Benar. Ia memang sedang mengajak kita untuk tidak mendewakan seseorang, mengkultuskan satu sosok. Sebab pendewaan hanya membuat kita kecil. Sebab pengkultusan hanya menjadikan kita kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bebaskan jiwa kalian. Jelajahi hutan-hutan tak bertuan. Arungi sungai berliku dan luas lautan. Temukan pulau-pulau asing. Mengembaralah di sekujur langit hingga puas berkeliling. Lantas singgahi kota demi kota, kata demi kata. Terus baca pergolakan abad demi abad, catat dalam abjad demi abjad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, kita mengerti apa tugas kita: menjaga tradisi, membangun jati diri, menjadi kaum muda mandiri, dalam bingkai NKRI.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Ocehan ini dibacakan pada halal bi halal pemuda Tangerang Selatan. Syahida Inn, 3 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-7664791410760920629?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/7664791410760920629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=7664791410760920629' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7664791410760920629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7664791410760920629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/10/sahabat-malam-ini-aku-tidak-ingin.html' title='Ocehan Sunardian'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8264498051190899786</id><published>2010-10-05T19:48:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T06:43:40.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Tamu (dimuat d Harian Joglosemar, Minggu, 3 Oktober 2010)</title><content type='html'>Seekor kupu-kupu masuk ke ruang tamu manakala aku sedang membaca koran pagi itu. Sesaat aku menghentikan aktivitas membaca. Kuamati kupu-kupu yang terus berputar tak tentu mengelilingi ruang tamu. Istriku yang datang membawa kopi mengernyitkan dahi. Barangkali bertanya-tanya kenapa aku bengong melihat kupu-kupu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Mas? Kok bengong begitu?” Tanya istriku sembari meletakkan kopi di meja depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lho, Dik. Ada kupu-kupu masuk rumah. Apa akan ada tamu ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa jadi, Mas. Tapi, itu kupu-kupu apa ya? Kok warnanya hitam dan sayapnya lebar sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat pertanyaan istriku terjawab, telepon rumah berdering. Istriku buru-buru beranjak dari duduknya menuju ruang tengah. Sedangkan aku melanjutkan membaca koran.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat istriku berbicara di telepon entah dengan siapa, ia menghampiriku dengan muka gugup sekaligus gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu mau kesini, Mas! 2 jam lagi sampai.” tukasnya. Matanya berbinar tapi sebentar kemudian meredup lantaran gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kok mendadak begitu? Kemarin-kemarin tidak kasih kabar dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ibu dapat undangan sarasehan di kota sebelah, Mas. Undangannya baru dikasih semalam. Sekarang ibu sudah di bandara, sebentar lagi pesawatnya berangkat.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar jika kupu-kupu itu memberi pertanda bahwa ada tamu yang akan datang, gumamku. Ibu mertuaku itu sudah lama tidak menjenguk kami memang. Karena memilih menetap di kampung halamannya di Kalimantan praktis aku bertemu mertua hanya ketika lebaran. Istriku pastilah senang sekali ibunya datang menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kita harus ke pasar, Mas. Persediaan kita menipis. Aku juga ingin memasak ayam kecap dan oseng-oseng sawi kesuakaan ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kita tidak jadi olahraga di stadion dong pagi ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Olahraganya diganti nanti malam aja ya, Mas. Di kamar,” ujar istriku dengan senyum manja dan cubitan mesranya mendarat di pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku berdesir. Wajahnya manis dan menggoda sekali jika sedang merajuk.&lt;br /&gt;“Oke deh. Ke pasar sekalian beli jamu ah,”godaku setengah bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku tertawa terkekeh. Sekali lagi dicubitnya pundakku. Lalu ia segera ke kamar, hendak ganti baju. Aku mengambil motor di garasi belakang, kemudian memanasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa menit di pasar ponselku nyaring berdering. Panggilan dari nomor asing. Aku angkat telepon itu dengan sejumlah tanda tanya di kepala. Setelah aku beruluk salam dan ia yang di seberang menjawabnya aku bertanya kepada si penelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf ini siapa ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo…siapa? Coba tebak?” Suara laki-laki di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan. Orang ini malah main tebak-tebakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf nomor anda belum tercatat di phone book saya. Ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bung Hagi ini sudah jadi pelupa tampaknya. Masak tidak ingat dengan kawan sesama demonstran penurunan dekan kita yang korup? Apa sudah lupa dengan kawan mendaki lima gunung di Pulau Jawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sesaat. Setengah tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Sabqi ya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-he-he. Syukurlah kau masih ingat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, apa kabarmu sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritanya nanti saja. Ini aku lagi di perjalanan menuju kotamu bersama istri dan anakku. Nanti kalau sudah masuk kota aku telepon lagi. Mungkin 3 jam lagi aku sampai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang benar?! Jangan bercanda ah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana pernah aku bohong sama kau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, aku siap-siap dulu kalau begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak perlu repot-repot, kawan. Aku cuma mampir kok. Ya sudah, aku hubungi lagi nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon ditutup setelah ia mengucap salam. Dan aku geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa ada dua tamu yang mendadak akan datang ke rumah dalam satu hari. Boleh jadi kupu-kupu hitam bersayap lebar tadi benar-benar membawa pertanda. Sementara aku tergagap membaca tanda-tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkenang Sabqi. Seorang kawan satu kosku dulu. Selain aktif di organisasi pergerakan mahasiswa ia juga giat di komunitas mahasiswa pecinta alam. Sama seperti aku. Jadilah ia seorang kawan yang menyenangkan. Kami kerap terlihat jalan bersama kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus kuliah aku dan Sabqi sama-sama berkomitmen untuk ‘pulang kampung’. Cita-cita kami tak beda, yaitu ingin mengabdi ke tanah kelahiran. Maka, mesti tawaran pekerjaan yang menjanjikan begitu banyak, namun atas nama balas budi kami memilih pulang kampung. Memulai segala sesuatunya dari nol. Kabar terakhir yang kudengar, Sabqi menjadi pengusaha tanaman obat dan budidaya ikan hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, aku baru ingat kalau Sabqi sangat gemar menyantap ikan bakar. Dulu, jika libur kuliah aku dan Sabqi kerap menyambangi danau yang tak jauh dari kampus. Memancing. Dari pagi hingga sore. Malam harinya kami pesta ikan bakar di halaman kos. Mantab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya malam ini akan menarik jika di rumah diadakan pesta ikan bakar. Saat istriku selesai belanja dengan sangat aku memintanya untuk masuk pasar lagi. Membeli ikan nila. Istriku agak kesal. Kenapa tidak bilang dari awal kalau mau ikan nila, gerutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi temanku Sabqi tiba-tiba nelpon. Dia sedang dalam perjalanan ke rumah kita. Nah, Sabqi itu doyan sekali ikan bakar. Jadi, tak ada salahnya kalau kita membahagiakan tamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemberut yang tadi menggelanyut di wajah istriku perlahan sirna. Wajahnya yang putih kembali cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pulang dari pasar setelah semua kebutuhan terbeli. Repot juga ternyata menyambut tamu yang mendadak datang secara bersamaan. Pun begitu, memuliakan tamu adalah wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di rumah istriku segera menuju dapur. Barang-barang yang dibelinya di pasar tadi ia keluarkan. Dipilihnya bumbu-bumbu untuk memasak ayam kecap kegemaran ibunya. Aku tak mau berpangku tangan. Bumbu untuk ikan nila bakar akan kubuat sendiri. Tentu aku sudah hafal di luar kepala bumbu apa saja untuk membuat ikan bakar yang sedap. Sabqi pasti akan suka dengan ikan bakar ini. Pasalnya dulu ia yang mengajari aku membuat bumbu ikan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membuat bumbu aku bersih-bersih rumah. Walau rumah ini tidak besar dan megah,  tapi aku ingin rumah ini terlihat rapi dan bersih. Di lain tempat, istriku sudah mulai memasukkan ayam kecap ke wajan. Bumbu-bumbu telah bercampur dengan ayam. Aromanya menggelitik perut. Membangkitkan nafsu makan. Bersyukur sekali aku punya istri yang pandai memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku melintas dapur hendak mengambil alat pel istriku menegur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kupu-kupu hitam tadi kok ada di dapur ya? Coba lihat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia mencium bau masakanmu dan ingin mencicipi mungkin,” jawabku asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak tamu-tamu kita nanti pada mau masuk dapur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali itu tanda kalau tamu-tamu kita nanti akan menyukai masakanmu, Dik. Setiap makan masakanmu aku kan selalu habis dua piring, kadang lebih. Kamu memang jago masak, sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas ini paling bisa kalau nggombal.” Pipi istriku memerah seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengepel teras, membersihkan ventilasi lalu memangkas tanaman depan rumah dengan perasaan yang gamang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati. Entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah dapur kudengar sayup-sayup istriku berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, bau gasnya kok menyengat banget. Kenapa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja membuka pintu depan hendak menuju dapur ketika kudengar suara ledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut luar biasa. Jantungku berdegup amat sangat kencang. Ada api dan asap di dapur. Istriku! Oh, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dapur dadaku sesak dan air mata mendesak-desak. Dapur berantakan. Di atap dapur menganga lubang. Istriku tersungkur di samping tabung gas warna hijau! Tubuhnya penuh luka bakar. Inikah tamu itu, wahai kupu-kupu hitam bersayap lebar? [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponorogo, 3 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8264498051190899786?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8264498051190899786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8264498051190899786' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8264498051190899786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8264498051190899786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/10/tamu.html' title='Tamu (dimuat d Harian Joglosemar, Minggu, 3 Oktober 2010)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4832385692505551791</id><published>2010-09-15T22:56:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T22:57:52.044-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Kepada Callisto</title><content type='html'>aku bercakap dengan kalian&lt;br /&gt;tidak dengan kata-kata&lt;br /&gt;barangkali dengan raut muka&lt;br /&gt;yang begitu sukar ditafsirkan&lt;br /&gt;atau lewat warna mata&lt;br /&gt;yang tak bisa ditangkap maknanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku murtad dari kampung maya&lt;br /&gt;berbaiat untuk menetap di rumah kita&lt;br /&gt;sebab di sanalah aku baru bisa&lt;br /&gt;mencatat senyum kalian sesungguhnya&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4832385692505551791?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4832385692505551791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4832385692505551791' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4832385692505551791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4832385692505551791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/09/kepada-callisto.html' title='Kepada Callisto'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3106059333731370536</id><published>2010-09-15T22:55:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T22:56:27.548-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Tahun Keempat</title><content type='html'>ini kali jatuh di ramadhan&lt;br /&gt;satu penanda&lt;br /&gt;kapan perahu merapat dermaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendadak kita merasa&lt;br /&gt;duka atas berlalunya ramadhan&lt;br /&gt;serupa duka kita yang &lt;br /&gt;kini berkeras memangkas jarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba kita mendengar&lt;br /&gt;gemuruh malam takbir&lt;br /&gt;seperti debur hati ketika&lt;br /&gt;kali pertama kita saling menyapa&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3106059333731370536?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3106059333731370536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3106059333731370536' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3106059333731370536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3106059333731370536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/09/tahun-keempat.html' title='Tahun Keempat'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5543937651082825698</id><published>2010-09-15T22:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T22:54:47.957-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Hari Jadi</title><content type='html'>setelah puisi menunjukkan kuasa&lt;br /&gt;cinta berjalan dari puasa ke puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita tepikan rindu serta pagut&lt;br /&gt;bulan sembunyi, angin kian larut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelisahmu kuncup di pucuk-pucuk hujan&lt;br /&gt;aku disergap gelap sepanjang perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5543937651082825698?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5543937651082825698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5543937651082825698' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5543937651082825698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5543937651082825698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/09/hari-jadi.html' title='Hari Jadi'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8930325869567941911</id><published>2010-09-15T18:34:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T18:41:15.807-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Telah Lahir: Suatu Sore di Dermaga</title><content type='html'>Setelah pada bulan Januari lalu saya menerbitkan kumpulan cerpen Karnaval, pada bulan September ini alhamdulillah terbit buku kumpulan cerpen saya yang kedua bertajuk Suatu Sore  di Dermaga (S2D2). Mengungkapkan kebahagiaan atas terbitnya kumcer itu barangkali lebih tepat jika ditanyakan kepada seorang ayah yang melepas anaknya pergi berkelana. Entah itu hendak mencari ilmu atau mencari rezeki di tanah rantau. Boleh jadi rasa senang, bangga dan khawatir campur jadi satu. Begitu pula ketika di toko Angkasa (14/9/2010) kumcer S2D2 diperbanyak menggunakan mesin foto copy digital oleh seorang karyawan asal Mlarak, Ponorogo, saya merasakan ada letupan-letupan tak terpahami dari salah satu sudut hati. Saat buku berpindah tangan ke teman-teman Callisto, letupan itu makin tak terpahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja saya ingin membandingkan kumcer Karnaval dengan kumcer S2D2. Jika ada persamaan tentunya kedua kumcer itu diterbitkan secara indie. Merogoh kocek sendiri. Melalui media foto copy. Sedikit berbeda dengan kumcer Sunyi (Senjakala) dan Disleksia (Ketik) yang saya gagas bersama teman-teman di Ciputat dan Solo. Meski sama-sama indie label namun kumcer Sunyi dan Disleksia dicetak di percetakan eLTorros milik Mas Yudhi Pawon (Solo). Lantas di jual dari tangan ke tangan, dari kenalan ke kenalan. Adapun kumcer Karnaval difoto copy di depan kampus saya (betapa cerobohnya saya tidak mengingat nama kios foto copy itu). Yang pasti, kumcer Karnaval lahir pada suatu malam yang larut di pinggir jalanan Ciputat yang tak pernah tidur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengenai isi. Kumcer S2D2 memuat lebih banyak cerpen ketimbang kumcer Karnaval. Ada 9 cerpen di kumcer S2D2, sedang kumcer Karnaval hanya memuat 5 cerpen.  Jumlah halaman kumcer S2D2 32 halaman, kumcer Karnaval cuma 20 halaman. Jika pada kumcer Karnaval dilabeli lima cerita dari masa lalu, maka seharusnya kumcer S2D2 mendapat label cerita-cerita untuk Solopos.  Ya, saya memang mengirimkan sembilan cerpen itu ke Solopos. Tapi tak tahu nasibnya hingga kini. Saya sangat berterima kasih, selama liburan puasa saya diberi kekuatan untuk ‘rajin’ menulis cerpen. Setidaknya seminggu sekali saya ke kantor pos untuk mengirim dua atau tiga cerpen ke Solopos.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ke Solopos? Begini, sungguh mati saya penasaran dengan Solopos. Sebagai salah satu koran lokal yang menyediakan ruang cerpen di hari Minggu, menurut pengamatan saya Solopos sangat tidak bisa ditebak ‘seleranya’ seperti apa. Beda dengan koran tetangga, Joglosemar, yang relatif bisa diraba. Maka, saya berusaha keras menembus rubrik cerpen Solopos. Saya memiliki ‘prinsip’ yang mungkin patut ditertawakan: dalam berkarya secara berurutan saya akan menembus ruang-ruang sastra koran lokal dulu baru koran nasional, itu adalah tahapan ideal menurut saya.  Ha-ha-ha. Mendadak saya terbahak sendiri, dulu saya bilang sudah ‘bodo amat’ mau dimuat di media atau tidak, eh sekarang ngotot pengen masuk Solopos. Tapi, kalau penasaran dan geregetan ya mau gimana lagi. Di Harian Joglosemar (koran lokal Solo) cerpen dan puisi saya sudah masuk, di Solopos baru baru puisi saya yang tembus. Nah, saya ‘gemes’ pengen nembus rubrik cerpen Solopos. Untuk itu saya ‘berkompetisi’ dengan Syafaah Restuning Hayati (cerpenis muda produktif asal Sragen) dulu-duluan dimuat Solopos. Weleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, di antara pembaca ada yang ngakak (dan sedikit mencibir) melihat cara saya dalam berkarya. Standar rendah. Berkesenian tak tuntas atau cap-cap lain boleh jadi akan disematkan pada saya. Tapi saya berusaha jadi kebal dan cuek. Lha memang begitu proses yang harus saya  lewati. So what?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak aneh jika cerpen-cerpen pada S2D2 coba menyesuaikan dengan ‘selera’ Solopos menurut pembacaan saya. Sebuah pembacaan yang terpengaruh informasi dari Langit Kresna Hariyadi yang disampaikan kepada saya seusai launching novel Penangsang di Goro Assalam: nulis cerpen untuk Solopos, kalau bisa yang up to date, sesuaikan dengan isu yang sedang berkembang. Maka, saya mencoba merespon kejadian bom LPG 3KG atau ciuman KD-Raul. Tak bertahan lama, saya lelah untuk selalu up to date. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis cerpen pendek (3 halaman A 4) dan beraliran realisme sosialis (wkwkwk). Maksudnya yang mudah dicerna khalayak. Disebabkan terbatasinya ruang gerak saya, tak aneh bila seorang teman berkomentar cerpen-cerpen di kumcer S2D2 sebagai cerpen yang tergesa dan kurang matang. Lalu saya berksperimen membuat cerpen gaya lain, seperti cerpen Tiga Surat dan Tiga Pembunuh. Entah berhasil atau tidak eksperimen saya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal kecil yang mungkin perlu saya bagi berkenaan dengan terbitnya kumcer S2D2 adalah mengenai desain dan tata letak kumcer. Kali ini saya murni didesain menggunakan Ms. Word. Berbeda dengan kumcer Karnaval yang ada campur tangan corel draw serta photoshop. Cover depan kumcer S2D2 polos saja, tanpa grafis. Tidak seperti Karnaval yang memakai grafis unik-asyik karya Soleh (Ketik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cenderung suka jika cover belakang suatu buku diisi dengan sedikit kata. Maka, dua kumcer saya sama-sama hanya menampilkan empat kalimat di cover belakang. Yakni: kusebut ini jejak perjalanan/ kalian yang putuskan/  apakah ia akan terhapus zaman/atau utuh dalam ingatan// (Karnaval) mereka hanya sembilan anak yang lelana/  dari satu senyum ke senyum lainnya/ hingga akhirnya mereka berjumpa/ pada suatu sore di dermaga// (S2D2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meniatkan kumcer Karnaval memang sebagai dokumentasi perjalanan awal kepenulisan saya, yaitu di Pesantren Ngruki dan MAPK Solo. Lima cerpen di Karnaval memang saya tulis ketika masih sekolah di dua tempat tersebut. Ketika saya belajar dengan teman-teman dari FLP, baik secara langsung atau tak langsung. Sehingga sangat wajar jika cerpen saya banyak mendapat influence dari penulis-penulis FLP. Pada kumcer Karnaval, empat kalimat di cover belakang mengandung maksud penyerahan total kepada pembaca penilaian atas karya-karya awal saya. Terkenang atau terhapus, itu saja pilihannya. Sejauh ini saya bersyukur respon pembaca terhadap kumcer Karnaval cukup bagus. Bahkan ada yang meminta salah satu cerpen dipanjangkan jadi novel. Doakan saja malas saya hilang, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, sebagaimana tersirat di empat kalimat di cover belakang kumcer S2D2, biarkan sembilan cerpen, yang pada hakikatnya adalah anak-anak saya, berkelanana dari satu senyum ke senyum lainnya. Bisa itu senyum puas atau senyum cibiran setelah membaca cerpen. Toh mereka telah berjanji untuk berjumpa pada suatu sore di dermaga, pada suatu kebersamaan yang hangat. Ya, ditengah kesunyian yang kerap menyergap, tak ada yang lebih kita rindukan selain kebersamaan. Bukan begitu, kawan? [*]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8930325869567941911?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8930325869567941911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8930325869567941911' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8930325869567941911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8930325869567941911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/09/telah-lahir-suatu-sore-di-dermaga_15.html' title='Telah Lahir: Suatu Sore di Dermaga'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-8896857014197103664</id><published>2010-07-21T21:07:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T19:58:54.434-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Belajar Keberanian Dari Pram</title><content type='html'>30 April 2010 merupakan peringatan 4 tahun wafatnya sastrawan besar sekaligus kontroversial, Pramoedya Ananta Toer. Sejumlah kegiatan digelar untuk mengenang sosok kelahiran Blora, 6 Februari 1925. Di Jakarta, beberapa komunitas sastra serta sederet nama seniman menghimpun diri dalam suatu kepanitian besar guna menyelenggarakan acara bertajuk “Goresan Pena Pram Untuk Rakyat Indonesia”. Acara dari tanggal 19-28 April 2010 itu antara lain diisi roadshow diskusi di empat kampus dan acara puncaknya berupa Pagelaran Kebudayaan di Planet Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa catatan yang layak dicermati dari perjalanan penyelenggaran acara tersebut. Pertama, panitia mendapat pelarangan tegas dari pihak rektorat saat hendak mengadakan acara diskusi mengenang Pram di salah satu universitas negeri. Dari pihak BEM pada dasarnya tidak mempermasalahkan acara yang akan diadakan. Akan tetapi, pihak rektorat berujar: kami tidak berkeberatan dengan siapa panitianya, tapi dengan acaranya, kita tentu tahu siapa Pram. Sungguh tragis. Di era reformasi yang serba terbuka masih saja label-label negatif dialamatkan kepada Pram, yang menurut hemat penulis adalah seorang guru bangsa. Kedua, peserta yang datang dalam acara diskusi mengenang Pram di beberapa kampus secara jujur mengakui belum terlalu mengenal Pram, apalagi membaca karyanya. Sehingga boleh diartikan mereka menghadiri acara untuk berkanalan dengan Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kasus pertama, mengenai pelarangan acara Pram, hadir keprihatinan di hati penulis dan panitia. Mengingat saat ini kita tidak sedang hidup di era orde baru yang penuh pencekalan, intimidasi dan represi. Sesungguhnya pelarangan oleh pihak rektorat tidak perlu terjadi. Apabila yang dipermasalahkan seputar golongan kanan dan kiri dalam kebudayaan (dalam hal ini Pram dicap kiri) sudah tidak relevan lagi. Sebagaimana dipaparkan Yudi Latif dalam diskusi publik ”Peran Kebudayaan dalam Mengawal Bangsa Bercermin pada Pram” di kampus STIAMI Jakarta Senin (19/4) lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengurai golongan kanan dan kiri yang akarnya adalah polemik kebudayaan di tahun 1965 pada dasarnya hanya akan menguak luka lama. Ketika itu Pram dituding sebagai jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang di masa Demokrasi Terpimpin. Yang merasa menjadi korban adalah seniman yang menempatkan seni untuk seni. Hingga mereka perlu menggagas dikeluarkannya Manifes Kebudayaan. Penanda tangan Manifes Kebudayan antara lain adalah Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti di situ, ketika pada tahun 1995 Pram memperoleh Ramon Magsaysay Award (Filipina), sebanyak 26 sastrawan Indonesia menulis surat protes ke Yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju Pram menerima penghargaan tersebut. Taufik Ismail, salah satu pemrakarsa, beberapa hari kemudian meralatnya. Bukan menuntut pencabutan namun sekadar mengingatkan siapa Pram itu, banyak yang tidak tahu reputasi gelap Pram, begitu ujarnya. Sementara itu, Mochtar Lubis justru mengancam akan mengembalikan Ramon Magsaysay Award yang diperolehnya pada 1958 jika Pram tetap diberikan hadiah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi polemik pemberian Ramon Magsaysay Award kepada Pram, sebanyak 26 penyair, wartawan, guru serta elemen lainnya menandatangani Pernyataan Kaum Muda Untuk Kebudayaan. Semacam manifesto untuk mendudukkan polemik pada tempatnya. Beberapa penanda tangan berasal dari Kota Solo. Sebut saja Gojek JS, Agus T.,Wahyu Susilo dan Sosiawan Leak. Manifesto yang dibuat oleh Angger Jati Wijaya itu ditandatangani di Yogyakarta, 15 Agustus 1995. Mereka mencatat 5 point penting. Secara garis besar, dikatakan bahwa tragedi politik dan budaya 1965 masih gelap serta sejarah yang ditulis merupakan interpretasi sepihak. Ditambahkan, Dendam dan sakit hati bisa menjadi pemakluman, pun begitu, bukankah tindakan memaafkan dalam konteks berbangsa dan berbudaya merupakan setinggi-tingginya nurani kemanusiaan? Selebihnya manifesto ini berbicara mengenai demokrasi, kebebasan, situasi kondusif dan perlunya menjauhi prasangka dalam berbudaya.&lt;br /&gt;Adapun masalah kedua, tentang minimnya generasi muda yang mengenal Pram adalah sebuah masalah yang kompleks. Di satu sisi minat baca kaum muda Indonesia tergolong lemah, di sisi lain pasca polemik 1965, Pram memang seolah-olah dihilangkan dari sejarah. Romo Muji Sutrisno, dalam suatu kesempatan menyatakan, sulitnya mengakses karya Pram termasuk hilangnya nama Pram dari pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia serta Sejarah merupakan ’dosa’ orde baru. Kala itu buku karya Pram dilarang terbit secara resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ironis apabila di negerinya sendiri Pram dianggap ’kecil’ sedang di dunia Internasional ia cukup disegani. Selain beberapa kali masuk nominasi peraih Nobel Sastra dan karyanya di terjemahkan ke 42 bahasa, sejumlah penghargaan telah diperolehnya, semisal:The PEN Freedom-to-write Award (1988), Ramon Magsaysay Award (1995), Fukuoka Cultur Grand Prize (2000) dan lain-lain. Penulis lihat ini lebih dari cukup untuk mengatakan sebuah keteledoran jika tidak membaca serta mengapresiasi Pram.&lt;br /&gt;Lantas, apakah ‘kebesaran’ Pram hanya seputar kontroversi dan polemik yang melingkupinya? Ataukah hanya dilihat dari betapa heroiknya ia manakala mampu survive meski ditahan selama 14 tahun lamanya tanpa proses pengadilan? Tentu saja tidak. Tertralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) menunjukkan betapa tekun Pram menyusun keping-keping sejarah yang dapat memberi suntikan moril kepada bangsa yang sedang mengalami krisis identitas ini. Di sana pula akan ditemui bentuk-bentuk perlawanan terhadap penindasan. Terlihat jelas keberpihakan Pram terhadap kaum tertindas. Tema senada juga bisa ditemui pada karyanya yang lain seperti Gadis Pantai, Bukan Pasar Malam dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang Pram, adalah mengenang keberanian dan ketegasan. Sesuatu yang hilang dari bangsa ini beberapa tahun terakhir. Lantaran tiadanya dua hal itu, tindakan-tindakan yang cenderung tidak taat hukum dan mengarah pada kerusuhan kerap terjadi. Bobrok yang menggejala di sejumlah instansi tak segera terkuak juga karena telah hilangnya keberanian dan ketegasan pada diri para pemimpin. Pada peringatan 4 tahun wafatnya Pram, boleh jadi kita akan merenungkan ’ramalannya’: akan ada permainan politik oleh orang-orang kriminal dan permainan kriminal oleh orang-orang politik. Dan itu telah terbukti kini, Pram!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: tulisan ini saya kirim ke beberapa media, tapi ditolak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-8896857014197103664?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/8896857014197103664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=8896857014197103664' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8896857014197103664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/8896857014197103664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/07/belajar-keberanian-dari-pram.html' title='Belajar Keberanian Dari Pram'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1023135392176589589</id><published>2010-07-21T21:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T06:36:49.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Teluh (dimuat Harian Joglosemar, Minggu 16 Mei 2010)</title><content type='html'>Penyanyi dangdut kita itu akhirnya mencalonkan diri sebagai wakil bupati. Di kota kecil yang tidak terkenal ini namanya telah kondang, hingga ke pelosok-pelosok. Masyarakat lebih akrab dengan namanya daripada nama bapak-bapak anggota dewan atau menteri yang kerap muncul di televisi akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscaya tidak akan ada kehebohan jika penyanyi dangdut kita ini maju sebagai calon wakil bupati. Ia tak seperti penyanyi dangdut yang sering tampil di film-film horor atau komedi berbau porno itu. Ketika menyanyi yang dijual bukanlah tubuhnya, tapi suaranya. Bisa kita dengar cengkoknya yang pas saat menyanyi dangdut, bak penyanyi senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah sehari sebelum penyanyi dangdut kita memutuskan untuk mencalonkan diri, mendampingi seorang pengusaha kaya mantan aktivis kampus. Di rumah kontrakannya yang sederhana penyanyi dangdut kita menerima dua orang tamu berpenampilan necis. Siapa lagi jika bukan perwakilan dari partai pengusungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana, Mbak? Sudah yakin kan untuk mencalonkan diri sebagai wakil bupati?” tanya salah seorang perwakilan partai. Penyanyi dangdut kita gugup. Ia memilih mengubah posisi duduk ketimbang menghela napas panjang untuk mengurangi ketegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jujur, Mas, sebenarnya saya belum terlalu siap.” Berkata demikian ia dengan membayangkan sebuah konser dangdut besar yang meriah. Di sana ia menjadi biduan yang menyita perhatian ratusan pasang mata. Bajunya yang gemerlap. Panggung yang megah. Musik yang hingar. Goyangan yang bikin geregetan. Tatap mata nakal pemuda-perjaka. Sorot mata penuh birahi penonton mabuk. Saweran yang dilempar tak henti. Oh, penyanyi dangdut kita belum siap meninggalkan itu semua. Meninggalkan dunia yang membesarkannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Apa lagi yang masih membuat Mbakyu ragu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya belum siap meninggalkan panggung, Mas,” ujar penyanyi dangdut kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ealah, Mbakyu ini lho, kalau sampeyan nanti terpilih, pasti jauh lebih terkenal dari pada waktu masih joged di panggung. Juga jangan lupa, gaji wakil bupati itu gede lho, belum lagi fasilitas-fasilitasnya.” Perwakilan partai pengusung berjuang meyakinkan penyanyi dangdut kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, bagaimana dengan pendidikan saya? Saya ini cuma tamatan SMA, Mas,” kilah penyanyi dangdut kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kan sudah saya bilang dari kemarin-kemarin, sekarang itu gelar gampang didapat. Nanti kami beli ijazah buat Mbakyu deh. Sampeyan mau gelar apa? SH, S.Sos atau SE? Tapi jangan S.Ag lho ya, kayaknya sampeyan kurang cocok kalau pakai gelar S.Ag.”&lt;br /&gt;Penyanyi dangdut kita tersenyum. Tipis tapi manis. Perwakilan partai juga ikut meringis. Miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pokoknya, kalau sampeyan sudah mantab hubungi kami. Biar kami bisa bergerak cepat. Menyiapkan segala sesuatu untuk membentuk citra baik sampeyan dan bapak calon bupati,” perwakilan partai berdehem, lalu lanjut bicara, ”Sampeyan cocok kok berpasangan dengan beliau. Sampeyan itu masih muda, cantik dan terkenal, sedang beliau gagah, berwibawa, dan ganteng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari itu adalah sehari sebelum penyanyi dangdut kita memutuskan untuk mencalonkan diri, mendampingi bapak calon bupati yang istrinya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Sedari tadi ia mematut diri di depan cermin. Hatinya seolah ingin bertanya pada cermin yang bisu. Wahai cermin, apakah aku sudah tidak secantik ketika aku masih muda dulu, ketika suamiku tergila-gila?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hujan menjamah tanah dan halilintar bersahutan, istri calon bupati itu nekad keluar rumah. Waktu itu suaminya sedang tidak di rumah. Dibangunkannya sopir pribadi yang tengah tertidur pulas di pos satpam. Tentu saja si sopir tergeragap kaget. Tanpa ba-bi-bu, si sopir menuruti kemauan majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita ke rumah Simbah!” perintah istri calon bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak mengenal Simbah? Seluruh warga di kota kecil ini hampir semunya tahu siapa Simbah. Dialah dukun sakti yang tinggal di kaki bukit selatan kota. Konon kesaktiannya belum ada yang menandingi di tingkat karesidenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke rumah Simbah, istri calon bupati merenung. Terdengar dengus nafasnya yang memburu menahan dendam. Dia selalu bertanya kenapa suaminya tidak menggandengnya saja untuk maju dalam pencalonan bupati-wakil bupati. Tiba-tiba, istri calon bupati ini iseng bertanya kepada sopirnya di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak, aku masih cantik kan? Masih seksi kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ditanya terkesiap bulu kuduknya. Ia hanya mengiyakan.&lt;br /&gt;Sampai di rumah Simbah, sebentuk ketakutan menjalari istri calon bupati dan sopirnya. Bau yang aneh serta benda-benda yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya menjadi ucapan selamat datang yang janggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah benar kedatangan kalian ke sini untuk meminta bantuan mencelakakan seorang penyanyi dangdut?” tanya Simbah mengagetkan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Be..be..benar, Mbah,” istri calon bupati gagap menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak yakin bisa melakukannya, di belakang penyanyi dangdut itu berdiri seorang dukun yang tak kurang saktinya. Tapi aku akan coba!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang harus kami lakukan, Mbah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tanam buntelan ini di halaman rumah penyanyi dangdut itu, lalu lihat hasilnya sehari kemudian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akan kami laksanakan, Mbah. Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami,” kata istri calon bupati sembari mengangsurkan amplop putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbah hanya manggut-manggut dan berdehem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin membuang waktu, malam itu juga, saat aroma hujan masih begitu terasa, sopir istri calon bupati menanam buntelan. Instruksi langsung dari istri calon wakil bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, astaga! Ketika buntelan baru akan dimasukkan lubang, tubuh sopir terlempar ke belakang. Satu meter jauhnya. Ia terperangah. Namun belum menyerah. Dicarinya sudut lain dari rumah penyanyi dangdut kita. Setali tiga uang. Beberapa kali tubuhnya terhempas. Sial, bentengnya kuat juga perempuan ini, gumam si sopir.&lt;br /&gt;Kembali ke rumah ia dengan tangan hampa. Dan sangat terkejut ketika pada pagi harinya rumah calon bupati gempar. Istri calon bupati tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ia hanya bisa mengerang kesakitan. Sekujur tubuhnya penuh bintik serupa kutil. Jika satu bintik pecah, maka cairan busuk keluar dan bau bangkai segera menguasai udara. Jijik. Si sopir hampir muntah manakala hendak membopong istri calon bupati. Mau dibawa ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahas! Tak seorang pun bisa membopongnya. Pun ketika lima orang bersamaan membopongnya. Tidak terangkat. Berat sekali. Seperti lengket. Waktu itu bapak calon bupati sedang rapat partai di luar kota. Orang yang di rumah jelas kelabakan. Berpikir cepat si sopir menuju rumah simbah Simbah.&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak lama, Simbah sudah sampai di rumah calon wakil bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini teluh kiriman dukun penyanyi dangdut terkutuk itu! Ia bereaksi, tak terima penyanyi dangdut itu kita serang. Aku tak kuat menangkalnya. Namun, ada satu cara sebenarnya untuk sekadar mengusir kutil-kutil busuk itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa itu, Mbah?” tanya sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau cari saudara kandung ibu itu. Bisa kakak atau adiknya. Minta sedikit darahnya, beberapa helai rambutnya, juga kukunya. Tumbuk jadi satu. Tempelkan di kening ibu itu,” simbah berkata dengan keyakinan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri calon bupati meski menahan sakit luar biasa, namun masih bisa mendengar bercakapan dan diajakan bicara, walau terbata-bata. Sejujurnya, keadaan ia kini akan menghadirkan iba kepada siapa saja yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibu, boleh tahu saudara ibu tinggal di mana? Kata Simbah, hanya saudara kandung ibu yang bisa menyembuhkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu beberapa saat istri calon bupati ta kunjung menjawab. Ia meringis kesakitan. Baru ketika sakitnya merada ia angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”A...aku...cu...cuma punya satu saudara kandung. Di...dia a..adalah penyanyi dangdut laknat itu. Di...dia adikku satu-satunya,” ujar istri calon bupati terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ada dalam ruangan terkejut. Seolah menemui jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1023135392176589589?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1023135392176589589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1023135392176589589' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1023135392176589589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1023135392176589589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/07/teluh.html' title='Teluh (dimuat Harian Joglosemar, Minggu 16 Mei 2010)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5483673248247050902</id><published>2010-07-21T20:55:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T06:35:35.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Penjaga Malam (dimuat Majalah Kalpadruma FSSR UNS, Solo)</title><content type='html'>Malam yang muram. Kaca jendela di sebuah hotel tengah kota basah oleh embun lantaran gerimis bertahan sejak sore. Penjual bakmi tercenung di sudut kontrakannya. Hanya beberapa piring bakmi saja yang laku hari ini. Gerimis dan dingin menahan orang-orang keluar rumah menjenguk dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, aku baru saja menjejak bumi. Sudah tiga hari ini aku tidak diijinkan oleh Tuan Langit untuk mengunjungi bumi. Menjalankan pekerjaan sampinganku: menjaga malam. Ya, aku adalah seorang penjaga malam. Menjaga malam di bumi yang katanya sering berselimut kabut warna kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan utamaku sebenarnya adalah mengawasi perputaran mendung. Kapan ia akan menjadi hujan yang membasahi bumi, kapan ia harus berdiam di sela-sela awan. Sering aku tak tega jika Tuan Langit memerintahkanku mengguyurkan hujan yang begitu derasnya tanpa didahului dengan isyarat mendung. Aku lihat orang-orang sama kelabakan mendapati kehadiran hujan yang begitu tiba-tiba. Ada yang berlari-lari mencari tempat berteduh, ada yang bergegas membuka bagasi motor untuk mengambil jas hujan. Tapi biarlah begitu, aku hanya mengawasi perputaran mendung. Tuan Langit lah yang punya wewenang penuh untuk menjadikannya hujan atau tidak. Membuatnya tanpa isyarat mendung atau dengan mendung yang menggulung-gulung.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku harus konsentrasi dengan tugas menjaga malam di bumi. Oya, aku lupa memberi tahu pembaca sekalian, bahwa aku ini tak kasat mata. Jadi manusia-manusia di bumi tak bisa melihatku. Hanya orang-orang dengan tingkat kesaktian tertentu yang mungkin bisa melihatku. Biasanya mereka dari kalangan yang bersih hatinya, jauh dari angkara murka dan iri dengki. Pun begitu, selama bertugas menjaga malam di bumi aku belum pernah kepergok sekalipun oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku awali pengembaraan malam ini di sebuah café. Bangunan dua tingkat ini tidak terlalu besar. Di lantai dasar terdapat mini bookstrore dan meja kasir. Sedang di lantai dua selain meja bar yang memanjang di salah satu sudut, ada meja kayu artistik dengan ukiran, sofa, serta mini library. Selain menjual kudapan ringan, tempat ini memang menjual buku terbitan baru dan best seller. Di beberapa sudut café juga ditemui rak-rak buku dengan koleksi buku sastra, filsafat dan agama. Itu untuk dibaca di tempat, tidak dijual atau disewakan. Hanya ada segelintir buku teenlit disini. Yang jelas tidak bisa ditemui adalah majalah atau tabloid infotainment. Tampaknya café ini memposisikan dirinya sebagai tempat nongkrong pelajar dan mahasiswa yang hendak mengais ilmu. Tak sekadar tempat kongkow-kongkow menghabiskan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lantai dua cafe, empat orang mahasiswa tampak sedang berdiskusi. Memperdebatkan keberadaan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap yang ada pasti ada yang menciptakan. Kita ada di dunia buah dari hubungan ayah dan ibu kita. Lantas jika dibilang tuhan itu ada siapa yang menciptakan tuhan? Pasti ada makhluk yang lebih hebat, karena dia bisa menciptakan tuhan yang menciptakan manusia,” terang seorang mahasiswi berleher jenjang dengan rambut dikucir mirip buntut kuda. Parasnya akan mengingatkan kita dengan seorang penyayi perempuan di era tujuh puluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu kita simpan keraguan atas tuhan! Cukup kita percaya dan sudah. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak penting.” Sanggah mahasiswa berambut kribo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya seharusnya begitu. Tinggal percaya saja apa susahnya?” dukung mahasiswa dengan tatto kepala elang di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum simpul mendengar diskusi mereka. Sejenak aku tinggalkan keempat mahasiswa yang berdebat. Diskusi itu selanjutnya didominasi oleh mahasiswa berambut kribo dan mahasiswi berleher jenjang. Yang lain lebih banyak diam, merenung sembari menyimak lagu-lugu Efek Rumah Kaca yang diputar pihak café.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku masuk ruangan -sepertinya kantor- di bagian belakang café. Di ruangan dengan penerangan minimalis itu aku mendapati dua orang sedang bercakap serius. Pemilik café rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penjualan buku dua bulan ini kurang bagus. Bagaimana kalau kita sudahi saja penjualan buku? Rak-rak buku itu bisa kita ganti dengan meja kursi untuk pengunjung café. Itu pasti lebih menguntungkan,” keluh si lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti jualan buku? Tidak, John. Aku tidak mau. Bukankah itu bagian dari idealismeku yang kita sepakati bersama. Café ini bukan sekedar tempat menghibur diri tapi mencedaskan juga,” si perempuan bersungut tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi fakta bicara lain, Alin. Buku-buku itu hanya nenenuhi café kita,” kali ini si lelaki coba meyakinkan si perempuan dengan mengatupkan kedua tangannya di pipi si perempuan. Didekatkan muka si lelaki pada muka si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mesti bersabar, sayang.” Si perempuan tak mau kalah. Di dekatkan bibirnya dengan bibir si lelaki. Matanya mengerjap menggoda. Si lelaki menahan nafas. Bibir mereka sudah tak berjarak. Maka, terjadi lah apa yang diinginkan si perempuan dan si lelaki, di ruangan dengan penerangan yang minimalis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ketuk saja pintu ruangan. Mereka tergeragap. Buru-buru membetulkan letak pakaian. Ketika pintu dibuka si lelaki tak mendapati siapa-siapa. Berdiri bulu roma keduanya. Mereka semakin bergidik saat pintu sudah menganga terbuka ketukan masih terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkekeh-kekeh meninggalkan lelaki dan perempuan yang ketakutan itu. Kini aku telah sampai di parkiran café. Mahasiswi berleher jenjang yang tadi berdebat tentang tuhan telah bersiap di mobilnya. Tiba-tiba mahasiswa berambut kribo lawan berdebatnya menghampiri.&lt;br /&gt;“Jalan pulangmu melawati kos-ku, bisakah aku menumpang mobil yang cantik ini?” Tanya mahasiswa berambut kribo. Ia lempar senyum termanisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E…Masuk lah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil melaju membelah jalanan kota yang basah. Aku duduk di jok belakang mobil itu. Dua orang yang tadi sengit berdebat kini terlihat hangat menikmati lagu-lagu jazz yang diputar dalam mobil. Tanpa terasa kepalaku mengangguk-angguk mengikuti nada-nada syahdu yang menelusup ruang dengarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kos. Tak disangka mahasiswa berambut kribo merayu mahasiswi berleher jenjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan makin deras. Tak baik mengemudi dalam cuaca seburuk ini. Mampirlah di kos-ku,” tawar mahasiswa berambut kribo dengan jantung berdegup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em..boleh deh.” Mahasiswi berleher jenjang menjawab dingin, sedingin udara malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut masuk bersama dua orang terpelajar muda usia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang mengawali, busana yang melekat di badan berguguran sudah. Mereka sama memagut. Bukan aku yang meminta kawanku pengatur petir menyambarkan petir kencang. Sambaran petir yang membuat mereka kaget. Mobil mahasiswi berleher jenjang menjerit-jerit alarmnya. Selalu begitu jika petir menyambar dengan kencangnya. Seketika ia meraih kunci dan menakan tombol di gantungan kunci. Tapi hatinya gamang. Ia teringat sesuatu. Diakhiri ritual purba bersama mahasiswa berambut kribo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, aku harus segera pulang, ibuku sedang sakit di, rumah dia sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir mahasiswa berambut kribo. Matanya menatap nanar kepergian perempuan yang wanginya telah membuat mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gontai aku berjalan menyusuri trotoar yang berlubang disana-sini. Aku beralih dari hiruk pikuk hura-hura manusia posmo menuju pinggiran jalan. Menjumpai orang-orang tak berumah. Menggelandang di sekujur tubuh kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk bilik kecil penjual kopi yang anaknya terbaring dengan badan demam. Harap-harap cemas dia menunggu tetangganya yang mau mengantar ke rumah sakit. Lama ditunggu tetangga itu tak muncul juga. Kali ini aku minta kawanku yang mengatur hujan untuk sejenak menghentikan hujan. Biar bapak-anak ini bisa berangkat ke rumah sakit. Tak tega aku melihat gigil anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Hujan sesaat berhenti. Dengan penuh kasih bapak penjual kopi berlari menggendong anaknya. Mencari becak dan ojek di malam yang kian merapat ke pagi seperti mencari jarum dalam jerami. Kalut. Bapak yang menggendong anaknya terus berlari, berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar otak. Apa yang mesti aku lakukan untuk membantu bapak penjual kopi. Dari jauh aku melihat mobil mahasiswi berleher jenjang melintas di jalanan. Aku melambaikan tangan, coba menghentikan mobilnya. Dia acuh. Aku tak dilihatnya. Sial!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu melintas John dan Alin, pemilik café, dengan motor gedenya. Aku hentikan mereka. Namun, menoleh pun mereka tidak. Ah, aku benci tak terlihat! Benci sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terbetik satu pemikiran untuk membawa bapak-anak itu ke langit bersamaku. Biar mereka menemu damai di sana. Ragu menggelanyut. Boleh jadi justru damai mereka ada di sini. Bukan di langit sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli, pokoknya aku harus membawanya ke langit. Kota ini hanya menawarkan luka demi luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celaka! Kudengar ayam berkokok bersahutan. Pagi menjelang.&lt;br /&gt;“Tugasmu sudah selesai, wahai penjaga malam. Kembalilah ke langit!” Kata penjaga pagi.&lt;br /&gt;“Tapi aku belum menolong bapak penjual kopi itu, anaknya…,” belum selesai aku berkata tubuhku seperti tersedot suatu pusaran kencang. Ditarik ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa sangat berdosa lantaran tak segera mengambil keputusan. Bodohnya aku. Tak bisa menolong bapak-anak itu. Kemudian, sampai di telingaku, anak yang malang itu meregang nyawa kala fajar menyingsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci tak terlihat. Benci sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, Maret-April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5483673248247050902?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5483673248247050902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5483673248247050902' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5483673248247050902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5483673248247050902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/07/penjaga-malam.html' title='Penjaga Malam (dimuat Majalah Kalpadruma FSSR UNS, Solo)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3311416164893970617</id><published>2010-07-21T20:45:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T06:45:07.168-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Mati Kutu (dimuat Buletin Sastra Pawon (Solo), Maret 2010)</title><content type='html'>Malam kian menua. Aku baru saja hendak mencumbu istriku ketika telepon genggamku berdering. Panggilan dari bos. Buru-buru aku merapikan pakaian dan meminta maaf pada istriku berkali-kali. Istriku yang peragawati kondang itu manyun dan mendengus kesal. Dia lantas menutup kepalanya dengan bantal serta merapatkan selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih bos malam-malam harus ke kantor?” gerutu pada bos di seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada rapat dadakan. Lawan kita makin gencar saja aksinya. Konstituen kita di selatan kota sudah terprovokasi dengan isu yang mereka sebar. Sudah jangan banyak tanya! Cepat kemari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Segera aku pacu mobil menuju kantor yang selalu ramai siang dan malam itu. Sementara di luar angin dingin mengetuk-etuk jendela mobil. Seolah tak membiarkan tulang-tulangku tak disengat oleh dinginnya yang sangat.&lt;br /&gt;Pada awal perjanjian, sebagai tim sukses, aku memang siap menyatakan bekerja 24 jam, seminggu penuh. Aku ingin menunjukkan loyalitasku pada calon wali kota yang satu ini. Sebab aku tahu, Pak Birowo, calon walikota dari partai besar ini juga akan menempatkan aku di posisi bagus jika kelak dia benar-benar jadi walikota.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kantor, beberapa anggota tim sukses telah berkumpul di ruang tengah. Asap rokok memenuhi ruangan. Cangkir-cangkir kopi berserakan di meja. Kulit kacang mengonggok di beberapa tempat. Nampaknya sudah sedari tadi mereka di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah teman-teman, saya rasa tidak perlu bertele-tele, langsung saja rapat ini saya buka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan rapat mematikan rokonya. Lalu menghirup kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kabar yang kurang mengenakkan sampai pada saya siang tadi. Tingkat kepercayaan masyarakat di selatan kota pada Pak Birowo semakin menurun. Pasalnya, dari kubu Ibu Nensi yang mantan artis itu menyebarkan isu bahwa Pak Birowo ini doyan poligami. Kontan saja, sebagian besar ibu dan kaum perempuan di selatan kota tidak simpati lagi dengan Pak Birowo. Demikian pula dengan bapak-bapak yang mengaku sensitif gender.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta rapat mengangguk-angguk. Mungkin paham mungkin mengantuk. Satu dua ada yang memberikan usulan. Tapi tampaknya kurang memuaskan dan tidak aplikatif. Ketua rapat kasak-kusuk. Hari hampir pagi. Sebagai ketua tim suskses, bisa berabe jika dia tidak memberi respon dan usulan kepada Pak Birowo atas masalah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Fawasto mungkin ada masukan? Sebagai ketua divisi litbang anda sering memberi masukan cerdas. Ayolah kelurkan usulan-usulan cerdas itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang ditegur ketua rapat sedikit tergeragap. Ya, aku memang ketua divisi litbang pada tim suskses Pak Birowo ini. Namun, rasa-rasanya aku lebih tepat menjabat divisi penjatuhan lawan. Lantaran aku selalu yang dimintai pertimbangan untuk menentukan langkah dalam menjatuhkan lawan. Ide-ideku selalu cemerlang dan manjur, kata mereka. Kredibilitasku tak dipertanyakan lagi. Bupati di kota sebelah mampu menduduki kursi terhormat itu tak lain juga karena sepak terjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikan saya waktu untuk berpikir, Pak Ketua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah,” jawab ketua rapat sambil berharap-harap cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari berpikir aku menyalakan rokok. Kuhirup kopi susu di depanku hingga tandas satu cangkir. Kusulut batang kedua rokokku. Sampai batang ketiga ide belum juga muncul. Ketua rapat sedikit gugup. Dia juga nampak berpikir keras. Namun lebih kelihatan dia sedang menunggu ideku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiang listrik yang dipukul keras tiga kali menyentakku. Aha! Aku punya ide bagus. Seperi wahyu, ide itu datang begitu saja seperti turun dari langit. Tiang listrik yang dipukul tiga kali pertanda saat ini sudah jam tiga pagi bak gemerincing malaikat yang diutus khusus kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman, saya kira kita musti melakukan pembalasan. Sebab taktik air mata sudah tidak laku. Kita sudah terlampau sering mengundang televisi lokal dan memintanya menyangkan Pak Birowo mengeluarkan air mata. Pak Birowo lalu berkata bahwa dia telah dizolimi. Itu basi, teman-teman,” terangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas apa usulmu? Cepatlah! sudah pagi ini, aku belum tidur,” tukas salah satu anggota rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti ini, saya punya usulan bagaimana kalau kita menyebarkan foto bugil Bu Nensi. Bukankah dia itu mantan artis yang masih lumayan cantik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?!” sejumlah peserta rapat menganga mulutnya. Yang tadi terkantuk bahkan tidur tiba-tiba jadi antusias. Sesaat ruang rapat menghangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya, Pak Fawasto? Apa bapak mau memfoto Bu Nensi waktu mandi?” Tanya Pak Yunanto polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Yunanto, sekarang ini zaman sudah maju. Tak perlu ribet seperti itu. Tinggal kita manfaatkan saja kemajuan teknologi yang sudah ada. Beres pokonya. Bagaimana, teman-teman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua rapat yang sekaligus ketua tim sukses itu sumringah lalu angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ide yang brilian, Pak Fawasto! Brilian sekali! Mana ada rakyat yang mau memilih calon walikota yang gemar bugil? Ha-ha-ha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta rapat ikut tertawa. Manggut-manggut tanda sepaham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kita serahkan saja tugas ini kepada Pak Fawasto. Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mengiyakan. Aku agak gugup sebenarnya. Namun berusaha aku tutupi. Ini tugas tak gampang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua rapat menutup rapat yang berakhir subuh menjelang pagi itu. Para peserta rapat pulang satu persatu. Wajah mereka lelah dan kuyu. Kadang kala mereka tak terlalu mengerti apa yang sedang mereka cari dalam tim sukses ini. Hingga bersedia bekerja full time, 24 jam, seminggu penuh. Apapun itu alasannya, toh mereka menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala aku hendak membuka pintu mobil hendak beranjak pulang. Ketua tim&lt;br /&gt;suskses menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Fawasto bentuk saja tim untuk menjalankan misi ini. Masalah dana tak usah dipikirkan. Budget-nya unlimitted, tak terbatas. Asal hasilnya efektif, dampaknya kelihatan. Bukan begitu, Pak Fawasto?” Tanya ketua tim sukses sembari tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar saya enak nanti laporannya sama Pak Birowo,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya selalu siap, Pak. Tapi sepertinya saya akan kesulitan mencari pakar IT yang mau diajak bergabung dengan tim yang akan saya bentuk nanti. Kalau mengambil dari mahasiswa-mahasiswa bau kencur itu takut hasilnya kurang maksimal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alah…sudahlah kita sewa saja pakar IT dari Jakarta yang suka nongol di televisi itu. Berapapun kita bayar deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-he-he. Tak segampang itu, Pak. Saya atur saja ya, pokonya terima beres.” Aku coba meyakinkan. Ketua tim sukses mengangguk mantap. Aku tenang.&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir ini aku tak ada pekerjaan lain kecuali mencari fotografer handal dan pakar IT yang mumpuni. Aku datangi beberapa studio foto. Ketika kujelaskan para fotografer itu buru-buru menolak bergabung dengan tim yang akan kubentuk. Mereka ini memang bertugas agak berat. Menguntit Bu Nensi sampai pada wilayah privat sekalipun. Guna mendapat foto wajahnya yang pas untuk diedit dengan gambar-gambar bugil yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari aku janji bertemu dengan seorang mahasiswa fotografer yang bersedia bergabung. Akan tetapi alangkah kecewanya saat aku ditunjukkan hasil jepretannya. Jauh dari bagus! Baru belajar dia tampaknya. Di tengah kebingungan, aku dikenalkan seorang teman lama dengan seorang fotografer senior dari kota sebelah. Tak kusangka dia mau bergabung. Mudah sekali. Selidik punya selidik ternyata dia pernah sakit hati dengan Bu Nensi. Klop sudah. Ini bakal jadi tim yang solid!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal mencari pakar IT yang jago mengedit foto. Aku menghubungi kolegaku di Jakarta. Agak lama memang mereka baru memberi kabar. Akan tetapi akhirnya seorang pakar IT bergabung dengan kami. Seorang lulusan Amerika. Baru aku tahu, foto-foto artis yang sering diberitakan berpose bugil tak lepas dari campur tangannya.&lt;br /&gt;Pagi ini foto-foto Bu Nensi diserahkan padaku. Puas sekali aku melihatnya. Bakal bagus kalau dijadikan bugil, gumamku. Segera saja fotografer mahir ini aku beri segopok uang. Dia senyum-senyum gembira. Kami bersalaman erat. Tinggal aku serahkan ke editor, dan jadilah foto bugil Bu Nensi, pikirku. Sudah aku buat janji untuk bertemu dengan editor foto di sebuah café elit dekat mall terbesar di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin larut. Sudah setengah jam aku menunggu editor itu. Sementara itu istriku sudah mengingatkan jangan pulang malam-malam. Hari ini waktunya menunaikan hajat. Seminggu tiga kali. Tak kurang tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh editor foto asal ibu kota itu menghampiriku seraya meminta maaf atas keterlambatannya. Dia segara menyalakan laptop. Ditunjukkannya foto-foto syur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Pak foto-foto yang akan saya edit. Dari segi postur dia mirip sekali dengan postur&lt;br /&gt;Bu Nensi yang padat berisi itu. He-he-he. Saya mendapatkannya ekslusif dari rekan saya. Ini foto asli, Pak. Bagaimana?” ujarnya sambil menyodorkan laptop ke depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa?! Mataku melotot mau keluar. Mulut menganga kram seketika. Bukan kah itu foto-foto istriku? Tak salah lagi itu foto istriku! Aku lemas. Pening kepala. Mati kutu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponorogo, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3311416164893970617?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3311416164893970617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3311416164893970617' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3311416164893970617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3311416164893970617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/07/mati-kutu.html' title='Mati Kutu (dimuat Buletin Sastra Pawon (Solo), Maret 2010)'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2052253505851041225</id><published>2010-02-18T17:43:00.001-08:00</published><updated>2010-02-18T17:43:56.842-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>DONGENG MASJID</title><content type='html'>(1)&lt;br /&gt;depan masjid gelandangan muram&lt;br /&gt;tak ada pelukan tuhan ini malam&lt;br /&gt;gerbang digembok, pintu dikunci rapat&lt;br /&gt;dingin menohok, nadi kota mampat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;lepas subuh penjaga masjid terkesiap&lt;br /&gt;sandal barunya raib dari rak sandal&lt;br /&gt;ujarnya, ini pasti ulah si begundal&lt;br /&gt;gelandangan busuk-koreng-kurap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;gelandangan lihat penjaga masjid&lt;br /&gt;memasang spanduk putih bertuliskan&lt;br /&gt;‘gelandangan dilarang masuk rumah tuhan&lt;br /&gt;apalagi mencuri sandal penjaga masjid’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;kini gelandangan sepenuh menyadari &lt;br /&gt;bahwa dia benar-benar tak berumah&lt;br /&gt;dan di rumah tuhan yang megah&lt;br /&gt;ia tak boleh bermalam barang sehari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponorogo, 2010&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2052253505851041225?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2052253505851041225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2052253505851041225' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2052253505851041225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2052253505851041225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/02/dongeng-masjid.html' title='DONGENG MASJID'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4034287869430131311</id><published>2010-02-18T17:42:00.001-08:00</published><updated>2010-02-18T17:42:58.185-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>SETELAH PERTEMPURAN</title><content type='html'>dedaunan kuning luruh kering bersama gulma&lt;br /&gt;di sekolah tua yang plakatnya tak lagi terbaca&lt;br /&gt;pertempuran ini telah kau tunggu sejak lama&lt;br /&gt;sejak katakata kehilangan musim dan cuaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu hujan di pekarangan yang selalu dikenang&lt;br /&gt;sementara awan dan mendung enggan bicara&lt;br /&gt;tanpa senjata dan tentara pun kau pemenang&lt;br /&gt;sebab disini siapa pandai bicara dia jawara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh waktu yang beku hidupnya kian teraniaya&lt;br /&gt;lantaran endapan gelegak di dada tak jua tumpah&lt;br /&gt;masihkah kita nantikan pertempuran berikutnya&lt;br /&gt;untuk pastikan kau menang dan dia telah kalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponorogo:2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4034287869430131311?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4034287869430131311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4034287869430131311' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4034287869430131311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4034287869430131311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/02/setelah-pertempuran.html' title='SETELAH PERTEMPURAN'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6772101263727616149</id><published>2010-01-22T02:34:00.002-08:00</published><updated>2010-01-22T02:35:18.523-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>MAKA BIARKAN</title><content type='html'>Kalau tiap-tiap perjanjian kau kebiri jua&lt;br /&gt;Jangan salahkan jika damai tak kau sua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rasa rakusmu belum mau enyah juga&lt;br /&gt;Jangan panik jika batu terbang bikin terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak-anak kecil dan ibunya kau bunuhi&lt;br /&gt;Jangan gusar jika bom bunuh diri datang bertubi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau negri kami bagimu tanah yang dijanjikan&lt;br /&gt;Jangan resah jika perlawanan tak bisa dihentikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau gurun ini kalian terus tanami onak duri&lt;br /&gt;Jangan gundah jika kami pilih jalan kami sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Hijau, 2010&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6772101263727616149?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6772101263727616149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6772101263727616149' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6772101263727616149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6772101263727616149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/01/maka-biarkan.html' title='MAKA BIARKAN'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2088896065200373019</id><published>2010-01-22T02:34:00.001-08:00</published><updated>2010-01-22T02:34:49.464-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>MENGHUJAM AKAR</title><content type='html'>Ibrahim-ku Abraham-mu&lt;br /&gt;Yusuf-ku Joseph-mu&lt;br /&gt;Ya’qub-ku Jacob-mu&lt;br /&gt;Musa-ku Moses-mu&lt;br /&gt;Daud-ku David-mu&lt;br /&gt;Ishaq-ku Isaac-mu&lt;br /&gt;‘allaihummassalam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh al-Quran Sinagog dijaga&lt;br /&gt;Masjid dihormati Taurat juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taurat bicara soal kedamaian&lt;br /&gt;Keadilan maktub di al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pula membiarkan&lt;br /&gt;Darah terus berkucuran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpan itu senjata pemusnah masa&lt;br /&gt;Henti bunuhi manusia tiada berdosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambit nestapa&lt;br /&gt;Sambut merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luruh penindasan&lt;br /&gt;Rengkuh kebebasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertamukti, 2010&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2088896065200373019?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2088896065200373019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2088896065200373019' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2088896065200373019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2088896065200373019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/01/menghujam-akar.html' title='MENGHUJAM AKAR'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4189078242201698050</id><published>2010-01-22T02:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T02:34:22.213-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>PALESTINA! PALESTINA!</title><content type='html'>[1]&lt;br /&gt;Ini luka sebentar akan kering&lt;br /&gt;Pekik merdeka dikoar nyaring&lt;br /&gt;Mortir perlahan hilang dering&lt;br /&gt;Batang layu kembang puring&lt;br /&gt;Tegak lagi setelah dulu miring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestina! Palestina!&lt;br /&gt;Aku memanggilmu dari empatiku yang fana&lt;br /&gt;Luka mengendap hendak kau bawa kemana&lt;br /&gt;Selain pada terbit surya di balik rimbun sabana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]&lt;br /&gt;Itu lara segera hendak pulih&lt;br /&gt;Tawa anak-anak tak lagi perih&lt;br /&gt;Barak pengungsi aroma pedih&lt;br /&gt;Menyeruak wangi melati putih&lt;br /&gt;Jalan kemerdekaan kita pilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestina! Palestina!&lt;br /&gt;Aku mengenangmu sebagai kembara tiada lelah berkelana&lt;br /&gt;Menerjemah benar wahyu Tuhan atas Musa di bukit Tursina&lt;br /&gt;Gemilang perang Badar nampak cerlang di seberang sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]&lt;br /&gt;Putus sudah kuat belenggu rantai&lt;br /&gt;Kemenangan tiba mengombak badai&lt;br /&gt;Tinggal cerita ribuan rakyat di bantai&lt;br /&gt;Kini sama kita santap ini roti canai&lt;br /&gt;Kudengar di luar hujan turun me rinai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palestina! Palestina!&lt;br /&gt;Aku merekam intifadhah dan batu-batu tanpa gundah gulana&lt;br /&gt;Siapa menodai al-Quds sejatinya telah memilih abadi merana&lt;br /&gt;Kabarkan pada dunia bahwa merdeka adalah milik Palestina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2010&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4189078242201698050?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4189078242201698050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4189078242201698050' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4189078242201698050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4189078242201698050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/01/palestina-palestina.html' title='PALESTINA! PALESTINA!'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-12204269813784184</id><published>2010-01-22T02:31:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T02:33:44.104-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>HARI-HARI ESOK</title><content type='html'>Kelak, di suatu senja yang temaram dengan nyala jingga bohlam-bohlam&lt;br /&gt;Akan kita dengar Samih Al-qasim -sang penyair yang tersayat bibirnya&lt;br /&gt;Bercerita kepada kita: bukan lagi perihal ayat-ayat luka dan zikir air mata&lt;br /&gt;Namun tentang sebuah haflah kambing guling minyak zaitun di beranda rumah&lt;br /&gt;Ternak terbaik yang kita petik dari kandang-kandang, dari gembala ber-kafiyeh&lt;br /&gt;Para ibu riuh senda gurau memetik jeruk termanis dari ladang-ladang hijau tosca&lt;br /&gt;Disuguhkan kepada tamu-tamu, kepada para pejuang yang istirah dari dendam&lt;br /&gt;Pasmina penutup rambut mereka bekibar, ditiup angin senja yang sahaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab perang segan berulang. Sebab mesiu sudah memilih bisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok, pada sebuah sore ketika kesiur angin menilisik halus nyiur-nyiur&lt;br /&gt;Samih al-Qasim masih menyimpan tiket perjalanan di saku rombengnya&lt;br /&gt;Sungguh mengantarnya pada alamat kedamaian, kepada hujan yang dirindukan&lt;br /&gt;Hilang dari pandang gurun-gurun tandus, menghampar pohon manna berkah Tuhan&lt;br /&gt;Saat itu kita mendengar cericit burung hud mengganti desing mortir di kejauhan&lt;br /&gt;Kala itu kentara ruas-ruas sinar surya mengusap kepul hitam asap, awan gemerlap&lt;br /&gt;Lantas saksikan, anak-anak berkejaran, tanpa ada tentara-senjata, tanpa takut di dada&lt;br /&gt;Batu-batu berhenti dilemparkan, menghimpun diri jadi pondasi, rumah kita sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran tank-tank muak menyalak. Lantaran kata merdeka sama-sama kita teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samih al-Qasim adalah salah seorang penyair Palestina. Sajak di atas terinspirasi dua puisi Samih al-Qasim: Bibir yang Tersayat dan Tiket Perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-12204269813784184?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/12204269813784184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=12204269813784184' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/12204269813784184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/12204269813784184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2010/01/hari-hari-esok.html' title='HARI-HARI ESOK'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5473568033420083075</id><published>2009-11-10T00:45:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T00:48:02.072-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Gugur Dedaunan</title><content type='html'>setelah ditimang cerlang pagi&lt;br /&gt;awan gelap berarak ke selatan&lt;br /&gt;hadir kemudian rerintik hujan&lt;br /&gt;dan dedaunan gugur lagi-lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5473568033420083075?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5473568033420083075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5473568033420083075' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5473568033420083075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5473568033420083075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/11/gugur-dedaunan.html' title='Gugur Dedaunan'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-9189943858948487484</id><published>2009-11-10T00:22:00.001-08:00</published><updated>2009-11-10T00:22:53.614-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Terang Langit</title><content type='html'>dingin angin melambat&lt;br /&gt;di tatap mata mereka&lt;br /&gt;saat hujan enggan melebat&lt;br /&gt;ketika rahasia mulai diterka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-9189943858948487484?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/9189943858948487484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=9189943858948487484' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/9189943858948487484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/9189943858948487484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/11/terang-langit.html' title='Terang Langit'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-5247351785950071497</id><published>2009-11-10T00:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T00:22:08.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Menuju Timur</title><content type='html'>nama kita retak&lt;br /&gt;selepas perjalanan&lt;br /&gt;tanpa suara detak&lt;br /&gt;dan wangi kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-5247351785950071497?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/5247351785950071497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=5247351785950071497' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5247351785950071497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/5247351785950071497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/11/menuju-timur.html' title='Menuju Timur'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2302865525910161829</id><published>2009-11-10T00:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T00:20:12.736-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dalam Sajak</title><content type='html'>kamu hadir dalam sajak&lt;br /&gt;yang begitu abu-abu &lt;br /&gt;ketika langit tak berjarak&lt;br /&gt;dengan hatimu yang membiru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2302865525910161829?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2302865525910161829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2302865525910161829' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2302865525910161829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2302865525910161829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/11/dalam-sajak.html' title='Dalam Sajak'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-131042938262356472</id><published>2009-10-08T07:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T07:25:10.649-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Ziarahi Tubuhku</title><content type='html'>ziarahi tubuhku&lt;br /&gt;seperti kau ziarahi&lt;br /&gt;makam para wali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau habiskan&lt;br /&gt;tujuh ratus ribu rupiah&lt;br /&gt;untuk sebentuk perjalanan&lt;br /&gt;tebus aku dengan&lt;br /&gt;harga serupa&lt;br /&gt;untuk selitas perjamuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas Bahasa Arab, Oktober 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-131042938262356472?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/131042938262356472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=131042938262356472' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/131042938262356472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/131042938262356472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/10/ziarahi-tubuhku.html' title='Ziarahi Tubuhku'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1840058808509658438</id><published>2009-10-07T22:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T22:31:10.297-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Kepada Buku</title><content type='html'>sebelum aku singgah di Rumah Bambu*&lt;br /&gt;Orang-Orang Proyek* diarak ke mata kekasih&lt;br /&gt;kekasih yang rindunya melebihi&lt;br /&gt;Rindu Ladang Padang Ilalang*&lt;br /&gt;dan kami begitu ingin pergi dari&lt;br /&gt;Negeri Daging*, negeri yang aku kunjungi&lt;br /&gt;pada mimpi pagi yang dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 8 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rumah Bambu: kumcer YB. Mangunwijaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang-Orang Proyek: novel Ahmad Tohari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rindu Ladang Padang Ilalang: kumcer M. Fudloli Zaini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Negeri Daging: kumpulan puisi A. Mustofa Bisri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;keempat buku itu saya beli belum lama ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1840058808509658438?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1840058808509658438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1840058808509658438' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1840058808509658438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1840058808509658438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/10/kepada-buku.html' title='Kepada Buku'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2001526474742490712</id><published>2009-10-07T20:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T20:21:10.297-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Jogja Gallery</title><content type='html'>terima kasih, sya&lt;br /&gt;tuk cubitan di pinggang&lt;br /&gt;yang ingatkanku&lt;br /&gt;pada rasa sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertamukti, 2009&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2001526474742490712?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2001526474742490712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2001526474742490712' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2001526474742490712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2001526474742490712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/10/di-jogja-gallery.html' title='Di Jogja Gallery'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-7450573955435366149</id><published>2009-10-07T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T20:20:08.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Ke Pletuk</title><content type='html'>ranggas hutan jati&lt;br /&gt;warna kopi susu&lt;br /&gt;serupa alasan&lt;br /&gt;kenapa wangi &lt;br /&gt;hutan kayu putih&lt;br /&gt;tak sampai&lt;br /&gt;di perjalananku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-7450573955435366149?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/7450573955435366149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=7450573955435366149' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7450573955435366149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/7450573955435366149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/10/ke-pletuk.html' title='Ke Pletuk'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3363037786762877014</id><published>2009-10-07T20:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T20:18:03.725-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Pletuk</title><content type='html'>labuh kecipak air&lt;br /&gt;di bibir rindu&lt;br /&gt;adalah kenangan&lt;br /&gt;lapuk masa kecil&lt;br /&gt;tanpa air terjun&lt;br /&gt;dan timang ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, Oktober 2009&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3363037786762877014?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3363037786762877014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3363037786762877014' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3363037786762877014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3363037786762877014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/10/di-pletuk.html' title='Di Pletuk'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-2660713551788460095</id><published>2009-09-20T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-20T07:46:47.095-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Dari Pojok Empati</title><content type='html'>Ibu jangan cari aku/jika aku tidak/mengupas bawang/Ayah jangan marah dulu/kalau aku tidak/mengangkat barang/Beri ku kesempatan/sedikit waktu/tuk belajar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sebait lagu yang biasa dinyanyikan panitia-pendamping bersama para peserta sanlat yang kebanyakan adalah anak jalanan dan kurang mampu. Terdengar teramat menyayat memang. Namun, seperti itulah gambaran realita hidup para peserta yang dikepung kemiskinan. Sehingga mereka perlu 'meminta kesempatan sedikit waktu' kepada ayah dan ibu untuk belajar. Jika diperbandingkan, daripada menghabiskan waktu seminggu di sanlat, sebenarnya jauh lebih menguntungkan dan menghasilkan uang jika mereka bekerja. Entah itu 'mengupas bawang' atau 'mengangkat barang'. Ya, para peserta kebanyakan adalah pekerja anak sektor informal. Mayoritas telah putus sekolah. Jadi, sanlat adalah 'sedikit waktu' mereka tuk belajar. Bergembira. Beristirahat dari hiruk pikuk jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Yayasan Nanda Dian Nusantara pimpinan ibu Roostien Ilyas yang selama dua belas tahun konsisten menggelar acara pesantren kilat untuk anak jalanan dan kurang mampu. Dalam kiprahnya yayasan ini bergandeng tangan dengan PMII Komfakda UIN Jakarta. Tak banyak yayasan yang kemudian mampu bertahan dalam hitungan belasan tahun membuat kegiatan sosial serupa ini. Maka, walau sebenarnya tak ingin dipuji, acungan jempol layak kita berikan kepada YNDN dan PMII sebagai apresiasi atas kontribusi besar mereka selama ini. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya konsep pesantren kilat anak jalanan ala YNDN-PMII? Pada mulanya, semua tentu dibangun di atas pondasi kecintaan dan kesadaran yang utuh untuk berbagi. Bu Roostien suatu waktu pernah bercerita. Ketika sedang santap sahur di bulan ramadhan, telepon rumah beliau berdering. Saat diangkat terdengar suara beberapa anak kecil. Bu Roostien segera sadar bahwa itu adalah anak-anak jalanan binaannya. Bertanya salah seorang dari mereka: Ibu sedang apa? Sedang makan sahur, Nak. Kamu sudah makan sahur? Anak-anak malah cekikian. Lalu salah seorang berujar: sebenarnya sih pengen puasa, pengen makan sahur, tapi mau sahur pakai apa? Ya sudah Bu, makasih ibu. Saya mau lihat orang makan sahur aja. Terdengar mereka meletakkan gagang telepon umum di tempatnya. Seketika Bu Roostien terhenyak. Apa yang salah dengan diriku? Apa yang salah dengan agamaku? Pertanyaan-pertanyaan itu mengelanyut di benak beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, sejak tahun 1998 hingga sekarang pesantren kilat anak jalanan terus digelar. Lokasi tiap tahun berubah. Disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan. Sekali waktu di Cipayung, Taman Mini dan beberapa kali di Pasar Minggu. Sedang permasalahan yang timbul setiap tahun hampir sama: pengurus masjid tidak membolehkan anak-anak jalanan mendirikan sholat di masjid. Mereka beranggapan bahwa anak-anak itu hanya akan mengotori masjid dan dimungkinkan banyak sandal jamaah yang hilang lantaran dicuri oleh anak-anak. Akan tetapi, pelaksanaan sanlat tahun ini sedikit berbeda. Masjid At Tin, sebagai tuan rumah, tak hanya merelakan lahan parkirnya, akan tetapi dengan senang hati pihak masjid memperbolehkan pelaksanaan sholat dan aktivitas kepesantrenan lainnya di dalam masjid. Baru tahun ini ekslusifitas masjid dapat didobrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik lebih lanjut konsep sanlat tidaklah terlalu muluk-muluk. Terutama materi yang disampaikan kepada peserta. Sebab, bagaimanapun peserta sanlat adalah anak jalanan. Sebagaian besar dari mereka menganggap 'agama' dan 'sekolah/menuntut ilmu' sebagai penghalang atau sesuatu yang tidak mendapatkan prioritas. Dalam kepala mereka boleh jadi hanya ada satu kata: uang. Karena dengan uang mereka bisa makan, melanjutkan hidup. Sehingga, mampu membiasakan mereka mengucap basmalah sebelum beraktivitas saja sudah jadi prestasi besar bagi para pendamping. Tidak perlu jauh-jauh mewajibkan mereka puasa penuh atau rajin sholat terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas harian peserta sanlat terbilang cukup variatif. Diawali dengan santap sahur bersama dilanjutkan sholat subuh. Peserta mendapat materi hafalan (doa harian/surat pendek) ba'da subuh. Materi yang bersifat hafalan dipilih lantaran pada umumnya memori mereka belum banyak terisi pada pagi hari. Olahraga atau kerja bakti diwajibkan kepada peserta sebelum mereka diberi waktu istirahat hingga tiba waktu duhur. Adapun materi selepas duhur adalah mengenai wawasan umum. Misal, tentang jihad dan terorisme, Islam Indonesia atau kerukunan beragama. Pendamping bisa saja sangat menguasai materi, tapi cara penyampaian tentu harus semenarik mungkin. Anak-anak sebagai mad'u bukan pekerjaan ringan. Mereka akan sangat senang jika disisipi dongeng, lagu dan permainan. Tiga cara itu terbukti efektif untuk mentransfer ilmu kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendampingi anak-anak jalanan yang tak kalah penting adalah adanya belaian dan sentuhan kecil bagi mereka. Mengusap-usap punggung atau kepala sudah barang pasti akan menghadirkan kedamaian tersendiri bagi peserta. Pasalnya, dalam keseharian mereka di rumah, hal-hal semacam itu amat jarang mereka temui atau bahkan tak pernah. Selama ini mungkin yang akrab dengan mereka adalah hardikan, bentakan, tampar, suruhan, umpat dan sejenisnya. Oleh karena itu, tak heran jika tiba-tiba sala seorang peserta menangis sesenggukan dengan alasan yang tak jelas lantaran diperlakukan secara halus dan manusiawi oleh para panitia-pendamping. Sentuhan hangat adalah bentuk nyata kasih sayang .Dan mereka merindukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, memberi ruang curhat bagi anak-anak juga akan membuat mereka merasa dimanusiakan. Penulis dan beberapa panitia-pendamping dalam suatu kesempatan pernah berbincang dengan seorang peserta putri. Sebut saja namanya Lala. Awalnya penulis menangkap sesuatu yang menarik dari Lala. Dia berbeda dari teman sebayanya. Lala sangat pendiam, apabila bicara suaranya hampir tak terdengar, setiap kali tertawa selalu menutup mulutnya, pemalu sekali. Singkat kata, tak ditemui keriangan dari dirinya. Dari perbincangan dengan Lala, diketahui bahwa Lala saat ini sudah tak bersekolah. Ketika ditanya alasannya, sesaat kami tercengang. Saya bodoh, Kak, ujarnya. Lala bilang dia gagal masuk SMP karena nilainya ketika SD sangat rendah. Kami berpikir keras, sebenarnya ada apa dengan anak ini? Apa yang melatar belakangi sampai ia mengklaim dirinya 'bodoh'? Lantas kami melanjutkan bertanya. Ternyata, Lala adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ibunya seorang buruh cuci dan ayahnya tidak bekerja. Kini Lala bekerja sebagai penjaga warung dengan penghasilan Rp 100.000/bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut tentang Lala kami tak mau berspekulasi dan menerka-nerka. Kami juga tak sanggup mengira-ngira apa yang akan terjadi pada gadis manis ini manakala ia harus menyerah pada nasib dan mengalah pada takdir.  Akhirnya, di malam terakhir sanlat, seusai acara api unggun, dalam renungan yang dipimpin Bang Pacun. Kami menderas air mata dan merapal doa. Tuhan, peluk mereka dan jangan gelapkan mata mereka sehingga tak mampu menangkap cahayamu. Apapun yang terjadi dengan hidup mereka, sesusah apapun itu, jangan beri mereka alasan untuk bersedih dan membenci-Mu. Pelihara tawa  riang mereka, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya mereka harus kembali ke rumah. Kembali ke muasal peluh. Sebagian ke Tomang, Ciputat, Bojong, Pasar Minggu dan Bekasi. Serta kembali menyayikan lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau aku harus bantu bapak/bapakku yang bukan pengusaha/mau tak mau akau harus bantu ibu/ibuku bukan wanita karir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham Zakky Zulhami. Mahasiswa semester 3 KPI  FDK UIN Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-2660713551788460095?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/2660713551788460095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=2660713551788460095' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2660713551788460095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/2660713551788460095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/09/dari-pojok-empati.html' title='Dari Pojok Empati'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1599846111604743248</id><published>2009-09-20T05:44:00.000-07:00</published><updated>2011-11-19T23:05:30.170-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><title type='text'>TEKNIK MENULIS SKENARIO</title><content type='html'>Pembuatan sebuah film harus direncanakan sematang mungkin. Salah satu bagian dari produksi film yang terpenting adalah penulisan skenario. Skenario termasuk unsur yang dibutuhkan paling awal sebagai rancangan membuat film. Ketika sebuah skenario telah selesai, maka sebenarnya film telah selesai dibuat pula dalam bentuk tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana cara menulis skenario? Berikut ini akan dipaparkan teknik menulis skenario yang diambil dari beberapa sumber di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDE CERITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mungkin yang pertama ingin diketahui oleh orang yang ingin membuat skenario untuk film adalah langkah pertama. Apa sih yang paling pertama dilakukan dalam membuat skenario? &lt;br /&gt;Yap, the first step is IDE CERITA.&lt;br /&gt;Ide cerita yang ada di kepala sebaiknya langsung dituangkan kedalam tulisan. Cukup ke dalam satu kalimat. Contohnya: tentang seorang pemuda yang jatuh cinta kepada wanita yang tak pernah bisa ia ajak bicara, atau tentang seorang jagoan yang diutus kebumi untuk menumpas kejahatan. Dalam bahasa Inggris, biasanya wujudnya seperti ini: the story tells us about a maid that goes to a dance party in a castle, atau, about a father that always lie to his son. &lt;br /&gt;Apapun bentuknya, biasanya subyek yang ditulis di awal kalimat selalu manusia. Mungkin ada beberapa yang mau membuat subyeknya non-manusia, seperti binatang, matahari, air, waktu, atau apapun. Namun biasanya akan menemui kesulitan dalam pengembangannya karena subyek-subyek non-manusia kadang tidak bisa melakukan aksi dan jarang sekali memiliki problem yang menarik. Seandainya tetap ingin membuat subyek non-manusia, biasanya subyek tersebut tetap “dimanusiakan”, atau dipersonifikasikan, dan tetap memiliki karakter-karakter manusia. &lt;br /&gt;Contoh ide cerita: sepesang kekasih yang telah menikah saat kelas dua SMA dan memiliki seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide cerita yang cuma satu kalimat harus dikembangkan kedalam cerita dasar (basic story), yang isinya tidak lebih dari satu halaman folio dengan spasi satu setengah dan font times new roman ukuran 12. Biasanya cerita dasar berkisar setengah halaman saja. Isi dari cerita dasar itu ada keterangan tempat dan waktu, keterangan tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita, problem-problem utama, serta penyelesaian. Jangan malu-malu untuk menulis akhir dari cerita yang dibuat, jangan disimpan-simpan sendiri atau untuk membuat surprise orang. Tidak ada orang yang bisa anda kejutkan dalam proses penulisan skenario.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARAKTER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skenario yang akan kita buat, akan muncul tokoh-tokoh. Kita harus membuat dan mengenalinya lebih dalam. Gunanya banyak. Kita akan tahu bagaimana tokoh tersebut berdialog, berpikir dan bertindak. Kita akan tahu bagaimana si tokoh akan memecahkan masalah. Juga bagaimana koflik antara satu tokoh dengan tokoh lain.&lt;br /&gt;Pada tahap pencarian pemain (casting), penjelasan karakter juga sangat membantu untuk menemukan pemain yang cocok untuk memerankan tokoh yang dibuat. Selanjutnya, bagi pemain itu sendiri akan lebih mudah untuk memahami karakter tokoh yang harus dimainkannya.&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan karakter tokoh, kita bisa melakukannya dengan memberikan data mengenai : nama lengkap dan panggilan, agama, umur, hubungan keluarga dan pertemanan, kegemaran (ilmu pengetahuan, film, musik, olahraga, bacaan, makanan), ciri-ciri fisik, intelejensia, gaya busana, cara berbicara, sifat, tempat tinggal, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Contoh perincian karakter: Sinta, cewek SMA usia 18 tahun, tidak terlalu pintar. Tatap matanya genit, murah senyum, rambutnya yang ikal panjang sampai ke punggung, dan tubuhnya ramping. Seorang cewek glamour yang selalu tampil seksi. Hobi jalan-jalan dan shopping. Tinggal di sebuah komplek perumahan elit. Orang tua sangat sibuk, jarang di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LOKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat adegan, kita harus menentukan set dan lokasi (tempat adegan berlangsung) terlebih dahulu. Ini akan memudahkan kita untuk menentukan adegan. Sedang apa, posisinya dimana, dari mana, menuju kemana, melihat apa atau memandang ke arah mana.&lt;br /&gt;Tempat kejadian berlangsung itu bisa berupa set yang dibangun di studio, misalnya ruang-ruang dalam rumah seperti teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar, dapur atau kita menggunakan bagian dari bangunan rumah yang sebenarnya. Yang dimaksud set tidak selalu harus rumah, tapi juga jalan atau tempat lain.&lt;br /&gt;Penjelasan set ini, selain berguna bagi kita ketika membuat skenario, juga berguna sebagai petunjuk bagi set builder untuk membangun set di studio atau bagi unit produksi untuk mencarikan bagunan yang akan dijadikan sebagai set yang sesuai dengan tuntutan skenario.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PLOT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan plot yang merupakan alur cerita sangat diperlukan dalam menulis skenario sebagaimana dalam penulisan novel maupun cerpen. Struktur plot lazimnya terdiri dari 3 (tiga) babak yaitu set up atau awal konflik, confrontation atau komplikasi masalah, dan resolution atau penyelesaian masalah. Dengan adanya plot yang disusun terlebih dahulu akan sangat membantu penulis dalam penulisan skenario. Bentuk plot secara sederhana adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Babak I : Pada liburan kenaikan kelas dua, Sinta mengadakan party di rumahnya. Pesta usai dan teman-teman pulang. Karena dalam keadaan mabuk, Sinta menerima ajakan Andre, teman sekelasnya yang masih disitu, untuk bersetubuh. Sinta hamil. Untunglah Andre mau bertanggung jawab. Kelas dua SMA mereka resmi jadi suami istri dan beranak satu. &lt;br /&gt;Babak II : Mereka masih labil. Menyelesaikan masalah dengan emosi. Sinta menuduh Andre selingkuh dengan Ratna, teman satu tim Andre di eskul basket. Andre tak terima, dia juga menuduh Sinta main belakang dengan Renald, kakak kelas mereka. Pertengkaran mewarnai hari-hari.&lt;br /&gt;Babak III : Suatu hari ketika mereka bertengkar hebat, anak mereka yang masih belum genap setahun menagis keras. Minta susu. Sementara susu habis. Uang mereka juga tipis. Pada akhirnya mereka berjuang bersama untuk membelikan susu anaknya. Di tengah perjuangan membelikan susu, mereka sadar bahwa bertengkar terus tak ada guna. Ada anak mereka yang harus dipikirkan. Happy ending.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OUTLINE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outline adalah susunan urutan adegan per adegan secara lebih rinci. Jadi bisa dikatakan bahwa outline adalah penjabaran dari plot. Contoh outline adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Di Rumah Sinta :&lt;br /&gt;1.1. Sinta berjoged bersama teman-temannnya, mengikuti dentuman house music,&lt;br /&gt;1.2. Sinta dan Andre saling curi-curi pandang,&lt;br /&gt;1.3. Karena kebanyakan minum Sinta mabuk, party hampir usai,&lt;br /&gt;1.4. Teman-teman sinta pulang, Andre terlihat enggan pulang,&lt;br /&gt;1.5. Andre menyusul Sinta yang menuju kamar tidur, dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCENE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scene atau scene heading merupakan informasi tentang adegan. Scene heading umumnya terdiri dari nomor scene, INT/EXT, lokasi adegan, dan waktu adegan. INT singkatan dari interior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di dalam ruangan. sedangkan EXT singkatan dari exterior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di luar ruangan. Adapun bentuk scene heading adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. INT. RUMAH SINTA – MALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ACTION &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Action atau aksi adalah keterangan mengenai kejadian dalam setiap scene atau adegan yang merupakan penjabaran dari outline yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk Scene 1 dapat ditulis sebagai berikut :&lt;br /&gt;INT. RUMAH SINTA – MALAM &lt;br /&gt;Sinta berjoged bersama teman-temannya mengikuti dentuman house music.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIALOG &amp; PARENTHETICAL&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dialog adalah kata atau kalimat yang harus diucapkan oleh karakter dalam adegan. Sedangkan parenthetical adalah pentunjuk aksi atau ekspresi yang harus dilakukan oleh karakter dalam mengucapkan dialog. Misalnya emosi, sedih, menangis, tersenyum, tertawa, dan sebagainya. Adapun dialog yang mengiringi perjalanan scene yang menunjukkan suara hati atau pikiran dari karakter tanpa melafalkan dialog digunakan istilah Voice Over (V.O), sedangkan dialog tanpa menampilkan karakter dalam adegan digunakan istilah Off Screen (O.S). Contoh dialog dan parenthetical adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;1. INT. RUMAH SINTA - MALAM&lt;br /&gt;Sinta dengan tank top dan rok mininya begitu enerjik berjoged bersama teman-temannya. Kedua tangannya diangkat ke atas dan berputar-putar mengikuti dentuman musik. Sementara kepalanya mengangguk-angguk. &lt;br /&gt;SINTA &lt;br /&gt;(V.O)&lt;br /&gt;Hidup ini harus dirayakan. Harus berpesta. Aku tak pernah tahu, kenapa orang-orang masih punya alasan untuk bersedih. Bukankah hidup ini sudah susah? Kenapa pula hati selalu diliputi sedih, takut, bimbang, kecewa, ah bullshit! Bersenang-senang lah, berpesta lah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ATURAN BAKU &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis skenario terdapat beberapa aturan baku, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Font Courier New&lt;br /&gt;2. Ukuran/size 12.&lt;br /&gt;3. Spasi satu (1). Bukan satu setengah, bukan dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga format dasar di atas ada hubungannya dengan durasi film. Secara internasional sudah diakui bahwa dengan font courier new, size 12 dan spasi 1, maka satu halaman skenario sama dengan satu menit film. 120 halaman skenario = 120 menit film, atau dua jam. &lt;br /&gt;Pernyataan ini pun sebenarnya masih tergantung juga pada seberapa detil penjelasan visual di skenario tersebut, dan berapa perbandingan antara penjelasan visual/action, dengan dialognya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTILAH PENTING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BCU (BIG CLOSE UP): Pengambilan gambar dengan jarak yang sangat dekat. Biasanya, untuk gambar-gambar kecil agar lebih jelas dan detail, seperti anting tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CU (CLOSE UP): Pengambilan gambar dengan jarak yang cukup dekat. Biasanya, untuk menegaskan detail sesuatu seperti ekspresi tokoh yang penting, seperti senyum manis atau lirikan mata. Tokoh biasanya muncul gambar wajah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COMMERCIAL BREAK: Jeda iklan. Penulis skenario harus memperhitungkan jeda ini, dengan memberi kejutan atau suspense agar penonton tetap menunggu adegan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CREDIT TITLE: Penayangan nama tim kreatif dan orang yang terlibat dalam sebuah produksi.&lt;br /&gt;CUT BACK TO: Transisi perpindahan dalam waktu yang cepat untuk kembali ke tempat sebelumnya. Jadi, ada satu kejadian di satu tempat, lalu berpindah ke tempat lain, dan kembali ke tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO: Perpindahan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda atau kelanjutan adegan di hari yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISSOLVE TO: Perpindahan dengan gambar yang semakin lama semakin kabur sebelum berpindah ke adegan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ESTABLISHING SHOT: Pengambilan gambar secara keseluruhan, biasa disingkat ESTABLISH saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXT.(EXTERIOR): Menunjukan tempat pengambilan gambar diluar ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FADE OUT: Perpindahan gambar dari terang ke gelap secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FADE IN: Perpindahan gambar dari gelap ke terang secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLASHBACK: Ulangan atau kilas balik peristiwa. Biasanya, gambarnya dibedakan dengan gambar tayangan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLASHES: Penggambaran sesuatu yang belum terjadi dalam waktu cepat; contohnya: orang melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FREEZE: Aksi pada posisi terakhir. Harus diambil adegan yang terjadi pada tokoh utama dan dapat membuat penonton penasaran sehingga membuat penonton bersedia menunggu kelanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSERT: Sisipan adegan pendek, tetapi penting di dalam satu scene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERCUT: Perpindahan dengan cepat dari satu adegan ke adegan lain yang berbeda dalam satu kesatuan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INT. (INTERIOR): Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LS (LONG SHOT): Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAIN TITLE: Judul cerita pada sinetron atau film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MONTAGE: Beberapa gambar yang menunjukkan adegan berurutan dan mengalir. Bisa juga menunjukkan beberapa lokasi yang berbeda, tetapi merupakan satu rangkaian cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OS (ONLY SOUND): Suara orang yang terdengar dari tempat lain; berbeda tempat dengan tokoh yang mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAUSE: Jeda sejenak dalam dialog, untuk memberi intonasi ataupun nada dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POV (POINT OF VIEW): Sudut pandang satu atau beberapa tokoh terhadap sesuatu yang memegang peranan penting untuk tokoh yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCENE: Berarti adegan atau bagian terkecil dari sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SLOW MOTION: Gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Untuk menunjukkan hal yang dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SFX (SOUND EFFECT): Untuk suara yang dihasilkan di luar suara manusia dan ilustrasi musik. Misalnya, suara telepon berdering, bel sekolah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPLIT SCREEN: Adegan berbeda yang muncul pada satu frame atau layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEASER: Adegan gebrakan di awal cerita untuk memancing rasa penasaran penonton agar terus mengikuti cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VO (VOICE OVER): Orang yang berbicara dalam hati. Suara yang terdengar dari pelakon namun bibir tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demikianlah penjelasan sekilas tentang skenario. Seiring waktu, tak menutup kemungkinan terjadi perubahan-perubahan format penulisan skenario. Akan tetapi, untuk saat ini format penulisan skenario kurang lebih sama seperti penjabaran di atas. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DAFTAR BACAAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;http://asiaaudiovisualra09hizkiaadiputra.wordpress.com/2009/06/14/daftar-istilah-dalam-pembuatan-skrip-skenario/&lt;br /&gt;http://adnanscript.blogspot.com/2008/07/teknik-penulisan-skenario-film.html&lt;br /&gt;http://belajarnge.blogspot.com/2008/08/format-skenario-film.html&lt;br /&gt;http://www.jakmovie.com/&lt;br /&gt;http://idecerita.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1599846111604743248?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1599846111604743248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1599846111604743248' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1599846111604743248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1599846111604743248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/09/teknik-menulis-skenario.html' title='TEKNIK MENULIS SKENARIO'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-3425441163135956490</id><published>2009-09-16T07:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T08:03:51.886-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Sanlat dan Kenangan yang Melekat</title><content type='html'>LEMBAR NOTULENSI&lt;br /&gt;PESANTREN KILAT RAMADHAN KE-12&lt;br /&gt;BAGI ANAK-ANAK KURANG MAMPU SE-JABOTABEK&lt;br /&gt;Masjid Agung At Tin, 31 Agustus-6 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur, bulan Ramadhan kali ini Yayasan Nanda Dian Nusantara bersama PMII Komisariat Fakultas Dakwah kembali mengadakan Pesantren Kilat Ramadhan ke-12. Kegiatan ini dikhususkan bagi anak-anak kurang mampu dan anak jalanan se-Jabotabek pada 31 Agustus s/d 6 September 2009. Bertempat di Masjid Agung At-Tin pesantren kilat kali ini diikuti kurang lebih 200 peserta. Sebagaian dari mereka ada yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu, pengamen, pemulung, pedagang asongan dll. Bagaimana pun juga mereka punya hak atas pendidikan yang layak. Terutama pendidikan agama sebagi bekal dasar dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1998 Yayasan Nanda Dian Nusantara (NDN) dan PMII Komfakda secara kontinyu membuat kegiatan pesantren kilat setiap tahunnya. Dua belas kali penyelenggaran pesantren kilat bukan hal yang mudah bagi bagi Yayasan NDN dan PMII Komfakda. Tapi memang dunia advokasi anak jalanan, pendampingan kaum terpinggir dan pembangunan rumah singgah menjadi fokus Yayasan NDN dalam kiprahnya. Adapun PMII Komfakda pada dasarnya memiliki concern pada kegiatan sosial yang boleh dibilang sangat tinggi. Di ranah mahasiswa, PMII memang tak hanya bergerak di bidang pengembangan minat-bakat mahasiswa, latihan organisasi atau sekedar wadah interaksi belaka. Kepekaan sosial juga di asah dalam organisasi pergerakan mahasiswa yang lahir dari rahim NU ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah catatan harian kegiatan pesantren kilat ramadhan ke-12:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 28 Agustus 2009: pukul 16.00 WIB panitia dan pendamping dari PMII bertemu dengan pihak Yayasan Nanda Dian Nusantara di Asrama Putri PMII. Agenda: pemantapan pendamping, penggambaran sekilas kegiatan sanlat, sekaligus buka bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 30 Agustus 2009: Pukul 15.00 rapat koordinasi dan persiapan terakhir sebelum pemberangkatan intern PMII Komfakda. Bertempat di Sekretariat PMII Komfakda. Ditutup dengan buka bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 31 Agustus 2009: Panitia beserta pendamping berangkat bersama dari UIN Jakarta. Sekitar pukul 13.00 peserta berdatangan dari berbagai titik, seperti Pasar Minggu, Ciputat, Tomang, Bekasi, Tangerang dan Bojong. Regristasi panitia, pendamping dan peserta sampai waktu sholat ashar tiba. Selepas itu pesantren kilat kedatangan banyak tamu. Sebut saja mbak Heni, yang dengan penuh keriangan mengajari anak-anak bernyanyi, melakukan gerak-gerak atraktif-kreatif, menyajikan games-games beserta hadiah yang menarik.&lt;br /&gt;Selanjutnya Wanda Hamidah yang anggota DPRD menampilkan kepiawaiannya sebagai model. Dilanjutkan pelawak kawakan Miing menyuguhkan banyolan segar sebelum berbuka puasa, tak lupa disisipkan pesan-pesan religi ringan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;Bebrapa menit sebelum berbuka, datang Kak Seto dan istri membuka acara Pesantren Kilat Ramadhan Ke-12. Hadir pula ibu Roostien Ilyas dan beberapa pengurus YNDN.&lt;br /&gt;Buka puasa pertama panitia sedikit kerepotan lantaran peserta belum dibagi dalam berbagai kelompok. Begitu juga ketika pelaksanaan sholat Maghrib dan Tarawih. Pada akhirnya, setelah ibadah sholat tarawih, peserta yang berjumlah kurang lebih 200 orang dibagi dalam 10 kelompok. Peserta dibolehkan istirahat setelahnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 1 September 2009: Seusai sahur dan sholat subuh, seluruh peserta dikumpulkan berdasarkan kelompok masing-masing untuk penyampaian materi hafalan surat-surat pendek. Acara dilanjutkan senam ringan barang beberapa menit. Peserta diberikan waktu istirahat sampai kumandang adzan duhur. Materi yang disampaikan qobla sholat duhur adalah tentang jihad dan terorisme. Tujuan utama tak lain dan tak bukan adalah untuk meluruskan persepsi jihad yang beberapa waktu terakhir dipahami secara kurang tepat oleh khalayak. Mengambil tempat di beranda lantai 1 masjid At Tin yang cukup adem, penyampaian materi jihad berlangsung lancar. Akan tetapi, tingkat pemahaman peserta tentulah berbeda-beda. Penyampaian materi berakhir saat masuk waktu ashar.&lt;br /&gt;Berikutnya adalah penyuluhan bahaya narkoba oleh Bapak Isa Anshori dari BNK. Lantas dilanjutkan buka bersama, sholat tarawih dan review materi yang telah diberikan. Pukul 22.00 peserta diwajibkan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 2 September 2009: Kegiatan pagi masih selalu sama tiap harinya. Sahur bersama, sholat subuh berjamaah dan penyampaian materi. Namun, kali ini suasana agak berbeda lantaran peserta diungsikan dari tenda ke aula masjid At Tin. Hujan deras yang mengguyur malam harinya adalah penyebabnya. Disampaikan setelah sholat subuh materi hakikat berpuasa oleh salah seorang pendamping. Untuk menggerakkan badan di pagi hari, dimainkanlah games Samson Delila. Sebuah permainan yang menguji ketangkasan dan kekompakan. Selanjutnya peserta dan panitia diperkenankan beristirhat. Pukul 11.00 pesiapan sholat duhur. Islam Indonesia dan Wali Songo adalah materi yang diberikan oleh para pendamping kepada peserta selepas sholat duhur hingga tiba waktu ashar. Kehormatan bagi pesantren kilat tahun ini kedatangan tamu dari ibu-ibu Alam Sutra. Berdoa bersama dipimpin panitia hingga bedug maghrib bertalu-talu. Kegiatan setelah buka bersama hingga waktu istirahat masih sama dengan hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 3 September 2009: Kegiatan pagi tak banyak yang yang berbeda dari hari sebelumnya. Materi yang disampaikan pendamping di hari keempat adalah praktik sholat. Siang harinya mahasiswa kedokteran dari UIN Jakarta datang memberi penyuluhan kesehatan dari habis duhur hingga waktu berbuka tiba. Peserta diajari mencuci tangan, menggosok gigi yang benar, penyakit kulit dan lain-lain. Ibu Cofifah Indar Parawansa menyempatkan diri datang beberapa saat sebelum buka puasa. Agenda malam tak banyak berubah, tak beda dari hari sebelumnya. Kecuali sebuah kejutan yang tak pernah diduga oleh Bang Andi (YNDN) sebelumnya. Surprise di hari ulang tahun beliau! Diawali dengan bernyanyi bersama lagu-lagu yang sedang hits, tiba-tiba saja Bang Andi diguyur dua ember air yang cukup membuatnya basah kuyup. Selamat ulang tahun, Bang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 4 September 2009: Selepas sholat subuh, peserta mendapat materi hafalan doa-doa harian. Cinta kebersihan coba ditanamkan dengan kerja bakti bersama membersihkan lingkungan sekitar tenda. Sholat Jumat di masjid At Tin yang awalnya cukup dikhawatirkan pada kenyataannya berlangsung tertib dan lancar. Untuk meningkatkan intelektualitas peserta, diadakanlah cerdas cermat antar kelompok. Babak penyisihan berlangsung sebelum sholat ashar. Sedang babak final digelar ba’da sholat ashar. Sebelum buka puasa menyanyikan lagu Bandung tak boleh dilewatkan. Penampilan yel-yel dari tiap kelompok menghadirkan suasana kreatif dan kekompakan yang kental. Sama seperti hari-hari sebelumnya, malam hari dilewati dengan buka bersama, sholat maghrib, isya’, tarawih berjamaah. Pun demikian, yang special dari malam ini adalah pawai obor keliling sembari membangunkan orang untuk makan sahur. Mengambil rute di sekitaran masjid At Tin, pawai obor berlangsung khidmat dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 5 September 2009: hari terakhir di pesantren kilat, pendamping mendapat tugas me-review materi yang telah disampaikan selama seminggu. Persiapan untuk malam api unggun juga telah dimulai sejak siang. Sore harinya tamu dari Conoco Philips bertandang ke sanlat, begitu pula dari beberapa sponsor-sponsor yang mendukung terselenggaranya pesantren kilat. Seusai sholat tarawih, tampilan kreasi seni dari tiap-tiap kelompok cukup mendapat tempat di hati siapa saja yang hadir malam itu. Ada yang membaca puisi, bermain drama, pantomim, darama musical dll. Puncaknya adalah api unggun! Di kesempatan itu dibacakan pemenang dari lomba-lomba yang telah diselenggarakan panitia, sambuatan dari ketua YNDN, ibu Roostien Ilyas dan bersuka cita sembari bernyayi riang mengitarai api unggun. Pendamping secara kompak dan rancak menghibur peserta dengan menyanyikan lagu bersama-sama. Mendekati tengah malam digelar renungan. Dipimpin Bang Mansur, air mata peserta, panitia dan pendamping menganak sungai. Rasa haru karena perpisahan mendominasi ruang hati semuanya. Seminggu seolah tak cukup untuk berbagi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 6 September 2009: sebelum pembagian bingkisan dan uang saku bagi peserta, panitia memberikan sedikit persembahan terakhir bagi peserta. Atraksi sulap. Selanjutnya urut per-kelompok peserta maju satu persatu mengambil bingkisan. Manakala mobil jemputan peserta mulai berdatangan kesedihan sebagian panitia dan pendamping memuncak sudah. Mereka musti benar-benar berpisah. Masuk waktu duhur panita-pendamping meninggalkan lokasi setelah terlebih dahulu membereskan semuanya dan membersihkan lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tinggal At Tin dan semua kenangan. Sampai jumpa Ramdhan tahun depan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-3425441163135956490?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/3425441163135956490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=3425441163135956490' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3425441163135956490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/3425441163135956490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/09/sanlat-dan-kenangan-yang-mengikat.html' title='Sanlat dan Kenangan yang Melekat'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-1263337405472791895</id><published>2009-08-10T20:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T20:59:04.697-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Winong</title><content type='html'>Kemarin aku ke rumahnya&lt;br /&gt;depan rumahnya saja&lt;br /&gt;damai berjejalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo, akhir September 2006&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-1263337405472791895?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/1263337405472791895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=1263337405472791895' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1263337405472791895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/1263337405472791895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/08/di-winong.html' title='Di Winong'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-6185677963580645172</id><published>2009-08-10T20:47:00.001-07:00</published><updated>2009-08-10T20:56:01.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Solo</title><content type='html'>Puspa mekar di sudut syukur&lt;br /&gt;sujud aku untuk cahaya luhur&lt;br /&gt;kudapat bersajak menangis&lt;br /&gt;di bawah langit Solo gerimis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo, 200906&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-6185677963580645172?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/6185677963580645172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=6185677963580645172' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6185677963580645172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/6185677963580645172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/08/di-solo.html' title='Di Solo'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4707939257875704888</id><published>2009-08-10T20:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T20:55:38.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Asrama</title><content type='html'>Mengapa kamar mandi&lt;br /&gt;dan kran air&lt;br /&gt;terus ditambah meski&lt;br /&gt;air tak mengalir&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9026076931556366240-4707939257875704888?l=abrahamzakky.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/feeds/4707939257875704888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9026076931556366240&amp;postID=4707939257875704888' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4707939257875704888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9026076931556366240/posts/default/4707939257875704888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/08/di-asrama.html' title='Di Asrama'/><author><name>A. Zakky Zulhazmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07983609284622928303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZQDMV6erneM/Tr9TyNDGhgI/AAAAAAAAAFk/dfDunuhmZUA/s220/zakky.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9026076931556366240.post-4691697640525409834</id><published>2009-08-10T20:43:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T20:55:15.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Di Kelas</title><content type='html'>Senyum mengerang&lt;br /&gt;Lipstik mengundang&lt;br /&gt;Intonasi menggelinjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resletingnya terseret&lt;br /&gt;Bunyi terompet&lt;br /&gt;Muntah di karpet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadzah macam dia&lt;br /&gt;Aku suka tapi tak suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo, 280906&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='
